Entries from October 2005 ↓

Lebaran (mereka) Kali Ini

Lebaran (Mereka) Kali Ini

Lebaran kali ini mungkin lebaran yang sama bagi sebagian orang, dimana pakaian baru, kue-kue penganan yang beraneka ragam, penambahan aksesori rumah, atau aktifitas lain yang ditujukan untuk menyambut hari yang fitri setelah sebulan penuh berpuasa adalah hal wajar yang selalu dilakukan oleh hampir setiap muslim di Indonesia. Namun bagi beberapa teman saya lebaran kali ini adalah lebaran spesial yang sangat berbeda. Lebaran yang memberikan kegembiraan sama seperti tahun-tahun sebelumnya, namun dengan senyum tidak sempurna. Lebaran kali ini para ayah tidak lagi bersama istri-istri dan anak-anaknya karena telah lebih dulu menemui sang penciptanya.

"Jangan menyia-nyiakan kasih sayang orang tuamu, nanti kamu menyesal jika mereka telah tiada!", nasihat seorang teman pada saya. Saya maklum, teman saya tadi telah merasakan bagaimana menyesalnya ia karena telah menyepelekan banyak kasih sayang orang tua yang diberikan kepadanya. Dan sebagai teman, berbagai cerita dan curhat telah diberikannya pada saya sebagai sebuah pembelajaran hidup.

Saya lupa, ketika kanak-kanak dulu -atau mungkin hingga saat ini, berapa kali saya mencurigai orang tua saya dan menyangsikan kasih sayang mereka. Dari mulai menganggap orang tua berlaku tidak adil kepada salah satu anak, pelit dengan uang, terlalu cerewet, tidak peduli dan tidak mau mengerti dengan keadaan saya, dan pastinya banyak hal lain yang akan menambah daftar panjang ini sebagai catatan kekurangan mereka sebagai orang tua. Sayangnya saat itu saya lupa nasihat teman saya yang lain, "Biasanya kita baru merasakan kehilangan jika sesuatu itu telah tiada". Ah sungguh tanpa sadar saya tidak mensyukuri nikmat yang saya rasakan.

Saya diam, merenung dalam hati. Betapa saya telah berlaku tidak adil. Setiap orang tua tentunya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, namun sayang seringkali penerimaan yang berbeda-beda dari setiap anak sering membuat salah pengertian dan menimbulkan prasangka-prasangka yang tidak pada tempatnya. Saya diam menunduk, merasa kecut dan malu.

Dan saat ini saya sadar cepat atau lambat suatu saat nanti sayapun pasti akan mengalami keadaan seperti teman-teman saya itu… Saya bayangkan keadaan, kesedihan itu dan mencoba menghibur diri. Sungguh! seandainya saat itu tiba, saya percaya bahwa seberapa banyakpun tetesan air mata yang ada takkan pernah berguna.

Taqabbalallahu minnaa wa minkum

Minal aidin wal fa aidzin

Selamat Idul Fitri 1426 H

Hary Lasmana

Di mana bumi dipijak, disitu langit di junjung

Ramadhan, hari ke-15.

Time run so fast… Nggak terasa euy sudah separuh perjalanan ibadah Ramadhan!

**********

Hari itu sebenarnya adalah senin pagi yang indah, pagi yang sejuk ketika sinar matahari yang hangat menembus rangkaian kehidupan di bumi.

Di sebuah ruang rapat seorang manajer sedang menghantarkan presentasinya. Dari cara bersikap dan gaya bicaranya terlihat rasa percaya diri yang tinggi akan perencanaan pemasaran yang disampaikan. Sayangnya ketika uraian dari pembicara sedang mengalir, tiba-tiba seorang peserta rapat -sebutlah Rudi, seorang karyawan level menengah yang baru saja direkrut pada perusahaan itu menginterupsi, memotong penjelasan yang sedang disampaikan. Rudi memaparkan kekurangan perencanaan pemasaran si bos jika dibandingkan dengan teori-teori yang didapatnya di bangku kuliah dulu. Si bos yang menyadari kekeliruannya dalam hati memang menyadari kebenaran teori yang di sampaikan, namun seperti judul lagu -BOS JUGA MANUSIA, interupsi yang tidak pada tempatnya itu ibarat sebuah pukulan telak yang telah menjatuhkan harga diri si bos, selain membuat diri si bos merasa bodoh tetapi juga membuatnya merasa dipermalukan di depan semua peserta rapat yang hadir. Dan akhirnya dengan moment itu, usai rapat, penginterup yang tidak pada saat yang tepat itu mendapat “panggilan khusus” ke meja bos.

Lain lagi dengan cerita Joni, maksud baiknya tanpa di sadari berbuah keretakkan hubungan dengan teman-temannya. Ketika panitia perayaan HUT RI menempelkan rangkaian acara di mading RT hatinya senang bukan main karena setelah vakum beberapa tahun, acara perayaan HUT RI kembali digelar dengan meriah. Namun sayang, melihat format acara dan tampilan poster yang kurang menarik, Joni merasa sedikit terganjal dalam hatinya. Dan bukan seorang Joni kalau ia tidak peduli dan segera mengambil tindakan, Joni yang berpengalaman di berbagai organisasi segera menyusun ulang rangkaian acara dan memberikannya pada panitia. Ketua panitia yang menerima langsung kritik dan saran Joni mengucap terima kasih dan sebuah senyum penghargaan. “Pasti di dalam hatinya ia merasa terbantu”, begitu pikir Joni. Namun kemudian entahlah apa yang dipikirkan oleh panitia perayaan HUT RI itu, karena pada pelaksanaannya ternyata tidak satupun usul Joni yang digunakan, bahkan sejak saat itu perlahan Joni merasa bahwa dirinya disisihkan dari kegiatan-kegiatan semacam itu. Sejak saat itu tak satu kegiatan pun dirinya di ikut sertakan di kemudian hari. Aneh!

**********

Hihihihhiihiiiiiii…. Bukan maksud menggurui loh, Cuma sekedar berbagi pengalaman… Pernah nggak sih punya pengalaman seperti itu? Selamat berbingung ria deh, karena memang begitulah kenyataan kehidupan mengajarkan pada kita dengan caranya masing-masing..

“Jadilah orang pintar, tapi jagan sok pintar”, begitu seorang kawan menasihati saya. Memang lucu rasanya, tapi yaa itulah kenyataannya. Terkadang apa yang kita anggap baik, belum tentu sama baiknya dengan yang dipikirkan orang lain. Begitu juga sebaliknya, apa yang dianggap orang lain benar belum tentu benar menurut versi kita.

“Lalu yang baik itu bagaimana sih?”, tanya seorang teman kemudian pada saya.

“Ya tanya saja ke diri sendiri”, jawab saya seenaknya.

"Hmm bingung juga”, gumamnya. “Kalau begitu lebih baik seperti apa yang dikatakan pepatah saja deh, Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”

Saya setuju dalam hati, tapi untuk yang satu ini bukan berarti saya tidak memegang prinsip loh!

.

Salam,

Hary Lasmana

*dan sampaikanlah kebenaran itu walau hanya satu ayat!

Komunikasi

*Komunikasi*

Tuhan menciptakan manusia dengan dua telinga untuk mendengar dan satu mulut untuk berbicara sebagai alat komunikasi. Bahkan begitu pentingnya komunikasi ini dalam kehidupan manusia, ketika perilaku berbicara dan mendengar terbatasi oleh ruang dan waktu, manusia dengan segala daya upayanya melakukan berbagai cara untuk menjaga komunikasinya agar tidak terputus.

Sebagai contoh suku primitif Indian di Amerika terkadang menggunakan asap api unggun untuk memberi tanda dari kejauhan, bersiul meniru burung, ataupun terlihat meninggalkan jejak tertentu pada jalan-jalan yang telah dilalui sebagai tanda bagi yang lain, sementara di beberapa daerah di Indonesia, alat kentongan terbukti efektif untuk memperingatkan warga, adapula angota-anggota pramuka menggunkan bendera semaphore untuk berkomunikasi dalam perkemahan. Dan saat ini di kehidupan modern terciptanya surat-menyurat via pos ataupun email, telegram, telephone telah menciptakan seni keindahan tersendiri dalam berkomunikasi.

Komunikasi pada intinya adalah menyampaikan sesuatu yang ingin disampaikan. Filosofi inipun dapat terjadi melalui pembicaraan satu arah, dimana hanya satu pihak saja yang menyampaikan. Sedangkan pada komunikasi dua arah dimana sejatinya berkomunikasi, keindahan komunikasi itu menjadi lebih terasa.

Pada fase komunikasi dua arah kita memerlukan tidak hanya telinga dan mulut saja, tetapi juga otak untuk mencerna bahkan hati untuk berempati. Ketika dua orang berbicara satu sama lain akan terlihat sebenarnya siapa dirinya, meski secara tidak langsung.

Seringkali terlihat dalam komunikasi orang-orang yang mengunakan bahasa tubuhnya seperti gerakan tangan, anggukan kepala, kernyitan alis, hentakan bahu, dan yang tak kalah penting tatapan mata. Interaksi semcam ini membangkitkan semangat dan menunjukkan ekspresi yang begitu hebat, meski memang harus diakui semua bergantung pada sifat dan kebiasaan masing-masing orang. Ya, sungguh! Begitulah indahnya komunikasi antar manusia.

Namun sayang pada kenyataannya seringkali saya jumpai beberapa orang cenderung hanya mendengar apa yang mereka ingin dengar. Dan memang harus saya akui, beberapa dari kita memang sering menerka dan merasa sudah tahu apa yang ingin disampaikan oleh orang lain -mungkin karena kita merasa sudah begitu dekat dengan orang tersebut, sering melihat kebiasaannya, merasa tahu akan segalanya, atau yang lebih ekstreem lagi mencurigai seseorang berdasarkan penampilan. Hmm… kalau subyektifitas seperti ini terjadi, rasanya komunikasi sehat akan sulit tercipta.

Memang sungguh tidak adil (ini menurut saya). Rasanya tidak mungkin kita berkomunikasi jika fungsi-fungsi panca indra kita sudah menyeting dirinya sedemikian rupa saat berkomunikasi. Akan sulit sekali rasanya berkomunikasi dengan baik jika distorsi fungsi telinga, mulut, mata, dan juga pikiran akan terganggu akibat fungsi hati yang terkontaminasi. Dan celakanya, fungsi yang terakhir ini yang seringkali menguasai hampir seluruh kehidupan kita.

Jadi bagaimana baiknya ya?