Entries from July 2005 ↓

Aseli dan abadi

Semalam baru saja saya berbincang-bincang dengan Papa saya, sebuah hal kecil yang seringkali menjadi bahan pembicaraan besar yaitu tentang arti keikhlasan pada apapun yang Tuhan berikan pada diri kita.

Pembicaraan itu dimulai ketika saya sharing tentang isi email yang baru saja saya terima. Dalam email itu diceritakan kisah tentang seorang anak perempuan yang ingin di belikan beberapa pasang kaus kaki  baru oleh ibunya. Setibanya mereka di pasar swalayan, si anak perempuan ini melihat sebuah untaian kalung mutiara imitasi yang begitu indahnya dan ia menginginkan kalung itu namun tidak berani mengutarakan pada ibunya. Usai memilih beberapa pasang kaus kaki, ketika mereka akan bergerak menuju kasir, si anak perempuan ini kemudian memaksakan dirinya untuk mengungkapkan keinginannya itu. Si ibu meski sebenarnya tidak setuju kemudian memenuhi keinginan anak perempuannya itu, namun dengan syarat bahwa kaus kaki yang mereka pilih harus dikembalikan ke tempatnya dan mereka tidak jadi membelinya sebagai pengganti kalung yang di beli. Mendengar hal itu tentu saja si anak perempuan ini senang sekali dan tanpa berfikir panjang menyetujui keputusan ibunya. Lalu setibanya mereka dirumah, dengan begitu gembiranya si anak perempuan langsung memakai kalaung itu dan bercermin. Di dalam cermin itu di lihatnya dirinya kini secantik dan seanggun mamanya. Dan mulai saat itulah hampir setiap saat, setiap kegiatan, dan dimanapun si anak perempuan itu berada, kalung itu menemani dirinya. Hanya saat mandi dan berenang saja kalung itu di lepas dari tubuhnya, karena khawatir keindahan kalung itu menjadi rusak terkena air.

Waktupun berlalu, suatu malam papa si anak perempuan menghampiri anak perempuan itu yang sedang berada di kamarnya. Orang tua itu meminta sesuatu yang dianggap paling berharga untuk diberikan padanya. Si anak perempuan yang mengerti maksud papanya, namun ia tidak bersedia meberikan kalung kesayangannya dan hanya mau memberikan guling kesayangan yang selalu menemaninya tidur, namun orangtua itu menolak lalu meninggalkan anak perempuan itu sendiri. Di malam lain orang tua itu kembali merayu si anak perempuan untuk memberikan sesuatu yang paling disayangi oleh si anak perempuan, namun kembali si anak perempuan menolak memberikan kalungnya, kali ini ia tawarkan boneka kesayangannya. Orang tua itu menolak lalu meninggalkan si anak perempuan itu. Tak beberapa lama setelah di tinggalkan oleh orang tuanya, si anak menangis dan terdengar oleh papanya. Ketika dihampiri dan ditanyakan mengapa ia menangis, si anak perempuan menyodorkan kalungnya untuk diberikan pada papanya. Dengan berat hati namun mencoba ikhlas si anak perempuan memberikan kalung kesayangannya pada papanya. Orang tua itu tersenyum menerima kalung pemberian anaknya lalu memasukkannya ke dalam saku, namun dari saku yang lain dikeluarkannya kalung yang baru yang begitu miripnya dengan kalung milik anaknya itu, hanya saja bedanya kalung yang kemudian diberikan pada anak perempuannya itu adalah kalung asli, kalung yang terdiri dari untaian mutiara asli. Dan tentu saja dapat dibayangkan bagaimana reaksi si anak perempuan itu, gembira dan bahagia karena kalung yang dimilikinya kini adalah kalung mutiara asli dan tentunya ia tidak perlu khawatir lagi jika suatu saat nanti air dapat merusak kalung kesayangannya itu.

Saya sangat menyukai cerita itu. Cerita yang mengajarkan keikhlasan, cerita yang setidaknya membuat saya menyadari bahwa Tuhan tahu dan selalu memberikan yang terbaik untuk kita, dan itulah yang menjadi alasan mengapa saya menceritakannya pada Papa saya. Beliau tersenyum dan senang juga mendengar cerita itu dan kami sempat berdiskusi kecil tentangnya. Meski sempat speechless namun saya bersyukur karena akhirnya dalam diskusi itu saya menerima beberapa masukan yang berarti dan membuat sadar akan arti dalam hidup ini.

Berdasarkan cerita itu, Papa saya memberikan pandangan yang sedikit berbeda dari saya. Bahwa memang Tuhan tahu dan memberikan yang terbaik bagi hambanya itu benar, namun dalam pengertian keaslian dan keabadian yang diibaratkan melalui kalung mutiara asli itu rasanya kurang tepat menurutnya. Segala yang terbaik, terutama tentang keaslian dan keabadian tidaklah akan kita terima di dunia ini, karena memang pada kenyataannya segala sesuatu yang ada di dunia ini tidaklah asli dan tidak akan pernah abadi, kecuali kehidupan akhirat nanti. Lalu beliau memberikan contoh kecil yang di alami dalam kehidupan.

Dalam hidup ini meski semua nyata, namun kita tidak memiliki kepastian dengan semua itu. Kalung mutiara imitasi yang dimili anak perempuan itu akan luntur kilauannya hanya jika terkena air, namun jika di bandingkan dengan hidup ini keadannya akan menjadi sangat berbeda sekali. Kita tidak pernah tahu apapun yang akan terjadi setiap kali waktu berjalan. Saat ini kita berada diatas, bisa jadi hanya dalam hitungan tahun, bulan, minggu, hari atau bahkan beberapa jam saja kita bisa menjadi di posisi terbawah. Kita melihat fisik seseorang yang terlihat cantik secara fisik, namun kita tidak pernah tahu apakah kecantikannya itu menunjukkan dirinya benar-benar sehat atau kecantikan itu justru menutupi dirinya yang sebenarnya sakit. Atau misalkan kita merencanakan sesuatu, kita membangun sebuah wirausaha, perlahan dan sedikit demi sedikit usaha itu maju dan berkembang pesat, namun tiba-tiba saat berada di puncak kejayaan kita ditipu orang sehingga mengakibatkan kerugian yang membuat seluruh usaha kita hancur berantakan… dan memang seperti itulah hidup itu, tak ada sesuatupun yang benar-benar pasti kecuali apapun yang kita kerjakan di dunia ini akan mendapat balasan di akhirat nanti.

Dan sayangnya diskusi kecil yang menarik itu harus terhenti karena suara tukang bakso yang kami tunggu.

Jakarta, 1 Agustus 2005

Hary Lasmana

ibu, sahabat terbaik

Ketika saya membaca sebuah kutipan hadist tentang seseorang yang pantas dijadikan seorang figur sahabat, yaitu ibu, saya jadi berpikir begitu dalam. Pada hadist itu tiga kali Rasulullah SAW menjawab tiga pertanyaan dari seorang sahabat siapakah orang yang paling pantas dijadikan teman, dijawabnya "Ibu, ibu, dan ibu" barulah pertanyaan keempat yang sama beliau jawab "Bapakmu".

Saya menjadi merasa lega setelah membaca kutipan ayat tersebut, ternyata apa yang sudah saya lakukan selama ini ternyata bukanlah sebuah keanehan. Beberapa kali saya bertanya pada diri saya apakah saya ini normal untuk ukuran seorang laki-laki, apakah saya terkesan manja karena begitu dekatnya saya dengan seorang figur Bapak yang seringkali dalam berkumpulnya kami dirumah kami isi dengan berbagi cerita, bertukar pikiran, dan berdiskusi mengenai hal-hal yang terjadi diseputar kehidupan. Dan sementara dengan ibu, meski tak berjarak jarang sekali saya mengobrol dengannya, beliau selalu lebih memilih diam dan tak berkomentar apa-apa.

Biasanya jika bersama dengan ibu, sayalah yang selalu harus memulai pembicaraan. Pada awalnya topik pembicaraan yang akhirnya beragam itu selalu saya mulai dengan yang ringan-ringan saja seperti keadaan lingkungan ataupun keadaan keluarga misalnya. Kemudian biasanya darisanalah pembicaraan kami bergulir berganti-ganti topik pembicaraan. Saya akui memang untuk hal yang satu ini, berbicara, dalam keadaan yang bagaimanapun ibu saya jarang sekali mengeluarkan pendapat apalagi saran.

Dulu sempat beberapa kali saya kesal pada beliau karena sikapnya itu. Pernah kekesalan itu mencapai puncaknya ketika saya sedang menghadapi beberapa masalah namun tidak tahu solusinya. Saat itu saya curhat dengan ibu saya, berharap akan sebuah saran dan mencari jalan penyelesaian. Namun tidak ada reaksi apapun darinya, apalagi saran. Hanya sebuah komentar bahwa beliau tidak tahu harus berbuat apa. Mendengar komentar seperti itu tentu saja saya menjadi marah dan kesal. Saya merasa seolah ibu saya sesungguhnya tidak peduli pada saya. Dan karena kekesalan itu saya kemudian mengurung diri dalam kamar dan keluar seperlunya saja untuk menenangkan hati. Masalah saya kini makin bertambah dan berkali-kali lipat. Lalu saya memutuskan untuk tidur saja.

Selepas tidur, tengah malam saya terbangun karena haus. Ketika memutuskan keluar kamar untuk mengambil air minum, saya mendengar suara ibu berucap lirih dan perlahan dari dalam kamarnya. Suara itu terdengar dengan jelas di heningnya malam. Dalam suara yang pelan dan lembut itu disebut-sebut nama saya, di mintakannya pada Tuhan untuk kebahagiaan saya dan kekuatan agar saya selalu mampu menghadapi setiap masalah dalam hidup.

Saya terdiam lama dan tak mampu beranjak dari tempat saya mendengar suara ibu. Saya bayangkan di dalam kamar itu, ibu duduk diatas hamparan sajadahnya dibalut mukena putih dengan kedua tangan diangkat seraya berdo’a memanjatkan kebahagiaan hidup dan jalan keluar dari permasalahan yang saya hadapi. Ah… lagi-lagi saya salah dan merasa berdosa sekali.

Sekujur tubuh ini perlahan terasa panas, seolah aura api neraka begitu dekat… saat itu saya merasa menjadi anak paling durhaka yang ada di dunia.

I love you Mom! thanks for everything… you’re the best mother in the world

hary

memorize… PILKJK 1001buku 2004

ole.. ole.. ole.. ole… oleee… oleeee… ole.. ole.. ole.. oleee…
oleee… oleee….

ole.. ole.. ole.. ole… oleee… oleeee… ole.. ole.. ole.. oleee…
oleee… oleee….


(reportase televisi terdengar mengiringi gerak goyang dan lantunan lagu para fansclub 1001buku diaula kelurahan)

:pemirsa, usai sudah saat-saat mendebarkan yang kita nantikan bersama.. pesta demokrasi terbesar tahun ini, pemilihan PJK 1001buku telah diumumkan hasilnya oleh KPU. Dan seperti yang kita saksikan bersama kemenangan mutlak telah diraih Arum Daratista untuk memimpin dunia gemerlap 1001buku. Dan seperti yang anda saksikan dibelakang saya, sorak-sorai masyarakat bergembira menyambut kepemimpinan baru yang diharapkan tidak hanya mampu menjalani apa yang sudah ada, tetapi juga mampu berbuat lebih untuk anak-anakIndonesia.

:pemirsa, bersama saya saat ini telah hadir Bang Bolot dari kampung Tulalit yang akan diwawancarai seputar pemilihan PJK ini.

Reporter (R): "Selamat siang bang Bolot, apa Kabar?"

Bang Bolot (BB): "Eh iya, Selamat siang mba’ apa kabar terima kasih nich saye udah diberi kesempatan mo diwawancarai… mongomong wawancaranya kapan yak?"

R: "Oh wawancaranya sekarang Bang Bolot, sekarang kita sedang shoot siaran langsung. Mmmm.. Bagaimana kesan-kesan Bang Bolot selama pemilihan PJK, bisa tolong diceritakan kepada pemirsa?"

BB: "O begitu… ya udah kalo emang pas mau shooting bilang ke saya yaa.. biar sayanya siap-siap begitu"

R: "Kita sedang ditake gambarnya Bang Bolot, jadi bisa tolong diceritakan kepada kita semua bagaimana kesan-kesan Bang bolot selama pemilihan PJK"

BB: "Ah mba’ bisa aje.. emang bener, sebelumnya saya sich menyalonkan diri sebagai PJK, tapi enggak tahu kenapa nich koq tim KPU nggak meloloskan saye. Padahal mba’ bisa lihat sendiri penampilan saye yg keren begini, kan cukup pantes ya jadi PJK"

R: "Bang Bolot, menurut Bang Bolot bagaimana dengan PJK yang telah terpilih untuk kepengurusan 2004-2005 ini, apakah dirasa cukup mampu untuk mengurusi kegiatan 1001buku?"

BB: "Wah.. kalo saya mah nggak neko-neko dech mba’!"

R: "Maksudnya?"

BB: "Iya, kalau saya lolos jadi bakal calon PJK saya akan membuat anak-anak Indonesia tidak hanya gemar membaca, tetapi juga menulis, tersenyum, tertawa, bahkan kalu bisa nggak boleh menangis… tadinya sich program saya begitu, eh tapi mau gimana lagi, saya nggak dilolosin juga buat calon PJK.. payah juga dech tuh KPU.. sentimen kali sama saya waktu dulu pembagian jatah beras dikampung ada yang nggak kebagian anggotanya…"

R: "Baiklah kalau begitu Bang Bolot terima kasih atas kesediaan waktunya untuk berbagi cerita pada para pemirsa"

BB: "Lah koq.. maen terima kasih aje, emang udah diwawancarai?? Oh jadi yang barusan itu saya diwawancarai toch.. wah mba’ bilang-bilang dong kalau saya lagi diambil gambarnya… Eh bung kameramen (sambil menunjuk kamera), coba diulang lagi take gambarnya saya ok!"

R: "Baiklah pemirsa sekian dulu.." belum selesai reporter berbicara, tiba-tiba Bang Bolot menarik mic reporter

BB: "Eh bentar dulu sayakan belon puas diwawancarai.. koq udah selesai ajah??"

R: "Baiklah pemirsa sekian reportase saya dari pemukiman Kampung Tulalit seputar pengumuman hasil pemilihan PJK 1001buku" (dari kamera terlihat dibelakang reporter Bang Bolot diseret-seret dua orang hansip)

sementara itu hari semakin sore, namun aula kelurahan semakin padat oleh warga yang berdatangan. warga yang baru datang umumnya adalah ibu-ibu, sebagian dari mereka membawa nampan dan jinjingan. yang isinya antara lain adalah makanan untuk warga yg tengah berkumpul diaula.

Matahari semakin mendekati peristirahatannya, alunan musik semakin kencang dan sorak-sorai warga semakin riuh terdengar. Tampak seluruh warga yang hadir di aula kelurahan adalah warga yang mendukung kedua calon PJK sebelumnya tanpa perbedaan -ini terlihat dari kaus yg mereka kenakan. Golongan pendukung Arum menggunakan kaus berwarna biru dengan foto arum maupun tulisan "Vote Arum for PJK", sementara golongan pendukung Ade mengenakan kaus berwarna pink dengan foto Ade ditengahnya dan juga tulisan "Vote Ade for PJK", namun selain kedua pendukung PJK tersebut, ternyata ada juga golongan-golongan lain yang turut hadir meramaikan aula kelurahan ini, seperti yang baru saja keluar tiga orang kakek-kakek, dikaos mereka yang berwarna putih tertulis "tim golmut" (bukan golput), yang merupakan kepanjangan dari "Golongan Imut-imut". Tetapi berselang beberapa menit saja ketika lagu "Karena Cinta"nya Joy diputar, ketiganya kembali masuk ke aula kelurahan. Dengan penuh semangat ketiga kakek-kakek itu masuk ketengah kerumunan dan bernyanyi bersama. Mereka terlihat bersemangat sekali, saking semangatnya ketika ikat kepala yang dipakai oleh seorang dari mereka terjatuh, mereka tak menyadarinya. Seorang anak kecil yang melihat kemudian memungut ikat kepala tersebut.

Anak kecil itu berjalan menjauh dari kerumunan tersebut, ia berdiri didekat pintu masuk aula. Sambil membetangkan ikat kepala tersebut, ia mengeja tulisan yang tertulis disana, "Aaa.. de.., i loo..ve.. yoou fooo.. reee.. veeerrrr".


"Ade, I Love You forever" ucap seorang ibu yang kemudian menggendong anak itu dan membawanya pulang.

Langit berwarna jingga, puluhan capung-capung berterbangan dihalaman, sepasang kelelawar terbang bekejaran diantara kabel-kabel listrik yang terpasang, dua orang anak menatap kerumunan orang-orang yang sedang berjoget dan bernyanyi dari depan pintu aula. Seorang diantaranya menunjuk kearah kerumunan "Yang tidak memakai ikat kepala itu kakekku".

Jakarta

, 11 Oktober 2004

true lover or just posesif??

Suatu malam ketika sedang memandang langit yang begitu cerah dimana bintang-bintang terlihat begitu indahnya, tanpa sadar saya teringat seseorang yang begitu dekat di hati. Namun entah kenapa saat itu timbul pikiran buruk dalam diri ini, sebuah pertanyaan yang pasti akan sulit di jawab jika memang terjadi di kenyataan; "Jika sepasang kekasih yang memiliki rasa sayang berlebih, sampai sejauh mana hubungan itu dapat dipertahankan?"

Seketika pertanyaan itu tercetus, otak dan perasaan saya langsung mencoba mencari jawabannya, dan meskipun saya berusaha keras, tidak satupun jawaban yang muncul dan dapat diterima. Saya tidak mendapat satupun jawabannya, hanya khayalan dan bayangan-bayangan “seandainya…” muncul dalam benak saya.

Saya sadar saat itu, satu-satunya perasaan yang akan dapat menyakiti diri ini adalah ketika kehilangan sesuatu yang sangat kita kasihi dan kita sayangi dalam hidup. Dan mungkin semua orangpun pasti akan berpendapat sama dengan saya. Kemudian saya berfikir, lalu jika rasa kehilangan itu yang ditakuti, bagaimana seharusnya saya bersikap atau adakah cara efektif untuk mempertahankan sebuah hubungan itu menjadi abadi. Saya terdiam, pertanyaannya menjadi semakin sulit

Hingga saat ini, saya selalu berprinsip, setiap rasa takut yang muncul harus saya lawan. Sebagai laki-laki –secara ego, saya tidak pernah mau dibilang pengecut. Jika takut ketinggian, saya akan memajat seberapapun tingginya, jika takut pada setan, saya akan memberanikan diri sendiri untuk mengalahkan rasa takut itu, jika takut akan keadaan yang semakin memburuk saya pasti mencari solusi untuk menghilangkan kekhawatiran itu, atau bagaimanapun hadirnya rasa takut itu sebisa mungkin saya tidak akan menghindarinya, justru akan saya hadapi dengan perasaan lapang meskipun terkadang seringkali tanpa penuh pertimbangan.

Namun kali ini, saya kena batunya. Rasa ketakutan akan perpisahan dengan seseorang yang benar-benar spesial bagi diri ini, membuat saya harus berputar-putar mencari cara bagaimana saya membunuh rasa ketakutan ini…

Hingga malam terus bergulir dalam peraduannya, saya belum mendapat jawaban. Saya tidak mampu menembus batas-batas kewajaran diri untuk menerima kenyataan pahit tentang CINTA dan kehidupan. Bahwa sesungguhnya setiap perjumpaan pasti akan ada perpisahan, setiap yang hidup pasti akan mati, setiap kesulitan pasti akan diberi kemudahan, aaahhhhhh…. Saya mengerti semua kata-kata itu, tapi sulit menerima begitu saja jika hal itu terjadi pada diri saya, bahkan meski hal itu baru sebatas seandainya. Satu-satunya solusi yang tercetus dalam pikiran hanyalah pergi mencari kedamaian. Tapi ah lagi-lagi, saya sadar sesungguhnya kedamaian bukanlah benda, bukanlah sesuatu yang nampak, dan bukan juga sekedar harapan, tetapi kedamaian itu adalah lebih mendekati sebuah bentuk diri, perasaan yang dapat dikendalikan bagaimanapun keadaannya sejauh kita mau menerimanya..

Saya terdiam dan menulis dalam catatan harian saya:

“Seandainya engkau tidak menginginkanku, cukuplah aku saja yang tahu… namun ikhlaskanlah aku untuk bergulir bersama waktu, menapaki jalan kehidupan yang akan kupilih. Aku akan bersinar bersama bintang-bintang dan tersenyum diantara pagi dan juga senja yang menenggelamkan hari.

Jangan kau cari aku, segalanya akan selalu sulit untukku. Aku telah memilih dan menerima semua. Aku akan menjadi apapun dan berada dimanapun, hidup dan berjalan bersama semua yang mengalir, berhembus, bersinar, dan mengendap dimanapun seharusnya aku berada. Biarlah diri ini mengikuti apa yang diucapkan penciptanya.”

~Sayup sayup terdengar alunan musik ke dalam telingaku:

Pernah berpikir ‘tuk pergi /Dan terlintas tinggalkan kau sendiri /Sempat ingin sudahi sampai di sini / Coba lari dari kenyataan


Tapi ku tak bisa jauh jauh darimu… Ku tak bisa jauh jauh darimu…

^mimo^ ;lost my soul satellite

belajar sayang yang tanpa akhir dan ikhlas

perlindungan diri

Usai menonton teman-teman yang berlatih beladiri pencak silat, saya menghampiri kedua sahabat saya yang bersimbah peluh dan terlihat begitu letih. Entah kenapa saat itu ada dorongan di dalam hati untuk memberi ucapan selamat pada keduanya, merasa bangga karena saat latih tarung tadi mereka berhasil menjatuhkan setiap lawan yang dihadapi. Saat diberi ucapan selamat, keduanya hanya tersenyum, dan saya kemudian pamit kembali ke rumah.

Sepanjang perjalanan kembali pulang saya kembali teringat motivasi kedua sahabat saya sebelum berlatih pencak silat, “Untuk menjaga diri dan keluarga”. Dan memang sebelum mereka memilih bela diri yang akan di pelajari, sempat terjadi diskusi diantara kami bertiga mengenai olahraga bela diri apa saja yang cocok, dan yang terpenting adalah bagaimana membuat kami tetap sadar bahwa segala sesuatu masih tetap berada di tanganNya.

Sebenarnya kalau di pikir-pikir diskusi yang kami lakukan saat itu cukup menarik, karena selain membicarakan mengenai keunikan dan kemampuan olahraga bela diri yang ada, kami juga melihat filosofi dasar dari bela diri itu sendiri, yaitu “ketenangan dalam mengendalikan diri”, dan bukankah itu adalah inti dari semua kemenangan?

Saya bersyukur karena akhirnya kedua sahabat saya itu telah menjatuhkan pilihan mereka dan serius dengannya, meski sempat sebelumnya keragu-raguan muncul ketika sebuah pertanyaan terlontar dari mulut saya, “Bagaimana jika musuh yang kita hadapi menggunakan senjata tajam, sementara kita hanya bermodalkan tangan kosong?”, melihat kenyataan hidup saat ini memang seringkali kejahatan yang kita hadapi tak segan-segan melukai korban dengan senjata yang dimiliki. Kami terdiam sambil berpikir dalam, karena memang kita berada dalam hidup yang nyata, bukan kisah yang ada di film-film. Seorang di antara kedua sahabat itu menjawab, “Bertahan dan menunggu kesempatan”, lalu sahabat yang satu menambahi “Namun sebelumnya kuasai dulu rasa takutmu” ucapnya penuh semangat.

Ah tiba-tiba saja saya teringat nenek saya dan sebuah semangat yang sering ia ingatkan pada saya, semangat yang dulu selalu di berikan pada setiap anak buahnya saat perang ketika mereka down menghadapi Belanda yang bersenjatakan peralatan canggih sementara mereka hanya bermodalkan bambu runcing saja.

“Kemenangan itu mutlak milik kita, karena kita tahu apa yang ingin kita capai. Tak ada yang sia-sia, bahkan setiap tetes darah akan sangat begitu berarti dalam perjuangan kita. Setiap kebaikan pasti menang melawan kejahatan, itulah hakekat perjuangan. Jika kamu takut pada Belanda-belanda itu, mohonlah keselamatanmu pada Alloh, karena jikapun mereka menggunaan pistol sementara kita hanya punya bambu runcing tetap saja ada harapan untuk menang. Jika Alloh berkehendak, mereka pasti sulit mencabut pistol-pistol mereka dari sarungnya. Jika pistol-pistol itu tercabut dari sarungnya belum tentupula pistol-pistol itu meletus, atau jika pistol-pistol itu meletus dan memuntahkan peluru dari dalamnya belum tentu juga peluru itu akan mengenai diri kita. Atau jikapun peluru-peluru yang mereka tembakkan mengenai diri kita, belum tentu juga kita akan gugur, bukankah hidup dan mati itu telah Alloh tentukan segalanya? Dan seandainya jika memang melalui peluru-peluru itu kita harus menghadapNya, bukankah kita menjadi syuhada? KepadaNya lah kita semua kembali, dan sesungguhnya sebaik-baik perjumpaan denganNya adalah mati dalam keadaan syahid”.

Ah… tanpa terasa air mata saya hampir menetes, rasanya kenikmatan hidup yang saya rasakan perlahan telah mengikis rasa bersyukur saya.

Bus yang saya tumpangi berjalan perlahan diantara lenggangnya malam. Di sudut jalan yang baru saja dilewati terpampang sebuah spanduk besar bertuliskan “Berdoalah sebelum berpergian agar terhindar dari kejahatan hipnotis”. Hmm… saya harus bersiap turun.

peace!