Entries from May 2006 ↓

pantulan cermin

Menghadapi sebuah fase rutinitas pekerjaan yang memuncak, tiba-tiba saya seolah flashback ke belakang mengingat beberapa kejadian mirip yang dulu sempat terjadi di tempat yang sama. Ketika sebuah untung tak mungkin diraih dan kemalangan tak dapat ditolak, aura keharmonisan yang seyogyanya diperlukan dalam kerjasama tim perlahan mengendur. Aneh! Sungguh aneh, -saya berkata pada diri sendiri, tidakkah sepatutnya sebuah keadaan salah terjadi cukup sekali saja? Tak perlu berulang, tak perlu terjadi kembali karena akan membuat sia-sia pelajaran berharga dari kejadian terdahulu. Atau jangan-jangan begitulah cara Ia menanamkan kesadaran pada setiap mahluknya yang lengah dengan suatu hal yang sering dianggap sepele namun begitu berharga?

Alih-alih meneruskan mencari penyebab kesalahan, saya pergi ke WC. Berdiri di depan cermin besar dan tersenyum. Sebuah senyum manis ada di cermin itu -dari dan untuk diri saya sendiri. Senyum pertama yang cukup menghibur pagi ini, senyum yang setidaknya saya ketahui apa maksud dan tujuan hadirnya. Ah andai saja senyum yang sama juga menghias pada setiap pribadi yang saya temui dalam ketidakmengertian mereka. Senyum yang tidak hanya di bibir, tapi juga di hati.

Kembali ke ruang kerja, iseng-iseng mencari sebuah solusi di atas secarik kertas saya tulis besar-besar ”PEDULI vs KETIDAKPEDULIAN”. Saya pandangi tulisan itu dengan berbagai pertanyaan lalu menggariskan beberapa coretan dan menggambar abstrak keindahan di atas salah satu katanya. PEDULI! sikap itu saya pilih sebagai solusi meski tak tahu harus berbuat apa.

Dan waktu yang tidak mengenal ampun terus bergerak, satu demi satu rangkaian alur hidup mengisi, beserta saya di dalamnya.

Disepanjang perlintasan waktu rona wajah ini mencoba memperlihatkan kebahagian di hati. Hasilnya? hmmm… tanpa sadar kemudian entah berapa banyak mereka yang melintas di depan meja saya tergores tanpa sadar oleh senjata ampuh yang saya gunakan di depan cermin di dalam WC pagi tadi. Mereka tersenyum! Mengembalikan senyum yang sama, kembali pada si pemberinya. Wow! sungguh dahsyat gerak sederhana yang berasal dari hati itu, beruntunglah saya masih mampu menyimpan senjata yang ternyata memang cukup ampuh itu.

Setiap orang peduli –setidaknya itu kesimpulan saya, namun entah bagaimana sayangnya seringkali sikap kepedulian itu muncul dengan harap berlebih. Ya, mungkin saja dari sanalah sesungguhnya konflik itu berasal. Sungguh sia-sialah berharap kebaikan akan muncul dari pribadi lain tanpa kendali kita.

Bertanya dan berharap, mencari cermin-cermin lain yang ada dalam diri setiap insan. Seorang teman sekelebat melintas memancing tanya dalam diri ini. Seberapa besarkah kehebatan pantulan cermin-cermin bergerak itu terhadap keadaan yang lain? Entahlah, namun semoga saja setiap cahaya yang memantul dari dalam cermin-cermin bergerak itu adalah cahaya yang merefleksikan keadaan diam. Karena dalam diam terkadang suara nyanyian hati begitu nyata terdengar dan seringkali tanpa sadar memunculkan sebuah jalan keluar yang lebih baik dibandingkan kata-kata yang terucap tanpa makna.

.

.

salam

Hary Lasmana

mornin’ lesson

Terbiasa mendapati bus yang saya tumpangi menuju tempat kerja memutar balik arah dan tak sampai tujuan, saya kemudian turun mengikuti penumpang lain yang hanya beberapa orang menuju bus lain dengan rute sama yang ada didepannya. Di tengah kemacetan jalan kami berpindah bus. Dioper! istilah itu sudah umum bagi para penumpang trayek bus yang saya tumpangi. Hal biasa di hari-hari biasa.

Namun apa yang terjadi kemudian tak disangka oleh para penumpang, mereka(termasuk saya) kembali di mintai ongkos. Kami terkejut dan menolak. Terus menerus dimintai ongkos, seorang penumpang akhirnya mengalah. Membayar ongkos yang diminta. Dan semua penumpangpun akhirnya mengalah, membayar ongkos yang diminta.

Kecewa saya, sedih! perasaan itu muncul begitu saja, namun bukan karena membayar ongkos untuk kedua kalinya… melihat sikap kasar dan ketus kernet itu, kernet yang meminta kembali ongkos pada kami, saya ingat ia. Bagaimana dulu ketika ia pontang panting dengan gitarnya dari bus ke bus menjajakan suaranya mengharap belas kasihan penumpang bus. Saya ingat betul itu, bahkan ketika hari pertama ia menjadi kernet atas permintaan seorang sopir. Dan kini semua sudah berubah drastis dalam hitungan minggu saja. Senyum yang biasa ia lempar saat mengamen, kata-kata sopan dan manis pembuka juga penutup lagu yang dinyanyikannya telah berubah menjadi ucapan kasar dan ketus di dalam rute bus yang sama.

Kehidupan memang keras dan mampu membuat seseorang begitu cepat berubah. Ketika kesempatan itu datang untuk memperbaiki nasib, saya pikir godaan kesombongan itu muncul hanya di kalangan menengah atas semacam artis dan pengusaha saja. Hidup dalam glamour sungguh memungkinkan untuk itu, namun tebakan saya keliru. Seorang pengamen yang kini menjadi kernet bus umum mengajarkan saya demikian. Siapapun bisa saja tergelincir! dan semoga penilaian saya yang satu ini juga salah.

.

Salam,

Hary Lasmana

Aneh? tidak aneh juga

Dunia ini sungguh ajaib! setidaknya itu yang pertama kali terlintas dalam benak ini sejak dulu. Perasaan itu muncul sejak lama, sejak saya mulai bisa berpikir.

Dimulai dari keanehan lingkungan keluarga yang kontras antara masing-masing anggotanya, lalu bergeser sedikit ke tetangga yang makin beragam karakter dan sifat. Semakin saya beranjak besar, kini semakin banyak yang telah saya lihat, semakin saya jauh melangkah keanehan-keanehan itu juga semakin hebat. Begitu banyak perbedaan baik secara fisik maupun nilai-nilai yang dianut. Dan kalau boleh saya bilang demikianlah hidup ini, unik!  saya menyebutnya demikian. Perbedaan-perbedaan itulah yang kemudian menjadi sesuatu yang membuat diri ini seringkali tersenyum. Terlalu banyak keindahan yang sulit saya pahami.

Melintasi perjalanan waktu, belum lama ini mama saya (kembali) kehilangan dompetnya. Lupa! sifat dasar manusia yang satu itu memang tak luput dari gundah yang kali ini datang dan mengakibatkan raibnya lembaran uang beserta surat-surat penting di dalam dompet mama. Tentu saja bisa di ramalkan wajah muram mama kembali berulang dalam benak saya akibat uang belanja seminggu hilang entah di bawa siapa…

Tapi untunglah saya salah duga, wajah ceria tetap berada di wajah mama saya yang cantik itu. Tak seperti sebelumnya saat kehilangan dompet beserta isinya itu kali ini Mama mampu tersenyum dan berkata dengan perlahan menenangkan hati, "Semoga yang menemukan dompet itu bisa memanfaatkan isinya dengan baik dan semoga bisa jadi manfaat untuk dia…".

Aih… aih… merasa aneh? ah rasanya tidak, sudah banyak hal aneh yang kerap saya temui semacam ini… buktinya, (Alhamdulillah!) beberapa hari kemudian dompet itu kembali dengan selamat beserta KTP dan surat-surat penting lainnya. Uang didalamnya? ah jangan ditanya, tentu saja sudah hilang!

Salam,

Hary Lasmana

BUKAN SEKEDAR PELENGKAP

*BUKAN SEKEDAR PELENGKAP*

.

Mengunjungi tempat kost seorang teman sore itu seolah singgah ke sebuah oase yang penuh nyanyian sunyi. Suasananya sangat kontras dengan keadaan diluar yang hiruk pikuk, panas, penuh bising dengan semerawutnya kendaraan. Suasana disini sungguh tenang dan damai…

Uff… maaf karena saya lantas mengambil kesimpulan bahwa tempat kost itu sungguh menyenangkan, karena sebenarnya memang saya sendiri belum mengunjungi satu persatu bagian rumah penginapan itu secara mendetail, hanya langsung berjalan menuju area belakang rumah di mana terdapat sebuah taman tempat para penghuni rendevouz dengan yang lainnya.

Taman kecil yang saya singgahi itu diisi tiga buah meja kayu -yang kemudian salah satunya saya tempati, dengan rimbunan pohon perdu. Berlatarkan panorama pegunungan, sebuah air terjun mini melepaskan pancuran air ke dasar kolam di bawahnya. Sungguh sebuah tempat yang rasanya dapat membuat siapapun berada disana menjadi lebih cooling down menghadapi kerasnya hidup. Sangat nyaman! Arsitek perancang bangunan ini sungguh tahu betul bagaimana mendesain sebuah bangunan yang diperuntukkan khusus bagi orang-orang yang akan menghadapi segudang masalah dan dilema dalam kehidupan.

”Suka suasana di sini?”, tanya teman saya yang kemudian duduk disamping sambil menyodorkan sebotol cola. Saya hanya tersenyum sambil terus memandangi ikan-ikan koi yang nampak mulutnya megap-megap dipermukaan air kolam. Tidak tahu harus berkata apa.

* * * * *

Sepanjang perjalanan pulang dari rumah kost, didalam bus, suasana taman tadi masih terbayang dalam ingatan. Sejuk keadaan disana memang tidak terasa lagi karena tergantikan dengan panas dan bisingnya suasana jalan raya, namun perasaan tentramnya terus melekat pada diri ini. Dan entah kenapa tiba-tiba saat itu saya teringat pada teman yang lain. Seorang yang telah lama tidak terdengar kabarnya. Seorang teman yang dulu biasa saya kunjungi sesekali ada waktu senggang.

Di rumah teman ini juga terdapat sebuah taman kecil di belakang rumah lengkap dengan panorama air terjun. Tapi saat itu, bahkan hingga saat ini entah kenapa saya tidak pernah merasakan hal yang sama di rumahnya dengan keadaan yang sama alami saat berada di tempat kost tadi. Apa yang menyebabkannya? – hal itu menjadi menarik dalam benak saya, membuat saya berpikir mencari jawaban.

Membandingkan kedua tempat itu seolah membandingkan dua batang coklat dengan resep berbeda. Cita rasa dan aroma, juga citra yang melekat diantaranya memang berbeda… ah! Ya itu dia jawabannya. Citra taman itulah yang membedakannya.

Taman yang dibangun di tempat kost adalah sebuah bagian rumah milik bersama peghuni kost, tidak hanya sebagai pelengkap. Sebagai salah satu fasilitas ia hadir menjadi daya tarik yang membuat para penghuni nyaman dan kerasan berada disana. Sedangkan taman pada rumah teman yang tidak pernah terdengar kabarnya itu, kehadiran sebuah taman hanya sebatas sebuah bagian dari fungsi rumah, bagian yang mungkin hanya sesekali dinikmati dan meningkatkan gengsi tanpa arti sesungguhnya. Hanya sebuah pelengkap saja.

Sungguh jelas perbedannya bukan? Sesuatu hanya ada sebagai pelengkap dibandingkan dengan sesuatu yang diadakan memang karena dibutuhkan manfaatnya, keduanya terasa berbeda dalam rasa dan perasaan. Tak terlihat oleh angka memang namun ia merasuk ke dalam bilik-bilik hati yang berada disana, dan siapapun pasti akan merasakan bedanya.

Melepas pandangan menerawang jauh ke salah satu sisi jalan raya, sebuah papan reklame air mineral yang terlihat oleh saya mengusik pertanyaan, ”Apakah sesungguhnya fungsi manusia dalam kehidupan? Adakah ia sebagai sebuah bagian utama atau hanya pelengkap saja…?”

.

May, 5-2006

Salam,

Hary Lasmana