Entries from September 2006 ↓

Diam

“Ada buah manis di balik diam yang sekaligus juga menyimpan ketajaman pedang di dalamnya.”

Sedikit demi sedikit, secara perlahan falsafah itu merasuk ke dalam diri ini sejak kecil. Menjadi darah daging yang tak kentara. Pelajaran yang entah sejak kapan mulai ditanam, namun jelas telah menjadi bekal yang begitu berarti bagi saya dalam menjalani hidup yang penuh dengan kepalsuan. Sikap yang menuntut untuk senantiasa berbicara hal-hal baik, kalau tidak sebaiknya diam saja.

Ibunda tercinta dirumahlah yang awalnya mengajarkan demikian. Saya sendiri tidak tahu darimana ibu mampu berlaku seperti itu. Ketika awalnya saya mengira kemampuan hebatnya itu adalah sifat bawaan seorang perempuan, namun ketika banyak perempuan lain yang saya temui tidak berlaku sama, saya mengambil kesimpulan: Tentu saja bukan! Bukan sifat perempuan pada umumnya bersikap seperti itu. Atau… entah mungkin saja ilmu bijak itu adalah bawaan lahir yang memang diturunkan. Entahlah.

Namun sikap itu meski dalam kesunyiannya selalu menyimpan ketenangan, kebiasaan itu juga seringkali menyimpan begitu banyak pertanyaan dalam ketiadaan kata-kata. Dengan tak banyak bicara, banyak hal justru terungkap dengannya. Bahkan terkadang dalam diamnya yang kerap tersenyum, seolah ibu sedang menyimpan banyak rasa sakit atau duka yang enggan dibagi. Sikap yang membuat saya merasa bingung.

Dan tidak hanya saya sendiri. Di rumah, jika ibu diam seharian dan tak ada kata-kata yang terucap darinya, biasanya kami anak-anaknya mencoba mencari tahu. Ada apa gerangan dengan ibunda tecinta. Adakah kegalauan? risau? atau seribu masalah apa yang dihadapinya? Namun ibu begitu hebat menyimpan perasaan. Meski dicoba dengan keras, dibujuk, dirayu, ditanya tentang perihal yang yang tengah dihadapi, ibu kerap tak bergeming. Seolah dalam diam segala masalah akan tertelan dan hanyut dalam lubang kloset yang diisinya esok pagi. Dan lagi-lagi kami memilih mengalah.

Ibu meski seumur hidup kami anak-anakmu tinggal bersama denganmu, rahasia diammu selalu menyimpan begitu pertanyaan di hati ini.

Dengan bahasa tubuhmu, tanpa ucap kata-kata tersimpan begitu banyak makna di dalamnya. Senyum lembutmu mendikte kami -anak-anakmu, untuk ikhlas menerima kegelisahan yang tersembunyi. Dengan tatapanmu yang tajam menyadarkan kami pada kesalahan yang telah diperbuat. Dan entahlah berapa banyak air mata yang telah tumpah karena kenakalan kami anak-anak yang amat ibu sayangi. Ibu yang penuh kasih yang mengucapkan begitu banyak kata justru saat ibu memilih tidak bicara.

Dan memang begitulah keseharian ibu. Seorang yang sederhana yang membimbing perasaannya dengan sederhana pula. Saat marah, saat bersedih, saat kecewa, saat-saat dimana kebahagiaan hatinya sirna, kami tahu biasanya ibu lebih memilih diam. Mungkin menurut beliau hanya bahagia dan ceria saja yang patut dibagikan –setidaknya demikian yang ibu ajarkan pada kami saat menghadapi masalah. Mendekatkan diri kehadirat Ilalhi, menghindari keluh kesah hanya karena gundah. Terutama disaat marah.

Ibu… sangat pantas karena rasa keadilan Tuhan meletakkan kedudukan ibu begitu mulianya. Jarak surga begitu dekat di kakimu dan mungkin panasnya nerakapun mutlak padam oleh siraman lembut hatimu…

Selamat ulang tahun ibu. Segala yang terbaik pantas menjadi milikmu.

.

Salam,
Hary Lasmana

*untuk ibunda tercinta…

Iri

Kalau boleh saya merasa iri saat ini, itu disebabkan oleh karena kedangkalan hati dan pikiran yang sedang menyangkut pada kegiatan seorang teman bersama keluarganya menyambut bulan Ramadhan. Di keluarga ini sebenarnya sudah menjadi tradisi tidak resmi jika beberapa hari menjelang Ramadhan justru aktivitas keluarga malah semakin menjadi. Tembok yang kusam dicat ulang, ruangan yang berantakan di tata rapi kembali, penghias ruangan yang kusam dan berdebu dibersihkan –bahkan beberapa akhirnya diganti agar nampak lebih segar, taplak, keset kaki, hingga pagar rumah depan pun tak luput dari perhatian. Bahkan “pemanasan” tadaruspun dimulai pada beberapa malam menjelang Ramadhan. Mencuri start dari yang lain.

Pun satuhal berbeda yang ada di keluarga ini yang membuat speechless hati adalah kebiasaan mereka berbelanja segala kebutuhan lebaran justru sebelum datangnya bulan Ramadhan. Dengan harapan tentu saja agar aktivitas duniawi itu tidak menggangu kekhusyu’an ibadah selama bulan suci. Duh! Rasa hati ini semakin menjadi-jadi saja…

Merasa ingin menyamai, ingin mencoba menggali ilmu, mencoba mencari tahu, mencoba menulari diri dengan kebiasaan baik keluarga teman yang satu ini, saya mencoba memaksakan diri dengan berbuka puasa dirumahnya tahun lalu. Acara sederhana, singkat, namun begitu berarti karena membuka sedikit pengertian yang cukup membuat pikiran menjadi terbuka akibat percakapan dari hati saat menunggu waktu berbuka tiba. Saya yang heran awalnya memang sengaja memancing keadaan, melontarkan beberapa pertanyaan. Dan beruntunglah sebuah pertanyaan mengenai kebiasaaan keluarga itu tanpa sengaja terucap. "Sebenarnya apa sih niat dan tujuan semua yang dilakukan ini… sekedar demi pahala berlipat ganda atau ada hal lain yang dituju? Hanya demir surga semata bukan?", tanya saya seraya memancing jawaban.

Menanggapi ucapan itu, teman ini hanya berujar lembut seraya menjaga perasaan. “Buat apa mengharap pahala? Cukup menerima berkah dariNya saja akan mampu membuat diri kita merasa nyaman meski tidak mendapat surga. Berkah dariNya sudah jauh lebih dari cukup… melebihi apa yang kita bayangkan. Dengan berkah itu hal-hal sulit dapat menjadi mudah, hati yang gundah bisa menjadi tenang, perasaan bimbang menjadi mantap, dan banyak lagi manfaat darinya. Kalau sudah begitu, apalagi yang kita harap? Rasanya tidak perlu terlalu berharap pada pahala, terutama atas perbuatan baik kita. Justru segala yang kita lakukan seharusnya diniatkan rasa syukur atas semua yang kita terima. Syukur atas karunia yang begitu banyak dan tak usah berharap lebih layaknya seorang pedagang…”

Hmmm… Sayang obrolan sarat ilmu itu harus terhenti karena gema suara hentakan kayu yang menghantam lembaran kulit bedug lebar terdengar dari siaran televisi. Saya beruntung, sangat merasa beruntung sore itu. Berbuka puasa bersamanya –saya bersama seorang teman yang menolak disebut guru, di dada ini hinggap sedikit harapan. Semoga suatu saat kelak saya bisa bergabung bersamanya, menjadi bagian kehidupan yang senantiasa bahagia karena mampu menerima segala keadaan diri, segala situasi, dan segala kondisi. Sebuah kenyataan yang bagaimanapun bentuknya dapat menjadi yang terbaik hanya karena sebuah kunci yang bernama keikhlasan.

.

Salam,

Hary Lasmana

senyum yang tertahan

“…Teman-teman datang yaaa… hari minggu ini kita ada kegiatan bla… bla… bla.. di basecamp! Acaranya di jamin seru, menarik, dan superheboh dech. Jangan sampai nggak datang… jangan kecewain anak-anak yang lucu-lucu n ngegemesin itu yang udah niat datang ke acara kita. Kalau bukan kita yang mendampingi mereka, siapa lagi?…”

… … … … … … …

Sepenggal kalimat penutup digest email milis yang saya baca pagi ini lagi-lagi terasa menyedak tenggorokan. Membuat kering dan menyempitkan pembuluh pernapasan yang membuat saya berulang kali harus menelan air liur sambil menghela napas panjang. Berpikir dan membagi perasaan, entah kapan saya bisa aktif kembali dan tenggelam dalam ceria mereka? Berbagi bersama anak-anak yang sama sekali minus perhatian permerintahnya.

Anak-anak itu, insan jernih yang sangat berhak atas fasilitas yang layak. Butuh fasilitas pendidikan yang benar-benar gratis, makanan yang bergizi, dan terutama arena bermain yang luas! Namun sayangnya di negeri ini semua itu adalah barang mewah yang sulit diadakan dalam lingkar kehidupan masa kecil yang seharusnya penuh dengan canda ceria. Anak-anak yang juga memiliki cita-cita, sama dengan semua anak sebaya.

Miris… melihat betapa besar biaya pendidikan di negeri ini. Pada masyarakat berpenghasilan rendah seperti orang tua anak-anak itu, hanya segelintir orang tua yang nekat saja yang berani menyekolahkan anak-anaknya. Pendidikan mahal, jauh melebihi harga makanan pokok yang notabenenya pun sulit didapatkan karena keterbatasan lapangan kerja. Liberalisme jelas telah mencekik orang-orang seperti mereka yang seharusnya dipelihara negara. Apa mau dikata, tak ada yang bisa diperbuat… Hendak menuntut tak mungkin, pasrah saja menunggu binasa… hanya itu yang mereka bisa.

Pun diri ini tak mampu berbuat banyak, hanya bergabung dengan sebagian kecil orang-orang yang peduli sambil memberi sedikit dari yang dimiliki. Tindakan nyata diiringi harapan semoga kelak ada perubahan. Semoga para penguasa pun turut serta dalam perubahan itu. Saat ini dan di masa depan nanti.

Sore ini setitik mimpi tentang penguasa -juga orang-orang yang ingin berkuasa - muncul. Tentang antusiasme dan ego yang acapkali kumat… Seharusnya mereka bergaul, bergumul, merasakan kehidupan nyata dalam suasana kehidupan orang-orang kecil yang penuh keterbatasan. Hidup dekat dengan sari kehidupan, belajar mengenal kehidupan seperti apa adanya dan bukan bermodal mimpi saja. Meletakkan nafsu pada tempat terendah dan bukan justru lebih tinggi dari atas kepala. Hidup dalam sejatinya kehidupan -menunduk menatap tanah, menengadah menghadap langit.

Seandainya para pemimpin mampu memimpin dirinya, seandainya juga mereka menjadi bagian dari yang dipimpin… semoga hari esok takkan ada lagi senyum tertahan seorang bapak yang berhari-hari menahan lapar demi kenyang perut anaknya.

Salam,

Hary Lasmana

Permata Kehidupan

Melihat kembali sepasang batu pancawarna kesayangan si nenek saya jadi tersenyum simpul. Betapa tidak, benda yang telah lama tiada diketahui keberadaannya itu kini kembali begitu saja tanpa disangka-sangka. Setelah dianggap hilang selama bertahun-tahun, namun tanpa dinyana sekejap muncul di laci lemari… sungguh tak bisa dipercaya! Dan si nenek… tentu saja gembira tak terkira. Buktinya jika beberapa hari sebelumnya kepala nenek yang dipenuhi rambut putih itu selalu terikat selendang untuk mengurangi sakit kepala, perlahan semua menjadi berbeda. Kepalanya tidak lagi terikat selendang, tempelan koyo hilang dan suara batuk yang biasa terdengar juga lenyap. Nenek menjadi nampak begitu sehat seolah tiada sedikitpun penyakit bersarang di tubuhnya. Sungguh ajaib.

Entah karena perasaan senang atau memang penyakitnya sungguh hilang, rasanya wajar memang jika si nenek berlaku demikian. Batu itu adalah warisan turun-temurun beberapa generasi dalam keluarga, dan nenek yang terakhir ini mendapat amanat tersebut. Kami sekeluarga bersyukur untuk semuanya. Untuk ditemukannya batu itu, terlebih atas pengaruh ditemukannya batu itu yang kemudian mampu merubah keadaan si nenek menjadi seperti sekarang ini.

Mengingat keindahan batu itu, perlahan pikiran ini melayang pada sebuah artikel yang sempat terbaca di sebuah majalah. Artikel tersebut mengupas sisi lain keindahan batu permata, yaitu mengenai proses pembuatannya. Sungguh begitu rumit dan panjang proses penciptaan batu alam itu menjadi sebuah perhiasan mahal.

Mulai dari pencariannya di alam terbuka oleh para pendulang, polesan, bakaran, hingga pemilihan motif dan materi pengikat batu mulia oleh para pengrajin hingga pengangkutan dan pemasaran batu-batu itu ke pembeli. Cukup pantas rasanya melihat untaian produksi yang begitu panjangnya itu menjadikan batu permata sebagai perhiasan yang mahal dan bernilai tinggi dalam sejarah kehidupan manusia. Namun, selintas terbersit dalam pikiran; jika demikian sebuah permata bernila tingginya di mata manusia, lalu bagaimana dengan manusia itu sendiri? Si pengolah, penggagas, penikmat, dan tak jarang juga jadi hancurlebur akibat silau dengan keindahan batu-batu permata… adakah manusia mampu berkilau seindah batu permata yang dianggap mulia itu?

Melihat dalam kehidupan bagaimana sekelompok manusia menggali ke kedalaman tanah mencari batu-batu alam untuk dijadikan permata, dan membandingkan Tuhan Sang Maha Kuasa yang telah menciptakan manusia sebagai pembandingnya; Manusia sesungguhnya diperlakukan sama sebagaimana para pengrajin permata memperlakukan bebatuan alam sebagai cikal permata. Bebatuan alam dipoles, digosok, dibakar, digerinda, dan diperlakukan berbagai macam proses dalam pembuatannya untuk menjadi sebuah batu permata yang indah. Sedangkan manusia, dalam kehidupan ini juga diperlakukan sama dalam kehidupannya oleh Sang Pencipta.

Kesulitan, kesenangan, kemudahan, cobaan, kemewahan, kesengsaraan, dan segala macam hal datang silih berganti dalam hidup manusia untuk menguji seberapa besar kualitas yang dimiliki oleh manusia tersebut. Dan rasanya sangat jelas hasilnya, bagaimana sebuah cahaya kehidupan bersinar diantara manusia-manusia yang teruji pada setiap keadaan. Pada pikiran yang terbuka hidup terasa adil pada setiap keadaan. Pada hati yang lapang kesulitan maupun kemudahan terasa tiada bedanya, keduanya sama. Dan pada yang mereka terpilih segalanya sama, damai di setiap kesempatan

Dan semuanya kembali pada diri manusia itu sendiri sebagai cikal permata kehidupan ini, menjadi permata yang bersinar indah atau justru redup karena keadaan?

Salam,
Hary Lasmana