Entries from December 2005 ↓
December 29th, 2005 — Uncategorized
Hero (Mariah Carey’s Lyric)
* * * * *
There’s a hero If you look inside your heart You don’t have to be afraid Of what you are There’s an answer If you reach into your soul And the sorrow that you know Will melt away
And then a hero comes along With the strength to carry on And you cast your fears aside And you know you can survive So when you feel like hope is gone Look inside you and be strong And you’ll finally see the truth That a hero lies in you
It’s a long road When you face the world alone No one reaches out a hand For you to hold You can find love If you search within yourself And the emptiness you felt Will disappear
And then a hero comes along With the strength to carry on And you cast your fears aside And you know you can survive So when you feel like hope is gone Look inside you and be strong And you’ll finally see the truth That a hero lies in you
Lord knows Dreams are hard to follow But don’t let anyone Tear them away Hold on There will be tomorrow In time You’ll find the way
And then a hero comes along With the strength to carry on And you cast your fears aside And you know you can survive So when you feel like hope is gone Look inside you and be strong And you’ll finally see the truth That a hero lies in you
* * * *
December 29th, 2005 — Uncategorized
*Bagikan cintamu*
Seorang teman datang pada saya dengan memaksakan senyum mengembang di wajahnya. Nasib telah menentukan untuk tidak memihak pada dirinya. Hari itu untuk ketiga kalinya kisah cinta yang tengah dijalani kandas di tengah jalan.
“Tak ada cinta sejati itu friend! cuma hasil imajinasi fiktif para penulis di buku-buku yang ada”, ia nampak kecewa lalu duduk terdiam. Berakhirnya hubungan ini adalah untuk yang ketiga kalinya, dan tentu saja saya yakin rasa sakitnya tidak lebih ringan dari kegagalan yang sebelumnya.
“Mungkin saya memang bodoh dan tidak pernah pantas untuk siapapun, kegagalan yang berulang adalah kebodohan bukan? Seharusnya saya tidak melakukan kesalahan yang sama…”, berulangkali ia ucapkan itu sambil menundukkan kepala.
Saya diam tak berkata apa-apa, mencoba mendengar setiap keluh dengan perasaan sesungguhnya. Hingga beberapa menit kemudian ia terdiam -tak tahu apa yang harus diucapkan lagi, saya beranjak pergi meninggalkannya sendiri disana. Mencoba memberi waktu agar dirinya menemukan ketenangan untuk menerima kenyataan dengan hati ikhlas.
Entah berapa banyak teman bernasib sama seperti dirinya, cinta yang berujung pada rasa kecewa. Dan diantara mereka saya teringat seorang teman, salah stu pribadi yang sempat saya kagumi. Teman yang hebat ini telah mengajarkan pada saya untuk selalu mengisi hari-hari dengan cinta tanpa rasa kecewa.
Ketika kehidupan penuh harap di jalani oleh setiap orang, teman yang satu ini justru melakukan hal sebaliknya. Ia melakukan segalanya tanpa melihat peluang, harapan, apalagi tuntutan balas dari kehidupan pada dirinya. Entah darimana ia pelajari ilmu kebaikan dan keindahan hidup itu, selalu misterius. Hingga suatu ketika sebelum kepergiannya saya bertanya tentang rahasia itu, ilmu yang tidak pernah saya dapati dalam ruang-ruang kelas ataupun kurikulum di sekolah terbaik sekalipun.
Ia tak menjawab, tetapi menasihati saya,
“Berikanlah cinta itu sepenuh hati, jangan setengah-setengah, jangan pula dengan keraguan dan harap balas yang setimpal. Cukup berikan saja. Kekayaan hati seseorang bukan dilihat dari apa yang dimilikinya tetapi dari berapa banyak ia mampu memberi dan memaafkan.
Cinta memang bukan segalanya, namun dengan cinta itu, sebuah kehidupan mampu tumbuh, berkembang dan bertahan hidup di tanah kering tandus sekalipun. Ia adalah inti dari hidup, bagian yang pasti ada dalam hati setiap insan, jadi untuk apa disimpan dan dinikmati sendiri?
Bila kau menemukan cinta itu, jangan hanyut terlalu jauh dalam angan dan jangan pula menjauh karena takut menghadapi resikonya, biar saja ia mengalir menemui kesejatiannya…
Kuatlah dalam sikap dan lembutlah dalam berucap, tetap jadi diri sendiri. Menjaga kemurnian cinta adalah hal terbaik yang harus dilakukan, penerimaan sesuatu seperti adanya adalah keharusan, karena pada akhirnya sebuah kepalsuan takkan pernah memberikan arah kebahagiaan… bila kamu mampu melakukan itu, berbanggalah tanpa membusung dada dalam cintamu.
Cinta dapat menyelamatkan setiap yang mengenal arti kehadirannya dengan kesungguhan… juga sebaliknya, jadi ikuti saja kata hati”.
Hmm… that simply, but can I? Ah semoga kelak saya mampu memberikan cinta seperti itu pada setiap lintasan kehidupan ini.
Salam,
Hary Lasmana
December 29th, 2005 — Uncategorized
Meditation of Love
My dear, Setiap kali keinginan itu datang tahukah kamu kalau aku selalu menghampirimu dengan cara yang selalu kita lakukan dulu. Mata yang terpejam menjadi kendara yang menghilangkan jarak yang tak terukur. Hati kita menyatu, jiwa kita memeluk satu sama lain, lalu berguguranlah berribu kelopak bunga dari dahannya di taman Eden menceritakan bagaimana Sang Maha Raja mengusir Adam dan Eve dari surganya.
Hingga kini aku selalu terkenang permainan kecil kita dulu, permainan terakhir yang memisahkan kita. Saat itu segalanya adalah kiasan. Aku menjadi bumi dan engkau menjadi bulan… aku adalah siang, engkau adalah malam… aku merasuk pagi, engkau merujuk senja, dan kita membiarkan segalanya bergulir hingga terjembab dalam waktu. Dan celakanya DIA menganggap itu adalah sebuah permintaan untuk dikabulkan hingga membuat kita selamanya tak mungkin pernah bersatu kembali…
Tahukah kau pada setiap gerhana yang terjadi aku selalu mencoba menghampirimu, mengendap-endap dalam gelap, mencoba meninggalkan ruang dan tempatku bernaung. Namun takdir tak pernah berpihak padaku, sang gravitasi yang mengikat membuat segala usaha itu sia-sia.
My dear, entah bagaimana lagi hanya itulah satu-satunya cara yang kutahu untuk menjumpaimu. Karena sisa waktu, sisa tenaga, dan kesempatan yang ada begitu terbatas dan kita berpacu dengannya. Seandainya saja ada kesempatan kedua… untukku, untukmu, dan terkabulnya permohonan-permohonan lain dariNya suatu saat nanti, mungkinkah itu?
My dear, Seandainya ada jalan lain… selamanya aku akan terus mencarinya.
Lost in Spaces
*Oh my dear, I miss you! And I think I supposed to watch that “Cast Away” again… would you?
** (Semalam aku dengar cibiran para bintang yang hanya berani menampakakkan diri pada langit malam, mereka tahu kalau kita saling menyayangi dan tak ada yang lebih baik dari itu, namun Sang Maha Raja telah memutuskan segalanya. Sebuah keputusan kekal untuk menunjukkan pada kehidupan bahwa cinta memang tidak harus memiliki).
December 29th, 2005 — Uncategorized
Teman adalah hadiah
Salah satu hal yang paling membahagiakan diri hingga saat ini adalah keberadaan seorang teman. Betapa tidak? Beragam bentuk fisik, karakter, sifat, hingga kebiasaan mereka membuat kehidupan menjadi lebih berarti, membuat segalanya lebih berwarna. Tak salah jika sebuah kiasan mengatakan bahwa teman adalah hadiah, dan keindahannya itu terletak pada bagaimana ia memperlakukan diri kita dengan berbagi suka maupun duka. Dan saya begitu beruntung telah menjadi bagian dalam kehidupan mereka.
Di pertengahan November lalu beberapa sms ucapan selamat ulang tahun terpampang di layar handphone saya. Untaian kata yang unik, lucu dan menghibur -selain berisikan do’a dan pengharapan tentu saja, membuat saya merasa begitu istimewa. Sekumpulan huruf yang terbentuk menjadi kalimat-kalimat indah di hari bahagia… arrrggghhh… adakah yang lebih indah dari itu? Sederet kata itu lebih dari sebuah kado terindah yang membuka kelapangan dalam diri.
*Speechless…
Semoga saja semua harapan para sahabat terwujud… semoga saya mampu menjadi bintang penghias di langit malam, menjadi embun penyejuk di kala pagi, menjadi angin sepoi yang berhembus di siang hari, atau menjadi capung-capung kecil yang meramaikan tanah lapang saat senja terbenam. Sungguh segala keindahan itu sangat disayangkan kalau hanya untuk dinikmati sendiri. Dan itulah sebabnya kenapa aku selalu ingin berbagi, khususnya denganmu.
Salam,
Hary Lasmana
December 29th, 2005 — Uncategorized
Ketika langit mendung menghiasi hampir seluruh kota Jakarta siang itu, saya dan seluruh rekan perpustakaan duduk berkumpul mengelilingi meja panjang yang besar dimana diatasnya tersedia bermacam-macam penganan yang membangkitkan selera. Setiap wajah yang nampak akrab satu sama lain memperlihatkan raut yang tidak biasanya, rasa gamang akan segala hal yang pasti akan terjadi esok.
Perpisahan adalah sebuah hal yang sangat menyakitkan, saya yakin siapapun pasti menyetujuinya. Dan saat ini setelah bertahun-tahun bekerja dalam suka dan duka bersama, kami berkumpul untuk mengucapkan perpisahan. Sebuah keadaan yang tidak pernah terbayang sebelumnya.
Entah siapa yang patut dipersalahkan kamipun tidak mengerti. Menerima kenyataan itu setiap wajah hanya mampu mencoba menahan diri untuk terus tersenyum, pasrah pada kenyataannya pahit yang terjadi, sayapun begitu.
Ketika setiap kata terucap, ia seolah keluar dari hati yang terdalam, terdorong oleh aliran darah yang mengalir dan memacu adrenalin begitu cepat hingga tak terkendali. Setiap tatapan mata saat menyiratkan arti yang begitu dalam, mengucapkan isi hati tanpa harus bersuara. Hingga detik demi detik berlalu, Azan sholat Jum’at yang terdengar menghentikan rangkaian panjang kebersamaan yang harus di akhiri.
Awan mendung yang menyelimuti langit siang itu mengeluarkan butiran air tipis yang membasahi kepala ketika kami berjalan menuju masjid. Setiap tetes air itu mencoba menyapa diri untuk memberi kesejukan dan kedamaian di hati. Dalam setiap langkah itu saya mencoba menghibur diri dan berharap semoga cerahnya hari-hari esok adalah saat yang penuh rahmat dimanapun kami berada.
Farewell!
23 Desember 2005
* Setiap perjumpaan pasti ada perpisahan, setiap yang dimulai harus di akhiri, namun hidup harus terus berlalu. Dan saya percaya ketika Tuhan berkehendak pastilah Ia telah menyiapkan jalan yang terbaik, percayalah kawan!
Jabat erat tanganku di hatimu.
December 22nd, 2005 — Uncategorized
*BERUNTUNGKAH KITA TAHUN INI?*
Di berbagai perusahaan, bulan Desember biasanya adalah bulan yang penuh kesibukan, berbagai kegiatan penyusunan laporan tahunan dan perencanaan tahun yang akan segera datang menjadi agenda tetap yang selalu berulang setiap tahun. Ini bukanlah sesuatu yang aneh, bukan pula sesuatu yang luar biasa, hanya sebuah konsekuensi hidup yang tanpa disadari telah menjadi tradisi tanpa perayaan berarti.
Omong-omong soal perayaan saat ini saya sendiri lupa bahwa saya samasekali belum memiliki rencana acara untuk menutup akhir tahun. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, biasanya di awal bulan Desember beberapa teman yang telah merencanakan perayaan akhir tahun mereka selalu mengajak saya turut serta. Namun entah kenapa kali ini tidak ada seorangpun yang menghubungi saya, atau jangan-jangan saya yang salah ya karena selalu mereka yang menghubungi?
Tentang hubungan pertemanan saya pernah membaca sebuah artikel online yang mengibaratkan teman itu seperti sebuah hadiah yang kita terima dari Tuhan. Beragam sifat, karakter, bentuk, dan sikap mereka adalah hal yang indah dan patut di syukuri. Artikel menarik yang saya baca itu kiriman dari seorang teman yang biasanya di penghujung tahun selalu menjadi petapa sehari. Petapa yang hanya setiap tanggal 31 Desember menghilang entah kemana, seperti raib di telan bumi. Telepon tidak bisa dihubungi, dirumah tidak bisa ditemui, dan sulitnya lagi seolah tak pernah meninggalkan jejak untuk mereka yang mencari –sungguh begitu hebat manusia yang satu ini menyembunyikan diri, tak ada yang pernah tahu kemana hilang dan kepergiannya.
Dan ajaibnya keesokan pagi di awal tahun, ia pasti menyapa seluruh rekan dan kerabat. Melalui telepon genggam ia sampaikan ucapan selamat tahun baru dan doa pengantar awal tahun melalui sms. Begitulah kelakuan teman yang satu itu, sungguh unik dan ajaib.
Kembali ke persoalan sebelumnya, jujur saja hingga saat ini saya masih bingung karena tidak tahu harus kemana untuk merayakan pergantian tahun ini, tidak tahu mau pergi dengan siapa, dan celakanya belum memiliki rencana untuk setahun depan… duh! Kok rasanya hidup ini begitu singkat dan juga kenapa waktu berlalu begitu cepat ya?
Hmm… bicara mengenai waktu, saya jadi teringat nasihat orang tua yang seringkali mengingatkan bahwa beruntungnya seseorang adalah yang mampu menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan kerugian seseorang adalah jika ia mendapati hari ini sama saja dengan hari kemarin, sedangkan seburuk-buruknya kehidupan seseorang adalah ketika ia mendapati bahwa harinya itu lebih buruk dari hari kemarin.
Saya bingung, saya ini termasuk bagian orang yang mana ya tahun ini, atau bagaimana denganmu… apakah kamu termasuk yang beruntung?
.
Selamat Tahun Baru 2006!
.
.
Salam,
Hary Lasmana
December 19th, 2005 — Uncategorized
Kulepas cintaku untukmu, kehidupan!
.
Jangan tanya kenapa begitu mudahnya hati ini tersentuh terhadap hal-hal yang menimbulkan rasa iba, terharu namun tak tahu harus berbuat apa. Atau bila sering pula kau lihat bibir ini tersenyum untuk sesuatu yang tidak perlu, atau sering kau risih atas ucapan maaf yang berulang. Jangan kau bingung, tolong anggap biasa saja karena aku pun sering bertanya kenapa diri ini berbeda.
Jangan terlalu memujiku, karena rasanya diri ini jauh dari kebaikan. Namun jangan pula menghina, karena setiap pribadi memiliki harga diri yang lebih baik dari hina yang terucap. Nilailah seperti seharusnya dan jangan berlebihan.
Raga rapuh ini hanya titipan sang penciptanya, jangan kamu tertipu. Apa yang nampak baik belum tentu seperti yang terlihat, dan jangan pula meremehkan apa yang nampak seperti sebuah kekurangan pada diri ini, karena bisa jadi itulah sumber kekuatan terbesar yang seringkali dilupakan. Biasa saja, anggap sederhana dan terima apa adanya.
Bila aku memberimu sebuah lilin, percayalah karena kuanggap dirimu adalah seorang spesial..
Sebuah cahaya yang terindah bukanlah kelip sebuah bintang di malam yang cerah, bukan sinar senja yang tenggelam di tepi langit sore hari, bukan pula pijar api unggun yang memberi kehangatan kala malam dingin. Cahaya yang terindah adalah cahaya api kecil yang menyala pada sebuah lilin, cahaya yang redup namun berarti. Lilin mengajarkan bagaimana cinta itu begitu indah melalui drinya.
Pernahkah kau perhatikan manakala pijaran api yang melumat tubuh padat lilin menjadi cair? Ia korbankan dirinya demi setitik cahaya penerang, cahaya redup yang setelahnya ia tahu akan dilupakan begitu saja, tanpa ucap terima kasih atau rasa hormat sedikitpun padanya. Namun dengan kebesaran hatinya ia tunjukkan padamu keagungan dirinya yang tidak berkeluh kesah bahkan menikmati, merasa bangga karena sebuah kehidupan telah berjalan dan ia ikut berada di atasnya.Ia bersyukur atas semua itu.
IItulah cinta, cinta luar biasa yang ia ajarkan padaku.
Untukmu, apabila suatu saat nanti muncul benih-benih cinta itu… biarkanlah ia tumbuh dan berkembang, biar ia mengembara bebas mencari kesejatiannya, biarkan ia menjadi dirinya dan mengenali keberadaannya hingga menemui panggilan Sang pencipta.
Jangan paksa ia, jangan hentikan ia. Hakikat cinta adalah mengenali siapa dirinya, apa tujuannya, juga untuk dibagi, bukan untuk diri sendiri. Karena cinta bukanlah milik siapa-siapa. Ia adalah hidup dan kehidupan.
Semailah cinta itu dan temukan tempat berkembangnya.
Temukanlah cinta itu! pada dirimu, pada lingkungan hidupmu lalu nikmatilah. Biarkan dirimu merasa hangat bersamanya, merasa tenang dalam gundah, merasa yakin dalam bimbang dan kalut . Sungguh, ketika itu terjadi, keabadian adalah persemayaman terakhir yang kan kau temui.
.
.
Je t’aime!
Hary Lasmana
*ingat aku adalah lilinmu
.
December 15th, 2005 — Uncategorized
Ups! ternyata bener… yeseterday is happiness 15th, temen gw punya momongan baru… anaknya perempuan. Selamet yee MOes.
wiks.
December 14th, 2005 — Uncategorized
todays 15th… is a special day ever, hope so…
.
*wiks ga perlu bgt di posting dech kaya’nya
December 14th, 2005 — Uncategorized
Saya bersikukuh atas pandangan saya itu hingga saat ini (tentu saja dengan pertimbangan-pertimbangan yang logis) pokoknya tidak ada usaha yang sia-sia, titik!
Bagi saya segala sesuatu yang patut di perjuangkan adalah hal yang paling terindah dalam hidup ini dan hanya para pecundang saja yang senang berkata tidak mampu sedangkan mereka belum mencoba dengan segenap kemampuannya. Dan untungnya (maaf) sudah dari sananya saya ini sudah dibentuk untuk menjadi seseorang yang selalu mencurahkan segala kemampuan pada segala hal yang saya kerjakan, termasuk urusan hati.
Sungguh saya mengasihani orang-orang yang memberikan separuh hati mereka yang seringkali membohongi diri dan perasaan yang mereka miliki, baik dalam beraktivitas maupun dalam hubungan antar manusia. Tanpa sadar mereka menelurkan kekosongan-kekosongan dalam hati dan diri hingga kehidupan seakan menjadi datar. Hidup seolah hanya mengikuti aliran waktu yang terus bergerak tanpa tahu kemana arahnya, terus mengalir dan menerima begitu saja apapun perlakuan yang di temui.
Mengapa tidak bangkit dan mau mengakui? mengapa harus membohongi diri…
Dan mengenai perasaan… coba ungkapkanlah, tunjukkan perasaan itu dengan sepenuh hati, jangan tunggu cinta itu datang seolah dirimu adalah magnet yang menarik berbagai dimensi kehidupan untuk menghampiri. Sungguh tak ada yang sia-sia… setiap usaha pasti ada hasil. Dan jika ternyata usaha yang maksimalpun tak memberi hasil yang diharapkan, percayalah DIA sedang menyiapkan seseorang yang terbaik untukmu.
.
love n peace… dont give up n keep fight!
hary lasmana