Entries from March 2006 ↓

Be the Best of Whatever You Are

~* Be the Best of Whatever You Are *~

If you can’t be a pine on the top of the hill,
Be a scrub in the valley-but be
The best little scrub by the side of the rill;
Be a bush if you can’t be a tree.

If you can’t be a bush be a bit of the grass,
And some highway happier make;
If you can’t be a muskie then just be a bass-
But the liveliest bass in the lake!

We can’t all be captains, we’ve got to be crew,
There’s something for all of us here,
There’s big work to do, and there’s lesser to do,
And the task you must do is the near.

If you can’t be a highway then just be a trail,
If you can’t be the sun be a star;
It isn’t by size that you win or you fail-
Be the best of whatever you are!

-Douglas Malloch

Harapan

Dari sekian banyak hal yang membuat seseorang bersemangat menjalani sesuatu, ada satuhal utama yang biasanya terselip diantara laku dan perbuatan itu. Harapan! Sesuatu yang seringkali di anggap biasa namun menimbulkan kekuatan luar biasa pada diri setiap orang yang memilikinya.

Dengan sebuah harapan seseorang mampu dan bersedia menapaki perjalanan hidup dengan keyakinan diri, dengan harapan itu segala kesulitan adalah tantangan, segala mimpi berusaha diwujudkan menjadi nyata, bahkan dengan harapan segala ketidakmungkinan tak ayal menghasilkan sesuatu yang begitu hebatnya. Dalam keraguan, dengan banyak kebimbangan yang muncul, melalui sebuah harapan seseorang justru biasanya mendapatkan harapan-harapan lain sebagai alternatif pilihan hidupnya yang tak jarang menghadirkan begitu banyaknya hal tak terduga .

Namun kali ini saya tidak ingin membahas lebih jauh tentang harapan itu, meski seringkali timbul satu pertanyaan yang kerap mengganjal ketika mendapati harapan-harapan itu timbul di sekeliling kehidupan. Perlukah berharap jika kenyataan yang nanti terjadi hanya akan menimbulkan rasa sakit yang mendalam? Kenapa tidak menjadikan harapan itu sebagai sebuah bagian hidup saja, cukup dianggap sebagai rejeki yang memang sudah digariskan jika ia terjadi atau jikapun tidak biarlah cukup ia menjadi bagian indah sebagai penghias langit-langit kamar tidur saja. Terjadi ataupun tidak, biarlah harapan itu muncul sesuai porsinya.

Seorang sahabat yang saya jumpai pagi ini tersenyum menyapa kehidupan, menatap indahnya pemandangan pagi dalam cerahnya sinar matahari. Dan baru saja terdengar oleh saya ia mengucap harapannya, berandai-andai agar suasana sepanjang hari ini akan sama seperti yang dirasakannya pagi ini. Saya tersenyum, mencoba menghancurkan harapannya itu. Tak salah memang berharap, tapi berharap keindahan alam muncul di sepanjang hari adalah hal bodoh bukan?

.

.

salam,

Hary Lasmana

Keikhlasan Dalam Pasang Surut Gelombang Perasaan

Dalam bergulirnya waktu –seperti lautan, pasang surut gelombang perasaan pada setiap manusia hadir mengisi kehidupan yang dijalani. Ada kalanya ia meninggi dalam riak tanpa sebab, di lain waktu gelombang itu surut dan tenang mengalir menghampiri daratan. Tak ada yang tahu kapan perubahan itu terjadi kecuali sang pencipta tertinggi.

Dalam rangkaian istirahat panjang suatu malam, saya teringat akan sebuah kisah yang memunculkan seujuntai kalimat, “Hal termudah untuk mendapatkan cinta adalah dengan memberikannya, dan cara termudah untuk kehilangan adalah menggenggamnya terlalu erat…”. Kata-kata itu terus terngiang di telinga hingga kini. Membuat saya terus memikirkannya.

Memberi memang indah, berbagi selalu terasa nikmat, dan kebersamaan yang hadir, yang timbul akibat tindakan semacam itu adalah sebuah hal yang sulit dituliskan dengan kata-kata. Namun sayangnya, seringkali semua tindakan-tindakan itu dengan cepatnya berubah dalam sekejap saja akibat niat awal yang tanpa didasari keikhlasan. Dan memang, entah itu memberi, berbagi, atau bahkan menerima dengan ketidakikhlasan adalah berarti sia-sia. Sebuah perbuatan yang kerap menjadi cikal kekecewaan dalam setiap hubungan antar manusia yang di dalam dirinya terdapat rgelombang pasang surut perasaan tanpa henti dan mengalir tanpa irama.

Ketika seseorang takut akan kehilangan orang-orang yang disayanginya, sesungguhnya saat itulah ia berada dalam keadaan cinta terendah. Ketika nafsu memiliki begitu besar mengalahkan pikiran dan nalar yang dimiliki setiap manusia – yang sedianya hingga kini telah menyaksikan bahwa tiada yang abadi dalam hidup ini, menutup kemampuan kita melihat ke dalam diri bahwa segalanya akan pergi dan berganti bahkan termasuk diri kita sendiri… Ah! Bukankah pergantian itu adalah suatu hal lumrah dalam siklus kehidupan seumur ia bergulir?

Memang tak mudah menyiapkan diri untuk memberi dengan ikhlas, berbagi tanpa harap balas, menghargai sesuatu seperti apa adanya, namun ketika kita mampu melihat wujud sebuah ketidakpastian, semoga kita mampu mengerti bahwa cinta yang lebih besar sedang bermain diantara tindakan-tindakan kita. Cinta yang indah dalam tindakan nyata kita, cinta yang abadi dalam begitu adilnya Ia.

Dan meski keindahan cinta yang begitu besar hanya ada pada cintaNya, kerap pada manusia cinta luar biasa itu muncul pada insan-insan yang mampu menghadirkan dirinya pada kebahagiaan orang-orang yang disayangi. Kemampuan mereka berbahagia atas orang lain bahkan meski hal itu menusuk hati dan menimbulkan penderitaan pada dirinya telah memunculkan hadirnya pintu lain. Sebuah pintu yang mengantarkan perjalanan dirinya menuju alur dunia bahagia dimana tidak setiap orang berhak berada didalamnya. Hanya mereka yang mampu memunculkan keikhlasan dalam gerak laku dan tindakan nyatalah yang kemudian hadir pada dunia bahagia itu.

Ya memang! dan mungkin saja satu-satunya faktor sumber kebahagiaan dalam sebuah hubungan adalah keikhlasan. Hanya mereka yang ikhlaslah yang kelak mampu menatap dalam gelap, mampu terbang tanpa memiliki sayap, mampu berjalan dalam sesatnya tanpa kehilangan arah. Dan dunia bahagia yang mucul dalam keikhlasan sebuah tindakan itu sendiri bukan janji, tapi pasti! Selama seseorang mampu menatap jendela lain yang nampak dan mau menghampiri pintu terbuka baginya untuk dimasuki.

Keikhlasan… ia memang bukan apa-apa, namun bersamanya sebuah petualangan dalam gelombang pasang surut kehidupan dapat terasa begitu luar biasa.

waktu vs kesuksesan

Apa yang membedakan antara orang yang sukses dengan yang tidak?  Banyak faktor tentunya, dan salah satu jawaban diantara banyak jawaban yang mungkin terlontar adalah WAKTU. Ya, kemampuan seseorang dalam mengelola waktu adalah hal penting yang menjadi salah satu faktor penentu kesuksesan sepanjang sejarah peradaban manusia.

Banyak orang mengeluh karena begitu cepatnya waktu berlalu, banyak juga yang kesal saat menunggu waktu berlalu, dan bahkan tak jarang yang menyesal akibat waktu yang telah berlalu… Kejam! Hanya kata itu yang terlintas dalam benak ini melihat kenyataan betapa waktu dengan kerasnya menindas setiap yang terlena dengannya. Namun disamping kejam, ternyata waktu adalah sesuatu yang begitu adil dalam kehidupan ini yang Ia ciptakan bagi seluruh mahluk dan kehidupan di dalamnya.

Setiap kali bumi berotasi terhadap matahari maka setiap mahluk yang ada di atasnya mendapat waktu yang sama, 24 jam sehari! Waktu tak pernah membedakan suku, agama, ras, apalagi apakah ia mahluk yang mampu bergerak, berkaki empat, manusia atau hewan, hidup di pegunungan, di lembah, di pantai, di darat atau di udara, di dalam air atau di permukaan air, semuanya mendapat jatah waktu yang sama. Lalu jika demikian letak kesalahan orang-orang yang tidak meraih kesuksesan? Ya, tentu saja seperti yang saya kemukakan di awal bahwa kemampuan seseorang dalam mengelola waktu sebaik-baiknya adalah salah satu penentu kesuksesan itu sendiri.

Saat ini entah bagaimanapun keadaan kita, mari kita tengok sejenak kebelakang. Di masa lalu saat kita sekolah, saat kita kuliah, atau saat ini dalam ruang lingkup dunia kerja pernahkah terlintas apa yang membedakan antara kita dan beberapa teman yang meraih kesuksesan (dalam artian positif tentunya)? setahu saya, berdasarkan pengalaman orang-orang yang telah lebih dulu meraih kesuksesan adalah ketidakletihan mereka untuk terus belajar memperbaiki diri dan perencanaan mereka terhadap penggunaan waktu seefektif mungkin. Ups ah iya, tentu saja… hmm… saya jadi teringat seorang teman pernah berujar bahwa sebuah perencanaan yang matang dapat berarti separuh dari keberhasilan suatu kegiatan. Yips… bisa jadi!

Salam,

Hary Lasmana