Entries from July 2006 ↓

Lirik: Lepaskan Diriku

~ J-Rock: Lepaskan Diriku ~

Saat kurasa semua telah berbeda
Dirimu jadi tak sama
Karena ku tau kau inginkan aku
Tuk menjadi yang sempurna

(1)
Tapi kau tau ku tak bisa
Menjadi yang kau pinta
Terlalu lama terjebak
Dengan dirimu

* Reff
Kini kuingin pergi darimu
Tak kan ada yang bisa menahanku lagi
Karena ku tahu dirimu tak seperti dulu lagi
Sudahlah sudah..
Lepaskan diriku..

Jika kau rasa kaulah segalanya
Semua menjadi percuma
Ingin rasanya ku menjauh darimu
Buang semua cerita

(2)
Tapi janganlah kau sesali
Apa yang telah terjadi
Terlalu lama terjebak
Dengan dirimu

Back to Reff *
 

Tuhan.. kapan singgah ke Jakarta?

Gemetar dan terkadang menjadi phobia sendiri tatkala mengetahui kejadian yang menimpa negeri ini di surat kabar dan televisi. Beruntun dan bahkan berulang kali, hingga terkadang tak habis pikir saya dengan semua itu, “Salah apa negeri ini sampai harus menderita sebegitu dahsyatnya?”.

Mencoba menenangkan diri dengan membaca kembali sebuah buku yang ditulis dengan penuh kehati-hatian, sebuah symbol keagungan disana mengatakan, “Bahwa segala yang besar dimulai dari segala hal kecil. Banyak hal yang tak terduga justru menjadi besar dan hebat, juga banyak hal yang menjadi kuat karena bersumber dari keberhasilan mengatasi kelemahan yang ada. Bersabar untuk melihat kejernihan terhadap hal yang lebih besar, bersyukur untuk mengetahui bahwa hal baik itu selalu ada. Segala sesuatu telah ada pada tempatnya…”.

Pagi ini menemani sarapan, pada berita di televisi terlihat kemeriahan duka akibat bencana. Tsunami datang kembali sesaat setelah gempa dan tanpa memilih mengalir ke daerah yang mampu dijangkaunya. Dan tanpa sadar, seolah pasrah kembali saya mencibir, “Apa mau Mu Tuhan?”.

Meletakkan sepiring nasi yang telah saya habiskan ke atas meja, segelas teh panas yang saya seruput perlahan menghangatkan tubuh dari dinginnya udara semalam. Bersyukur -selagi bisa, kalau dipikir-pikir keadaan semacam ini terasa begitu nikmat jika di bandingkan orang-orang yang terkena bencana seperti yang terlihat di berita televisi pagi ini. Duh! Pantaskah semua ini terjadi? Lagi… lagi… dan lagi…

Beberapa pertanyaan yang muncul dalam otak saya kemudian hentak terhenti tatkala mendengar suara lirih seorang ibu bersama beberapa perempuan lain meratapi kematian seorang anak yang telah terbujur kaku, “Sabar.. sabar… semua yang berasal darinya akan kembali padaNya, Gusti Allah mengambil karena Dia sayang pada kita… sabar… sabar saja…”.

Saya diam. Bertanya dalam hati, “Seperti inikah cara Ia menunjukkan cintaNya pada mahluk yang disayanginya??!? hmmm…”.

Saya diam -sambil iseng berharap, semoga dalam mimpi malam nanti saya bisa bertemu dengan Dia -Sang Pencipta Semesta Alam ini untuk bertanya, “Tuhan yang sayang pada semua umat… kapan Tuhan mau mampir ke Jakarta? Di sini saya dan banyak orang hampir kehilangan rasa keberadaan Tuhan… Kapan Tuhan mau datang dan mengingatkan kami? menunjukkan kasih sayang yang sama seperti Tuhan berikan pada yang lainnya. Bukankah Tuhan maha adil?”.

Salam,
Hary Lasmana

~ unconditional love ~

Pagi ini ketika membuka box e-mail saya mendapati lima update blog berbeda yang berasal dari penulis yang berbeda juga namun dengan tema yang hampir-hampir mirip. Tentang cinta! berbagi, dan harapan. Di antara kelima tulisan yang sempat saya baca ada satu tulisan yang saya sukai, yaitu tentang sebuah gambaran kegiatan sosial yang hiruk pikuk dengan semangat berbagi. Sebuah realita kehidupan yang penuh warna dan cinta, wadah bagi orang-orang yang terus-menerus menunjukkan cinta dan kasihnya dalam kondisi tanpa syarat menuju kehidupan yang lebih baik bagi yang lain. Sementara empat blog lain mengisahkan kehidupan si penikmat cinta dalam bentuk curahan hati dan pengibaan.

Saya jadi teringat percakapan yang bergulir karena tutur pertanyaan beberapa teman yang berulangkali penuh selidik curiga dengan berbagai aktifitas sosial yang telah ada. "Mungkinkah niat menolong, membantu, dan berbagi itu didasari niat tulus atau ada keuntungan lain yang didapat dan disembunyikan dari masyarakat?" ucapnya suatu kali.

Saya diam menanggapi pertanyaan semacam itu, dan ini adalah pertanyaan yang kesekian kalinya yang saya dengar dari mulut yang berbeda.

Alih-alih menjawab, saya mengajukan pertanyaan pada si pelempar pertanyaan sebelumnya, "Saat kamu memberi apa yang terlintas dalam pikiranmu? apakah kau memberi untuk melupakannya atau memberi untuk membantu?"

"Untuk membantu", jawabnya tegas

"Ketika kamu membantu seseorang namun ternyata ia tidak berubah, apakah kamu akan tetap membantunya?"

"Tergantung"

"Maksudnya?"

"Oh bukan… maksud saya kemungkinan besar saya akan mencari alternatif lain untuk membantu, atau mugkin bisa saja saya mengalihkan bantuan saya berikutnya pada yang lain yang benar-benar membutuhkan  dan ingin berubah menjadi lebih baik."

Saya tersenyum. "Nah! disanalah perbedaannya… mereka yang berusaha membantu seringkali membanding-bandingkan bentuk bantuan dirinya dengan yang lain terutama yang dibantunya, sementara orang-orang yang berusaha ikhlas takkan peduli dengan berapapun besar bentuk bantuan yang diberikan terlepas berubah atau tidaknya keadaan setelah bantuan itu mereka beri bahkan dengan resiko terburuk sekalipun".

Mendengar penjelasan itu ia diam, begitupun saya.

.

Salam,
Hary Lasmana

tips menulis puisi (bag II)

Dear Alls,

Setelah pada tulisan sebelumnya saya membahas hal umum yang dapat membantu seseorang untuk menjadi seorang penulis puisi yg baik secara singkat, sekarang saya akan mencoba menerangkan salah satu teknik dalam pemilihan kata sehingga puisi itu terasa lebih “mengigit”. 

Ketika seseorang menulis sebuah puisi, entah itu curahan hati atau sebuah kritik sosial, biasanya menggunakan kata-kata kiasan untuk berbagai alasan. Ini adalah salah satu kelebihan sebuah karya puisi. Kalimat-kalimat pendek dalam sebuah puisi terasa begitu indah dengan teknik seperti itu dan bahkan tidak jarang bila makna kalimat puisi itu dikembangkan dapat menjadi berlembar-lembar jumlah halamannya.

Untuk teman-teman yang sedang berlatih, dalam menulis puisi usahakan pemilihan kata-kata yang di rangkai dengan kiasan yang tidak lazim dan “tidak pasaran”. Kembangkanlah cara ini karena dapat menjadi salah satu nilai lebih puisi yang ditulis. Sebagai contoh misalnya:

… dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalam tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara… ~Dalam Doaku (Sapardi Djoko Damono)~

Bagaimana? Dapatkah ditangkap pemilihan kata yang tepat pada puisi diatas yang membuatnya terasa indah. Dan tentu saja jika dimaknai setiap orang akan mengartikan puisi itu dengan persepsinya yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan berpikir, nalar, dan tentu saja pengalaman hidup si pembaca. Jadi mulai sekarang cobalah untuk menulis puisi dengan menggunakan pemilihan kata yang tepat dalam baris puisi tanpa mempedulikan EYD standar -terkadang disanalah terletak keindahannya.

Dan jika suatu saat dalam menulis puisi kita mengalami kebingungan pemilihan kata, coba gunakanlah metode metafora dalam kata-kata itu. Dengan teknik ini kata yang dipergunakan secara umum pada masyarakat kita ubah dengan yang tidak lazim, seperti misalnya: sungai mengalir vs sungai menghardik; lautan biru vs lautan waktu; mengunyah makanan vs mengunyah waktu; menggocek bola vs menggocek mimpi; dan sebagainya.

Nah… berhubung yang saya ingat hanya sebatas itu… so… saya sudahi dulu yaa…. Yang penting sekarang adalah biasakan mengeksplorasi kata-kata baru yang tidak lazim (weheheheee…. Baik-baikin deh tuh KBBI biar makin yahud!). Segala kesalahan dan kekurangan mohon diberi tahu (jangan tempe) n yang penting keep on writing!

JIAO!

Wasalam,

Hary Lasmana

# # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # #

DEBU DI LEKUK BENANG

pada kanvas ini, aku serupa titik, mungkin di sela, di lekuk benang,
debu? satu dalam bermilyar debu yang menghambur, menyeru: Kekasih

warna-warna dipulaskan di kanvas: bintang biru, atau pelangi pagi hari,
mungkin juga raguku

nanang suryadi -depok, 1999

# # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # #