Entries from February 2006 ↓
February 21st, 2006 — Uncategorized
“Bawa payung Nak! Jangan sampai nanti kehujanan”, ucapan itu menyertai keberangkatanku ke kantor pagi ini. Suara yang merdu dari seseorang yang telah melahirkan dan membesarkan diri ini dengan penuh kasih sayang. Dan aku seperti biasanya hanya mampu tersenyum menjawab permintaannya, ucapan itu terbantahkan oleh perasaan malas di hati.
“Payung?? Untuk apa? Toh hujan yang turun pastilah air dan cuaca dilangit saat inipun nampak cerah, tak nampak tanda-tanda akan turun hujan… untuk apa bawa payung?”, ucapku menapik permintaan ibu tersayang di dalam hati. “Sudahlah… tenang saja Mom! Langit cerah kok.”, kucium tangannya lalu pergi keluar dari rumah seraya mengucap salam.
Dan perjalanan berangkat menuju kantor pun dimulai… sambil menyisiri jalan menuju halte bus terdendang beberapa lagu yang begitu pelannya dari mulut ini. Nyanyian yang begitu sinkron dengan beberapa pertanyaan yang timbul di dalam hati, “ Duhai kehidupan, pelajaran apa yang bisa kuambil hari ini? Adakah hari ini sesuatu yang menarik yang dapat dijadikan pembelajaran diri? Atau akankah sebuah hikmah dari kejadian-kejadian yang akan di temui mampu menambah kedewasaan diri ini? semoga saja aku bisa memaknai semua secara bijak! Ya… semoga saja”.
Di kejauhan sebuah bus orange nampak berjalan perlahan mendekat lalu berhenti tepat di depanku berdiri. Kondektur bus yang nampak kumal turun dari bus itu sambil mengetukkan kepalan tangannya ke jendela kaca sementara tangan lainnya melambai-lambai kearahku. Tak berlama-lama akupun segera naik ke dalam bus.
Di dalam bus nampak begitu sepi, beberapa kursi terlihat ksosong tanpa penumpang. Aku sendiri kemudian duduk di sebuah kursi kosong di belakang sopir tepat di samping jendela yang terbuka. Tempat itu nampak begitu nyaman.
Udara dingin pagi bercampur hangat sinar matahari membuat suasana dalam bus terasa begitu nyaman. Sebuah lagu sayup-sayup terdengar… “I see trees of green, red roses too… I see them bloom for me and you… And I think to myself what a wonderful world...”, hmm… ya! What a wonderfull morning.
Duarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr!!!!!! Tiba-tiba saja suara petir nyaring terdengar dari atas langit. Cahaya kilatnya nampak membelah udara yang perlahan mulai terkontaminasi partikel-partikel polusi knalpot kendaraan. Langit yang semula cerah, perlahan menjadi gelap tertutup awan hitam dengan cepat. Aku terkesima!
Suasana pagi yang cerah itupun berubah. Gelap menyelimuti pagi yang semula terang benderang. Udara dingin semakin terasa menyapa kulit dan satu persatu tetesan air hujan perlahan mulai jatuh ke sembarang tempat yang kemudian dalam hitungan beberapa detik saja menjadi deras.
Aihhh… saya tersadar, jadi ini toh maksud ibuku tadi sebelum aku beranjak keluar dari rumah. Hmm… Mom! You always have your 6th sense for me…
February 15th, 2006 — Uncategorized
~. Kelahiran dan kematian, air mata sama dengan rasa berbeda .~
.
Lelaki itu nampak bahagia. Hari ini kesempurnaan dirinya sebagai pemimpin keluarga lengkap sudah, anak pertamanya telah lahir. Seorang bayi mungil pelengkap hidupnya hadir mengisi segala kekurangan batin.
Jakarta, 15 February 2006 5:00 P.M.
* * * * *
Usai mengunjungi bayi nan lucu dan menggemaskan itu tiba-tiba saja nyali saya menjadi ciut, menjadi khawatir, menjadi takut. Takut akan kesendirian, takut akan waktu yang telah pasti itu. Saat dimana ketelanjangan adalah kepastian.
Pada saat itu –nanti, segalanya akan menjadi polos sama seperti pertama kali setiap insan lahir dari rahim ibunya. Tak ada yang bisa ditutup-tutupi! Tak ada kebohongan, tak ada kepalsuan, melainkan setiap individu mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya masing-masing. Segalanya begitu terbuka dan transparan menampakkan wujud asli setiap diri seperti apa adanya.
Tubuh kembali pada asal wujudnya. Dari tanah kembali menjadi tanah, dari air kembali menjadi air, dari udara kembali menjadi udara, dan sepercik api kembali menjadi wujud panas sedia kala. Tak ada lagi yang bisa diperbuat, semua titipan usai sudah.
Lima bayi lahir, berarti satu kematian lagi menjemput*. Lima bayi menjalani takdir hidup, seorang insan menghadapNya, menyerahkan rapor kehidupan yang telah dijalani.
Setiapkali waktu bergerak, semakin dekat pula moment itu menyapa diri. Hal yang memang tak pernah mau menunggu! Seperti pepatah yang sering kita dengar, “Perlahan tapi pasti”.
.
Salam,
Hary Lasmana
.
note: *) menurut ensiklopedia Harun Yahya
February 13th, 2006 — Uncategorized
“Sesungguhnya cinta Tuhan itu beserta cinta para mahluknya…”
Kata-kata yang saya kutip di atas adalah sebuah kalimat yang terselip diantara rangkaian kalimat lain pada buku yang baru saja selesai saya baca. Buku yang telah membawa saya (lagi-lagi) kembali bermain dan berpetualang ke dunia lain yang penuh dengan keajaiban dan pencerahan. Dunia yang kerap membuat saya rindu menemuiNya untuk bertanya banyak tentang penciptaan hidup dan kehidupan ini.
Ach mann das ist doch unhoflich! Maaf saya khilaf, lagi-lagi kekurang ajaran diri ini sebagai mahluk liar muncul. “Dasar manusia bebal dan bodoh!”, ucap saya dalam hati. Entah kenapa koq tiba-tiba saja kembali muncul keinginan itu, keinginan bertemu dengan Sang Pencipta seisi langit dan bumi, bertanya perihal rahasia penciptaan mahlukNya.
Ah… dasar kamu sungguh dungu dan angkuh, sekaligus aneh. Ya! Sungguh aneh, karena pada sisi lain ternyata Sang Pencipta juga turut memberi andil. Ia wujudkan kesempurnaan diriNya dalam cipta yang beragam dan membiarkan tumbuh berkembangnya mahluk-mahluk berparas normal dengan pikiran aneh dalam rasa kritis seperti saya ini.
Hmm… kembali ke keanehan yang hakiki itu, kini akibat penjabaran pada buku itu saya mulai menimati keganjilan lain, merasa melihat wujudNya melalui sifat-sifat ia yang ia tebar melalui nama-namaNya. Sifat yang ternyata begitu jelas ia perlihatkan (meski sedikit sekali .red) melalui mahluk ciptaanNya yang penuh dengan keterbatasan.
Yiks! Saya jadi berfikir, kalau memang demikian adanya mana mungkin saya yang dungu bin bebal ini kelak mampu membenci mahluk ciptaanNya. Mungkinkah kelak saya mampu membeci, memusuhi, bahkan berlaku jahat dan tidak adil pada mahluk ciptaanNya? pastilah perbuatan itu sia-sia belaka, hasilnya akan menjadi nilai nol besar, nihil! karena senyumNya, rahmatNya yang begitu lembut pasti muncul menegur diri dengan perlahan.
Achtung! salahkah saya? mampukah saya? memaknai segala wujud kehadiranNya pada setiap insan yang saya jumpai…
Duhai cinta, maafkan diri ini yang kerap berpaling dan menghianatiMu…
Salam,
Hary Lasmana
*I’m so sorry Pap, once again I’ve read another books which inspired me to find my destiny. I’m human being like you said, not an angel, but let me keep that fire light up on my way.
February 9th, 2006 — Uncategorized
*
……
“Gimana kabar 1001buku?”, celoteh suara cempreng itu terdengar dari mulut mungil salah satu ABGers yang karena rutinitas di tempatnya bekerja membuat ia tidak sempat lagi memantau keadaan milis.
“Masih sama kaya’ dulu, masih mulung buku untuk di salurin ke taman-taman baca anak. Masih setia dengan mewujudkan mimpi anak-anak Indonesia”, jawab gw singkat.
“Distribusinya bagaimana? apa masih lancar?”
“Mmm… lumayan, lumayan sama aja kaya dulu waktu loe masih sering pasbod.”
“Hah!!”
… pembicaraan itu kemudian mengalir, membuka lagi catatan-catatan harian yang dulu penuh warna itu.
* * * * *
Aihhhhhhh…. tahu nggak sih biasanya gue seneng bgt klo udah ketemuan sama relawan yg dulu selalu pasbod di kegiatan 1001buku, karena biasanya pertama kali saat ketemu pertanyaan semacam itu yang selalu ditanya ke gue. Seneng! karena berarti 1001buku selalu ada di hati mereka.
Dan tahu nggak, waktu dulu ketika para ABGers itu memutuskan untuk mencari pengalaman-pengalaman lain menjadi relawan/ti di organisasi sosial lain, harapan gw cuma satu. Semoga siapapun, kemanapun mereka memilih berpetualang, mereka akan dan harus kembali membagi kekayaan pengalaman yang didapat untuk membesarkan 1001buku. Back to basic, menjadi pemulung buku untuk senyum anak-anak Indonesia. Dan syukurnya ternyata harapan itu gak gw miliki sendiri, itu milik seluruh ABGers yang dah hampir jarang gw temui karena beragam aktifitasnya.
ABGers is always ABGers, gak peduli berapa lamapun bumi berotasi pada matahari. Dan untuk yang satu ini dengan penuh semangat kite ngikutin apa yang di ucapin abang Winnetou disetiap janjinye. HOWGH!
Ke 1001buku aku kan kembali…
Salam,
~Hary
Komandannye ABGers nyang ngendukung fairplay pemilihan PJK 1001buku seperti fairplaynya pilkada depok. Pemilu nyang aman dan damai.
February 8th, 2006 — Uncategorized
Mendengar lagu yang penuh kenangan sore ini saya jadi teringat salah seorang kakek yang pernah singgah mengisi sebagian waktunya untuk diri ini. Kakek ini ibarat angin, kemanapun ia bergerak selalu menyentuh setiap bagian jalan yang dilaluinya. kemanapun ia melangkah hembusan auranya seolah memancar ke segenap penjuru, seolah tubuhnya adalah medan magnet yang selalu menarik bagian-bagian yang dilewati. Dan satuhal yang saya suka darinya adalah bahwa kemanapun ia pergi ia selalu membuat orang lain tersenyum, bagi saya ia selalu nampak seperti seorang bayi keriput yang tak pernah habisnya bermain-main dengan dirinya hingga membuat orang-orang tertawa melihatnya.
Dulu, seingat saya dalam sisa usianya yang seharusnya di gunakan beristirahat, ia berlaku sebaliknya. Banyak hal, kegiatan, dan pekerjaan yang justru malah dilakukannya tanpa henti. Tubuhnya seakan sebuah kendara yang diarahkan untuk bekerja, apapun yang ia temui dalam setiap langkahnya. Dan saat itu sama seperti orang lain pada umumnya, melihat kelakuannya sehari-hari itu saya heran plus kagum. Tercetuslah ketertarikan saya, keisengan untuk bertanya padanya akan banyak hal yang untunglah salah satu pertanyaan itu berujung jawaban darinya;
"Saya hanya ingin hidup saya bermanfaat, dan untuk hal itu bagi saya usia bukanlah halangan. Keinginan saya satu-satunya untuk menikmati sisa waktu yang saya miliki adalah menjaga amanah itu, dengan memanfaatkan semaksimal mungkin sisa waktu dengan membuat orang-orang disekitar saya bahagia. Saya hanya ingin saat nanti bertemu dengan Sang Pencipta, saat ditanya olehNya saya mampu memperlihatkan kemampuan tanggung jawab saya atas semua titipanNya selama hidup dengan sebaik mungkin. Saya bukan Nabi, bukan pula orang-orang hebat akhir jaman, namun apapun yang ada pada diri ini saya berusaha melakukan yang terbaik untuk membahagiakan Ia. Dan saya merasakan kebahagiaan itu, kebahagiaan sang Pencipta tatkala kehidupan tersenyum atas apa yang telah saya lakukan pada mereka. Apa yang saya lakuakan bukanlah hal besar dan hebat, hanya pengabdian seorang hamba pada tuannya…".
Kami tersenyum bersama mendengar jawaban yang diucapkannya itu. Kemudian Ia mendekap tubuh bocah kecil dihadapannya yang penuh pertanyaan dalam hidupnya itu dengan kehangatan. Seorang bocah yang menyimpan kenangan itu hingga kini.
Semoga lembayung senja yang kulihat di salah satu bagian perjalanan hidup sore ini akan terus mengingatkan kisah seorang kakek yang selalu mengajarkan diri ini untuk menjadi sebuah pohon kelapa yang seluruh batang tubuhnya dapat bermanfaat bagi kelanjutan hidup manusia. Bernafas untuk selalu memberi dan berbagi.
Salam,
Hary Lasmana
February 8th, 2006 — Uncategorized
Belum Ada Judul
Pernah kita sama sama susah
Terperangkap didingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan
Digilas kaki sang waktu yang sombong
Terjerat mimpi yang indah lelap
Pernah kita sama-sama rasakan
Panasnya mentari hanguskan hati
Sampai saat kita nyaris tak percaya
Bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat masing ingatkah kau
Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara di hati
Cukup lama aku jalan sendiri
Tanpa teman yang sanggup mengerti
Hingga saat kita jumpa hari ini
Tajamnya matamu tikam jiwaku
Kau tampar bangkitkan aku sobat
February 6th, 2006 — Uncategorized
Entah kenapa tiba-tiba saja datang keinginan di hati ini untuk menikmati keheningan suasana pantai malam hari. Suasana kidung yang penuh dengan nyanyi alam -dimana suara debur ombak yang menepi, tiupan angin yang menimbulkan nada-nada merdu, dan juga kegelapan nyata suasana malam hari nan alami berhiaskan kerlip bintang yang bertaburan di angkasa luas, adalah sebuah rangkaian yang mengingatkan diri ini bahwa Ia jauh lebih besar dari apa yang mampu dirasakan segenap panca indera.
Tak banyak yang tahu memang jika saya sebenarnya amat menyukai suasana pantai. Jangan tanya kenapa, karena saya sendiripun tidak tahu apa sebabnya. Saya hanya tahu apa yang saya rasakan ketika berada di pantai adalah sebuah perasaan yang tak mampu dilukiskan dengan kata-kata, sebuah perasaan rindu yang serasa terobati hingga seringkali saya justru merasa kehilangan kemampuan saat berada disana… diri ini menjadi kelu karena terpesona dengannya.
Mungkinkah rasa itu muncul karena kekaguman akan sekumpulan besar air yang bergumul tanpa terhitung? Atau apakah karena setiap kali berada di tepi pantai saya selalu melihat sisi lain pengembaraan hidup dalam mencari jati diriNya? Atau… apakah diri ini sesungguhnya senantiasa merindukan sebuah petualangan baru, sebuah pijakan yang tidak melulu selalu berada di tanah keras dan berbatu? Saya tidak tahu!
Saya rindu! Sungguh rindu. Sebuah rindu yang tak terlukis betapa ia begitu sederhananya. Rindu yang membuat saya berharap semoga kelak saya mampu merasakan indahnya hidup ini dengan menjadi setetes air asin yang akan terus hanyut jauh ke samudera lepas… bergumul bersama yang lain, mencari tahu berapa banyak Ia menyimpan rahasianya diantara tetesan air asin lain yang rapat itu.
.
Salam,
Hary Lasmana
February 2nd, 2006 — Uncategorized
FAQ tentang industri sinetron
Ini adalah beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan pada saya tentang menjadi penulis skenario. Biasanya mereka bertanya setelah membaca buku-buku tentang menulis scenario termasuk buku saya
dan masih bingung bagaimana harus memulai. Mudah-mudahan berguna. kalau ada yang kurang-kurang mohon ditambahkan.
Apakah saya datang saja ke PH/stsiun TV dan membawa naskah Scenario atau seluruhnya dgn ide cerita, treatment,sinopsis?
Lebih baik kita pdkt dulu dengan ph/tv yang dimaksud. Riset dulu, Mereka biasanya bikin apa, ph biasanya punya trademark sendiri, kalau cerita begini punya ph A, cerita begitu buatan ph B, dst. ketahui dulu mereka sedang ingin membuat bikin program seperti apa. Baru bikin janji bertemu sama yang bersangkutan, bisa produser, asisten produser, story editor, atau orang programming. Bawa sinopsis. Kalau mereka tertarik dengan sinopsis yang ditawarkan baru mereka akan minta skenario, dan kalau mereka minta skenario berarti mereka menawarkan kontrak.
Juga, kalau kita berhasil dapat janji ke ph, jangan bawa hanya 1 ide cerita. bawalah paling sedikit 3-5 ide. Ini kalau ide pertama yang dikemukakan tidak menarik buat mereka. Siapa tahu mereka tertarik dengan ide yang. Dapat janji sama orang ph tidak gampang, meski bukan mustahil. Jadi jangan sia-siakan kesempatan.
Saya membuat tayangan dengan durasi 30/60 menit yg rencananya 13episode. Walaupun saya memiliki penokohan karakter & cerita yang menurut saya bagus, tetapi saya takut apakah hanya yang memiliki link ke stasiun tv/ph saja yg diutamakan?
Bukan yang memiliki link. Tapi yang mereka kenal. Contoh simpelnya, kalau orang mau bikin rumah, pasti dia tidak akan menyerahkannya ke sembarangan orang. Pasti dia cari dulu arsitek/pemborong yang dia kenal/dapat referensi dari teman/kerabat atau melihat contoh hasil karyanya baru dia kasih jobnya.
Produksi sinetron sama juga. Untuk 1 eps sinetron yang menghabiskan minimal 400-500 jeti, dah naik kali sekarang, tentu mereka nggak bikin dari sembarang orang dong. Mereka akan mempercayakan pembuatannya kepada orang2 yang mereka kenal, biar kans balik modalnya besar. Itu pun nggak selalu lho.
Bagaimana kenalnya? ya kenalan. Juga jangan lewatkan aneka kesempatan berpartisipasi dalam produksi sinetron atau film. Kalau kamu bisa masuk kru, jalankan. Disitu kamu akan ketemu sama produser dan banyak pekerja film, manfaatkan. Pokoknya banyak cara menuju Roma.
Setelah kenal, biasanya penulis mengerjakan konsep yang ditawari produser. Setelah ada track recordnya dan mereka merasa nyaman bekerja sama kita baru deh kita tawarkan ide2 kita sendiri.
Apakah ada kemungkinan pembajakan ide jika suatu saat saya Ditolak oleh stasiun tv/ph?
Apapun mungkin terjadi. Memang sangat jarang tapi pernah terjadi dan Bukan tidak mungkin terjadi lagi. Meskipun pada kenyataannya banyak sinetron yang sekarang tayang idenya dari tim kreatif phnya sendiri bukan dari penulis luar. Jadi kansnya agak kecil meskipun tetap ada.
Bagaimana memproteksi karya kita? kata ahli Haki, dengan mendokumentasikan karya. Kapan ide detailnya (sinopsis) muncul. Kemudian draft pertama, dst. Kalau di komputer biasanya sudah otomatis ada tanggal dan jam kapan kita tulis. Juga dokumentasikan kapan karya tersebut kita berikan ke pihak lain -ada tanda terimanya. Ini juga pentingnya mengenal kepada siapa kita menyerahkan karya kita, semakin baik kita mengenalnya kansnya makin kecil karya kita dibajak.
Apakah menjadi penulis skenario benar-benar dapat menjamin hidup atau sebagai sumber pendapatan? atau hanya sebagai sampingan?
Pada awalnya, beberapa teman saya memang ada yang punya kerjaan sampingan -ada yang jadi dj radio, masih jadi karyawan kantoran… tapi seiring dengan banyaknya order yang kemudian datang, mereka sekarang sudah menjadikan menulis sebagai pekerjaan full-time. Kalau 1 skenario untuk sinetron 60 menit berkisar antara 1.5-4 jt, taruhlah yang kita dapat sekitar 2 jt per eps, kalau kita bisa menulis 4 eps/bulan berarti penghasilan kita 8jt/bulan.
Lumayan banget kan? Asal kita pandai2 mengatur uang, bisa banget untuk menjamin hidup.
Menjadi penulis skenario itu mirip dengan wiraswasta. Semakin giat dan disiplin kita berusaha -berkenalan dengan banyak sutradara, astrada, produser, etc - biasanya makin lancar bisnisnya.
Apakah benar dunia ph dan stasiun tv sangat kejam?
ah, jangan percaya. Yang bilang kejam bisa jadi mereka bercanda karena lagi bete sama deadline, atau orang2 yang nggak bisa nembus ph alias frustasi.
Tapi industri keras tidak hanya tv dan ph saja. Sekarang negeri kita ekonominya lagi sekarat jadi nggak heran kalau industri makin keras sama pekerja2nya. BBm naik, listrik naik, pekerja pabrik apa nggak makin keras hidupnya? Jadi penulis skenario masih lebih enak dibanding jadi pelinting rokok. ya nggak?
Jadi proporsional lah dalam melihat segala hal. Industri ini memang keras. Bagi yang nggak tahan akan terlihat kejam. Perlu modal ketabahan dan keberanian (dan ongkos muter2 jakarta cari orderan). Kita akan menerima penolakan. Banyak mungkin. Tapi kalau niat dan tekat kita sudah kuat serta dibantu doa, Insya Allah jalan akan terbuka. Sekarang tergantung bagaimana kita memanfaatkan peluang dan kesempatan yang tersedia. Oks!
salam,
Sita Sidharta
*Taken from milist Layarkata
February 1st, 2006 — Uncategorized
"Sesungguhnya usaha sungguh-sungguh yang lahir dari lubuk jiwa saya, itulah merupakan bukti yang amat jelas tentang keabadian. Jika saya telah mencurahkan seluruh hidup saya untuk berkarya, maka adalah merupakan hak atas alam ini, untuk menganugerahi saya wujud baru, setelah kekuatan saya terkuras dan jasad ini tidak lagi memikul beban jiwa".
.
~Johann Wolfgang von Goethe
(1749 - 1832)