Tadi pagi kaget sekali karena sepupu kecil saya tiba-tiba sudah duduk di depan komputer. Ketika saya tanyakan apa yang sedang dilakukannya, dijawabnya singkat “sedang mengetik!”, lalu memberi saya sepucuk kertas yang tertulis sebuah renungan:
*****
Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali
Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta dijalanan.
Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk didalam hidupnya.
Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istri anda.
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup
Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu,
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat
Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu,
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul
Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor
karena pembantumu tidak mengerjakan tugasnya,
Pikirkan tentang orang-orang yag tinggal dijalanan
Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir,
Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan
Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu,
Pikirkan tentang pengangguran,orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda
Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa…
Kita semua menjawab kepada Sang Pencipta
Dan ketika kamu sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan,
Tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa kamu masih hidup !
*****
saya tanyakan padanya mengapa ia mengetik itu, sepatah singkat dari mulutnya: “Untuk dibagikan ke teman-teman!”
Arrrgggghhhhhh… jadi malu hati ini, padahal beberapa kali e-mail yang isinya tulisan itu saya terima, namun saya mengacuhkannya, bahkan hanya menyimpan untuk diri sendiri. Duh! jadi ingat pepatah yang bilang…
“Kalau kamu tidak melakukan hal itu, akan ada orang lain yang melakukannya”, ups malu… malu… malu… aku!
Jakarta, 29 June 2005
~latihan opera musiknya belum juga selesai….
Jakarta; 07:03 AM
Pagi itu, ketika tidur saya baru saja dimulai beberapa menit sebuah alunan suara musik bising masuk ke telinga. Sayup-sayup terdengar, namun tidak begitu jelas… musik cadas import yg kental dengan alunan gitar Slash ini sepertinya berasal dari radio tetangga. Hmm… rupanya tinggal di apartement tidak senyaman seperti yg saya bayangkan. Dari lantai 17 saja bahkan kenyamanan tidur bisa terganggu oleh suara musik dari ruangan lain. Harus complain ke building management kalo gini nich, ucap saya dalam hati.
Tapi daripada kesal dan terus mengumpat, akhirnya saya merelakan diri bangkit dari tempat tidur dan duduk di teras ditemani secangkir susu coklat hangat dan
sebuah catatan harian lengkap dengan pena.
~ flash
Menikmati udara pagi, ketika matahari baru saja menyapa bumi, udara beranjak keruh dan aktivitas manusia sepertinya tiada jemu mengisi ruang, saya tertawa,
menertawai diri sendiri, saya bahkan lupa kapan terakhir bisa menikmati waktu seperti sekarang ini. Duduk santai bersandar di kursi memperhatikan jalan raya dibawah sana yang mulai padat oleh kendaraan sambil menikmati secangkir susu coklat kesukaan saya. Duh! bahkan saya sendiri lupa kapan terakhir membaca catatan harian untuk mengikuti jadwal yang harus saya hadiri. Gawat.. kelamaan cuti!
Ketika saya mulai membuka catatan harian itu, dihalaman pertama terselip sebuah pembatas buku berwarna hitam yang diberikan seorang teman saat book fair tahun lalu. "Sumbangkan buku dan lihatlah anak-anak tumbuh dengan mimpi-mimpinya", slogan itu dan sebuah logo 1001buku terpampang jelas diatasnya. Saya tersenyum, senyum yang membuat saya harus menghela nafas panjang untuk memberi jalan bagi memori dan bayangan-bayangan yang telah mengendap begitu lama keluar dari tempat penyimpanannya.
Kejadian sore itu masih melekat kuat dalam kalbu, Sabtu pukul 5 ketika saya ditinggal sendiri oleh teman-teman yang berkeliling arena book fair seorang anak perempuan datang ke stand 1001buku bersama bundanya. Senyum manis dari bibirnya yang mungil dan tatapan penuh tanda tanya terpampang di wajahnya yang polos.
"Selamat sore adik manis", sapa saya padanya
"Kakak ini stand apa? Koq buku-bukunya di taluh di kelanjang sih…", tanyanya sambil malu-malu memperhatikan sekeliling stand
"Ini stand 1001buku, tempat para relawan pengumpul buku-buku sumbangan untuk anak-anak. Kalau adik mau menyumbangkan buku-buku bacaan bisa disumbangkan ke
stand ini"
"Ooo… standnya buku-buku sumbangan… belalti yang dikelanjang itu buku-buku sumbangan ya…" ia kemudian menghampiri keranjang rotan yang berisikan buku-buku sumbangan dan mengambil sebuah buku dari dalamnya.
Ibu yang menemani anaknya itu tersenyum memperhatikan tingkah anaknya yang kini hanyut dalam ilustrasi buku yang dipegang. Saya sendiri dan si Ibu kemudian tenggelam dalam obrolan tentang anak itu yang seolah tak terusik apapun dengan buku yg digenggamnya. Menjelang magrib, si Ibu mengajak anaknya -yang belakangan saya ketahui bernama Marissa -meninggalkan stand yang saya tunggui. Dan sebelum
keduanya beranjak pergi, saya berikan beberapa lembar pembatas buku pada Marissa sebagai sebuah ucapan terima kasih karena telah berkunjung ke stand. Marissa
mengambil semua pembatas buku itu lalu menghitungnya.
"Satu… dua… tiga… wah banyak sekali… terima kasih ya Kak! tapi saya ambil dua saja, satu untuk saya, satu lagi untuk abang saya. Ini sisanya saya kembalikan." tangan mungilnya mengacungkan selembar pembatas buku yang baru saja saya berikan.
Saya menerima kembali pembatas itu dengan senyum. Senang rasanya jika saja ketulusan seperti Marissa ini dapat dipertahankan hingga ia dewasa. Sebelum Marissa dan ibunya datang ketempat ini, tiga pelajar yang sempat mampir ke stand ini tadi saya berikan pula pembatas buku untuk setiap orang satu. Namun berbeda seperti Marissa, ketika saya berikan satu pembatas buku untuk setiap orang,
mereka meminta lebih untuk dirinya sendiri. Ah kehidupan ini memang sungguh unik dan terkadang terasa aneh.
Pembatas buku yang dikembalikan Marissa itu ternyata hingga kini masih saya simpan, dan saya baru menyadari kalau selama ini ia berada diantara lembaran kertas catatan harian yang saya pegang. Ah tiba-tiba saya menjadi rindu, rindu dengan semua kenangan itu. Saya rindu dengan senyum-senyum tulus yang menghias di antara wajah-wajah anak-anak yang polos seperti Marissa dan saya juga rindu
suasana hangat dan bersahabat dari teman-teman relawan… hmm saya ingin segera pulang, kembali ke kehidupan yang apa adanya, berbagi dan saling mengisi.
Sehelai bulu ayam terbang dihadapan saya, begitu tenangnya ia mengikuti hembusan angin yang bertiup, berputar-putar lalu mendarat tepat di atas meja. Saya tersenyum, bulu itu mengingatkan saya akan sebuah film yang menceritakan pria
lugu namun mengerti apa itu cinta.
Salam AnakBukuCinta
hary