Entries from October 2006 ↓

kue lebaran

Ketika mama di rumah nampak sibuk menyiapkan berbagai persiapan menjelang lebaran, kami anak-anaknya bisa memahami karena memang demikian kebiasaan yang selalu dilakukan menjelang hari raya. Namun kali ini, satu hari usai Idul Fitri terlewati kembali mama tampak sibuk bukanlah sebuah hal biasa. Karena memang pastinya kami sekeluarga tidak merayakan dua hari raya berbeda.

Pada beberapa tempat di dapur nampak serpihan racikan bumbu masakan bertebaran, tak jauh darinya setumpuk bahan masakan dan adonan siap olah. Peralatan masak terlihat mengepulkan uap dari atas kompor, dan yang saya sukai tentu saja bau harum aroma masakan yang tercium dari dalamnya. Hmm… untunglah puasa telah usai jadi saya bisa mencicipi satu-dua masakan yang telah jadi.

“Untuk kakek!”, jawab mama singkat ketika ditanya perihal segala kesibukannya ini.

Di ruang tamu, saya sendirian. Lubang tenggorokan ini tengah sejuk oleh dinginnya es sirup yang masuk, sementara dalam benak perlahan melayang pada raut wajah lelaki tua yang penuh kasih sayang. Kakek tua yang telah merasakan asam garam kehidupan dan selalu besedia membagikan gratis kepada kami cucu-cucunya. Entah bagaimana kabar kakek tercinta nun jauh disana. Telah lama tak terdengar kabar beliau… dan syukurlah jika memang libur hari raya ini kami sekeluarga sempatkan datang bertemu melepas rindu.

Entah berapa banyak penganan spesial yang tengah di persiapkan mama saat ini. Namun berapapun banyaknya, bagaimanapun bentuknya, apalagi beragam rasa yang tersaji nanti; mungkin penganan dalam bingkisan yang akan di bawa ini hanyalah penganan biasa yang selalu ada di setiap hari raya, namun saya percaya bumbu cinta yang turut dalam resep masaknya pasti mampu membuat cita rasanya jauh berbeda dari yang lainnya. Coba saja!

Salam,
Hary Lasmana

parcel lebaran

Parcel Lebaran

Kalau boleh saya mengeluh, bagi saya mendapati larangan pejabat pemerintah menerima bingkisan parcel hari raya adalah sesuatu yang tidak adil. Betapa tidak? Setiap bingkisan yang hendak diberikan adalah hak bagi si pemberi, dan juga hak si penerima untuk menerimanya. Namun menerima pendapat logis mengapa pelarangan itu ditetapkan, biarlah itu menjadi urusan yang berwenang terhadap hal itu. Saya hanya mampu mencoba memahami, meski juga tetap menyayangkan mengapa tidak seluruh bingkisan itu tetap diterima jua namun dikumpulkan pada sebuah pusat penerimaan bingkisan pejabat pemerintah untuk diteruskan kepada kaum dhuafa saja?

Selalu di setiap hari raya, di tengah gegap gempita takbir mengangungkan nama Tuhan, di antara banyaknya kebahagiaan orang-orang yang berkumpul bersama keluarga, pada bagian kehidupan lain terselip remah-remah kepedihan tersembunyi. Diantara jalan-jalan Jakarta yang lenggang dari kendaraan misalnya, beberapa sisi trotoar menyisakan begitu banyak gelandangan dan pengemis yang entah kenapa memilih untuk tinggal dan mengais rejeki di hari raya. Memulung koran yang berserakan usai shalat Eid, meminta-minta dari rumah ke rumah tanpa sungkan, dan para pedagang keliling yang menjajakan bakso, rujak buah, minuman siap saji, hingga perlengkapan rumah tangga dari kampong ke kampong seolah hari raya bukanlah sesuatu yang istimewa.

Seandainya saja parcel-parcel yang tidak jadi dikirimkan ke pejabat pemerintah itu dikumpulkan untuk diberikan pada mereka…

Terkumpulnya uang bagi mereka yang serba kekurangan itu mungkin bisa jadi salah satu hal yang paling berharga dalam hidup ini. Dengan uang bisa terbeli semua mimpi, terlengkapi segala yang kurang, terobati sebagian rasa sakit, hingga menyamarkan apa yang tidak dimiliki, namun rasanya di hari raya tak ada yang dapat menggantikan kebahagiaan bercengkrama, berkumpul, menikmati kebersamaan dan kehangatan bersama keluarga tercinta di rumah. Hari kemenangan yang seharusnya di rayakan bersama orang-orang terdekat.

Dan hari ini menunggu keputusan pemerintah tentang jatuhnya hari raya, dalam benak terbayang wajah-wajah memelas saudara-saudara yang serba kekurangan itu yang kerap memakai topeng senyum yang dipaksakan… Ah semoga saja di hari raya tahun ini dengan berapapun uang yang didapatkan, mereka dapat kembali berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Menikmati kebahagiaan hari raya seperti yang lainnya. Menghadirkan tubuh mereka di antara keluarga dan bukan hanya sekedar mengirimkan lembaran uang dalam amplop untuk beli baju lebaran si kecil.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1427H

Hary Lasmana

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1427H

Tanpa terasa tiga minggu sudah berlalu perjalanan Bulan Ramadhan ini bergulir. Bulan yang penuh rahmat dimana terdapat di dalamnya limpahan kebaikan dan sarana pembelajaran bagi setiap muslim yang menjalankan kewajiban spiritualnya. Saat yang amat khusus dalam untaian waktu terpilih untuk mendidik diri belajar dari sekolah kehidupan melalui tahap menjadi murid sekaligus guru dalam tubuh yang satu. 

Menahan haus dan dahaga sejak fajar terbit hingga senja tenggelam di peraduannya mungkin tidak terasa berat, rintangan itu hanya membutuhkan kekuatan stamina fisik dengan diawali niat sebelumnya. Namun spiritualitas di bulan Ramadhan ini sesungguhnya jauh lebih tinggi nilainya dari sekedar menahan haus dan lapar. Dengan berpuasa, seseorang secara langsung menjalin komitmen vertikal secara ketat antara hatinya dengan Sang Pencipta. Belajar untuk mengenali hakekat kehidupannya, mencari apa tujuan akhir hidupnya, mengendalikan keinginan –sumber dari segala kesengsaraan, dan mengedepankan nilai luhur humanisme secara bertahap.

Dan bukanlah kehidupan utuh jika semua itu dijalani begitu saja secara datar. Dimana ada sebuah tujuan mulia, selalu ada gelombang ujian yang menentukan nilai pembelajaran itu. Hari demi hari yang dijalani tentu merupakan kewajaran jika satu demi satu godaan datang menyapa. Dan tentu saja sebagaimana sejatinya kehidupan, sebagian orang mampu mengatasinya dengan bersusah payah, namun tak sedikit pula yang acap gagal dan menjadi lalai karenanya. Demikianlah kehidupan bergulir, sebuah kompetisi yang tidak menetukan siapa pemenang dan mengalahkan siapa, hanya kebahagiaan diri sendirilah yang mampu merasakan keindahannya. Saat dimana kematangan diri telah mampu mengalahkan musuh terbesar setiap insan, yaitu dirinya sendiri.

Tuhan… seandainya saja Ramadhan ini bergulir di sepanjang tahun.

Hari ini, mencoba mengenal diri lebih dalam, memahami pelajaran yang tersembunyi dalam spiritualitas Ramadhan, dan mencoba mengkaji lebih jauh lagi…hingga hanyut tenggelam dalam hamparan pilihan, timbul sedikit kegalauan yang terasa berat menggelayut di hati; Akankah umur panjang diri ini hingga Ramadhan berikutnya? Adakah kesempatan itu datang kembali untuk menggali nilai yang sebelumnya tiada ditemui? Mungkinkah kelak Ramadhan yang akan datang mampu diperlakukan lebih baik lagi dari Ramadhan yang telah dijalani? Semoga saja semua pertanyaan itu bernilai jawab “Ya!” Pun jika seandainya tidak, hati ini hanya bisa pasrah… semoga kelapangan di hati mampu memberikan celah menerima segala kenyataan yang ada. Kehidupan ini memang sangat terbatas dan segala ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan milik manusia itu sendiri.

Seumur hidup kita belajar dari sekolah kehidupan, lahir, kanak, remaja, lalu tua. Semoga kelak saat ujung kehidupan itu kita temui dan terhentinya seluruh kesempatan pembelajaran, kita mampu menutupnya dengan senyuman manis. Sebuah kelapangan, kebahagiaan akan hasil nilai pelajaran yang tercatat dalam kehidupan yang telah dijalani bukanlah sebuah report merah yang mengisyaratkan kegagalan.

.

Taqabalallahu minna wa minkum

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1427H

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Salam,

Hary Lasmana

Pelayanan

Bertahun-tahun bekerja di area layanan pelanggan tentu saja memberi begitu banyak pengalaman tak terhingga pada diri saya. Berhubungan langsung dengan pengguna, bertemu banyak orang yang berbeda, merasakan begitu uniknya setiap orang, karakter yang beragam, hingga keinginan yang secara acak berganti-gantirupa telah memberi begitu banyak pencerahan khusus pada diri. Terkadang memikirkan hal itu, menerima semua pengalaman yang tak pernah terbayangkan sebelumnya itu, saya hanya mampu merasa bersyukur. Begitu banyak pelajaran yang didapat, bekerja dengan suka cita setiap hari, dan duka? Tentu saja jangan ditanya…

Tak jarang pengunjung yang datang bersikap sopan dan simpatik meminta bantuan dilayani dengan sebaik-baiknya, meski tak sedikit juga pelanggan datang dan berlaku semau hatinya namun tetap mendapat perlakukan sama. Idealnya memang semua pelanggan adalah sama terlepas dari bagaimanapun sikap yang mereka tunjukkan, sesuai standar umum layanan di semua lini:

"Kepuasan pelanggan adalah kebahagiaan kami…", -dan tentu saja terutama keuntungan bagi perusahaan :P

Satu-dua pengalaman menarik yang muncul sesekali itu sering menimbulkan berbagai macam pikiran dalam kepala ini. Memperhatikan sikap dan kebiasaan para pelanggan, terlebih para petugas yang melayani terutama dalam hal berlama-lama melayani pelanggan tertentu. Tapi ya demikianlah hidup ini, dimanapun kita berada hukum timbal balik selalu berlaku sama. Sikap baik akan memperoleh kebaikan… seperti pelayanan para rekan kerja saya itu contohnya.

Pelanggan yang menunjukkan sikap simpati biasanya di perlakukan dengan baik sesuai situasi dan kondisi petugas, sedangkan pelanggan yang bersikap antipati pun sebenarnya berusaha di layani dengan baik oleh petugas, namun sayangnya seringkali justru petugaslah yang kemudian terbawa efek negatif dari sikap pelanggan tersebut. Pelayanan jadi seadanya, bahkan tak tak jarang kemudian terbawa sikap antipati yang mereka terima dari luar diri mereka. Sungguh naas…

Sore ini memikirkan hal itu –saat menunggu waktu berbuka puasa tiba, tiba-tiba pikiran tentang rutinitas pekerjaan itu menari-nari dalam kepala. Mengaitkan segala hubungan manusia secara datar antar manusia, dan hubungan ke atas dengan penciptanya. Entahlah bagaimana datangnya pikiran itu, namun yang jelas secara sadar memang seharusnya kita mampu menerima kenyataan bahwa hidup seringkali tidak memberi semua yang kita inginkan. Bahkan justru sebaliknya lebih sering justru jauh dari angan-angan. Hanya pandangan positiflah yang mampu meredam semua itu.

Saya jadi teringat sebuah cerita seorang da’i dalam ceramahnya yang menuturkan kisah seorang hamba ta’at yang sakit bertahun-tahun dan berkeinginan sembuh lantas berdo’a meminta untuk di sembuhkan namun tak kunjung terkabul hingga kemudian ia meninggal. Dalam perjalanan ruh kembali pada Sang Pencipta, si hamba ta’at ini bertemu dengan Tuhan. Dalam kesempatan itu lantas ia bertanya perihal do’anya itu yang tak jua dikabulkan;

* * Hamba: "Tuhan, seumur hidup saya membaktikan diri padamu, mengapa saya ditimpakan penyakit yang tak juga mendapat kesembuhan meski saya berusaha berobat kemanapun, berdo’a, dan menyerahkan segalanya padaMu. Adakah do’aku itu tidak Kau dengarkan?"

* * Tuhan: "Wahai hamba yang ta’at… ketahuilah segala ucapan yang terucap dari mulut dan hatimu Kuketahui selalu. Namun untuk kesembuhanmu memang sengaja kutangguhkan. Aku senang mendengar suaramu, karena itulah kesembuhanmu kutangguhkan. Aku menyukai permintaanmu, suara seorang hamba yang memasrahkan diri pada Aku. Untuk itulah kini Aku memanggilmu untuk hidup dalam keabadian, bukan kebahagiaan semua di dunia itu…"

* * * * *

Seumur hidup saya dididik untuk percaya bahwa Tuhan mendengar segala pinta, dan memang saya yakin itu. Ia pasti mengabulkan segala do’a hambanya, memberi yang terbaik sesuai kebutuhan, dan lebih tahu apa yang dibutuhkan umatnya. Saya percaya setiap do’a pasti dikabulkan, setiap pinta akan diberi, dan segala prasangka adalah nyata terhadapNya. Dan seperti nasihat seorang sahabat tentang kesejatian cinta; "Seorang ibu bijak tidak mungkin memberikan es krim pada anaknya yang sedang flu meski anak tersebut menangis, meski anaknya merengek dengan begitu kerasnya…" 

Cinta tidak berarti memberi segala yang dimau, tetapi juga memilih yang terbaik -meski itu terasa begitu menyakitkan… dan jika cinta seorang ibu bijak saja begitu luhurnya maka kita bisa bayangkan bagaimana dengan cinta Sang Maha Pencipta… sanggupkah kita membayangkan, membandingkan cinta hati manusia yang tidak sempurna ini dengan segala kesempurnaan Sang Pencipta?

Hidup adalah runtunan kisah, kejadian-kejadian kecil membentuk rangkaian cerita besar. Semoga kita yang terpilih didalamnya senantiasa berbesar hati menerima apapun yang ada. Selamat berpuasa!

.

Salam,

Hary Lasmana

antara kesenangan dan kewajiban

Beberapa kali usai membaca tulisan-tulisan saya yang buat, biasanya teman-teman yang tertarik akan berkomentar banyak hal. Mulai dari pendapat pendapat mereka tentang ide yang saya sampaikan, memberi masukan yang beragam, hingga tak jarang pula yang kemudian bertanya tentang kebiasaan dan tujuan saya menulis. Ya memang demikianlah ragam kehidupan. Segala yang terlontar akan mendapat sorot yang berbeda-beda - sebuah konsekuensi hidup yang memang harus dijalani.

Dan seperti keterlambatan menyelesaikan ide-ide tulisan beberapa hari belakangan ini, telah secara nyata menimbulkan kegelisahan lain. Maaf beribu maaf… bukan maksud hati demikian. Pilihan untuk menyelesaikan beberapa hal lain yang saya anggap lebih penting secara tidak langsung membuat saya harus memilih mengabaikan beberapa ide tulisan yang seharusnya diselesaikan. Semoga pilihan ini dan segala pengertiannya akan memberi yang terbaik.

Waktu… terus bergulir, tanpa memilah-milih melindas orang-orang yang terlena di dalamnya. Semua diperlakukan sama. Dan demikianlah hidup… kita memilih jalan hidup dan menjadi bagian kehidupan itu secara nyata…

Segala hasil adalah bukti dari setiap usaha dan kehendakNya

.

Salam,

Hary Lasmana