:malam itu masih gelap seperti malam-malam lainnya. Udarapun sama, masih dingin saja dan tidak mau diusik. Perlahan dengan jenuh tuts-tuts keyboard menekan dirinya sendiri, meninggalkan jejak jejak barisan kata di layar monitor.
"Aku memang bukan Tuhan bukan pula hambanya", terdengar suara itu berbisik
*cling!
Nostalgia Bola-bola Mata
Berpuluh tahun lalu kau wakilkan jiwamu padaku,
dari seluruh rindu dan keinginan
kau takarkan harapan
asa
dan juga semangat di dalamnya,
kau yakinkan aku
:tak ada perjuangan yang sia-sia.
Aku terdiam
lama mengadukan kedua bola mata kita yang semakin basah entah karena apa
aku terdiam
hingga guntur, topan badai, gunung, lembah, dan semua chaos itu tak tahu harus berbuat apa untuk menenggelamkan keheningan kita. aku terhanyut…
tuk… tuk… tuk… tuk… tuk… tuk…tuk… tuk… tuk…
Kini aku kembali
aku datang membayar semua janjii yang telah kau beri
aku kembali untuk menatapmu
untuk merasakan kembali semua
Aku kembali
aku telah kembali bundaku untukmu,
untuk menatap bola-bola matamu bola-bola mata yang tak bisa bersuara namun mampu berteriak
MERDEKA!
Jakarta, 15 Agustus 2005
Hary Lasmana


