August 20th, 2009 — Uncategorized
Pagi ini, tak jauh berbeda seperti pemakaman lain pada umumnya, TPU yang bersebelahan dengan kampus ramai dikunjungi para peziarah. Pedagang kembang dadakan, para pendoa yang dibayar, hingga perawat makam, turut berbaur bersama yang lainnya dan menjadikan area pemakaman bak pasar tradisional yang ramai. Hanya bedanya, disini tak ada sembako, cuma kembang tujuh rupa, air dalam botol, dan beberapa perlengkapan lain yang umum menghias tanah makam.
Dalam kerumunan itu saya perhatikan raut wajah yang begitu beragam dan hati ini diliputi rasa haru melihatnya. Kesedihan dan keceriaan menyatu pada wajah para peziarah; Antara rindu dan kesedihan berbalut dalam kasih sayang yang besarnya entah seberapa… hanya hati si pemilik dan penciptanya yang tahu.
Melihat keramaian itu, tiba-tiba saja dalam benak saya terlintas satu acara di akhir pekan awal bulan Agustus kemarin. Reuni yang dihadiri oleh kawan-kawan masa sekolah dulu mencairkan kerinduan yang telah tersimpan lama. Dalam balut suka dan bahagia, kegembiraan hati setelah lama tak berjumpa, sayangnya… perasaan itu harus ternodai dengan ketidakhadiran beberapa sahabat yang memang tak mungkin turut serta. Sang Pencipta telah terlebih dahulu memanggil mereka untuk berada disisi-Nya. Dan hati ini tanpa diketahui siapapun merenung cukup lama ketika satu per satu slide kenangan, testimony, tentang para sahabat ini diputar.
“Segalanya adalah ketentuan-Nya dan tak seorangpun kuasa menolak. Begitupun kita, kelak siapapun akan juga dipanggil oleh-Nya”, lirih hati ini menghibur diri.
Dalam keramaian terkadang tersimpan rasa kesepian, hal itu mungkin yang saya rasakan pada raut wajah para peziarah. Sendiri ataupun datang beramai-ramai, wajah-wajah sendu menyiratkan kerinduan, rasa rindu yang takkan mampu terobati. Dan mungkin karena alasan utama itulah betapa banyak orang memaksakan diri untuk selalu berziarah ke makam orang-orang yang selalu dekat dihati mereka.
Di dunia yang fana, kala kesempatan hidup telah berakhir dan tak ada lagi yang bisa dilakukan, tak seorangpun akan mampu mengelak. Semua telah usai kala sang malaikat pencabut nyawa berdiri dihadapan kita untuk melakukan tugasnya. Dan pada saat-saat terakhir, ketika jasad kaku terbujur tak berdaya, perlahan silaturahmi pun terputus, gumpalan urukan tanah secara perlahan menutupnya. Putuslah segala perkara anak manusia seiring tertanamnya jasad diperistirahatan terakhirnya. Hanya sebuah nama akan menyisakan kenangan abadi.
Kebaikan semasa hidup akan mengharumkan namanya, keburukan akan juga turut menjadi penghias sejarah pada siapapun yang melakukannya. Sadar akan hal itu, sepenggal kalimat yang terucap dalam hati cukuplah menjadi harapan “Semoga Ramadhan yang akan segera tiba menjadi ladang kebaikan yang menggembleng setiap insan untuk mengenal diri dan kesejatian Sang Pencipta. Semoga 30 hari ke depan dapat menjadi waktu terbaik bagi siapapun untuk berlatih dan keluar menjadi pemenang”.
Marhaban Yaa Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya. Semoga Ramadhan mampu membersihkan hati kita, mengembalikan semangat kebaikan yang mulai redup dan memunculkan arti kebahagiaan sesungguhnya yang selama ini dicari.
Dan untuk itu -menuntun diri ini menuju ke sana, perkenankan saya memulai langkah “karantina Ramadhan” ini dengan menghaturkan permintaan maaf sebesar-besarnya atas segala khilaf dan alpa. Semoga dalam 30 hari ke depan kita semua berhasil memaknai Ramadhan dan kehidupan dalam arti yang sesungguhnya.
Salam,
Hary Lasmana
May 9th, 2009 — Uncategorized
Saya hanya tersenyum simpul kala pedagang mie instant tempat saya berbelanja berkelakar tentang pernikahan. Pernikahan –menurutnya seraya meledek saya yang masih membujang –berarti kemudahan, karena segala yang biasanya dipersiapkan sendiri kala berstatus single kelak akan dibantu pasangannya mempersiapkan kebutuhan hidup dan keseharian. Dua tangan dan dua kaki akan menjadi dua kali lipat jumlahnya, menjadi lebih produktif. Begitulah menurut pengalaman pribadinya. Sementara mendengarkan si pencerita yang nampak begitu bersemangat, saya sendiri cukup mengiyakan, maklum belum punya pengalaman untuk dibagi.
Berlalu dari pedagang mie instant itu, setelah beberapa langkah menjauh, entah kenapa candaan yang dilontarkan si pedagang nyangkut cukup lama dalam benak saya, “Apa iya dengan menikah berarti menjadi tambahnya tenaga? Tubuh ibarat bertambah menjadi dua, kaki menjadi empat, begitupun dengan tangan kita. Namun bukankah justru akan menjadi jauh lebih sulit ketika “dua isi kepala disatukan?!??”. Aneh memang, candaan yang terlontar awalnya mungkin tanpa maksud apapun menjadi satuhal yang cukup lama mengganjal di hati. Dan mencoba menenangkan diri dan perasaan, cukuplah saya bersenda dengan ragam tulisan melalui buku dan dunia maya setiba di rumah.
Menikmati suasana kamar yang tenang, tiba-tiba saja saya jadi ingat si Fulan teman karib saya yang memiliki tiga orang anak. Menurutnya anak adalah titipan Tuhan yang rejekinya sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Buktinya meski dengan pekerjaan serabutan yang hanya cukup untuk mengontrak rumah sepetak dan tambal sulam menutupi kebutuhan sehari-hari, setidaknya hingga kini keluarga tersebut mampu bertahan. Sementara di tempat lain, tadi, saat melintas dalam perjalanan menuju rumah saya dapati satu keluarga nampak berdesak riang dan hangat berkumpul di tepi gang sempit yang mereka anggap bagian halaman rumah mereka. Di atas sebuah bangku panjang yang terbuat dari papan tanpa sandaran mereka melepas waktu bersama dengan canda dan tawa. Keadaan ini begitu kontrasnya dengan wajah keluarga lain dalam sebuah kendaraan produksi Eropa yang nampak gagahnya saat berhenti di perempatan lampu merah yang saya lalui. Di dalam kendaraan itu nampak setiap wajah membuang pandangan mereka menjauh satu sama lain. Tubuh mereka berada dekat, namun hatinya nampak terpaut jauh entah di mana.
“Pasti sunyi sekali di dalam kendaraan itu, jikapun ada suara terdengar pastilah itu siaran radio atau alunan musik dari pemutar CD”, gumam saya menyaksikannya sepintas lalu sambil berharap semoga saja dugaan saya salah.
Memikirkan kontrasnya kehidupan berkeluarga dalam contoh yang baru saja saya alami, tentu saja sesekali timbul rasa kalut yang bergelayut di sanubari, “Keluarga seperti apa kelak yang saya bangun dan miliki? Apakah seperti tukang bakmi yang mampu saling menguatkan? Keluarga yang saling menghibur seperti keadaan para tetangga yang saya lihat? Atau sebuah keluarga yang hanyut dengan problematika dirinya masing-masing seperti kondisi keluarga di dalam kendaraan di perempatan lampu merah yang saya lihat tadi? Entahlah.
Dan menyadari segala kemungkinan itu, hanya harap dan iba kehadirat-Nya saya hanturkan, “Semoga kelak keluarga yang InsyaAlloh kami bangun bersama adalah keluarga yang senantiasa menautkan pada dasar cinta kepada-Nya. Bukan pada benda yang kelak melapuk, bukan pada kecantikan yang perlahan memudar, apalagi kejayaan yang pasti sirna. Semoga dasar cinta yang demikian mampu menjadi pondasi kokoh bagi kami untuk mengarungi samudera kehidupan yang penuh ketidak pastian”.
Dan semoga cinta-Nya yang lebih besar senantiasa menaungi setiap anggota keluarga yang merasa menjadi bagian keluarganya secara utuh. Yang berbahagia dikala dekat, saling mendoakan dikala jauh. Amin.
Salam,
Hary Lasmana
February 26th, 2009 — Uncategorized
Atas nama cinta seorang lelaki meninggalkan anak istrinya
Menantang samudera
Membelah ombak
Mencicipi asin dan manis perjalanan terpilih
Untuk mereka yang dicintainya
Atas nama cinta seorang lelaki bertengkar dengan diri kembarnya
Menjajal nyala bulan di malam kelam
Meneriaki terik matahari
Ia bertarung dengan mimpi
Atas nama cinta seorang lelaki berdiri
Kembali pulang menemui anak dan isteri
Dengan karung bekal kehidupan bagi buah hati
Juga sisa mimpi yang ia hancurkan
Atas nama cinta, seorang lelaki memilih menjadi pria sejati
Atas alasan dan tujuan yang sama
Dan dengan cinta yang sama ia kembali menghadap-Nya
26 Februari 2009
*
in memoriam Kakek, Ayah –dari Bapakku; Tuhan tolong beri ia tempat yang layak di sisi-Mu, maafkan segala dosa dan kesalahan serta terimalah segala amal baik selama hidupnya. Amin.
February 12th, 2009 — Uncategorized
Kalau membandingkan keadaan saat ini dengan cerita-cerita kehidupan nenek saya pada masa penjajahan, seringkali saya merasa malu. Pasalnya di kehidupan yang tenang dan penuh peluang saat ini kebanyakan orang senang mengeluh akan banyak hal. Padahal jika dibandingkan dengan nenek saya yang usianya hampir 1 abad itu, seumur hidup bersamanya tak pernah saya temui ia melakukan hal itu. hanya Jikapun ada, sesekali kesedihan muncul yaitu terutama pada saat beliau melihat upacara pengibaran bendera di istana negara yang ditayangkan langsung di televisi. “Ingat teman-teman seperjuangan yang telah gugur dan tidak ikut merasakan betapa bahagianya kehidupan setelah merdeka…”. Kalimat yang sama selalu menjadi jawaban pertanyaan dari seorang mantan pejuang yang merasa bahagia bercampur sedih namun tak tahu harus berbuat apa.
Ingat akan hal itu, pikiran saya biasanya kemudian akan hanyut pada setiap nasihat beliau akan kehidupan ini. Bahwa setiap manusia selayaknya mampu hidup berdiri di atas kaki sendiri, tidak boleh berketergantungan apalagi menyulitkan orang lain. Sebisa mungkin –menurutnya, dalam hidupnya setiap manusia harus berupaya agar dapat bermanfaat bagi yang lain. Mampu menjaga nama baik dan kehormatan sebagai manusia yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan-Nya. Nasihat klise memang bagi sebagian orang, namun berarti benar bagi beliau yang seumur hidup penuh kesederhanaan.
Saya sendiri hingga saat ini senantiasa belajar untuk itu. Hidup dengan berdasar pada prinsip yang sederhana dan menjalaninya dengan sederhana juga. Tak perlu menjadi rumit, apalagi dibuat rumit. Karena rasanya kesederhanaan pun terlalu rumit bagi yang tidak mampu menerimanya. Itulah yang kemudian saya pahami tentang kehidupan berkat ajaran beliau.
Sebagaimana kita lihat dalam kehidupan saat ini, begitu banyak orang bingung dan bimbang menghadapi kehidupan. Seolah lepas dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau… kesulitan hidup seolah menjadi kutukan yang tak pernah berhenti menggelayut dalam lika-liku kehidupan setiap orang di dalamnya hingga tak sedikit orang-orang yang bermental lemah kemudian mengalah dan menghabisi hidup mereka dengan cara yang diinginkannya. Padahal kenyataannya kemudian –seperti kita ketahui –menghindar dengan menghampiri kematian seperti itupun tidaklah memberi jalan keluar terbaik. Sungguh amat disayangkan, di tengah hidup yang penuh peluang dan pilihan saat ini banyak orang terlena dalam bersenang-senang namun lupa bersyukur. Akibatnya ketika tertimpa cobaan berat, mereka selalu berusaha menampiknya. Mengelak dari kenyataan bahwa dimana-mana banyak orang mungkin lebih menderita dibanding keadaan yang dialaminya.
Mengakui hal itu, pada sisi lain saya bersyukur. Di negeri ini, pada saat ini, ditengah gencarnya gempuran bias arus informasi, di jaman kejayaan hendonisme yang terlihat begitu indah namun menyesatkan, masih banyak orang berupaya melakukan prinsip-prinsip hidup seperti nenek saya itu. Bersahabat dengan kesederhanaan dan berupaya untuk berguna bagi yang lain. Dan hebatnya, meski jumlahnya teramat kecil namun ternyata begitu besar pengaruhnya dan tak pernah habis. Bak pepatah, mati satu tumbuh seribu… jumlah mereka terus bertambah seperti sebuah pohon rindang yang menumbuhkan cabang-cabang begitu banyaknya.
Dibangunnya perpustakaan swadaya untuk masyarakat umum oleh individu maupun instansi, berdirinya sekolah alternatif bagi anak terlantar dan anak jalanan, pembekalan dan penyuluhan informasi tepat guna, dan masih banyak hal yang dapat dibanggakan pada masyarakat negeri ini yang peduli menunjukkan bahwa ternyata dibalik begitu banyak kekurangan pemerintah kita mengelola negara ditambah lagi kebusukan elit politik yang lupa nasib rakyatnya, masih banyak pribadi-pribadi yang mengedepankan hati mereka untuk membangun tanah air tercinta. Sebuah upaya yang tidak cukup hanya diacungi jempol tetapi perlu didukung dengan sebaik-baiknya.
Kehimpitan memang selalu menciptakan peluang bagi siapapun untuk menjadi juara bagi yang lain. Berputarnya dunia selalu mengubah banyak hal. Dari yang tidak mungkin menjadi mungkin dan begitupun sebaliknya, adakalanya sesuatu yang memiliki peluang besar dan kemungkinan untuk tercapai seringkali malah memberi kegagalan. Ketidak pastian ini menunjukkan bahwa tak ada yang tak mungkin, oleh karena itu selama kita memiliki keyakinan dan niat untuk melakukan perubahan, lakukanlah!
Tak peduli status kita di masyarakat, apakah kita kaya atau miskin, memiliki pekerjaan atau pengangguran, bersekolah atau tidak, lelaki atau perempuan, dan sebagainya, kita memiliki satu kehidupan dan satu peluang yang tak pernah terulang. Siapapun kita berpeluang untuk melakukan kebaikan dan berguna bagi yang lain. Menjadi seorang yang menolong, juga kelak suatu saat akan ditolong oleh yang lain. Oleh karena itu sudah sepantasnya mulai kini kita bersungguh-sungguh dalam setiap aktifitas kita, apapun yang kita kerjakan.
Bila kita seorang ilmuwan, sudah selayaknya meneliti guna menghasilkan penemuan yang bermanfaat bagi masyarakat, setiap pelajar dan mahasiswa belajar sebaik-baiknya demi meraih prestasi, atlet berlatih keras menjadi juara, pengusaha berupaya mempertahankan lapangan kerja yang telah dibukanya, karyawan bekerja sebaik mungkin dalam pekerjaannya, dan berbagai macam aktifitas apapun, upayalah maksimal adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan sebagai salah satu bentuk kontribusi positif dalam membangun negeri ini. Dengan cara demikian, siapapun kita dan apapun yang kita lakukan telah memiliki makna tersendiri dalam kelangsungan bangsa ini.
Saya percaya bahwa setiap usaha akan memberikan hasil. Sebagaimana jua upaya banyak orang saat ini yang terus berbagi ragam pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki kepada sesamanya, saya berharap semoga kita juga menyediakan hati untuk berdo’a demi kebaikan negeri ini. Agar setiap perbedaan menjadi bagian yang saling melengkapi kekurangan kita bersama, agar setiap kesalahan memberi pelajaran untuk dibenahi, agar setiap kesulitan mencairkan hikmah bagi setiap pribadi untuk berempati pada yang lain. Keluhuran pribadi bangsa ini adalah modal yang akan segera kembali jika kita mau mencoba saling peduli dan memperhatikan.
Bila rasa syukur dan bangga terhadap negeri ini meningkat –ah ijinkan saya berandai-andai, rasanya kejayaan negeri ini hanya tinggal menunggu waktu. Selayaknya bumi berputar, putaran yang kini berjalan adalah putaran yang tengah membawa negeri ini menuju ke puncak. Dan jika mimpi ini kemudian menjadi kenyataan, rasanya ini adalah buah termanis hasil lika-liku perjalanan kehidupan sebuah bangsa yang telah susah payah memperjuangkan kemerdekaan, harkat, serta martabatnya sebagai sebuah bangsa besar dan bukan hadiah cuma-cuma yang begitu saja datang dari langit.
Salam,
Hary lasmana
February 10th, 2009 — Uncategorized
Seorang sahabat yang telah kembali dari master pendidikan di negeri Kangguru pernah bercerita ikhwal keringnya tanah di sana. Pasalnya selama ia menempuh pendidikan di negeri itu, hujan dapat dihitung dengan jari dalam setahun. Amat jauh berbeda dengan negeri ini yang curah hujan cukup tinggi. Apalagi dengan kota Bogor yang hampir setiap sore turun hujan.
Keheranan akan hal itu, sahabat ini bersyukur sekaligus menyesali betapa ternyata negeri kita begitu subur dan kaya namun lemah dalam segi pengelolaan. Keterlambatan dan ketidak merataan pembangunan, rendahnya tingkat pendidikan, hingga kurangnya toleransi terhadap perbedaan menjadi salah satu faktor besar yang membuat negeri ini seringkali amat bergantung pada Negara lain. Ironis.
Menyadari hal itu, beruntunglah sejak dimulainya reformasi politik 10 tahun lalu telah memunculkan dinamika baru kehidupan bernegara dengan berbagai perubahan di dalamnya telah memberi kesempatan luas pada siapapun untuk menyuarakan kebebasan berpendapat. Setidaknya kini masyarakat memiliki kesempatan luas untuk menyampaikan aspirasi dan merasa seutuhnya sebagai seorang warga negara yang memiliki kewajiban dan hak pada negerinya.
Munculnya instansi, individu, maupun komunitas yang berusaha mewujudkan kepatuhan pada sistem yang berlaku adalah salah satu contohnya. Perang terhadap korupsi, kampanye anti narkoba, peningkatan taraf pendidikan dan kesehatan, penegakkan hokum, dan berbagai macam hal menuju kebaikan menjadi sesuatu yang terus diperjuangkan hingga saat ini. Hanya saja memang harus diakui masih banyak kelemahan dan kekurangan terutama sifatnya masih segelintir dan terpisah.
Seandainya saja seluruh kegiatan semacam ini dilakukan berjejaringan, tentu hasilnya jauh lebih baik dan manfaatnya pasti lebih besar. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah calon presiden negeri ini yang kelak akan menjadi pemimpin. Sebagaimana semboyan “Ing ngarso sung tuladha, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani”, seorang pemimpin berada di barisan depan untuk memberi teladan dan bukan malah menjadi contoh buruk yang menurunkan citra dn martabat diri dan bangsanya. Pemimpin pun harus mampu menyatu dengan masyarakat bangsanya dan dunia internasional. Berkarya sebaik mungkin. Pun sedianya pemimpin harus mampu memberi dorongan pada saat dibutuhkan.
Dan tak jauh berbeda dengan pemimpin, mereka yang dipimpin berkewajiban mengikuti dan loyal pada pimpinan yang benar. Mereka yang dipimpin harus menghargai kepemimpinan, mengikuti petunjuk dan perintah pemimpin, serta tak lupa mengoreksi pemimpin di saat melakukan kesalahan. Karena pada dasarnya tak ada seorangpun manusia sempurna.
Menyadari hal itu, satu hal penting yang amat perlu dilakukan saat ini adalah sosialisasi. Penyebar luasan informasi guna meningkatkan kualitas hidup bermasyarakat dan bernegara. Tentang hak dan kewajiban seorang warga negara apapun status dan jabatannya dalam struktur sosial masyarakat untuk menghindari ketimpangan informasi. Siapapun kita dapat berpartisipasi didalamnya dengan cara menyebarkan informasi seluas-luasnya tentang kewajiban dan hak warga negara serta memberi pencerahan akan hal ini. Bila seluruh masyarakat tahu dan sadar akan kewajiban dan haknya, tentu saja penegakan sistem kehidupan bernegara dapat berjalan dengan lebih baik dan tujuan masyarakat adil dan makmur dapat segera terwujud.
Salam,
Hary Lasmana
February 7th, 2009 — Uncategorized
Seorang sahabat, karyawan di posisi level manager junior pernah datang dengan setengah mengeluh pada saya. Dengan raut wajah kecewa dan nampak kesal, ia tunjukkan kondisi tempat kerjanya sehari-hari. “Lihat, bagaimana orang-orang ini tidak memiliki rasa tanggung jawab pekerjaan. Istirahat mereka keluar lebih awal namun kembali mereka ke ruangan masing-masing sering terlambat. Ruang kerja sering berantakan, semerawut! Bagaimana produktifitas bisa tercapai maksimal kalau kebiasaan mereka seperti ini…”.
Mendengar keluh kesah itu, spontan saya hanya bisa menenangkan seraya memintanya bersabar dan berpikir jernih. “Sudah tenang saja dahulu mas, analisa dulu dengan baik keadaannya. Kalau memang dianggap masalah, berarti pasti ada jalan keluarnya. Kedisiplinan dan mental kerja karyawan adalah hal besar yang bisa disederhanakan. Segala problem di dalamnya pasti bisa segera diatasi. Dan… (setengah berbisik sambil tersenyum meledek) itu adalah tugas pemimpin!”. Ia tertawa mendengarnya.
Saya lupa kapan pastinya kejadian itu berada di dalam bagian kehidupan saya. Entah bagaimana keadaannya kini, apakah kondisinya masih tetap sama atau telah berubah, namun yang jelas beberapa minggu sejak kami bersama-sama mencar jalan keluar dari kondisi yang dihadapi sahabat saya ini keadaan telah menjadi lebih baik. Kedisiplinan meningkat dan produktifitaspun terangkat. Hasilnya… “Everyone happy!”
Jika melihat perubahan yang terjadi, mungkin tak seorangpun mengira jika faktor pengubah keadaan itu sebenarnya amat sederhana, “Semangat dan rasa kebersamaan”. Ya, rasa kebersamaan yang ternyata belakangan mulai terkikis akibat rutinitas yang acapkali menghasilkan kejenuhan, perlahan berhasil disingkirkan dengan cara memperkecil jarak antara staf dan atasan. Kebekuan di lingkungan kerja yang sering menurunkan dedikasi dan loyalitas pekerja berhasil dicairkan melalui rasa kebersamaan dengan cara yang cukup mudah yaitu memperbanyak kegiatan bersama-sama dengan saling menghargai keunikan setiap individu.
Sesekali sahabat saya ini membawakan penganan untuk rekan kerja dan bawahannya. Jika sebelumnya saat istirahat ia terbiasa makan siang dan sholat sendiri di ruangan, kini mulailah ia sholat berjamaah di musholla yang disediakan oleh perusahaan. Hasilnya, para karyawan yang biasanya tidur di Musholla atau berlama-lama ngobrol di kantin menjadi segan dan enggan mengulur waktu istirahat. Tanpa diberi aba-aba, mereka segera meninggalkan tempat kembali ke ruangan bahkan sebelum waktu istirahat berakhir. Dan tak lupa, dalam bekerja, setiap kali ada prestasi sekecil apapun sahabat ini memberikan apresiasi dengan berbagai cara. Baik itu hadiah maupun penghargaan yang membuat setiap orang merasa dihargai. Hingga akhirnya suasana kerja kini menjadi lebih meriah, jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya. Sungguh luar biasa.
Belajar dari pengalaman itu, saya merasa perlu berbagi. Tentang berbagai hal yang rasanya rumit ternyata seringkali jalan keluarnya begitu mudah. Hanya saja mampukah kita untuk memulai. Sebagaimana kondisi sahabat yang mengalami kebosanan gairah kerja di kantor, saya rasa setiap diri kitapun pernah mengalami hal yang sama. Entah di rumah, di sekolah, dalam beribadah, apapun aktifitas kita, hati dan semangat acapkali turun naik namun tentu saja bukan satu pembenaran untuk kita melakukan kesalahan atas dasar keadaan tersebut.
Kebosanan memang bukanlah sesuatu yang biasa, namun bukan juga hal yang luar biasa. Namun sayangnya seringkali jika kita tak mampu berpikir jernih, hal yang mudah dilakukan adalah melempar kesalahan, menyalahkan. Entah cuaca, entah lingkungan, entah keadaan, banyak hal yang menjadi kambing hitam. Padahal… diri kita sendirilah yang tak mampu mengendalikan perasaan. Jadi jangan salahkan siapapun, jika ingin menyalahkan ketidak bahagiaan hidup kita, segera cari cermin, dan tunjuk orang yang berada di dalam cermin di hadapan Anda. Dia-lah yang patut disalahkan.
Banyak cara untuk melakukan perubahan di lingkungan kita namun untuk hasil yang maksimal, cobalah untuk bersama-sama melakukannya. Ajaklah orang lain dan jangan sendirian. Dengan upaya serempak dan rutin, tentu tujuan perubahan akan lebih mudah di capai. Ibarat seikat sapu lidi (sapu aren), semakin banyak jumlah lidi yang terikat maka akan semakin cepat bersih kotoran tersapu begitupun halnya dengan kondisi lingkungan kita berada.
Kini, jika pada beberapa bagian hidup yang Anda jalani menemui banyak harapan akan datangnya perubahan namun ternyata keadaan tak jua kunjung berubah… ingatlah! mengapa tidak kita yang memulainya?
Salam,
Hary Lasmana
February 5th, 2009 — Uncategorized
“Serasa ada kehangatan yang hilang kala kita kembali ke rumah akhir-akhir ini saya rasakan”, seorang teman setengah mengeluh mengucapkan kalimat itu pada saya. Ia yang seumur hidupnya –sama seperti saya –tinggal di rumah yang sama sejak beberapa hari kami dilahirkan, tengah membandingkan keadaan dulu saat kami masih kanak-kanak dengan kondisi lingkungan tempat tinggal kami saat ini.
“Lihat anak-anak itu”, ucapnya mengawasi beberapa anak yang nampak seru bermain. “Mungkin jaman memang sudah berubah. Tidak seperti saat kita kecil dulu, jika sudah mau magrib seperti sekarang ini, meski sedang asyik bermain kita pasti segera kembali ke rumah karena takut orang tua kita marah. Setelah mandi, lalu bersama-sama kta sholat magrib berjamaah di musholla kemudian belajar mengaji. Tapi anak-anak itu, sekarang ini, mendengar azan magrib pun terkadang mereka dengan leluasanya bermain. Sungguh sayang sekali masa kanak-kanak mereka tidak dididik dengan baik…”
Mendengar ucapan tersebut, saya hanya mampu tersenyum nyinyir. Ada benarnya juga ucapan itu, namun sayangnya kami takkan mampu berbuat apa-apa karena setiap anak yang notabenenya titipan Sang Ilahi adalah kewajiban orang tuanya untuk mendidik mereka, sedangkan kami bukan siapa-siapa. Dan sayangnya, percakapan itu harus terhenti karena panggilan azan yang menuntun kami untuk segera menghadap Sang Maha Pencipta.
Usai sholat, di rumah, malam itu cukup lama pikiran saya menerawang ke mana-mana. Beberapa kalimat obrolan tadi sore sempat terngiang kembali di telinga. Tentang keadaan kampung kecil tempat kami kembali dari aktifitas seharian, tentang kondisi nasional dan internasional yang nampaknya kian menyulitkan, tentang perbedaan-perbedaan masa lalu dan kini. Sayang memang, sungguh jauh berbeda antara menjalani kehidupan saat kita menjadi dewasa dengan masa kanak-kanak dulu. Keadaan seringkali kini tak pernah menjadi begitu sederhananya.
Perkataan teman saya tadi sore rasanya memang ada benarnya. Melihat kondisi sekarang ini, bahkan dalam lingkup kecil seperti keadaan kampung kecil yang saya tinggali hingga hari ini, rasa-rasanya keadaan memang telah begitu berubah. Entah karena faktor cara pandang diri kita yang telah melihat begitu banyak hal dalam kehidupan, entah karena proses pendewasaan diri saat mampu menyelesaikan masalah, atau mungkin memang begitulah hukum kehidupan berlaku; Tak ada yang tak pernah berubah kecuali perubahan itu sendiri. Dan kita harus mengakuinya secara terbuka.
Kondisi generasi kanak-kanak, jika dibandingkan masa kanak-kanak saya dahulu yang permainannya dimainkan berkelompok dengan peralatan ala kadarnya, kini, anak-anak (bahkan hingga mereka besar) digandrungi permainan elektronik yang individualis. Permainan seperti ini –menurut saya –cenderung mengarahkan seseorang menjadi pecundang karena takut kalah dan tak mau dikalahkan dengan siapapun yang lebih baik. Bermain video game selalu memberi peluang menang. Yaitu cukup dengan memilih tingkat kesulitan yang rendah maka akan siapapun yang bermain pasti menang. Amat berbeda halnya dengan permainan tradisional yang hanya memberi kesempatan sekali dan menghasilkan kemenangan atau kekalahan yang tidak dapat diulang. Karena itulah, tanpa sadar banyak anak lebih senang dan menikmati permainan video game sendirian dibanding bersama teman-temannya karena khawatir takut dikalahkan.
Tak jauh berbeda pada generasi yang lebih besar, anak-anak remaja yang sejatinya dalam pencarian identitas diri secara cepat maupun perlahan terus tergerus oleh budaya asing yang selalu terlihat baru dan nampak begitu memikat hati. Meski sadar akan kesejatian budi luhur di dalamnya, jarang sekali generasi usia belasan yang mampu bertahan pada prinsip budaya tradisional karena dianggap kuno oleh orang-orang seusia mereka. Entah dulu maupun sekarang keadaannya selalu demikian. Dan tentu saja ini patut mendapat perhatian.
Selain kedua generasi tersebut, mereka yang berusia senior yang hidup pada jaman ini tak jauh berbeda turut mengalami degradasi. Dan satu penyakit yang jarang sekali disadari namun akut adalah kecenderungan mengeluh yang mulai berbudaya. Entah cuaca yang tidak bersahabat, kondisi politik yang carut marut, perekonomian yang memburuk, hingga harapan-harapan yang seringkali sirna dari orang-orang terdekat. Begitu rumit hidup dengan ketidakpuasan dari berbagai sisi kehidupan.
Namun demikian –tanpa maksud menyamaratakan keadaan, menemui kondisi yang demikian kompleks sesungguhnya saya lebih senang melirik hal kecil yang bagi sebagian orang dianggap mustahil namun ajaibnya ternyata sungguh nyata adanya. Kelompok orang-orang yang selalu mencoba bersikap hangat dan terbuka bagi yang lain, yang senang dan ikhlas menolong tanpa pamrih, mereka yang begitu gigih dalam berusaha, tekun belajar, tak berputus asa, apalagi menyesali kekalahan, bagi sebagian kecil orang-orang dalam lingkup ini hidup sedianya adalah penerimaan. Tak ada permainan kalah atau menang melainkan pembelajaran dari setiap kejadian di dalamnya.
Bila memikirkan semua itu, saya sendiri pada akhirnya bingung jika harus mengambil kesimpulan inti permasalahan mengapa kehidupan (baca:orang-orang .red) melakukan begitu banyak kesalahan yang mengakibatkan suasana menjadi nyaman. Kecurigaan berlebih pada orang lain, kekhawatiran akan masa depan, kecemasan pada masa lalu yang buruk, dan beragam ketakutan tak berdasar telah membuat sebuah lingkaran setan yang tak berujung dan berakibat semua yang berada di dalamnya menjadi orang-orang yang kalah dan menjadi pecundang. Kecuali tentu saja mereka yang mau belajar untuk ikhlas menerima.
Menyadari kenyataan itulah, kita memerlukan banyak hal untuk memperbaikinya. Dan mengingat percakapan antara saya dan teman saya di awal, rasanya takkan mudah kita mendekati generasi kanak-kanak dan mengendalikan mereka tanpa mendekati orang tuanya untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan dan kedisiplinan sejak kecil dalam keluarga, takkan mungkin mengarahkan generasi remaja tanpa kita menghargai dan mau mendengarkan keinginan dan kebutuhan mereka. Begitupun dengan generasi yang lebih senior, tentu saja pendekatan dari hati ke hati dengan landasan niat yang tuluslah yang akan mampu membuktikan bahwa kita berkeinginan memajukan bangsa ini dari lingkup dasar yaitu masyarakatnya. Dan jika Anda bertanya –sebagaimana yang seringkali orang lain tanyakan pada saya, “Dengan cara bagaimana saya memulainya?”, jawabannya mudah:
Senyum, sapa, sebarkan salam…
Hanya dengan simpati keterangan yang kita jelaskan dapat diterima dengan baik. Dan tentu saja, jangan lupa dasari semua dengan kebersihan hati dan keihklasan InsyaAlloh keberhasilan yang dicapai akan berbuah kebahagiaan. Amin.
Salam,
Hary lasmana
January 31st, 2009 — Uncategorized
Jika kita mau merefleksi diri, ada satu hal yang saya perhatikan menjadi sumber keterbelakangan bangsa ini yaitu ketidak percayaan akan kemampuan diri sendiri. Keadaan mental seperti inilah yang menyebabkan mengapa hingga kini bangsa besar yang penuh semangat gotong royong dan pekerja keras ini sulit bersaing dengan bangsa-bangsa lain yang telah maju. Bahkan celakanya kini perlahan mulai tersusul oleh mereka yang sebelumnya berada di belakang. Sungguh sebuah ironi.
Ditengah gegap gempita pertumbuhan industri global, dalam berpakaian kita dengan bangga memamerkan baju dengan label luar negeri dibanding pakaian kreasi desainer lokal; Model rambut diatur sedemikian ala punk atau hippies untuk sekedar bergaya; Makan fast food ala barat untuk mengisi perut yang kosong dibanding rumah makan tradisional; Bahkan gawatnya cara berpikirpun ada yang lebih senang dengan gaya liberal yang mengutamakan ke-aku-an ku dengan kebebasan sebebas-bebasnya dibanding rasa kebersamaan dalam nilai-nilai positif yang telah menjadi budaya kita. Kalau pola hidup seperti ini yang menjadi tren, pantas bukan jika kita terus merosot ke bawah dan terpuruk?
Oleh karena keadaan itulah, perlu kesadaran dan keinginan sepenuh hati kita untuk membangkitkan bangsa ini melalui semangat nasionalisme. Sebuah semangat yang sarat dengan nilai-nilai dan budaya yang luhur dan diterapkan pada berbagai bidang kehidupan. Kita, sudah selayaknya membangun kepercayaan diri bangsa ini dengan saling mendukung segala bentuk seni tradisional, kreatifitas, produk, dan segala macam yang merupakan produk orisinalitas bangsa ini dengan cara memberi apresiasi atau menggunakannya sebagai prioritas utama dibanding menggunakan produk impor. Dengan cara ini kita telah menunjukkan bahwa kebanggan kita bukan sekedar pada kata-kata tetapi juga tindakan. Dan sisi positif lainnya adalah dengan berbuat demikian, tindakan kita tersebut secara langsung akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. Begitupun dengan sebaliknya.
Pengalaman telah menunjukkan bagaimana budaya asli negeri ini coba direbut dengan cara halus maupun kasar oleh negara tetangga yang serumpun; kekayaan negeri ini dikeruk dan dikuasai oleh pihak asing, begitupun dengan cara berpikir, secara perlahan dengan berkedok modernisme, sedikit demi sedikit kehidupan bertoleransi kita yang begitu luhur terkikis oleh individualisme yang tak sesuai dengan nilai-nilai yang kita anut. Kita mungkin tak sepenuhnya dapat menolak masuknya peradaban lain ke negeri ini, namun bukan berarti semua yang datang kita terima begitu saja. Bersikap selektif adalah jalan terbaik untuk mengambil manfaat dari era keterbukaan yang kita hadapai pada jaman ini. Dan tentu saja modal kepercayaan diri yang kuat adalah dasar terbaik.
Jadi tak ada salahnya jika mulai kini cobalah untuk berbelanja ke pasar tradisional, utamakan membeli produk dalam negeri, memakai pakaian khas tradisional, mengadakan atau mengunjungi pertunjukan tradisional bersama orang-orang terdekat, dan kenalkan budaya asli negeri kita pada generasi kanak-kanak sehingga mereka mengenal, akrab, dan cinta pada budaya negerinya. Semoga usaha yang demikian dapat menjadi tameng terhadap pengikisan identitas pribadi bangsa.
Salam,
Hary Lasmana
January 26th, 2009 — Uncategorized
Ing ngarso sung tuladha, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani
Di depan memberi teladan, di tengah membangun karya, di belakang memberi dorongan…
January 24th, 2009 — Uncategorized
Ask not not what your country can do for you. Ask what you can do for your country
Jangan tanyakan apa yang bisa negara berikan padamu, tanyakan pada dirimu apa yang bisa kamu berikan pada negara
[John F. Kennedy]