Dalam hidup ini, salah satu hal yang paling saya sukai adalah cokelat. Apapun jenis, bentuk, merk, maupun suasana saat menyantapnya, bagi saya cokelat adalah teman setia yang sangat pengertian; kapanpun dan di manapun. Tak perlu sebuah alasan apalagi cara khusus untuk menikmatinya, cukup buka bungkusnya lalu makan dan habiskan hingga tak tersisa.
Pada suatu malam saat menikmati cokelat kesukaan, terlintas dalam benak ini bahwa sebenarnya hidup yang kita jalani ini tak jauh berbeda dengan menikmati cokelat. Dalam banyak hal, cokelat –dan juga kehidupan, memiliki rasa nikmat yang khas yang pastinya ditafsirkan secara berbeda oleh setiap orang. Ia, sebagaimana juga kehidupan, memiliki tempat khusus dalam bagian hati setiap orang. Untuk disuka atau dijauhi, atau bahkan justru keduanya.
Bagi yang beralasan bahwa cokelat itu tidak baik untuk kesehatan maka sebisa mungkin ia akan menjaga dirinya dari asupan cokelat. Menghindar semampunya; Yang takut timbunan lemak cokelat dapat menetap di badannya akan bersikap antipati dan selalu berusaha menjauh, tak selera menikmatinya. Begitupun dengan orang-orang yang karena pengalaman pribadinya kecanduan rasa lezat cokelat ini namun akhirnya harus berjuang keras untuk menghentikannya, mereka pasti akan menolak dan tak pernah lagi mau mencicipi cokelat sedikitpun. Takut ketagihan! Tak mau mengulangi lagi kesalahan yang sama.
Begitulah kehadiran cokelat mendapat tempat di hati setiap orang. Penilaian berbeda itu muncul bergantung pada situasi dan kondisi, juga pengalaman hidup yang telah dijalani.
Sepanjang hidup ini kita mencari cara dan jalan menuju kebahagiaan. Dan demi meraih semua itu, banyak cara kita lakukan. Mulai dari membaca buku-buku motivasi, menonton siaran televisi, mendengar siaran radio, hingga mengikuti seminar meraih hidup bahagia. Namun ketika kebahagiaan itu tak kunjung datang, seberapa sanggup diri kita bertahan dan ikhlas menerima kenyataan yang ada?
Membayangkan itu semua, saya jadi teringat pada seorang nenek yang berada dalam rentang jarak jauhnya dari tempat saya berada kini. Sepanjang hidup mengenalnya, mungkin kalau ada pemilihan orang-orang terbahagia di dunia rasanya pantas jika beliau masuk menjadi finalis. Namun jangan salah sangka dengan mengira bahwa semua itu berasal dari segala kecukupan hidup yang dijalani; Hidup menyandang status janda yang tercerai berai dengan anak-anaknya adalah sebuah kehidupan yang sangat sulit, apalagi ditambah kemiskinan. Tetapi ia, dengan keyakinan yang kuat dari dalam diri mampu melalui semua itu dengan senyum dan hati lapang. Dan berbeda dengan kebanyakan orang, ketika banyak orang hanyut dalam suasana dan keadaan, namun nenek yang satu ini justru membentuk suasana dan keadaan sebagaimana yang diinginkannya.
"Kebahagiaan itu bergantung pada diri kita sendiri, yang berawal dari sini", ucapnya dengan jari telunjuk mengarah ke dada saat ditanya resep kebahagiaan hidupnya.
Nasihat pendek yang dikatakan nenek itu mungkin benar adanya. Kebahagiaan kita, adalah kita yang menentukan dan bukan orang lain. Semua bergantung pada diri kita sendiri untuk menjadi bahagia atau tidak. Bersedia bersyukur atas segala yang dimiliki atau terus mencari kekurangan diri.
Saat menyusun tulisan ini, sebatang cokelat tersisa di meja nampak begitu menggiurkan. Kilau keemasan pembungkusnya menggoda diri ini untuk segera menikmati isinya. Tak dinyana hati bimbang membuat saya tertegun sejenak. Memilih untuk melanjutkan tulisan atau rehat sambil menikmati kelezatan cokelat itu hingga tak tersisa. Namun untunglah saya tidak memilih pilihan terakhir dan menyelesaikan hal yang seharusnya.
Sejatinya kehidupan, setiap saat disepanjang umur kita akan selalu mendapat hal seperti itu. silih bergantinya godaan datang mengetes seberapa besar kualitas diri kita terhadapnya. Apakah kita mampu bertahan? Atau justru terjerat di dalamnya. Demikianlah hidup, dan diantara pilihan-pilihan yang ada itulah kualitas diri kita diuji didalamnya.
Sungguh kebahagiaan itu nyata berasal dari dalam diri kita. Dan untuk meraihnya, semua kembali pada kesediaan kita untuk menerima apapun seperti apa adanya. Untuk tidak selalu menuntut, apalagi memaksa. Dan melengkapi rumus itu, seorang teman lain menambahkan, "Awal derita itu bernama keinginan".
Salam,
Hary Lasmana



1 comment so far ↓
waaaaa, bahasanya dalem banget, Kak…
bisa jadi petuah buat aq di skul
buat nambah semanget juga
Kak, harusnya jadi motivator aja.
Leave a Comment