Entries from September 2005 ↓
September 28th, 2005 — Uncategorized
* Resep Kebahagiaan*
Setiap kali saya memandangi oaring tua renta itu saya tak pernah habis berfikir betapa Tuhan itu adil dalam kehidupan ini. Rejeki yang diberikan olehNya seluruhnya merata tanpa pilih kasih. Bukan hanya pada manusia sebagai mahluk yang diberi hak kebebasan untuk melakukan apapun pada kehidupannya, tetapi juga hewan, tumbuhan, dan juga seluruh benda-benda yang menghampar seisi bumi. Angin menikmati kebebasannya dengan berhembus kemanapun ia suka, air mengalir mengikuti arah resapannya menuju lautan, dan entah berapa banyak butir-butir tanah yang merasa bosan kemudian berpindah ke tempat lain dengan berbagai macam caranya. Sebagian memilih mongering menjadi butiran pasir yang menumpang gerak angin untuk berpindah, sebagian lagi memilih menceburkan diri kedalam aliran air untuk hanyut kemanapun mereka mau, sedangkan beberapa diantaranya lebih memilih menumpang diantara sempilan-sempilan tapak sepatu manusia. Ah sungguh ada-ada saja!
Sayangnya setiap kali nenek itu menghilang dari pandangan, tmbulah kegalauan dihati ini, merasa iri. Keinginan untuk menyamainya tak pernah berhasil meski sudah sejak lama. Saya ingin sepertinya, ingin turut mencicipi kedamaian dan kebahagiaan hidup secara sederhana. Hidup yang tenang dan apa adanya, tidak ada uang tetap tersenyum, memiliki uang senantiasa bersyukur dengan berbagi pada sesama.
Sebenarnya resep mudah itulah yang ia berikan pada saya untuk menikmati kebahagiaan. Cukup bersyukur dan terus berbagi, selain tentu saja ikhlas pada setiap keadaan. Pernah suatu hari usai sholat magrib, beliau menasihati saya, bahwa kebahagiaan itu bukanlah hasil dari sebuah kerja keras. Sebuah kebahagiaan akan muncul dari dalam diri ketika kita menerima kenyataan hidup seperti apa adanya, bersyukur atas seluruh hasil kerja keras dengan berlapang dada dan jangan pernah merasa lelah untuk terus-menerus memperbaiki diri, selalu berpikir positif dan optimis, dan juga yang tak kalah pentingnya untuk tetap berbagi. Dan seperti biasa saya hanya mampu mengangguk dan tersenyum.
Nasihat itu begitu mengena. Saat ini bergulirnya kehidupan metropolitan yang serba glamour dan hendonis telah menuntut segalanya untuk serba cepat dan sempurna. Dan tanpa disadari secara perlahan keadaan semacam itu telah menularkan berbagai macam sifat-sifat individualis dan matrealistis yang tak pernah ada ujungnya. Dan yang begitu menyedihkan adalah ketika saya dapati filosofi-filosofi hidup yang begitu mendasar dan berakar itu perlahan terkikis diantara pribadi-pribadi hebat yang saya kagumi. Tapi ah rasanya tak pantas menilai orang lain, sedangkan diri ini saja begitu kerdil karena pada kenyataannya untuk melakukan kebaikan yang sesederhana seperti nasihat nenek saja sulit sekali untuk dijalani. Dan untuk menebus semua itu saya hanya mampu merenung, berharap menemukan jalan kedamaian pada diri sendiri.
~ Perlahan muncul dalam ingatan saya ketika nenek meminta uang untuk diberikan pada pengemis… ketika ia memaksa kami sekeluarga segera membeli lampu-lampu penghias untuk menyemarakkan perayaan 17an… ketika katupan bibirnya tanpa henti mengucap doa-doa mengikuti jari-jemarinya yang keriput mengurut lembut kulit para bayi yang rewel… dan senyumnya yang lembut… yang selalu menghias wajahnya, senyum yang seringkali mencium hati orang-orang yang menghinanya, senyum itu selalu bersanding dengan kedua bola matanya… menatap setiap jengkal kehidupan degan senantiasa berkata “ Aku menyayangimu”.
Salam,
Hary Lasmana
September 13th, 2005 — Uncategorized
Sore tadi saya menghadiri sebuah acara talkshow yang bertema membaca sebagai gaya hidup. Tapi maaf, meski memang sudah lama saya berniat curhat tentang keadaan membaca di lingkungan tempat saya berada kali ini bukan hal itu yang ingin saya ceritakan. Pembicaraan satu arah kita kali ini mengenai sedikit kutipan makna yang saya dapat dari talkshow tersebut, dan jujur saja saya merasa beruntung berada didalam ruangan itu.
Dalam talkshow itu nara sumber yang adalah seorang pembaca buku sejati (definisi saya sendiri -red.) sempat melontarkan bagian dirinya yang hilang, yaitu suara dari dasar hati. Suara ini ketika kanak-kanak dulu kerap mengingatkannya disaat-saat ingin melakukan perbuatan salah dan dengan suara-suara itu seringkali dirinya terselamatkan dari perbuatan-perbuatan dosa. Namun seiring dengan kesibukan dan rutinitas kehidupan modern yang menuntut segalanya serba cepat, perlahan suara-suara itu menghilang tanpa terasa. Ia sendiri sebenarnya tidak tahu bagaimana dan kapan pastinya suara dari dasar hati itu hilang, hanya saja meski telah berusaha dicarinya dengan segala upaya suara itu tetap tidak dapat ditemukannya.
Saya jadi teringat masa kanak-kanak dulu, suara hati saya juga seringkali mengingatkan saya terutama ketika akan melakukan kesalahan yang berakibat dosa. Seringkali, entah bagaimana caranya suara-suara itu muncul terdengar di dalam diri dan terkadang suara-suara itu bereaksi begitu hebat, dengan tiba-tiba tubuh saya dapat merinding, menggigil, menjadi kaku, hingga demam secara tiba-tiba. Aneh memang sungguh aneh, namun apa hendak dikata memang demikian adanya, dan seperti itulah masa kanak-kanak saya alami ketika suara dari dalam diri masih terdengar begitu jelas dalam setiap tindakan. Dengan kepolosan dan kepatuhan pada orangtua suara itu begitu jernih dan terdengar begitu jelas, menyatu dengan diri ini.
Dan saat ini saya mungkin termasuk salah seorang yang beruntung, karena hingga kini meski hanya sesekali saja saya terkadang masih mendengar suara-suara itu mengingatkan saya saat menghadapi pilihan-pilihan yang bertentangan dengan nurani. Meski tak bereaksi sekeras masa kanak-kanak dulu, namun pertentangan akibat suara dari dalam diri itu sesekali mengakibatkan penyesalan. Sebagai contoh misalnya beberapa waktu lalu untuk menghindari sebuah janji yang saya enggan menghadirinya, saya berniat berbohong, menghindari acara dengan alasan sakit. Namun apa hendak dikata -untung tak dapat diraih dan malang tak dapat ditolak, sehari sebelum membatalkan janji itu saya mengalami sakit kepala sebelah, migrain pertama yang hinggap di tubuh ini dan berlanjut hingga tiga hari kemudian. Ah inimah kuwalat, kalau kata orang-orang tua pada saya.
Duh! Seandainya saja setiap manusia terus-menerus memelihara suara-suara dari dalam diri dan mampu bertukar pikiran dengannya, saya membayangkan kehidupan yang tak memerlukan polisi, tak perlu ada tentara, dan yang pasti takkan pernah ada pedagang senjata, yang ada hanya keselarasan dan kedamaian. Dan di dunia yang satu ini saya yakin untaian-untaian bunga pasti laku dijual didalamnya.
Love n’ peace!
10 Sept 2005
`Hary Lasmana
September 13th, 2005 — Uncategorized
Hujan malam ini sungguh deras… saya bersyukur tiba dirumah dengan merasa lebih sehat meski hampir sekujur tubuh basah terkena hujan. Sungguh sayang malam ini saya tidak bisa memenuhi janji saya pada mama untuk membawa penganan sebagai santap malam kami di rumah. Hari ini mama ulang tahun, satu-satunya hal yang ia minta dari saya sebagai hadiah untuknya adalah penganan. Saya sendiri tidak tahu pasti kenapa beliau meminta saya membawakan penganan untuk kami makan sekeluarga, dan saya sendiri tidak mau mencari tahu sebab itu.
Bila ingat masa-masa kecil bersama keluarga, saat ini banyak sekali perubahan yang telah terjadi. Kebiasaan-kebiasan yang sering dilakukan saat libur, hari raya, ataupun hari-hari penting setiap anggota keluarga perlahan mulai tersingkir karena sibuknya rutinitas aktifitas. Bukannya saya merasa kebersamaan diantara kami sudah tidak ada lagi, tapi memang keadaan seringkali menyebabkan kami satu sama lain mengalah dan memilih melaksanakan kewajiban lain –yang entah mana lebih penting? terutama tugas-tugas pekerjaan yang perlahan tanpa terasa mengenyampingkan kebersamaan dalam keluarga.
“Ternyata anak-anak kita sudah beranjak besar”, kata-kata itu yang seringkali terucap di bibir papa saya pada mama. Begitulah memang kodrat kehidupan, tanpa terasa waktu perlahan mengerogoti usia dengan begitu cepatnya, saya sendiri sangat menyadari hal itu.
Dan meski tak hapal dengan semua yang telah saya lakukan, terkadang saya rindu dengan semua keadaan –kebersamaan yang pernah saya lalui bersama seluruh anggota keluarga. Dan malam ini saya akan menyetop pedagang makanan apapun yang lewat di depan rumah sebagai pengganti janji saya pada mama untuk membawakan penganan santap malam sekeluarga.
Hujan perlahan mereda, beberapa porsi makanan hangat telah tersaji di meja siap disantap. Di salah satu sudut ruang depan rumah mama terlihat dengan bahagia menggendong cucu pertamanya, canda mereka terdengar hingga ke seisi ruangan dalam rumah. Saya bahagia, bersyukur pada Tuhan dengan semua keadaan ini. Jam di dinding menunjukkan waktu sudah hampir jam sepuluh malam, seorang anggota keluarga lagi belum hadir. Hmm… semoga saja adik saya itu bisa segera tiba dirumah untuk turut merasakan semua kebahagiaan ini.
Happy b’day Mom!
Jakarta, 9 September 2005
`Hary Lasmana