Entries from November 2006 ↓
November 26th, 2006 — Uncategorized
Katsumi, seorang sahabat pena dari Negeri Sakura suatu kali dalam surat yang dikirimnya bercerita pada saya mengenai kebiasaan orang Jepang di musim semi yaitu ber-hanami diantara pepohonan sakura yang sedang mekar. Budaya merayakan mekarnya bunga sakura ini –seperti yang diceritakan Katsumi pada saya, secara antusias digelar setiap tahunnya secara kecil-kecilan oleh masyarakat Jepang di beberapa tempat khususnya di taman-taman umum. Dan meskipun hanami yang dalam sejarah berarti melihat-lihat mekarnya bunga sakura, dalam perkembangannya perayaan ini kini menjadi lebih bersifat sebagai sebuah ajang rekreasi masyarakat dan ritual salah satu agama di sana. Saat ini –sama seperti masyarakat Jepang lainnya, Katsumi bersama keluarga turut melestarikan budaya ini secara turun temurun.
Shinjiku Gyoen, sebuah taman yang memiliki begitu banyak pepohonan sakura yang terletak tak jauh dari tempat tinggal Katsumi selalu menjadi pilihan hanami keluarganya setiap tahun. Taman yang memiliki ribuan pohon sakura dengan beragam variasinya ini memang telah menjadi salah satu tempat tujuan masyarakat Jepang untuk berhanami. Dan pada tahun ini, secara khusus Katsumi mengabadikan perayaan hanami bersama keluarga dalam foto untuk diberikan pada saya sebagai kenang-kenangan dalam surat yang dikirimkannya.
"Cindera mata ini saya kirimkan agar kamu bisa melihat seperti apa hiruk pikuk masyarakat Jepang saat ber- hanami ria di taman", tulisnya dalam surat itu.
Saya hanya mampu tersenyum melihat foto-foto itu. Hati ini seolah turut merasakan kebahagiaan mereka, kehangatan keluarga diantara rimbun putih pepohonan sakura yang sedang mekar. "Ah Katsumi… sungguh indah dan menyenangkan pasti menikmati semua itu. Rekreasi keluarga dalam kehangatan budaya tradisional yang tak goyah oleh hadirnya gaya hidup modern", ucap saya dalam hati. Dan mungkin itulah sebabnya kemudian timbul rasa tertarik saya untuk mengetahui lebih banyak mengenai bunga kecil yang memiliki arti besar di hati masyarakat Jepang ini.
Mengandalkan googling di internet, satu persatu halaman web kemudian saya susuri untuk memenuhi keingintahuan tentang segala hal yang menyangkut sakura. Dan diluar dugaan, hasilnya sungguh mengagumkan. Begitu banyak cerita yang menyertai perjalanan sejarah bunga yang hanya mekar satu minggu saja dalam setahun ini. Sakura yang meskipun tidak disebut sebagai bunga resmi negara, ternyata keberadaannya telah menjadi bagian budaya dan tradisi masyarakat Jepang yang selalu dinantikan setiap musim semi. Bahkan sebagian orang sengaja membuat rencana khusus untuk menikmati mekarnya bunga sakura dalam agenda tahunannya. Sungguh suatu hal yang tidak bisa dianggap sepele.
Dan diantara cerita-cerita menarik yang mengiringi keberadaan sakura itu, ada satu cerita menakjubkan yang menarik perhatian saya; yaitu ketika timbulnya bencana banjir yang mengakibatkan kerusakan pada pepohonan sakura yang ada di beberapa taman di Jepang. Para botanis Jepang yang peduli kemudian segera mencari solusi untuk melestarikan pepohonan yang rusak itu dengan mencangkok pohon sakura yang ada di Amerika sebagai penggantinya. Sungguh sebuah wujud sebuah rasa bangga dan percaya diri tinggi warga negara terhadap identitas bangsanya.
Dan juga pada bagian lain, sebuah hikmah besar mengenai kehidupan ini tersimpan pada keberadaan sakura. Dibalik ukurannya yang mungil, bunga yang memiliki berbagai macam variasi warna, yang pada setiap tangkainya berkembang lima hingga ratusan bunga ini telah memberi contoh pada kita bahwa hal-hal kecil jika dirangkai dalam sebuah untaian besar dapat memberi keindahan sejatinya.
Sakura… diluar keindahanmu ternyata terdapat filosofi besar yang bisa digali dari dalamnya.
Dan kini -dalam waktu luang menunggu surat balasan kiriman pos sebelumnya, sesekali dalam benak muncul keingintahuan mengenai keadaan sahabat saya di negeri sakura itu; "Bagaimana ya kira-kira reaksi Katsumi saat mengetahui apa yang tengah saya rasakan, terutama padangan diri yang begitu tinggi terhadap bunga sakura. Mungkinkah ia akan tersenyum simpul atau justru akan bergelak tawa saat mengetahuinya?". Entahlah.
Sakura, mengenal dirimu membuat saya belajar banyak tentang kehidupan. Tentang hal-hal kecil yang bisa berarti besar bila dipadukan. Semoga saja kelak suatu saat dalam perjalanan hidup ini, sayapun bisa turut menjadi kuncup kecil yang bersatu bersama dengan yang lainnya untuk menciptakan indahnya kebersamaan. Menjadi seorang baik, seseorang yang hidupnya bermanfaat bagi yang lain.
Semoga saya bisa menjadi seperti itu.
Salam,
Hary Lasmana
November 19th, 2006 — Uncategorized
Anak Yang Baik
Oleh: Putu Wijaya
Anak yang baik itu bagaimana
tanya seorang anak pada seekor kuda
Kuda pun menjawab menurut hematnya
Anak yang baik harus kuat kakinya
untuk memikul beban dan lari kencang
Anak yang baik harus panjang napasnya
untuk berpacu dan melompati penghalang
.
Anak yang baik itu seperti apa
Tanya seorang anak pada burung kucica
Burung pun berkicau merdu suaranya
anak yang baik katanya sambil tertawa
harus rajin berlatih dan gembira menyanyi
Tidak boleh malas setiap hari
.
Anak yang baik itu harus berbuat apa
tanya anak itu kemudian pada sebuah buku
Yang ditanya tak menjawab, tapi membuka bab satu
tertulis di situ; kamu harus berisi ilmu
Bersih dan rapi tetapi juga bermutu
Kalau tidak kamu akan jadi dungu
.
Anak itu kemudian menghadap guru
Kalau itu benar, katanya mengadu
nanti aku jadi kuda, kucica, dan buku
Padahal aku manusia, aku tak mau begitu
repot bekerja aku tak mau
Banyak bertanya itu tak perlu
.
Guru tersenyum lalu menuntun muridnya
melihat album foto orang-orang besar
pilih kamu ingin seperti siapa, tanyanya
Anak itu menunjuk tiga tokoh idaman
Cut Nya Dien, Kartini, dan Pratiwi
Ini pilihanku jawabnya pasti
.
Bagus jawab guru, tetapi jangan lupa
menjadi orang besar memerlukan usaha
Mereka bekerja keras seperti kuda
Tak jemu berlatih bagai kucica
Mereka gudang ilmu seperti buku
Nah, apakah kamu sekarang masih mau
Anak yang bertanya itu termenung
Waduh susah dong katanya bingung
mesti kerja sedang aku tanya melulu
Guru tersenyum, tidak, jangan keliru
rajin bertanya, suka mendengar seperti kamu
Adalah watak anak yang bermutu
.
*meaningfull… this is one of my favorite poets since i found it when i was in kindergaten school which always remind me how to reach a dream, and also… it created by my idol!
November 9th, 2006 — Uncategorized
Rasanya selain karena keadaan sakit, salah satu alasan yang paling mudah terlontar untuk dimaklumi dalam hidup ini adalah sifat lupa. Entah karena memang benar-benar tidak ingat, rasa malas, atau keinginan hati yang ingin menolak tapi tidak berani mengatakan membuat pengucapan kata lupa itu begitu mudah dilontarkan sebagai jalan keluarnya.
Dititipi pesan salam untuk orang lain, karena malas atau karena justru karena ada perselisihan sebelumya dengan orang yang ditujukan salam itu dengan mudah kita menyiapkan alasan lupa pada si penitip salam bila ditanya -bila tidak ditanya tentu diam saja. Dititipi membeli sesuatu oleh orangtua saat kita pergi keluar sejenak, seringkali dengan mudah juga kita menyiapkan alasan lupa hanya karena malas pergi ke tempat yang di tuju sebab lokasinya yang membuat kita harus berjalan memutar sedikit lebih jauh. Dan bahkan tak jarang dalam dunia kerja ataupun saat sekolah betapa banyaknya tugas kelompok atau tugas pribadi yang jadi terbengkalai hanya karena alasan ini. Semua terjadi akibat penyia-nyiaan waktu kita yang tiada kita sadari begitu pentingnya.
Pernahkah kita berpikir saat kita menyiapkan kata lupa sebagai sebuah alasan, sesungguhnya kita telah dengan mudahnya menciptakan bibit kekecewaan. Meski diiringi permintaan maaf, pengucapan lupa sebagai alasan tersebut justru telah mengurangi harga diri kita sebagai orang yang bertanggung jawab. Belum lagi kekecewaan yang timbul dari orang yang berharap pada diri kita. Hmm… kalau sudah demikian bagaimana mungkin kita bisa dianggap sebagai orang yang bisa memegang tanggung jawab?
Suatu waktu di saat keadaan berbalik dimana diri kita sebagai orang yang berharap, saat cobaan datang silih berganti, masalah tak kunjung selesai, dan keadaan yang ditunggu tak juga berubah kearah yang lebih baik, bagimana perasaan kita? Mungkin dalam hati kita akan menggerutu, “Aku telah melakukan banyak kebaikan, berdoa tanpa henti, dan mencoba berpikir positif tapi apa hasilnya? Tuhan telah melupakan aku… mengapa setelah semua yang aku lakukan, Ia tidak membalas doa-doaku?”. Ah memang begitulah kita, begitu mudahnya kecewa tanpa instropeksi diri sebelumnya. Kita menganggap diri kita begitu penting, dan jauh lebih penting dari siapapun.
Kita meminta begitu banyak kebaikan, tetapi bahkan bangun tidur pagi ini kita lupa mengucap syukur atas anugerah istirahat yang kita terima. Padahal entah berapa banyak orang-orang diluar sana setelah memejamkan mata semalam keesokan paginya tidak memiliki kesempatan kembali membuka mata untuk selamanya. Kita lupa setiap kali mata kita terbuka, itu adalah kesempatan yang tak terhingga. Sebuah kesempatan untuk merasakan anugerah hidup dan meraih kebahagiaan dari dalamnya.
Kita gerakkan badan sehat kita semaunya saja, mulut indah kita mengeluarkan sumpah serapah, mencibir tiada henti, menggosip cela orang lain. Tubuh sehat kita pergunakan selalu untuk bersenang-senang, kaki melangkah mengikuti kemanapun hati menginginkan tanpa peduli apa yang akan terjadi nanti. Bekerja kita lupa waktu dengan alasan untuk menghidupi keluarga, padahal hanya sekedar menyalurkan ego, kepuasan kerja untuk diri kita sendiri. Kita abaikan hak angota keluarga di rumah, bahwa sesungguhnya mereka juga memiliki hak bagian atas waktu yang kita punya. Ah! memang begitu mudahnya kita lupa saat segalanya justru berada dalam keadaan sewajarnya.
Kita berkata dalam setiap ibadah bahwa hidup dan mati kita hanya untukNya, tapi diri kita dipenuhi dusta dan nista. Kita berkata segala yang melekat di tubuh kita adalah milikNya, tapi kita malah sering lupa dan menggunakan seenaknya. Kita lupa, benar-benar lupa bahwa pada saat nafas ini terhenti nanti Ia pasti menanyakan semua titipan dariNya di gunakan untuk apa?
Kita hanya menginginkan semua kesenangan, menolak segala duka. Padahal pernahkah kita berpikir bahwa segala duka adalah juga obat dari segala alpa? Perut yang lapar mengingatkan kita untuk memberi makan raga, badan yang sakit mengingatkan kita bahwa tubuh memerlukan istirahat secukupnya. Semua telah diatur dengan pas pada tempatnya dalam kehidupan ini.
Ah kita memang lebih senang untuk lupa… dan semoga saja pun saat ini kita tidak benar-benar lupa berapa usia yang telah kita jalani selama berada di dunia meskipun kita tidak tahu berapa lagi yang tersisa…
Salam,
Hary Lasmana
November 2nd, 2006 — Uncategorized
Memandangi suatu hal berbeda dari kacamata diri sendiri adalah salah satuhal mudah, namun untuk memahami sepenuhnya keadaan objek yang dipandangi tentu sulit sedemikian rupa. Berbagai alasan, tujuan, pengalaman, dan banyak hal yang menjadi penyebab seringkali membuat kita sulit mengerti mengapa begitu banyak perbedaan dalam kehidupan ini. Tapi ah -lagi-lagi, bukankah perbedaan itu indah?
Seperti seekor kera misalnya, dari atas pohon yang dipanjatnya memandangi petani yang tengah bekerja keras menanami sawah mungkin adalah hal lucu baginya. Karena bagi seekor kera, padi bukanlah bagian penting dalam hidupnya. Seumur hidup kera hanya bergantung pada pepohonan yang menghasilkan buah. Mencari makan dengan bergelayut dari dahan ke dahan di dalam hutan, memetik buah-buahan yang masak untuk dimakan memenuhi rasa laparnya. Namun tidak demikian bagi manusia. Setiap manusia layak bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, berpikir mengisi ruang batinnya, bertindak berdasar pengalaman dan pengetahuan yang ada, hingga menentukan banyak hal penting berdasar nuraninya. Jadi merupakan hal wajar bagi kera tersebut sulit memahami kerja keras seorang petani dalam bertanam padi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Setiap manusia memilih dan menentukan tujuan hidupnya masing-masing. Kita mungkin bisa saja menyalahkan orang lain atas kesalahan yang terjadi tapi alangkah baiknya jika kita justru mencari penyebab kesalahan dan menemukan jalan keluarnya. Kita juga bebas menentukan arah dan tujuan hidup kita atau lebih memilih sekedar menjalaninya saja. Kita bisa mengejar impian yang kita cita-citakan atau membiarkannya menggantung dalam benak dan terus-menerus terlena didalamnya. Semuanya kembali pada setiap orang yang menjalani kehidupan ini, bergantung pada pilihannya masing-masing.
Sesungguhnya setiap usaha tiada yang sia-sia, segala upaya pastilah memberikan hasil meski tidak selalu seperti yang dibayangkan. Tuhan tahu yang terbaik dan selalu menginginkan yang terbaik. Karena itulah Dia menciptakan manusia.
Salam,
Hary Lasmana