Entries from January 2006 ↓

let’s make our better world

Sebagaimana manusia pada umumnya dulu seringkali saya mengumpat, mencaci, memaki, dan juga mengucap sumpah serapah terhadap banyak hal dalam hidup yang telah dijalani. Penyebabnya tentu saja bermacam-macam; mulai dari keadaan yang tidak menyenangkan, perlakuan buruk orang-orang yang ditemui, hasil usaha yang tidak sesuai harapan, hingga kemampuan berfikir pendek tentang betapa tidak adilnya Sang Pencipta pada diri ini.

.

Tak ada kata yang mampu menggambarkan perasaan puas usai melepas kata-kata makian dan umpatan itu kecuali diri ini rasanya menjadi semakin besar dan angkuh. Setiap kata yang terucap menjadi kenikmatan tersendiri dan anehnya seolah tak ingin kata-kata itu henti terucap. Nafsu yang tak terkendali dengan baik saat itu telah membawa diri jauh dari bisikan kata hati.

.

Dan beruntunglah saya sebelum kelakuan buruk itu menjadi semakin kronis, nenek tercinta tahu keburukan cucunya yang harus segera dihentikan. Suatu kali entah bagaimana tiba-tiba ia memandang saya yang tengah mengumpat kasar dengan iba dalam diamnya. Saat itulah saya sadar bahwa sekali lagi diri yang bodoh dan angkuh ini melakukan kesalahan. Saya hanya mampu diam, menunduk tak kuasa menahan malu.

.

Kejadian itu sudah lama sekali, namun saya tak pernah melupakannya. Salah satu nasihat yang selalu saya ingat darinya, “Bila kau menjumpai seseorang yang sama sekali tidak menyenangkan bagimu, atau bahkan ia menjahatimu… bersabarlah! Tuhan selalu bersama-sama orang yang sabar. Doakanlah orang yang menjengkelkan itu, doakan ia agar Tuhan mau membuka hatinya dan kalian bisa saling mengerti. Sebuah doa kebaikan bagi musuh adalah sebuah senjata yang paling menyakitkan dan paling ampuh. Berdoalah! Doakan kebaikan… terutama untuk mereka yang berselisih denganmu. Semoga dengan doa itu kamu bisa merubah banyak hal menjadi lebih baik dan tinggalkanlah sumpah serapah yang tidak berguna itu. Karena setiap kata yang terucap saat menyumpahserapahi orang-orang ia tidak akan pernah berarti apa-apa kecuali hanya menjadi duri bagi diri sendiri…”.

.

Kata-kata itu meski sulit diterima pada awalnya, kini perlahan mulai tertanam di hati. Satuhal yang saya sadari adalah betapa diri yang rendah ini selalu berharap, menginginkan kejahatan berubah menjadi kebaikan, perselisihan menjadi kesepahaman, rasa curiga menjadi saling mempercayai, kebekuan setiap hubungan menjadi cair… dan satuhal yang terasa begitu indah adalah ketika seorang musuh menjadi seorang teman, bahkan sahabat setia yang selalu menghargai.

.

Semoga kedamaian nyata itu bukan hanya mimpi diri ini sendiri… let’s make our better world!

.

.

Salam,

Hary Lasmana

perbedaan itu indah

Ada sesuatu yang hebat terjadi disini, perubahan! Sebagaimana waktu, ia bergerak meninggalkan semua yang terlena. Secara terus menerus disadari atau tidak, segalanya berubah. Dan saat ini ingin sekali saya berbagi cerita tentang perubahan-perubahan yang datang itu meski rasanya tak mungkin cukup untuk dibacakan satu-persatu, cukuplah sepenggal kisah dan pandangan bisa mengungkapkan bagaimana sebuah perubahan memperlakukan diri ini.

~Sahabat datang dan pergi kadang menghianati/ begitupun rasa cinta kadang mengecewakan/kita punya harga diri kadang terpendam di hati/ kita punya hati nurani kadang tertimbun mati. ..*Slank lyrics –Minoritas Album.

Entah kenapa ya belakangan ini saya jadi sering teringat masa-masa sekolah dulu… segala cita yang pernah ada saat itu –meski tidak semua, perlahan muncul mengingatkan beragam mimpi yang pernah terangkat. Wikssss apa penyebanya ya? Apakah karena kedatangan seseorang yang telah mengisi hati ini? Atau karena kedatangan rekan kerja baru? Atau karena berbagai aktifitas yang begitu gaduhnya di awal-awal tahun? Atau… ah nggak tahu deh, yang jelas semua perubahan itu begitu terasa dan mau tidak mau akhirnya diri ini terlena didalamnya.

Pagi ini disela kesibukan saya dan seorang rekan kerja sempat berbicara panjang lebar. Keterbukaan diantara kami telah menghasilkan keseimbangan yang begitu menyenangkan. Entah karena beberapa kesamaan minat, hobby, pandangan hidup, atau entah apa… yang jelas dari keterbukaan itu saya menyimak banyak pengalaman hidupnya menunjukkan sisi lain dari kehidupan. Bahwa isi seluruh dunia ini berbeda, dan persamaan satu-satunya adalah perbedaan dan perubahan itu sendiri. Hal abadi yang bertahan seumur kehidupan.

Sebagaimana indahnya sebuah rangkaian bunga, berbeda-bedanya jenis bunga yang dirangkai menjadi satu dalam vas di atas meja adalah keindahan yang luar biasa, dan ah… saya jadi begitu menginginkannya. Saat ini saya membayangkan, menginginkan satu atap rumah ibadah dimana siapapun yang mengenal Tuhan berada di dalamnya berdoa untuk sebuah perdamaian dunia sesuai keyakinan mereka masing-masing. Perbedaan-perbedaan itu nyata! dan sungguh indah seandainya manusia benar-benar mengenal diri dan penciptanya.

Perempuan

Mungkin baginya senja tak lagi menyiratkan kesepian

Tatkala sebentuk rindu mengetuk halus hatinya

Menghentak, mengabarkan hasrat menyatukan hari bersama

.

Ah perempuan, dimatamu sendu bisa berubah penuh makna

Bahkan luka tak seperti luka, dan duka tak berarti air mata

Kau bahkan memaknai hidup dengan segala keterbatasanmu

Namun kesederhanaan selalu membuat orang lain merasa bahwa kau istimewa

.

Ya, bagimu luka tak lebih dari warna sebuah kehidupan

Untukmu duka adalah pemanis hari hari

Dan kesedihan adalah pengokoh jiwamu supaya tak rapuh

Ah engkau, bahkan pelangi pun ingin selalu mewarnai hidupmu

.

Duhai perempuan, dimana kesejatianmu senantiasa membuatmu tersenyum ramah

Kebersahajaan menghadirkan tampilan yang anggun

Kau bahkan terlihat istimewa dan terasa sangat istimewa

Dengan dirimu yang kini, yang semakin kokoh dan kuat namun tetap selembut sutera

.

.

Ck, 12.02 PM, Wrote by: Julaeha, Siti <JULAEHAS@Mattel.com>

feel so lucky in the morning

* * * * *

Banyak orang curiga kubicara gak ada yang percaya

Banyak orang menuduh bahkan anggap gue gila…

.

Kutertawa lebih keras

Kubernyanyi lebih lantang

Karena langkah dan mimpiku yang semakin gila….

.

(SLANK lyric, MINORITAS album)

* * * * *

Hmm… dah lupa kapan terakhir dengar lagu itu… lupa kapan terakhir bersenandung penuh suka cita diantara hari-hari yang dijalani. perasaan koq belakangan ini diri semakin kalem aja yaks? Cuma mengalir dan mengalir…

Btw, pagi tadi saat berangkat ke kantor jalanan lumayan lenggang dibanding hari-hari biasanya. N… whatta great morning! Di langit yang mendung nampak seuntai pelangi!!!

Pelangi? Pagi-pagi?? Aih… whatta wonderful world. Jadi inget masa kanak-kanak dulu. Biasanya klo pas hujan deras itu, satuhal yang paling menyenangkan adalah main sepak bola sama teman-teman sebaya. Pas hujan mulai rintik acara berikutnya adalah cari belut diselokan untuk dipanggang. Pelangi? Sering banget pelangi muncul sehabis hujan turun, tapi kalau sekarang? Wiks… I feel so lucky seeing that rainbow this morning…

Mengalirlah… air mata

Bukan sebuah hal buruk jika air mata mengalir membasahi kedua pipi. Baik bagi pria maupun wanita, mengalirnya air mata adalah peredam gundah hati terbaik. Ia adalah do’a yang tak terucap dengan kata-kata, juga penghibur bagi puncak gelisah. Siapapun yang berusaha tegar harus menyadarinya.

Berikanlah air mata itu! Biarkan ia mengalir keluar dan melepas bagian emosi jiwa kita. Hanya dengan membiarkan air mata bercampur udara bebas sajalah kita mampu mengakui dan melihat kenyataan seperti apa adanya. Air mata yang keluar oleh dorongan hati bukanlah kesedihan, tetapi adalah penerimaan. Tuhan maha tahu, karena itulah Ia menciptakannya. Menangislah bersama dunia, berbagilah dan jangan disimpan sendiri.

Ia bukanlah hal tabu untuk diungkap. Jangan belenggu diri kita dengan menyimpan perasaan sendiri. Berbagilah. Entah duka maupun suka, ungkapkanlah dengan air mata. Alirkan kemanapun ia mau mengalir, lepaskan ia untuk menenangkan gelisah yang ada. Ia yang memiliki tempat khusus dalam diri akan mengalir mengikuti kemauanmu.

Air mata bukanlah kelemahan, ia adalah do’a yang tak terucap dengan kata-kata. Setiap tetes air mata mengalir bukan karena hal biasa. Kejadian luar biasa saja yang mampu menghadirkannya ke dunia. Ia yang mampu bercerita tentang kisah seseorang yang menghadirkannya, yang jua mampu menunjukkan siapa diri kita sebenarnya.

Berbahagialah memiliki air mata.

dalam sujud aku menemuiMU…

Kala sujud mendekap wajah ke lantai saat menghadap Sang Pencipta, setiap insan seharusnya mengerti bahwa demikianlah hidup harus dijalani. Ketika kepala yang berisikan otak yang cair itu -yang biasanya selalu berada di atas karena keagungannya sebagai salah satu bagian utama status seorang manusia, kini berada dibawah, menjadi lebih rendah dari lubang dubur tempat pengeluaran kotoran yang seringkali diremehkan keberadaannya, kepintaran dan kehebatan kita saat itu bukanlah apa-apa. Tak ada lagi keagungan yang begitu hebat kecuali kita merasa bahwa diri begitu rendah serendah-rendahnya.

.

Lepasnya semua ego, kebanggaan, dan ikatan diri dengan berbagai hal yang seringkali membuat hati dan rasa menjauh dariNya seharusnya tercpta dalam setiap sujud kita. Kecil! manusia itu sungguh kecil dan tidak ada artinya, dan sujudnya seorang manusia telah memperlihatkan satuhal penting itu.

.

Saya jadi teringat sebuah kejadian dalam hidup saat berkunjung ke rumah seorang teman yang begitu dekat di hati ini. Sebuah godaan yang muncul menghalangi kesempurnaan sujud seorang hamba pada Penciptanya. Sore itu ketika perbincangan hangat diantara kami terurai, terdengar gema azan berkumandang yang kemudian menghentikan obrolan itu.

.

Saat itu beberapa pilihan muncul, beberapa niat untuk menarik simpati dari keluarga dan dirinya dengan turut beribadah bersama-sama mereka terlintas dalam pikiran, ditambah lagi dorongan teman saya itu agar saya turut beribadah berjamaah bersama orangtuanya.

.

Pikiran dan hati dalam ini diri ini bergumul. Logika dan perasaan bertatut, maukah diri ini mendua? Apakah pantas hamba yang rendah ini mencari niat lain saat berkomunikasi denganNya? Mampukah diri ini bersujud sempurna dalam setiap gerak raka’at yang dilakukan? Didengarkah setiap kata yang terucap saat diri ini bersujud padaNya karena sebuah ibadah yang tercemar dari niat awalnya? Untunglah segelas air putih yang saya minum kemudian berhasil membantu hati ini menguasai diri. Sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untukMu ya Rabb…

.

Saya pun kemudian beranjak menuju tempat ibadah mengikuti orang tua teman saya itu, namun memilih tempat ibadah yang berlainan.

.

Ya Rabb… begitu indah pertemuan denganmu, ketidaksempurnaan diri ini begitu terasa saat aku bersujud, bersimpuh memohon ridhoMu. Hamba yang lemah dan hina ini datang menemuimu… biarkan apa yang melekat tubuh dinilai oleh siapapun yang melihat, namun hati ini jangan kau biarkan siapapun mengambilnya dariMu. Hati ini hanya milikMu.

hidup… untuk apa?

Dalam sebuah cerita yang pernah saya baca dikisahkan di suatu pagi yang cerah saat mengantar majikannya pergi ke kantor seorang sopir ditanya oleh majikannya, “Bagaimana menurutmu keadaan hari ini?”

“Baik pak! Hari yang indah untuk beraktifitas”, jawab si sopir dengan senyuman.

Mendengar jawaban sopir itu majikannya tersenyum, dalam benaknya tersirat persetujuan.  Pagi yang cerah tentu saja sebuah pertanda baik untuk menjalankan aktifitas usaha bukan? Dan mendengar jawaban si sopir ia menjadi semakin optimis segala kegiatannya akan lancar-lancar saja hari itu. Dan kemudian mengalirlah perbincangan hangat di dalam kendaraan sepanjang perjalanan diantara mereka.

Kemudian di hari lain saat hujan deras turun, kembali majikan bertanya pada sopirnya, “Bagaimana menurutmu keadaan hari ini?”

“Baik pak! Hari yang bagus untuk beraktifitas”, kembali sopir tersebut menjawab dengan senyum meski jawabannya itu membuat majikannya merasa bingung..

Hujan? Di hari yang hujan seperti ini bagaimana mungkin bisa disebut hari yang bagus untuk beraktifitas? Ah! Dasar pak sopir… mungkin hanya bermaksud menyenangkan hati saya saja, ucap majikan mendengar jawaban itu dan bisa ditebak, sepanjang perjalanan si majikan terdiam membayangkan rencana yang telah di susunnya akan terhambat karena siraman air hujan yang deras.

Di hari lain saat udara mendung menyelimuti pagi itu di dalam kendaraan menuju kantor majikan kembali bertanya pada sopir, “Bagaimana menurutmu keadaan hari ini?”

Sopir kembali menjawab, “Baik pak! Hari yang cukup baik untuk beraktifitas. Semoga segala aktifitas kita hari ini berjalan dengan baik”.

Mendapat jawaban seperti itu majikan yang bingung bertanya pada sopirnya, “Apa maksud jawabanmu pak sopir? Mengapa keadaan mendung disebut hari baik untuk beraktifitas… kalau pagi mendung bukankah logikanya siang hari turun hujan, kalau sudah hujan otomatis berbagai aktifitas pasti terhambat, lalu bagaimana mungkin segalanya bisa berjalan dengan lancar?”

Sopir itu tersenyum. “Ya memang pagi ini mendung Pak, tapi bukan berarti nanti siang akan turun hujan bukan? Toh kitapun tidak pernah bisa menerka apapun yang pasti terjadi nanti. Sekiranyapun hujan turun, satu-satunya yang bisa kita lakukan hanya menerimanya. Kita kesal, hujan tetap turun, kita senang, hujan juga turun. Semua kembali tergantung pada kita menerima keadaan.”

Majikan itu diam sepanjang perjalanan, matanya tak lepas memandangi tetes air hujan yang perlahan turun.

* * * * *

Saya lupa berapa kali telah membaca kisah itu. Dan pagi ini saya membacanya kembali, sentak tersadar kalau belakangan ini -dalam kehidupan yang berjalan, ternyata saya sering menemui kehidupan orang-orang yang mengering seperti majikan si sopir dalam cerita di atas.

Kenapa saya sebut kering? Ya karena untuk orang-orang semacam itu memang apapun keadaan yang kerap ditemui sikap penerimaan dari dalam diri itu tetap sama. Selalu menuntut hal-hal yang selalu baik pada dirinya setiap saat, dimanapun dan kapanpun. Salah sedikit adalah fatal, dan segala keinginan juga harapan menjadi sebuah keharusan yang wajib dipenuhi. Namun sayangnya ketika keinginan-keinginan itu terpenuhi, lagi-lagi jawaban yang sama terdengar… Kurang!

Ah hidup ini… apa sih yang dicari? Bukankah semua hanya sekedar lewat saja?

Dulu saya sering merasa bingung dengan para sufi yang melepas ikatan dirinya dengan keduniawian karena merasa seluruh harta, keluarga, pangkat dan jabatan tak akan pernah dibawa mati. Beberapa nasihat yang sempat saya catat di batin ini adalah “Sehebat-hebatnya seseorang dalam kehidupannya hanya satuhal yang pasti yaitu kelak ia akan beristirahat di rumah masa depan, sebidang tanah ukuran 1X2meter bersama para cacing dan pengerat… “.

Saya selalu bergidik ngeri membayangkan saat itu! jadi hidup ini untuk apa ya?

Salam,

Hary Lasmana

thanks GOD!

Seringkali ketika tiba di rumah usai kerja shift malam, saya berpapasan dengan seorang tetangga yang juga baru saja kembali dari tempatnya bekerja. Tetangga ini begitu hebat, itu setidaknya yang terlintas didalam benak saya. Ia seolah tak mengenal lelah dalam bekerja, pergi pagi dan pulang hingga larut malam… dan hasilnya tentu saja jelas terlihat dari kendaraan dan seisi rumah yang dimilikinya.

Suatu malam di tengah berkumpulnya keluarga menikmati acara televisi, bergulirlah pembicaraan mengenai tetangga pekerja keras itu. Sedikit saya membandingkan perekonomian diantara kami -sebagai salah satu perbedaan yang jelas menonjol.

Tak beberapa lama, malam yang dingin itu menjadi hangat dan obrolan yang tak jelas arahnya itu ternyata kemudian memancing mama saya yang biasanya diam menanggapi obrolan. Sikapnya sangat jelas menunjukkan ketidak setujuannya pada pandangan saya. Duh! Saya jadi bingung sendiri.

Untunglah saat kebingungan atas perubahan sikap mama saya, papa saya menengahi pembicaraan dan membuat saya sadar, mengerti akan makna yang terurai dalam obrolan diantara kami. Bahwa kebahagiaan bukanlah apa yang kita miliki dan kita gunakan.

Saat itu saya mereview kembali kejadian lama yang sempat kami nikmati, kemewahan dan kesenangan. Mama saya benar, memang tak ada yang abadi di dunia ini, sebuah kebahagiaan abadilah yang seharusnya dicari.

.

Saya teringat masa-masa kecil dulu ketika hal sama dengan tetangga yang tengah sukses itu terjadi pada keluarga kami. Dan saat ini saya sungguh bersyukur karena papa saya telah memilih kebahagiannya, sebuah pilihan untuk duduk menikmati kehangatan malam yang dingin bersama keluarga tercinta. Sebuah kenikmatan semacam ini sungguh sebuah keadaan yang selalu harus dibayar mahal oleh sebuah karir yang seringkali menuntut berlebihan dalam hidup banyak orang.

.

Thanks GOD!
Hary Lasmana

tetes air cinta

*Tetes air cinta

Sisa air hujan yang melekat pada pakaian ini adalah air hujan yang menyapa dengan cinta. Merembas masuk ke dalam setiap serat tubuh, bersegama dengan jaring-jaring yang tak nampak namun kukuh pada malam yang gelap dan lembab.

Seragam putih para perawat sekilas menampakan keberadaan mereka di keremangan malam yang diterangi kilauan lilin yang luluh. Air mata muka mereka bersanding, seraya berkata “Kami juga manusia”.

Tetesan air hujan terus menyambut dengan kilauannya. Mengalirkan debu yang sudah lama tak tersapu, berdesakan menuju selok penuh Lumpur.

Secarik kertas yang kutulis dengan tinta emas menyanyikan notasi kayangan.

~Mencintailah untuk memberi, jangan mencintai untuk memiliki. Cinta yang kubutuhkan adalah rasa pengertianmu, kepercayaanmu, rasa sayang nan tulus, sikap saling menghargai, dan keinginan untuk berbagi dalam berbagai suasana… tanpa harap balas apapun.

Hidup adalah cermin. Hidup adalah laku. Hidup adalah guna. Siapa menabur benih ia menuai hasil, siapa menabur angin ia menuai badai.

Wusssh… kusapa hatimu dengan senyumku, kupeluk ia dengan cinta, kusirami dengan basuh sayang dan kasih yang tak perlu ia kita ungkit untuk apa. Bahagiamu adalah kebahagiaanku.

surat dari masa lalu

1:30AM, ketika takbir idul qurban menggema…

* * * * *

Selembar kertas lusuh yang separuh terbakar itu kutemukan kembali. Terselip diantara lembaran-lembaran kertas yang menumpuk di salah satu sudut kamar yang mulai terasa lembab. Air mata keharuan muncul, sejarah dari masa lalu berulang.

Kertas dari masa lalu?!??!!?! Sepotong surat yang menuliskan beribu pertanyaan yang telah lama tak dijawab olehNYa dan kini tercerai berai oleh ketidakabadian masa.

Suasana hening. Irama datar mengalun. Suara merdu terdengar, persis nyanyian malam belasan tahun lalu:

“Tuhan… kalau Kamu memang benar-benar ada, tolong agar tidak ada lagi tante-tante bermakeup tebal di tepi jalan, duduk, berdiri menunggu Oom-Oom datang bawa karung penuh uang.

Atapi mereka, lapangkan jalannnya, beri mereka cinta! seperti para nabi yang telah kembali pulang…”

* * * * *