Entries from December 2006 ↓
December 30th, 2006 — Uncategorized
Tersesat di sebuah kota yang sudah lama tidak di kunjungi adalah hal yang mencemaskan, setidaknya perasaan itulah yang timbul ketika mengetahui perjalanan yang saya lakukan melenceng dari arah yang seharusnya pada sebuah kesempatan lalu. Namun untunglah berkat kemampuan menguasai diri, rasa was-was dan kekhawatiran akan kegagalan tujuan perjalanan yang telah lama direncanakan ini tak bertahan lama. Ya memang, dipikir-pikir kalau hanya berselisih jalan mengapa harus dikhawatirkan? Cukup memutar balik saja bukan?
Dan iseng-iseng sembari menikmati perjalanan itu saya berhitung. Pada catatan saya kemudian, ternyata selain waktu, akibat tersasar kini jumlah ongkos transportasi perjalanan menjadi berkali lipat. Perjalanan yang sedianya cukup menumpang satu angkot, bertambah menjadi tiga kali. Ya, tiga kali saya naik turun kendaraan umum dengan menempuh jarak yang berputar-putar. Dan mungkin seandainya saya tidak berusaha menikmati panjang perjalanan ini amarah di hati pasti sudah muncul dan menghilangkan keinginan menyelesaikan perjalanan. ”Suatu saat, kejadian ini pasti akan membuat sebuah kenangan lucu yang membuat hati menjadi geli untuk diingat…”, ucap saya dalam hati untuk menghibur diri.
Pada angkot terakhir, dalam suasana hangat penuh dengan obrolan logat pasundan di dalamnya, terasa udara dingin menyapa lembut dari pintu yang terbuka. Pikiran ini tanpa sadar melayang dan tiba-tiba membangunkan rasa takut di dalam hati. Entah kenapa, nampak seolah kejadian yang tengah saya alami seakan sebuah teguran bahwa seperti perjalanan yang kini sedang saya tempuh sesungguhnya tak jauh berbeda dengan kehidupan nyata. Apapun bisa saja terjadi di dalamnya.
Mencoba mengambil hikmah –belajar dari kejadian yang telah dilalui, terlintas dalam pikiran akan kehadiran seorang teman. Ia yang pernah tersesat dan menemukan kembali tujuan jalan hidupnya. Seseorang yang hidup dalam kesederhanaan jiwa pernah berkata, " Ketika seseorang tersesat dalam kehidupan, hal tersebut dapat menjadi moment pencerahan saat hati ikhlas menerima dan berusaha kembali ke cita-cita perjalanan semula. Ia dapat menjadi petunjuk lain dalam mencari hakikat sejatinya hidup. Saat seperti itu -dalam kondisi ketidakpastian, adakalnya memang kehidupan muncul menjelma bagaikan rimba liar, namun justru saat itulah sesungguhnya kehidupan sedang memberi kesempatan besar bagi siapapun untuk mendengar begitu banyak suara yang tak pernah di ketahui sebelumnya. Kehidupan yang muncul dalam kondisi terbaiknya.
Dalam tersesat di sana kicau burung akan terdengar lebih meriah, gemerisik dedaunan terdengar begitu merdunya, dendang riak gelombang sungai riuh menari-nari di telinga, dan sahut-sahutan kera liar kelak terlihat dalam tiupan angin yang kita temui. Bahkan juga auman macan penguasa rimba yang mampu menyiutkan nyali. Dalam tersesat seseorang akan mampu melihat hal lain dalam dirinya. Disanalah –dalam tersesat itu, kualitas diri kita teruji. Untuk mampu menguasai diri, untuk kembali pada jalan yang seharusnya di lalui”.
Mengingat semua itu, hati kecil ini mengakui, ”Memang takkan ada kebahagiaan sebesar itu. Saat hati berlapang menerima dan melalui semua ujian seperti apa adanya. Dalam kondisi seperti itu seluruh warna kehidupan terlihat lebih cerah dan menyala terang dari sebelumnya”.
December 15th, 2006 — Uncategorized
Orang dewasa tidak ingat lagi, bagaimana rasanya,/
menjadi anak-anak./
Walaupun mereka mengaku begitu./
Mereka tidak tahu lagi./
Percayalah padaku./
Mereka sudah lupa semuanya./
Betapa dunia dahulu berkesan lebih besar bagi mereka./
Betapa repotnya memanjat ke atas kursi./
Bagaimana rasanya kalau harus selalu menengadah?/
Lupa./
Mereka tidak tahu lagi./
Kaupun akan melupakannya./
Kadang-kadang orang dewasa bercerita, betapa indahnya/
ketika mereka masihanak-anak./
Mereka bahkan bermimpi menjadi anak-anak lagi./
Tetapi apa yang mereka mimpikan ketika masih anak-anak?/
Tahukah kau/
aku rasa, mereka bermimpi ingin cepat-cepat dewasa/
~ sebuah puisi yang ditulis dalam halaman awal buku: Pangeran Pencuri karya Cornelia Funke
December 14th, 2006 — Uncategorized
Adalah benar bahwa manusia tidak mempunyai ketertarikan yang melebihi ketertarikannya terhadap kebebasan, dan tak terhitung pengorbanan yang mereka lakukan untuk meraihnya. Dan hari ini, manusia disodori sebuah system yang memungkinkan mereka untuk makan dan minum sesukanya, berpakaian semaunya, juga berpikir bebas. Tujuan hidup dalam system seperti itu adalah kemakmuran dan kekuatan. Keduanya dipandang sebagai sarana untuk mencapai tujuan kemanusiaan yang paling agung dan suci, yakni kebebasan. Oleh karena itu, Barat menggunakan naluri manusia yang paling dasar dan paling kuat itu untuk memperkokoh posisinya. Ini salah kaprah. Konsep Barat jauh dari pencapaian kebebasan yang sesungguhnya. Kami mendambakan sistem yang berdasarkan pada pengendalian nafsu dan moralitas yang tinggi, yang hanya bisa dicapai dengan usaha yang tak kenal lelah dan keberanian untuk memulai langkah menuju peningkatan moral dan spiritualitas. Inilah kebebasan yang hakiki, namun manusia perlu dididik untuk mampu melihatnya.
*)dikutip dari buku: Membangun dialog antar peradaban: Harapan dan Tantangan; Mohammad Khatami; 1998; p.89; Mizan; Bandung
Comment: ”…Khatami menolak pemasangan potretnya di gedung-gedung umum. Wajah kharismatiknya justru memantul dari gambar-gambar yang dipasang oleh rakyatnya di rumah-rumah mereka.”
The Times (London), 10 Desember 1997
December 5th, 2006 — Uncategorized
Ada kalanya dalam hidup kita merasa gundah karena merasa khawatir dan heran oleh sikap seseorang atau sekelompok orang yang menunjukkan ketidaksukaan pada diri kita. Semua yang kita kerjakan selalu salah. Segala tingkah laku dan perbuatan kita hanya menuai cibiran, hanya cela tanpa guna dalam pandangan mereka. Tak ada kebaikan, apalagi kesempurnaan. Selalu salah dan terus menerus salah. Namun saat kita merefleksi ke dalam diri -mencari penyebab semua ketidakwajaran yang mungkin bersumber dari sana, ternyata hasilnya sia-sia. Tak ada yang aneh di dalam sini, lalu jika demikian dimanakah letak kesalahannya?
* * * * *
Hidup ini memang penuh dinamika. Adakalanya ia membuai semua insan hidup dalam kesenangan, namun tak jarang sesekali memberi kita sebuah ”bagian panasnya”. Siklus pendewasaan yang mengajarkan pada kita bahwa sedianya semua yang kita harapkan tidak selamanya dapat sesuai keinginan. Semua berubah, mengikuti nasib dan takdirnya. Seperti juga bumi yang berputar pada porosnya, kehidupan tumbuh, usia kita bertambah. Namun bersyukur akan semua keadaan itu -satu hal yang harus saya akui, keabadian sifat-sifat kehidupan selalu sama. Turun temurun mengisi hati setiap insan melalui orang tua, guru, dan pembimbing kebijakan.
Makna kejujuran, ikhlasnya pertolongan, senyum yang tulus, dan juga semangat berbagi pada sesama adalah hal yang selalu diterima dengan hati terbuka. Ia selalu mampu menembus kebekuan hati setiap manusia. Bahwa memang telah terjadi begitu banyaknya perubahan dalam hidup ini, namun demikian jua kenyataannya yang tak pernah berubah adalah selalu kunci kebahagiaan itu terletak di dalam hati pemiliknya. Besar atau kecilnya arti ia, terletak dari kemampuan kita menerima segala dengan apa adanya.
Teringat pada suatu waktu dalam suasana hening hujan seorang guru bijak pernah memberi nasehat, ”Dalam hidup ini, salah satuhal yang tidak kalah penting untuk dicintai adalah orang-orang yang berseberangan dengan kita. Mereka adalah pusat utama menuju kebaikan dan penyempurna segala tindakan. Dengan adanya mereka kita bisa melihat kekurangan yang tak nampak saat kita bercermin, kreatifitas kita dapat terpacu dan kesabaran kita dapat terasah dengan baik. Hasilnya kita jadi jauh lebih jernih dalam berpikir. Anggaplah musuhmu sebagai teman dan terima ia seperti apa adanya. Segala apa yang nampak dan terlihat jelas dalam rupa seorang manusia belum tentu langsung mencerminkan seperti apa yang ada di dalam dirinya.”
Salam,
Hary Lasmana
December 1st, 2006 — Uncategorized
Dalam hidup ini, salah satu hal yang paling saya sukai adalah cokelat. Apapun jenis, bentuk, merk, maupun suasana saat menyantapnya, bagi saya cokelat adalah teman setia yang sangat pengertian; kapanpun dan di manapun. Tak perlu sebuah alasan apalagi cara khusus untuk menikmatinya, cukup buka bungkusnya lalu makan dan habiskan hingga tak tersisa.
Pada suatu malam saat menikmati cokelat kesukaan, terlintas dalam benak ini bahwa sebenarnya hidup yang kita jalani ini tak jauh berbeda dengan menikmati cokelat. Dalam banyak hal, cokelat –dan juga kehidupan, memiliki rasa nikmat yang khas yang pastinya ditafsirkan secara berbeda oleh setiap orang. Ia, sebagaimana juga kehidupan, memiliki tempat khusus dalam bagian hati setiap orang. Untuk disuka atau dijauhi, atau bahkan justru keduanya.
Bagi yang beralasan bahwa cokelat itu tidak baik untuk kesehatan maka sebisa mungkin ia akan menjaga dirinya dari asupan cokelat. Menghindar semampunya; Yang takut timbunan lemak cokelat dapat menetap di badannya akan bersikap antipati dan selalu berusaha menjauh, tak selera menikmatinya. Begitupun dengan orang-orang yang karena pengalaman pribadinya kecanduan rasa lezat cokelat ini namun akhirnya harus berjuang keras untuk menghentikannya, mereka pasti akan menolak dan tak pernah lagi mau mencicipi cokelat sedikitpun. Takut ketagihan! Tak mau mengulangi lagi kesalahan yang sama.
Begitulah kehadiran cokelat mendapat tempat di hati setiap orang. Penilaian berbeda itu muncul bergantung pada situasi dan kondisi, juga pengalaman hidup yang telah dijalani.
Sepanjang hidup ini kita mencari cara dan jalan menuju kebahagiaan. Dan demi meraih semua itu, banyak cara kita lakukan. Mulai dari membaca buku-buku motivasi, menonton siaran televisi, mendengar siaran radio, hingga mengikuti seminar meraih hidup bahagia. Namun ketika kebahagiaan itu tak kunjung datang, seberapa sanggup diri kita bertahan dan ikhlas menerima kenyataan yang ada?
Membayangkan itu semua, saya jadi teringat pada seorang nenek yang berada dalam rentang jarak jauhnya dari tempat saya berada kini. Sepanjang hidup mengenalnya, mungkin kalau ada pemilihan orang-orang terbahagia di dunia rasanya pantas jika beliau masuk menjadi finalis. Namun jangan salah sangka dengan mengira bahwa semua itu berasal dari segala kecukupan hidup yang dijalani; Hidup menyandang status janda yang tercerai berai dengan anak-anaknya adalah sebuah kehidupan yang sangat sulit, apalagi ditambah kemiskinan. Tetapi ia, dengan keyakinan yang kuat dari dalam diri mampu melalui semua itu dengan senyum dan hati lapang. Dan berbeda dengan kebanyakan orang, ketika banyak orang hanyut dalam suasana dan keadaan, namun nenek yang satu ini justru membentuk suasana dan keadaan sebagaimana yang diinginkannya.
"Kebahagiaan itu bergantung pada diri kita sendiri, yang berawal dari sini", ucapnya dengan jari telunjuk mengarah ke dada saat ditanya resep kebahagiaan hidupnya.
Nasihat pendek yang dikatakan nenek itu mungkin benar adanya. Kebahagiaan kita, adalah kita yang menentukan dan bukan orang lain. Semua bergantung pada diri kita sendiri untuk menjadi bahagia atau tidak. Bersedia bersyukur atas segala yang dimiliki atau terus mencari kekurangan diri.
Saat menyusun tulisan ini, sebatang cokelat tersisa di meja nampak begitu menggiurkan. Kilau keemasan pembungkusnya menggoda diri ini untuk segera menikmati isinya. Tak dinyana hati bimbang membuat saya tertegun sejenak. Memilih untuk melanjutkan tulisan atau rehat sambil menikmati kelezatan cokelat itu hingga tak tersisa. Namun untunglah saya tidak memilih pilihan terakhir dan menyelesaikan hal yang seharusnya.
Sejatinya kehidupan, setiap saat disepanjang umur kita akan selalu mendapat hal seperti itu. silih bergantinya godaan datang mengetes seberapa besar kualitas diri kita terhadapnya. Apakah kita mampu bertahan? Atau justru terjerat di dalamnya. Demikianlah hidup, dan diantara pilihan-pilihan yang ada itulah kualitas diri kita diuji didalamnya.
Sungguh kebahagiaan itu nyata berasal dari dalam diri kita. Dan untuk meraihnya, semua kembali pada kesediaan kita untuk menerima apapun seperti apa adanya. Untuk tidak selalu menuntut, apalagi memaksa. Dan melengkapi rumus itu, seorang teman lain menambahkan, "Awal derita itu bernama keinginan".
Salam,
Hary Lasmana