Entries from August 2006 ↓
August 30th, 2006 — Uncategorized
Di usia yang beranjak seperempat abad ini, kalau ditanya apa alasan saya menyukai dunia anak-anak akan ada cukup banyak uraian dalam daftar jawaban saya nantinya. Selain kepolosan, keceriaan, rasa ingin tahu yang besar, mudah melupakan – mudah memaafkan, dan sederet alasan lain, semangat melihat sesuatu seperti apa adanya menjadi alasan utama yang membuat saya senang berada di antara mereka. Teman-teman kecil saya dan juga guru secara sederhana.
Bermain, bercanda, memperhatikan segala yang mereka kerjakan adalah kegiatan yang sungguh-sungguh menghibur di segala suasana. Dunia polos mereka yang dipenuhi semangat ketulusan selalu menghadirkan kebahagiaan yang tak bernilai dengan uang kecuali rasa puas dan senang karena mengurangi penat dan tekanan yang senantiasa datang dalam rutinitas kehidupan. Hingga sesekali timbul juga sedikit harapan moga-moga diri ini tertulari jiwa kepolosan mereka -bagian masa kecil yang kini secara perlahan luntur bersama waktu.
Senang memperhatikan, senang mencoba hal baru, dan belajar dari setiap kesalahan adalah beberapa kebisaaan kanak-kanak yang sebenarnya telah menjadi bagian diri setiap orang sepanjang pengamatan saya. Namun sayangnya seiring keadaan yang terus berkembang, teramat banyak orang yang salah berguru pada kesalahan dan kegagalan yang sesekali datang. Yang justru membuat jiwa kita menjadi rapuh dan menempatkannya sebagai pengalaman pahit di batin. Sungguh tidakkah kita justru sebaiknya belajar dari pengalaman masa kanak-kanak dulu? Saat kita tanpa henti belajar berjalan, melangkah setapak demi setapak dan terus mencobanya meski berulangkali terjatuh… dan hasilnya? Semua telah kita rasakan hingga kini. Tak hanya selangkah demi selangkah kita berjalan menuju tujuan, kecepatan langkah telah membuat kita berlari mengejar banyak impian.
Ketika saya mengetik tulisan ini di depan komputer, seorang keponakan yang baru beberapa minggu saja mampu berjalan dengan langkah patah-patahnya menghampiri secara perlahan. Nampak dari kejauhan langkah gontainya membuat ia terjatuh berulangkali disertai pengibaan di wajah. Entah apa yang ada dibenaknya yang membuat keinginannya begitu kuat untuk melangkah menghampiri. Satuhal yang saya ketahui kemudian ternyata adalah semua penderitaan itu terbayar dengan pantas ketika langkahnya sampai pada tempat yang dituju. Canda ceria kami mengisi kesunyian ruangan dihias tawa kemenangan yang memang pantas menjadi miliknya!
Dalam kemenangan keponakan saya itu, tiba-tiba saja terbersit beberapa pertanyaan di hati ini; tentang mimpi yang tak tercapai, harapan yang tak terwujud, keinginan yang tak mungkin terlaksana, dan banyak hal lain yang menjadi ujung kegagalan. Hmmm… memandang diri jauh ke dalam, mampukah diri ini menerima setiap keadaan dalam rasa ikhlas? Atau justru ia akan menjadi lebih rendah dari balita yang kini tengah dalam tawa kemenangan itu? Entahlah, satuhal dalam dalam benak yang terbalut cemas ini terbersit setitik harapan; Semoga hati ini senantiasa terbuka! Semoga ritme jiwa kanak-kanak yang bersemayam di hati ini mampu mengembara tanpa batas menjadi jiwa tulus yang penuh dengan keikhlasan dan bukan seorang kanak-kanak yang hanya tubuhnya menjadi besar saja tetapi tidak jiwanya.
Salam,
Hary Lasmana
August 23rd, 2006 — Uncategorized
* Long life learning *
Dalam hidup, mungkin satu-satunya hal yang tak pernah kita pelajari adalah menangis. Sejak lahir, kemampuan mengeluarkan suara “nyanyian” itu terdengar dari mulut setiap bayi tanpa seorangpun mengajarkannya. Berteriak dengan suara tanpa ritme beraturan, memanggil, mencari perhatian, memberi tanda pada siapapun yang mendengarnya. Sungguh sebuah komunikasi unik yang tak pernah kita sadari karena semua berjalan dengan sendirinya.
Tumbuh perlahan, setiap bayi mulai mempelajari banyak hal. Mencoba meniru bunyi-bunyian yang didengar, meraba permukaan -mencari tahu bentuk dan rasa suatu benda, hingga kemudian belajar untuk bergerak dan berpindah, semua dijalani satu-persatu. Setahap demi setahap usia, beragam fase dilalui; balita, kanak-kanak, remaja, tua, sekolah, bekerja, bekeluarga… dan tanpa disadari setiap saat kita berada pada kemungkinan di penghujung hidup kita.
Bila ditilik secara umum, hidup ini tak ubahnya kegiatan sekolah. Banyak hal yang harus terus kita pelajari untuk kita mengerti, untuk kita ketahui, untuk kita jalani… yang bedanya dalam hidup sesungguhnya adalah bahwa keunggulan yang kita raih tak bernilai dengan angka. Sesekali ujian-ujian kecil datang bak ulangan harian di kelas, ujian besar datang menjadi batu sandungan sebagai tahap penentuan apakah kita layak untuk naik ke tingkat berikutnya. Sebuah tes yang menguji sudah sampai sejauh mana kemampuan diri kita memaknai kehidupan.
Dan meski kepiawaian memaknai kehidupan adalah hasilnya, beragam rasa yang menyertainya adalah juga hal yang begitu besar maknanya. Rasa kecewa, sedih, kesal, frustasi, marah, namun tak jarang nafas lega turut melengkapi senyum mengembang pada setiap ujian yang terlewati dengan batas maksimal kesabaran. Sungguh segala sesuatu memang ada harganya. Begitupun dengan air mata -zat alami yang melengkapi tubuh kita, takkan lengkap hidup kita tanpanya.
Air mata sebagai bagian rasa-perasaan tentunya tidak mengalir hanya karena duka, tapi juga karena rasa bahagia. Seperti sebuah pesan dari seorang sahabat yang sempat saya kutip, “Kita lahir dikelilingi tangis bahagia orang-orang disekeliling kita… dan suatu saat kelak meninggalnya diri kitapun tangis itu akan terdengar dari orang-orang yang berduka atas kepergian kita…”. Hmmm… hanya saja kalau boleh untuk kutipan ini saya tambahkan: “ dan berapa banyak orang yang berduka atas kepergian kita, bisa jadi itulah yang menunjukkan kualitas hidup kita sebelumnya.”
Sungguh bersyukurlah mereka yang pergi meninggalkan dunia dengan diiringi duka orang-orang disekelilingnya, dan bukan sebaliknya.
Salam,
Hary Lasmana
August 18th, 2006 — Uncategorized
Berpindah tempat, suasana, waktu, dan ruang, –entah sejak kapan, baru saya sadari ternyata dalam lintas perjalanan begitu banyak suara sumbang dalam hidup ini yang tak nyaman didengar. Di pinggir jalan saat lalu lalang, sumpah serapah terdengar, di antara kerumunan orang di pasar pedagang dan pembeli setali tiga uang berusaha mengelabui lawan bicaranya, dalam obrolan sesama rekan di kantor penuh keluhan, bahkan juga di sekoah tempat ilmu digali dan diserap, tenyata para pendidik dan murid terkadang merasa resah dengan apa yang mereka kerjakan. Di mana-mana, seolah telah terjadi perlombaan berbagi suka cita keluh. Seolah tak ada lagi hal lain yang lebih baik untuk diberikan.
Entah pagi, siang hari, petang, pun hingga malam tiba, pada setiap kesempatan yang ada, keluh derita empu pemilik suara menyalip seolah telah dipersiapkan dengan masak. Berbicara lancar ia, seolah dirinya tak mungkin lepas dan akan selalu terkukung dalam nasib penuh kemalangan. Dan anehnya, sang lawan bicara juga tak kalah hebat kemudian, meski nampak menerima, dengan lancarnya tak kurang dahsyat cerita derita menguap dari dalam tenggorokan membalas cerita malang itu dengan ratapan lain secara panjang lebar. Dan jadilah obrolan itu kemudian menjadi lomba cerita tragis tanpa hadiah.
Sekilas memang terasa lucu jika kita pikirkan hal itu. Kok ya bisa – bisanya, ada pembicaraan yang satu sama lain saling mengaitkan cerita tentang kegagalan, kepahitan, kesengsaraan hidup, dan seolah tentang mencari siapa yang lebih naas dalam hidup yang dijalani. Mengangkat tema derita, sambung-menyambung cerita tanpa arti. Begitu mengasyikkan! Meski ujung – ujungnya biasanya berakhir dengan keduanya diam dan perbicanganpun lepas begitu saja.
Sebegitu mahalnya hiburan, sehingga ketika tak ada lagi kemampuan untuk membelinya, maka yang digunakan adalah menukarnya dengan cerita duka. Hiburan juga, dan terlebih begitu murah dan meriah. Tak perlu arus listrik seperti televisi, tak perlu beli tiket seperti nonton bioskop, apalagi seminar dan workshop.
Mengingat ke belakang -kalau tidak boleh meminta, tiba – tiba hati ini jadi rindu dengan si Mr. Untung. Tuan muda yang senantiasa menjadi guru dan teman yang senantiasa ikhlas berbagi dalam banyak hal. Ia yang selalu mampu mengorek celah yang tersembunyi dari setiap kejadian. Untuk menerima segala hal dengan lapang dan melihat sesuatu bukan berdasarkan kejadiannya semata, tetapi juga makna yang bergelayut didalamnya.
”Segala sesuatu terjadi bukan tanpa alasan, dan Tuhan lebih tahu akan hal itu”, ucapnya suatu kali penuh rasa syukur saat menerima musibah.
Kaki terkilir, masih untung tidak patah; badan sakit, berarti beruntung karena masih di amanahkan rasa hidup; uang hilang masih untung cuma uang bukan harga diri yang hilang; bahkan kekasih direbut orang lainpun merasa beruntung karena jadi tahu kualitas diri sendiri; apapun yang terjadi, maka ia harus selalu ditanggapi dengan positif.
“Pokoknya apapun yang terjadi, coba ambillah keuntungannya. Segala kejadian pasti ada hikmahnya”, kembali ia melengkapi nasihat itu.
Rindu dengan kabar si Mr. Untung –seolah do’a yang terkabul, pagi ini saya mendapat kabar gembira darinya,
“Hari ini sekali lagi dalam caraNya, Ia tunjukkan bagaimana adil kehidupan pada para pengisinya. Tak ada usaha yang sia-sia dan meleset ke mana-mana. Sungguh. Barang siapa menaman bibit maka ia akan menuai panennya; dan siapa menabur angin ia yang akan menuai badai. Sebuah kepastian bagi orang-orang yang berbuat baik, baginya adalah kebaikan, dan begitupun bagi mereka yang berlaku jahat. Namun dibalik itu semua, yang patut diingat adalah segala keikhlasan yang diawali dengan rasa syukur selalu dapat menyalakan pelita lain yang tersembunyi pada diri kita. Sebagaimana juga kesabaran yang kokoh, bagi pelakunya adalah bunga indah kehidupan yang tak semua orang pantas mendapatkannya. Tuhan tidak tidur, tidak tuli, apalagi tidak peduli. Tuhan adalah keadilan itu sendiri. Bro! Hari ini lamaran saya diterima, nanti saya kabari kelanjutannya secepatnya…”. Tiba – tiba telepon darinya itu terputus.
Entah mengapa berita baik itu diberitahukan secara mendadak dan menggantung tanpa kelanjutan. Namun di dalam hati, harus saya akui mendapat kabar itu membuat saya menjalani hari penuh dengan perasaan berseri. Berusaha murah dalam senyum dan menerima setiap keadaan seperti apa adanya. Ah semoga saja hati yang berusaha demikian akan mampu meredam segala keluhan. Ya! Semoga saja.
Salam,
Hary Lasmana
August 10th, 2006 — Uncategorized
Pekerjaan stock opname sore itu sebenarnya belum juga rampung saat ditinggalkan, namun karena jam telah menunjukkan saatnya pulang semua yang ada di sana sepakat melanjutkan pekerjaan itu esok hari. Nampak gurat-gurat lelah berbaur aura kebosanan hinggap pada diri kami saat merapikan semua perlengkapan yang telah digunakan. Dan sayangnya rasa lelah itu meski telah dicoba dengan berbagai macam cara untuk dihilangkan hasilnya sia-sia belaka. Dampak rutinitas pekerjaan ini sungguh-sungguh menguras tenaga dan pikiran.
Memastikan segalanya telah tertata rapi, beberapa tombol saklar yang saya pijit lembut menenggelamkan ruangan menjadi gelap pekat. Tinggal diri ini sendiri di ruangan itu yang kemudian segera saja melangkah menjauh sambil menyandang tas kebahu -perlengkapan yang setia menemani sepanjang perjalanan pergi dan pulang setiap hari. Melangkah secepat-cepatnya bersama penat yang terasa menggumpal dalam darah. “Kasur dan bantalku… aku rindu kamu!”, berulang kali kalimat itu terucap dalam hati. Lelah!
Matahari menghadirkan lembayung di ujung langit barat, menghadirkan warna jingga kemerahan dalam padu biru. Keindahannya sungguh tidak sepadan dengan kemacetan jalan semerawut yang sedang saya lalui. Barisan kendaraan bermotor yang begitu rapat memanggil begitu banyak debu jalanan menggumpal ke atas. Laju bus berjalan tak karuan arah, nampak seperti seorang yang tengah mabuk berat. Zig zag ke kanan dan ke kiri mencari celah untuk secepatnya melintasi kemacetan yang sudah menjadi bagian hidup warga perkotaan setiap hari. Sebagian pengguna jalan terdengar mengumpat, entah apa yang mereka katakan tidak jelas terdengar.
Dalam keadaan seperti ini biasanya sepanjang perjalanan saya tertidur, menikmati perjalanan dengan menutup mata lalu membukanya kembali setelah melewati beberapa ratus meter bus berjalan. Namun tidak kali ini, rasa lelah yang hinggap menuntut tubuh ini untuk meredakan ketegangannya. Dan sayangnya keterbatasan yang ada tidak memungkinkan untuk itu.
Bersama laju bus yang mulai teratur mengikuti irama kemacetan timbul beberapa pertanyaan, pikiran jenuh yang datang entah darimana. Tentang hidup, tentang nasib, dan lika-liku perjalanan yang tidak menentu. Ketidakadilan terasa hadir, sungguh tidak adil semua ini. Perubahan nasib yang dinanti tak jua datang, tak ada kepastian. Sama dengan keadaan jalan raya yang saya lalui ini, tersendat. Hmmm… haruskah untuk maju dengan cepat saya harus berjalan zig-zag seperti bus ini? Bus yang berulang kali terkena sumpah serapah pengendara lain yang ia lewati… Saya terdiam, seorang pengamen beserta gitar bututnya naik ke dalam bus mencoba menyanyikan lagu yang terdengar sumbang namun cukup menghibur di tengah kesemerawutan jalan.
Sebuah lagu usai dinyanyikan dengan sukses, namun sayang pada lagu kedua nyanyian itu terhenti dengan terpaksa. Senar gitar putus! Membuat nyanyian tidak dilanjutkan dan dengan terpaksa mengembalikan kembali keadaan sebelumnya, senyap. Sebuah kantung plastik lusuh pembungkus permen dikeluarkan si pengamen dari saku celananya yang segera saja disodorkan pada setiap bangku penumpang yang terisi. Pada wajahnya nampak ekspresi kesal yang tertahankan. Mungkin karena dasar alasan itu beberapa penumpang terlihat antusias melepas beberapa keping uang receh mereka ke dalam kantung plastik yang disodorkan. Pun begitu dengan diri ini, bahkan sambil mencoba tersenyum –sedikit mencoba menghibur ia, melepas sekeping uang receh dengan segera kemudian menundukkan muka.
Malu..!! lagi-lagi saya lupa bersyukur…
.
Salam,
Hary Lasmana
August 3rd, 2006 — Uncategorized
Usai satupersatu mc memanggil nama-nama karyawan berprestasi dari beberapa kategori, panggung perayaan lustrum ke-5 lembaga pendidikan tempat saya bekerja kini dipadati oleh sekumpulan karyawan terpilih. Suasana panggung yang sebelumnya senyap kini menjadi meriah oleh senyum lebar mereka yang nampak bahagia. Bangga dan senang, perasaan itu terlihat jelas pada air muka mereka yang tak lepas dipandangi mata karyawan lain dengan tatapan penuh rasa haru. Sesekali terdengar suara yel-yel terdengar bersahutan diringi tepuk tangan yang riuh membuat suasana gegap gempita.
"Gak ikut terpilih Har?", seorang teman karib yang duduk di samping saya tiba-tiba melepas pertanyaan itu sambil menepuk punggung.
"Nggak. Gak tau tuh… belum rejekinya kali", jawab saya sambil tersenyum. Memalingkan wajah ke arah si penanya sejenak lalu kembali melepas pandangan ke arah panggung. Sementara di dalam hati ini bergelayut beberapa pertanyaan usil yang kemudian untunglah segera ditepis rasa syukur karena tidak berada diantara karyawan yang terpilih di atas panggung sana. Untung! sungguh beruntung saya mendapati kenyataan ini sekaligus berbenah hati membuang rasa iri dan dengki yang bisa saja muncul setiap saat.
Setiap orang ingin menjadi yang terbaik; ingin diakui dan dibutuhkan, dihargai, dihormati, disegani, dan segala macam di.. di.. di… lainnya dalam segala hal positif. Namun sayangnya seiring perjalanan hidup, seringkali kita yang menginginkan di.. di.. di.. itu muncul menjadi bagian diri, kita malah melupakan hukum pasti kehidupan. Bahwa hidup seringkali seperti sebuah boomerang yang usai dilempar akan kembali pada si pelempar jika tak mengenai sasaran. Bahkan tak jarang juga hidup mengukapkan diri kita dengan gemanya. Dan seperti yang saya lihat di hadapan saya kini, segala usaha memang tak pernah sia-sia. Ketulusan hanya akan memberikan hasil yang terbaik dan rejeki tak pernah tertukar.
Seorang teman yang berusaha bijak kini tengah menerima sebuah pin emas perusahaan sebagai tanda penghargaan karyawan berprestasi terbaik di atas panggung. Berdiri tegap dengan raut bahagia ditopang segala keikhlasannya dalam bekerja. Saya tersenyum bangga melihatnya seraya mengucap syukur (lagi) bukan saya yang mendapatkannya. Menerima penghargaan atas prestasi yang telah dikerjakan adalah suatu kebanggaan tak ternilai, namun menjalankan amanat yang sebenarnya adalah sebuah kemuliaan yang tak dapat terucap dengan kata-kata. Saya hanya bisa mengakui belum mampu untuk itu.
Sungguh saya merasa beruntung dan bahagia hanya cukup dengan menjadi kandidat, calon karyawan berprestasi berulang kali tanpa harus mencapai puncak terbaik seperti mereka yang ada di atas panggung perayaan sana. Saya bersyukur bukan saya yang ada di atas panggung, melainkan orang lain yang memang pantas menerimanya.
Salam,
Hary Lasmana