Entries from April 2006 ↓

Bermimpi dan berkhayal

Terbangun dari istirahat panjang malam ini, tiba-tiba saya teringat pada seorang tua yang dulu sering berbagi pengalaman hidupnya. Opa yang satu ini adalah seorang realistis dalam menyikapi kenyataan yang terjadi dalam hidup. Seorang yang menjalani hari demi hari dengan penuh perhitungan dan ia mengajarkan pada saya untuk menerima kenyataan hidup seperti apa adanya namun tidak menerima begitu saja tanpa berusaha. "Dalam kehidupan kamu harus bisa meraih sesuatu yang benar-benar kamu inginkan namun tetap berpijak pada kenyataan! Dan jangan pernah meremehkan kekuatan sebuah mimpi", kata-kata itu masih terekam jelas dalam ingatan saya.

Mengenai mimpi, ia pernah berujar bahwa pada dasarnya setiap mimpi itu baik selama ia ada untuk diraih. Menurutnya seorang yang tak pernah memiliki mimpi, ibarat seorang yang berjalan namun tak memiliki mata untuk melangkah. Hanya bisa meraba, tanpa tahu bentuk asli kehidupan itu sendiri. "Maka warnailah hidup dengan mimpi", ucapnya.

Dulu saya pernah salah menanggapi maksud kata-kata itu yang kemudian untunglah pencerahan yang diberikannya telah membuka sedikit cara berpikir saya secara berbeda. Ada perbedaan jelas antara mimpi dan khayalan. Ketika kita memilki mimpi, maka kita akan berusaha untuk meraihnya. Sedangkan khayalan, hanyalah sebuah angan-angan yang terbatas dalam pikiran saja. Sesuatu yang menghibur dan membuai dalam jeratnya, seperti candu saja.

Hmm.. hingga saat ini saya kerap tersenyum saat mengingat seorang teman yang dulu pernah mencoba menebak bahwa hidup saya ini pastilah penuh dengan mimpi-mimpi untuk diraih. "Yip!", jawab saya mantap, namun kemudian saya menambahkan bahwa saya juga senang berkhayal. Teman ini seolah tak percaya lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

Setengah berbisik saya berbagi rahasia dengannya, "Pssttttt… kalau ingin berkhayal jangan tanggung-tanggung, berkhayalah diatas kewajaran toh hal itu tidak ada yang melarang. Khayalan tidak memiliki batas, tidak juga terikat aturan kecuali kalau kemampuan kreativitas kita tak mampu lagi menjamah hal-hal diluar kenyataan. Berkhayalah! ciptakan khayalan yang berbeda sehingga kita tetap sadar kalau itu hanyalah sebuah khayalan dan bukan mimpi apalagi kenyataan yang terjadi.

Mendengar penjelasan itu teman tadi bertanya, "Kalau begitu apa yang biasa kamu khayalkan Har…? menjadi bos diperusahaan tempat kamu bekerja? keliling dunia? atau ingin bisa terbang seperti burung tanpa sayap…?".

Saya hanya bisa tersenyum menanggapi pertanyaan itu, "Bukan… tebakan kamu itu salah semua… semua tebakan kamu itu mungkin saja suatu saat terjadi pada diri saya. Saat ini khayalan yang paling menyenangkan bagi saya adalah duduk di samping singgasana Sang Pencipta Alam Semesta ini di Arsy sana di langit ketujuh sambil berdiskusi apa yang akan Ia lakukan setelah masa kehidupan manusia di bumi berakhir… apakah Ia akan menciptakan mahluk-mahluk baru kembali atau menyempurnakan yang telah ada atau bagaimana… dan disana saya menjadi asisten Ia lalu berkolaborasi denganNya… :))".

Teman tadi tampak shock mendengar itu, dan untunglah saya telah mempersiapkan diri tentunya. Menebak reaksi yang akan timbul dari ucapan saya tadi, saya menenangkan ia, "Tenang-tenang… itu cuma khayalan! :))"

.

Salam,

Hary Lasmana

love to give… to share… to…

Dear all my blog reader, for weeks… my compie di rumah nganggur gara2 aliran listrik bermasalah. Kaya’nya sih dah kelebihan beban watt ato mungkin ada yg korslet. Whatever deh, cuma jadi repot nih tuk nuangin curhat kata ke dalam tulisan… wish me semoga dapet solusinya segera yaa… thanks!
.
G B U,
Hary
.
* * * * *  (this story taken from milis, sarikata.com). Havva nice reading:
.
Sejak semula, keluarga dari si gadis tidak menyetujui hubungannya dengan sang pemuda. Mereka mengajukan alasan mengenai latar belakang keluarga, bahwa jika si gadis memaksa terus bersama dengan sang pemuda, dia akan menderita seumur hidupnya…..
.
Karena tekanan dari keluarganya, si gadis jadi sering bertengkar dengan pacarnya. Gadis itu benar2 mencintainya, dan dia terus-menerus bertanya, "Seberapa besar kamu mencintaiku?"
Sang pemuda tdk begitu pandai berbicara, dia selalu membuat si gadis marah. Dan komentar-komentar dari orangtuanya membuatnya bertambah kesal. Sang pemuda selalu menjadi sasaran pelampiasan kemarahannya. Dan sang pemuda selalu membiarkannya melampiaskan kemarahannya kepadanya….
.
Setelah beberapa saat, sang pemuda lulus dari perguruan tinggi. Ia bermaksud meneruskan kuliahnya ke luar negeri, tapi sebelum dia pergi, dia melamar gadisnya, "Saya tidak tahu bagaimana mengucapkan kata2 manis, tapi saya tahu bahwa saya mencintaimu. Jika kamu setuju, saya ingin menjagamu seumur hidupmu. Mengenai keluargamu, saya akan berusaha keras untuk meyakinkan mereka agar menyetujui hubungan kita. Maukah kamu menikah denganku?" Si gadis setuju, dan keluarganya setelah melihat usaha dari sang pemuda, akhirnya merestui hubungan mereka.
.
Sebelum pemuda itu berangkat, mereka bertungan terlebih dahulu. Si gadis tetap tinggal di kampung halaman dan bekerja, sementara sang pemuda meneruskan kuliahnya di LN….. Mereka melanjutkan hubungan mereka melalui surat dan telepon.
.
Kadang-kadang timbul kesulitan, tapi mereka tidak menyerah terhadap keadaan. Suatu hari, dalam perjalanan ke tempat perhentian bis sepulang dari kerja, si gadis tertabrak mobil hingga tak sadarkan diri. Ketika siuman, dia melihat kedua orangtuanya dan menyadari betapa beruntungnya dia dapat selamat. Melihat air mata orangtuanya, dia berusaha untuk menghibur mereka.
.
Tetapi dia menemukan… bahwa dia tidak dapat berbicara sama sekali. Dia bisu….. Menurut dokter kecelakaan tersebut telah mencederai otaknya, dan itu menyebabkannya bisu seumur hidupnya. Mendengar orangtuanya membujuknya, tapi tidak dapat menjawab sepatah kata pun, gadis tersebut pingsan…
.
Sepanjang hari hanya dapat menangis dan membisu…Ketika akhirnya dia boleh pulang dari RS, dia mendapati rumahnya masih seperti sedia kala. Hanya jika telepon berdering, dia menjadi pilu. Dering telepon telah menjadi mimpi terburuknya. Dia tidak dapat memberitakan kabar buruk tersebut kepada pacarnya dan menjadi bebannya. Dia menulis sepucuk surat untuknya, memberitahukan bahwa dia tdk mau lagi menunggunya. Hubungan antara mereka sudah putus, bahkan dia mengembalikan cincin pertunangan mereka.
.
Mendapat surat dan telepon dari si pemuda, dia hanya bisa menitikkan air mata… Ayahnya tidak tahan melihat penderitaannya, dan memutuskan untuk pindah. Berharap bahwa dia dapat melupakan segalanya dan menjadi lebih bahagia…
.
Pindah ke tempat baru, si gadis mulai belajar bahasa isyarat. Dia berusahamelupakan sang pemuda… Suatu hari sahabatnya memberitahukan bahwa pemuda itu telah kembali dan mencarinya ke mana-mana. Dia meminta sahabatnya untuk tidak memberitahukan dimana dia berada dan menyuruh pemuda tsb. Untuk melupakannya….
.
Lebih dari setahun, tidak terdengar lagi kabar pemuda itu sampai akhirnya sahabat si gadis menyampaikan bahwa sang pemuda akan menikah dan menyerahkan surat undangan. Dia membuka surat undangan itu dengan hati pedih, dan menemukan namanya tercantum dlm undangan. Sebelum dia sempat bertanya kepada sahabatnya, tiba-tiba sang pemuda muncul di hadapannya.Dengan bahasa isyarat yang kaku, ia menyampaikan bahwa….
.
Aku telah menghabiskan waktu lebih dari setahun untuk mempelajari bahasa isyarat, agar dapat memberitahukan kepadamu bahwa aku belum melupakan janji kita, berikan aku kesempatan, biarkan aku menjadi suaramu.
.
"I L O V E Y O U"
.
Melihat bahasa isyarat tersebut, dan cincin pertunangannya…. Si gadis akhirnya tersenyum.
.
Perlakukan setiap cinta seakan cinta terakhirmu… dan baru kamu akan belajar cara memberi…..
.
Perlakukan setiap hari seakan hari terakhirmu….. dan baru kamu akan belajar cara menghargai…
.
Jangan pernah menyerah.
.
——————-
.
Ingatlah bahwa kasih yang paling indah dan sukses yang terbesar, mengandung banyak resiko…
.
Yakinlah pada dirimu ketika kamu berkata : "…Aku mencintaimu…"

*Jadilah cahaya yang terang namun tidak menyilaukan*

* * * * *

Tatkala aku masih muda serta bebas dan imajinasiku mengembara tanpa batas, aku bercita-cita untuk mengubah dunia. Ketika aku semakin tua dan bijaksana, aku sadar bahwa dunia tak akan berubah. Lalu aku memendekkan sasaranku dan memutuskan untuk mengubah negeriku. Namun, itu pun tampaknya tak dapat diubah. Di usia renta aku nekat dan berniat mengubah keluarga serta orang-orang terdekat saja. Aduh, mereka pun tidak berbeda dan sulit berubah! Sekarang, saat terkulai di ranjang kematian untuk menanti maut, aku sadar, mengapa tidak sejak awal aku mengubah diriku dulu? Dengan demikian, aku jadi panutan keluarga dan sebaliknya mereka jadi pendorong serta sumber inspirasiku untuk mengubah masyarakat, negeriku dan mungkin pula dunia.

* * * * *

(^_^)

Membaca sepenggal tulisan diatas yang terukir di sebuah batu nisan kuburan bawah tanah Westminster Abbey saya menjadi terpaku. Pasalnya jiwa ini menjadi tersedak oleh teguran kata-kata itu. Banyak keinginan, mimpi, dan harapan untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik justru seringkali tercekal oleh keadaan diri kita yang terlampau jauh dalam menapaki keadaan diluar kemampuan diri.

Melihat ke dalam diri, menggantungkan mimpi yang terbentuk oleh segala keinginan dan harapan adalah sesuatu yang sungguh begitu indahnya, namun sayang seringkali harapan itu justru seringkali terkoyak oleh ego kita yang lebih memilih melihat ke luar untuk menatap hijaunya rumput tetangga. Seolah kita terpatri untuk setuju bahwa yang terbaik dan juga serba kekurangan itu adalah yang ada diluar sana, dan kehadiran kita mengisi kehidupan ini adalah untuk merubah keadaan itu menjadi sempurna. Terus dan terus kita berusaha merubah dengan penuh perbandingan ketidaksempurnaan yang maya sambil menutup segala kekurangan diri kita… Ah! bukankah kehidupan ini terisi dengan segala keunikan dan kekurangannya? Bukankah yang demikian itulah kesempurnaan yang tercipta di dunia?

Sebelum memulai menulis pagi ini, tiba-tiba saja saya teringat seorang da’i yang dalam ceramahnya menasihati bahwa sebaiknya kita memulai segala sesuatu dengan pintar merasa dan bukan sebaliknya; merasa pintar! Dalam ceramahnya ia menuturkan bagaimana kehidupan saat ini telah dipenuhi oleh begitu banyaknya orang-orang yang merasa pintar namun semakin jarangnya kehadiran orang-orang yang pintar merasa. Hmmm… tidakkah sebaiknya kita belajar dari sejarah yang mencatat bagaimana iblis yang dilaknat Tuhan itu terusir dari surga akibat kesombongannya karena ia merasa pintar, lebih mulia, dan lebih dahulu ada dari manusia… yip! semoga kita tidak berlaku demikian.

Saat ini tanpa terasa setahun sudah saya mencoba berbagi pikiran, ide, masalah, dan keluhkesah bersama dalam tulisan. Semoga siapapun yang membaca tulisan-tulisan blog ini mampu menerima dan bersedia mengembalikannya tanpa harus terikat dengan segala macam ketidakmengertian. Semoga saja kita mampu untuk terus menciptakan mimpi-mimpi, menebar harapan, dan melakukan tindakan nyata penuh kebaikan di setiap kesempatan.

Menjadi cahaya yang terang namun tidak menyilaukan!

.

Salam,

Hary Lasmana