Entries from June 2006 ↓
June 29th, 2006 — Uncategorized
Dear alls,
Saya mo sharing sedikit pengalaman mengikuti workshop
menulis puisi yg diasuh (taela! Diasuh…?!???!?) oleh mas Wan Anwar 31 Mei lalu.
Beradasarkan hasil pantauan dan kondisi di lapangan (apa coba? Emang liputan
kondisi lalu lintas!) saya mengambil kesimpulan bahwa untuk menjadi seorang
penulis puisi yang nge- TO BGT adalah dimulai dengan 3M;
-Mulai dari hal kecil;
-Mulai dari diri sendiri; dan
-Mulai dari sekarang
Ups… maaf salah! Itumah salah satu teknik manajemen qolbunya
A’a Gymnastiar, entrepreneur dari Da’arut Tauhid weheheheheee…. Udah ah serius
dikit nech (taela… serius?)
Jadi kalau mau menulis puisi harus dibiasakan dengan membaca.. membaca.. membaca.. dan menulis.. menulis.. menulis.. Maksudnya adalah dengan membiasakan membaca, baik itu
karya tulisan orang lain berupa novel, cerpen, puisi, etc, yg bisa memunculkan
kreatifitas pandang pikir kita. Selain itu kita juga harus mampu membaca segala
yang tersurat dan tersirat dalam kehidupan ini, entah itu kejadian-kejadian
dalam hidup dan kehidupan sehari-hari, membaca keadaan diri kita (pengalaman
dan cara pandang), atau secara garis besarnya kita harus mampu menemukan
hal-hal yang menjadi inspirasi dan kekuatan kita dalam berkarya dari manapun
sumbernya.
Selain itu biasakan membaca kritik-kritik puisi yang ada. Dengannya
kita mampu membangun apresiasi puisi dengan baik. Setidaknya dengan membaca
sebuah kritik karya kita akan mampu melihat sebuah kelemahan dan keunggulan
karya yang dikritik itu sehingga memperkaya wawasan kita dalam menulis puisi.
Point kedua yaitu mengenai menulis. Sebenarnya ada beberapa
cara namun sebaiknya dalam menulis puisi (atau tulisan apapun) diawal-awal
penulisan jangan terlalu terikat pada aturan. Tulislah saja sesuka hati sesuai
keinginan kita barulah setelah itu lakukan pengeditan. Untuk berlatih kita juga
dapat melakukan teknik “COPY THE MASTER” yaitu dengan memenggal sebagian puisi
yang berirama lalu kita lanjutkan puisi itu dengan puisi hasil tulisan kita
sendiri. Sebagai contoh misalnya;
* * * * *
Dengan Puisi, Aku (Taufiq Ismail)
Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
……………………………
……………………………
……………………………
* * * * *
Jadi kita ambil sepenggal puisi lalu kita lanjutkan puisi
tersebut dengan hasil tulisan kita. Cra ini menurut saya sangat efektif untuk
mengasah kemampuan menulis puisi kita. Jangan lupa terus lakukan eksperimen dan
tidak terpaku satu gaya penulisan saja. Terus menerus berlatih, melakukan diskusi / pembahasan karya
bersama penikmat dan pemerhati karya sastra, dan tak lupa menyempurnakan
karya-karya tulisan kita dapat menjadi salah satu cara efektif meningkatkan
kemampuan kita dalam menulis puisi.
(to be continued…)
Salam,
Hary Lasmana
June 22nd, 2006 — Uncategorized
“Maaf mas… saya baru kali ini mencuci gelas, dan saya lihat gelasnya mas sudah retak. Apa memang sudah begitu atau bagaimana?” tiba-tiba saja seorang petugas cleaner ruangan menghampiri saya sambil menunjukkan gelas besar berwarna coklat yang retak separuh gelas.
Saya hanya bisa tersenyum –dan kaget tentu saja, menerima gelas yang sudah tidak sempurna itu. Baru pagi tadi gelas itu saya gunakan menemani sarapan dengan utuh dan selang beberapa jam saja sudah pecah?
“Ya sudah tidak apa-apa mbak… terima kasih diberitahu. Sudah diletakkan saja ke tempat biasanya”, kata-kata itu meluncur begitu saja saat melihat raut wajah yang nampak cemas dan penuh kalut. Dan seolah tidak peduli dengan keadaan gelas itu saya meneruskan pekerjaan dan cleaner ruangan itupun kembali melanjutkan pekerjaannya yang lain.
Meski dalam hati sebenarnya saya sangat menyayangkan kejadian itu, namun saya tak dapat berbuat apa-apa. Tak tega rasanya menambah perasaan bersalah dari orang lain yang mencoba bertanggung jawab. Dan menghibur hati saya hanya mampu berujar, “Mungkin sudah jalannya seperti itu, harus ganti gelas baru”.
Dan tak lama kemudian tanpa sepengetahuan cleaner ruangan tadi saya mengambil gelas yang nyaris terbelah dua itu, memperhatikan retakannya dengan seksama. Mendalami bentuk garis retak dan sedikit gompal di permukaan gelas yang menjadi pangkalnya.
“Hmm… it’s such a beautiful fissure!”, begitulah setidaknya saya memandang gelas yang mungkin tidak akan pernah dipergunakan kembali menampung air untuk diminum itu. Sebuah keindahan alami pada benda yang akan segera dibuang ke tempat sampah.
Memandangi gelas itu untuk yang terakhir kali, saya tersenyum simpul. Segala sesuatu di dunia ini memang tak ada yang abadi. Selalu ada kemungkinan untuk rusak dan hancur. Tak jauh berbeda dengan gelas retak yang saya pegang, begitupun halnya dengan hati setiap anak manusia. Dan bahkan untuk urusan yang satu ini meski terkadang ia begitu lembut dan kuat, kemungkinan hati menjadi retak dan terbelah bahkan jauh lebih rentan dari beda-benda yang terbuat dari kaca, keramik, ataupun tanah liat. Begitulah kenyataan hidup yang kerap saya temui sepanjang hidup.
Mencoba menerima kenyataan pahit yang setiap saat berpeluang menyakiti hati, dalam diri ini, yang mampu saya lakukan hanya mencoba senantiasa berlapang dada atas segala hasil dan menerima apapun keadaan yang datang. Begitu besar resiko hidup ini jika kita tidak mampu menerima hasil yang tidak sesuai kenyataan. Namun demikian, omong-omong, seberapapun besarnya resiko yang ada dalam hidup ini berpeluang menyakiti hati kita, bukan berarti ia harus selalu diletakkan di tempat tertutup tanpa dipergunakan bukan?
June 13th, 2006 — Uncategorized
Ketika seseorang berkata hidup itu keras, sebaiknya ia belajar menerima seluruh pancaran kehidupan dengan ikhlas. Bahwa memang tidak semua yg kita inginkan dapat terpenuhi. Sepanjang waktu kehidupan terus bergerak, tata surya berputar pada sumbunya, dan rezeki setiap mahluk sesungguhnya telah tercatat.
Ia yang berlaku adil pada setiap mahluk ciptaannya telah mensyaratkan demikian. Ia yang pasti memenuhi janjinya, Ia yang maha berhak atas segala sesuatu telah mengajarkan kita banyak hal dengan perantara kalam. Adakah kita termasuk orang-orang yang berfikir? Bacalah! baca atas nama Ia yang menciptakan langit dan bumi beserta seluruh seisinya.
Kehidupan itu adil. Kita memang tidak selalu mendapatkan yang kita inginkan, melainkan semua yang kita butuhkan. Dan jika segala usaha terbaik tidak membuahkan hasil, percayalah ada sesuatu yang besar sebenarnya telah dipersiapkan. Ikhlas saja, tetap lakukan yang terbaik. Siapa yang menabur benih, ia akan menuai hasil, siapa menabur angin, ia akan menuai badai.
Bersabarlah… jadikan ia sebagai penolong.
.
Salam,
Hary Lasmana
June 8th, 2006 — Uncategorized
Percayalah, Tuhanmu merindukanmu. Ia mencintaimu dengan segala perkara yang terjadi. Jika semua mungkin nampak begitu berat dan musibah tak henti meghampiri, yakinlah bahwa Ia berada disampingmu, menopang dirimu. Hanya sajakah maukah kau menerima kehadiran Ia dengan merendah.
Yakinlah bahwa dalam segala apapun kondisi dirimu, Ia tak pernah meninggalkamu sendiri kecuali dirimu yang berpaling. Ia yang tak terdefinisikan menggengam dirimu erat-erat sebelum kau jatuh. Bahkan jika sebutir atom rahmatNya diberikan pada kita, kita takkan mampu menanggung bebannya. Bahkan gunung-gunung niscaya meletus menerima itu semua, lautan meluap, dan langit mungkin terbelah menerimanya.
Adakah kita mencoba mencari Ia? Sungguhlah sia-sia semua. Jarak pandang mata kita terbatas, kemampuan mendengar kita terbatas, akal nalar kita terbatas, usia kita terbatas… segala hal pada diri kita membatasi semua yang coba kita cari pada diri yang tak terbatas. Masihkah berharap akan pencarian tak terdefinisikan itu?
Ia yang menggengam jiwa-jiwa setiap insan kala mereka terlelap. Ia yang menciptakan segala berpsang-pasangan. Ia yang memiliki kerajaan langit dan bumi, menguasai hari pembalasan… berapakah banyak lagi yang kita harapkan dari Ia, sementara kuasaNya meliputi segenap hidup, seluruh nikmat seumur hidup, dan segala yang kita inginkan dibebaskan olehnya. Seluruh langit dan bumi beserta seisinya untuk manusia, pemimpin yang cenderung berbuat kesalahan.
Jika saat ini musibah itu datang, tataplah diri ke dalam. Adakah kita telah berpaling darinya? Adakah kita mengagungkan Ia? Dalam setiap tarikan nafas, Ia tak pernah meninggalkan siapapun yang bersamanya. Jiwa-jiwa yang kosonglah yang memilih pergi meletakkan isi hatinya entah dimana.
Pun bila kesenangan itu datang, mawas diri adalah jalan terbaik. Kelebihan bukan berarti kemuliaan. Bisa jadi didalamnya terdapat malapetaka yang menanti. Musibah juga tak selalu cobaan, karena bisa juga ia adalah sebuah bentuk kerinduan Tuhanmu kepadamu, Ia rindu mendengar suara hatimu yang terselip dalam doa yang kau ucap… Adakah kau merindukanNya? Tak perlu gundah, sesungguhnya dibalik kesulitan tersimpan kemudahan. Ya! Dibalik kesulitan selalu tersimpan kemudahan.
Salam,
Hary Lasmana
June 1st, 2006 — Uncategorized
Usai menapaki kehidupan malam yang memecah kesunyian, menumpangi sebuah bus besar saya duduk di tepi jendela sambil memandangi langit nan gelap mecoba mencari jawaban atas beberapa pertanyaan. Dalam kehidupan yang unik dan penuh misteri ini, seringkali pertanyaan-pertanyaan yang sulit justru memiliki jawaban mudah jika dilihat dari sudut pandang lain.
.
~ Kemampuan yang berbeda pada setiap orang adalah rahmat dan karuniaNya. Dengan hak dan kewajiban sama dalam kehidupan -mencoba melihat kenyataan, berapa banyakah insan yang mampu menerima bahwa seumur nafas kehidupan -dalam rentang waktu 24 jam sehari, segalanya telah terbagi dengan adil, merata diantara bergulirnya sinar matahari yang satu, bulan yang satu, yang memunculkan fenomena silih bergantinya siang dan malam…
.
Berulang hembus angin kencang yang masuk dari jendela yang terbuka membawa saya masuk ke dalam diri, mengkaji dan mencoba bersyukur akan arti sebuah kebahagiaan hidup. Dalam cipta dan cita, alur kehidupan manusia sesungguhnya telah menunjukkan hal-hal khusus mengenai arti harkat derajat diri manusia dalam kehidupan. Sesungguhnya sifat-sifat mulia hanya dimiliki oleh orang terpilih dan baik budi pekertinya. Sebuah konsekuensi, atau tepatnya hadiah khusus yang diberikan Ia pada insan yang telah berlaku istimewa di hadapanNya.
.
Sebuah pertanyaan yang berasal dari hati memang hanya dapat dijawab dengan hati. Sekeras apapun berusaha, segenap panca indera kita takkan mampu menjawab semua realita yang terjadi. Begitupun akal pikiran. Kemampuan manusia sangat terbatas dengan lingkungan kehidupan tubuh itu berada.
.
Banyak pertanyaan terkadang tak perlu dicari jawabannya, banyak keinginan seharusnya tidak perlu diikuti begitu saja, banyak hal terjadi justru tanpa diduga. Demikianlah hidup, banyak hal terjadi tanpa disangka-sangka. Rasa perasaan memerlukan sebuah arahan, jangan dibiarkan lepas begitu saja.
Melangkahlah sejalan dengan kalam kedamaian, jagalah setiap tapak agar ia mampu menyemai hati yang bergejolak menjadi bibit bunga yang mampu menghias lukisan kehidupan ini.
.
Semoga setiap diri hidup bermanfaat bagi lingkungan dan semesta kehidupan.
.
.
Salam,
Hary Lasmana