Terbangun dari istirahat panjang malam ini, tiba-tiba saya teringat pada seorang tua yang dulu sering berbagi pengalaman hidupnya. Opa yang satu ini adalah seorang realistis dalam menyikapi kenyataan yang terjadi dalam hidup. Seorang yang menjalani hari demi hari dengan penuh perhitungan dan ia mengajarkan pada saya untuk menerima kenyataan hidup seperti apa adanya namun tidak menerima begitu saja tanpa berusaha. "Dalam kehidupan kamu harus bisa meraih sesuatu yang benar-benar kamu inginkan namun tetap berpijak pada kenyataan! Dan jangan pernah meremehkan kekuatan sebuah mimpi", kata-kata itu masih terekam jelas dalam ingatan saya.
Mengenai mimpi, ia pernah berujar bahwa pada dasarnya setiap mimpi itu baik selama ia ada untuk diraih. Menurutnya seorang yang tak pernah memiliki mimpi, ibarat seorang yang berjalan namun tak memiliki mata untuk melangkah. Hanya bisa meraba, tanpa tahu bentuk asli kehidupan itu sendiri. "Maka warnailah hidup dengan mimpi", ucapnya.
Dulu saya pernah salah menanggapi maksud kata-kata itu yang kemudian untunglah pencerahan yang diberikannya telah membuka sedikit cara berpikir saya secara berbeda. Ada perbedaan jelas antara mimpi dan khayalan. Ketika kita memilki mimpi, maka kita akan berusaha untuk meraihnya. Sedangkan khayalan, hanyalah sebuah angan-angan yang terbatas dalam pikiran saja. Sesuatu yang menghibur dan membuai dalam jeratnya, seperti candu saja.
Hmm.. hingga saat ini saya kerap tersenyum saat mengingat seorang teman yang dulu pernah mencoba menebak bahwa hidup saya ini pastilah penuh dengan mimpi-mimpi untuk diraih. "Yip!", jawab saya mantap, namun kemudian saya menambahkan bahwa saya juga senang berkhayal. Teman ini seolah tak percaya lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Setengah berbisik saya berbagi rahasia dengannya, "Pssttttt… kalau ingin berkhayal jangan tanggung-tanggung, berkhayalah diatas kewajaran toh hal itu tidak ada yang melarang. Khayalan tidak memiliki batas, tidak juga terikat aturan kecuali kalau kemampuan kreativitas kita tak mampu lagi menjamah hal-hal diluar kenyataan. Berkhayalah! ciptakan khayalan yang berbeda sehingga kita tetap sadar kalau itu hanyalah sebuah khayalan dan bukan mimpi apalagi kenyataan yang terjadi.
Mendengar penjelasan itu teman tadi bertanya, "Kalau begitu apa yang biasa kamu khayalkan Har…? menjadi bos diperusahaan tempat kamu bekerja? keliling dunia? atau ingin bisa terbang seperti burung tanpa sayap…?".
Saya hanya bisa tersenyum menanggapi pertanyaan itu, "Bukan… tebakan kamu itu salah semua… semua tebakan kamu itu mungkin saja suatu saat terjadi pada diri saya. Saat ini khayalan yang paling menyenangkan bagi saya adalah duduk di samping singgasana Sang Pencipta Alam Semesta ini di Arsy sana di langit ketujuh sambil berdiskusi apa yang akan Ia lakukan setelah masa kehidupan manusia di bumi berakhir… apakah Ia akan menciptakan mahluk-mahluk baru kembali atau menyempurnakan yang telah ada atau bagaimana… dan disana saya menjadi asisten Ia lalu berkolaborasi denganNya… :))".
Teman tadi tampak shock mendengar itu, dan untunglah saya telah mempersiapkan diri tentunya. Menebak reaksi yang akan timbul dari ucapan saya tadi, saya menenangkan ia, "Tenang-tenang… itu cuma khayalan! :))"
.
Salam,
Hary Lasmana


