Entries from January 2007 ↓
January 26th, 2007 — Uncategorized
Pada kesuksesan yang semakin memudar hari demi hari, banyak orang tak menyadari bahwa salah satu penyebabnya adalah keterlenaan pada kejayaan masa lalu. Bangga, ujub, riya, bahkan sombong pada prestasi yang telah dicapai. Mereka yang terpaku dan merasa puas pada hasil yang dicapai, menerima keberhasilan dan membawanya dalam bagian hidup selamanya. dan bagi yang berlaku demikian, sesungguhnya mereka tengah lalai. Lupa akan hukum perubahan, lupa bahwa segala sesuatu silih berganti. Lupa tentang sejatinya keadaan yang fluktuatif dan saling melengkapi. Seperti buah masak yang dihidangkan di meja makan, setelah dikupas dan dibelah maka harus segera dimakan. Karena jika didiamkan saja, maka lapisan luarnya akan menjadi kecokelatan karena proses pengasaman akibat reaksi dengan udara terbuka. Begitulah kesuksesan yang kita terima sebagai konsekuensi sebuah usaha.
Dan berlawanan dengan keterlenaan pada kejayaan masa lalu, di bagian lain banyak orang terhambat justru karena meratapi kegagalan yang pernah ditemui. Muali dari bisnis yang hancur, pernikahan yang gagal, kondisi keluarga yang tidak ideal, hingga tersandung batu di jalan yang membuatnya enggan kembali melewati jalan tersebut. Malu! Dan memang jika demikian yang terjadi, sungguh ironis sekali. Mengingat perjalanan menuju ke depan adalah hidup yang penuh dengan tantangan dan sarat akan hambatan.
Kita dalam hidup ini selalu mendapatkan tiga sesi keadaan; Hari kemarin yang telah dijalani, hari ini yang tengah dijalani, dan hari esok yang akan dijalani -bila usia kita memang mencukupinya. Hanya ketiga fase itulah sesungguhnya anugerah kehidupan yang dijalani setiap insan. Fase singkat yang sayangnya justru seringkali dipersulit oleh kerumitan pola pikir dan ego yang melekat dihati. Kita berharap untuk bahagia, namun sikap kita justru membuat harapan itu menjauh. Semakin besar harapan yang ada, namun yang terjadi adalah justru semakin kecilnya kemungkinan meraih harapan itu.
Belajar meraih kebahagiaan sesungguhnya, adalah alam guru terbaik untuk kita mampu berkaca. Bumi dan seisinya. Mereka yang hidup dalam kejernihan pikiran dan ketulusan hati dalam memberi. Juga menerima.
Ada matahari yang bersinar tanpa pamrih, ada bulan dan bintang yang muncul malam hari, juga pepohonan yang menghasilkan bunga dan buah bagi siapapun yang ingin menikmati. Mereka tak pernah peduli siapapun yang mau memanfaatkan apa yang mereka bisa berikan. Matahari, baginya tak jadi soal siapa yang memanfaatkan sinarnya. Entah orang baik, entah orang jahat, entah anak-anak, entah orang dewasa, ataupun manula akan tetap ia beri sinarnya secara merata. Bulan dan bintang tak pernah memilih dilangit mana mereka ingin berbagi cahaya. Keinginan keduanya hanyalah kebahagiaan berbagi keindahan malam pada siapa saja. Begitu juga dengan pepohonan yang berhasil menjadi besar. Dalam rimbun daunnya ia beri begitu banyak pilihan tempat bagi serangga dan burung untuk berteduh, bersarang, dan mencari makan.
Jika berbuah ia ikhlaskan pada siapapun yang butuh untuk memakannya, jika berbunga keharumannya ia sebar bersama angin ke segala arah. Begitulah alam dengan segala keterbatasannya mengajarkan keindahan.
Hanya ketulusan, keikhlasan, dan kemampuan memaafkan tanpa persyaratanlah yang mampu menghantar kita memeluk kebahagiaan. Dan mencapainya, jangan heran jika kelak menemukan telaga air air mata yang ada bukanlah air mata yang mencerminkan penyesalan. Apalagi penderitaan.
Salam,
Hary Lasmana
January 19th, 2007 — Uncategorized
Seringkali kita lupa akan berharganya sesuatu saat ia bertengger di antara hidup kita. Entah itu nikmat sehat, waktu luang, kesempatan, benda-benda berharga, ataupun kehadiran seseorang terkasih yang menemani perjalanan hidup. Kita, menerima semua anugerah itu sebagai bagian dalam kehidupan tanpa menyadari bahwa kehadiran mereka adalah fana. Semua yang datang dan kita nikmati akan pergi mengikuti hukum abadi kehidupan. Menuju perubahan.
Seberapa kencangnya ratapan, seberapa deras air mata, juga kata-kata penyesalan yang begitu muluk takkan pernah dapat mengembalikan apapun yang telah pergi dalam hidup ini. Saat orang-orang terkasih pergi dan tak kembali, berapapun banyaknya air mata yang tumpah takkan ada artinya. Saat kesempatan terbaik pergi setelah disia-siakan begitu saja, keluh kesah yang seperti apapun takkan dapat mendatangkannya kembali. Apalagi waktu, pergerakan kepastiannya telah memperlihatkan betapa banyak kegagalan pada diri manusia yang tak bisa menjaganya dengan baik. Jadi berhati-hatilah, jaga ia sebaik-baiknya, namun bila memang tiba saat melepaskannya.. relakan, ikhlaskan saja.
Semalam dalam perjalanan pulang menuju rumah, di dalam bus, saat mendapati jarum penunjuk waktu di tangan tak lagi bergerak jarum-jarumnya timbul kekesalan dihati ini. Pasalnya puluhan menit sebelumnya saat melihat mata jarum penunjuk waktu itu, timbul beberapa keinginan di hati. Rencana memanfaatkan waktu luang yang ada. Namun saat menyadari jarum detiknya tak bergerak keinginan itupun sirna. Harus ditunda.
Dan setiba di rumah, untunglah genggaman syukur di hati mampu menghibur diri atas keadaan yang tidak menyenangkan itu. Nikmat dapat kembali ke rumah dengan selamat. Dalam letih setidaknya tersedia waktu bagi tubuh untuk beristirahat dengan tenang. Dan semoga hati yang demikian mampu mengembalikan kesegaran seluruh badan dari segala penat fisik maupun mental.
Di dalam kamar, usai merapikan dan membersihkan diri, di depan sebuah cermin kaca saya berdiri. Menatap bayangan didalamnya hati ini tersenyum. Bersyukur atas semua anugerah, bersyukur atas karunia yang tak terhingga selama ini. Pada cermin yang memperlihatkan bayang diri di dalamnya, nampak pengingat waktu alami di tubuh tak bergeming oleh waktu. Pada kepala sekumpulan rambut hitam yang tumbuh nampak tetap utuh. Tiada sehelai rambutpun memudar warnanya. Pada wajah tak ada kulit yang melipat kerut. Dan begitupun di rongga mulut. Tiada gigi tanggal kecuali berlubang. Semoga saja itu adalah pertanda baik.
Malam ini tak jauh berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Malam ini bumi masih berputar pada poros yang sama, mengelilingi matahari. Bulan bersinar dan bintang berkelap-kelip di atas langit. Dalam heningnya malam, suara gemerisik dedaunan pohon angsana terdengar bagai simphony malam yang meninabobokan semua kegiatan malam hari. Dan menyatu dengannya, dalam rebah saya memejamkan mata. Membayangkan suatu tempat yang begitu indah. Tempat yang diciptakan hanya bagi mereka, orang-orang yang ikhlas menerima kehidupan dengan hati yang sempurna.
Semoga nama kita tercatat menjadi penghuninya.
.
Salam,
Hary lasmana
January 12th, 2007 — Uncategorized
Dalam kehidupan yang sempurna Tuhan menciptakan segalanya berpasang-pasangan. Ada siang ada malam, ada pagi ada petang, ada gelap ada terang, ada laki-laki ada perempuan, ada hitam ada putih, dan masih banyak lagi contoh lain tentunya untuk disebutkan satu persatu. Seperti juga alat tulis yang biasa saya gunakan untuk menggambar sketsa, pensil yang berbahan dasar dari kayu dan karbon, berpasangan dengan karet penghapus. Alat sederhana untuk memperbaiki goresan yang tidak sesuai.
Siapapun pasti mengenal pensil. Bagi setiap siswa sekolah, ia telah menjadi alat tulis utama dan wajib. Mungkin karena kemudahan penggunaannya –terutama bila salah menulis dapat dihapus segera, atau mungkin karena harganya yang murah membuat ia senantiasa digunakan oleh siapa saja hingga saat ini. Namun dibalik kegunaannya untuk menulis, ternyata satuhal jarang diketahui setiap orang adalah bahwa sebenarnya pensil juga memiliki filosofi bermanfaat bagi kehidupan penggunanya.
Filosofi Pertama: Segala yang ada dalam hidup ini tak ada yang abadi dalam titik maksimal.
Pensil kayu yang sering digunakan pasti akan menjadi tumpul ujungnya sehingga memberikan hasil goresan melebar, maka untuk memberi hasil goresan yang lebih baik ujung pensil itu harus kita raut –baik menggunakan alat rautan ataupun pisau, hingga runcing kembali. Mudah dan cepat. Namun jika ujung pensil itu sudah menjadi runcing kembali satuhal yang harus diingat adalah menggunakan pensil tersebut harus dengan sangat hati-hati, sebab jika tidak ia beresiko merobek kertas yang kita gunakan sebagai media tulisan jika dibandingkan pensil yang tumpul.
Prinsip ini kurang lebih sama dengan cara kerja hati (perasaan) yang kita miliki. Adakalanya setelah sekian lama mengarungi kehidupan yang penuh lika-liku, maka kita perlu mengasah kembali hati kita agar menjadi lebih peka terhadap tujuan yang ingin dicapai. Dan disinilah kehati-hatian itu diperlukan untuk menjaga ketajamannya agar ia tidak merusak proses pencapaian tujuan. Kita harus bisa memilih dan memutuskan hal – hal penting juga utama dibandingkan hal-hal lain yang kurang penting dan tidak berarti.
Filosofi kedua: Bukan hal penting apa yang melapisi pada bagian terluar pensil.
Sebagai alat tulis, hal utama dan sangat penting pada pensil tentu adalah isinya –karbon hitam padat yang memberi jejak pada apapun pensil itu digoreskan. Tak peduli apapun warna kayu, bagaimanapun bentuk modelnya, atau dari jenis apa kayu pembungkus yang digunakan bukanlah masalah. Selama karbon hitam padat itu ada, maka pensilpun dapat terus digunakan. Jika kita bandingkan, kondisi semacam ini sebenarnya tak jauh berbeda dengan keadaan diri manusia bukan? Siapapun kita, darimanapun kita berasal, apapun warna kulit, etnis, agama, maupun tingkat pendidikan, hal yang sangat utama pada setiap manusia berasal dari dalam dirinya. Sesuatu yang kita sebut dengan hati.
Hati adalah hal utama dalam diri seorang manusia. Tempat kendali segalanya. Tanpa hati seorang manusia akan berlaku bak binatang buas selama hidupnya dan tak peduli apapun kecuali keinginannya. Dan bila terjadi hal seperti itu, percuma saja segala pengertian diberikan, kekosongan hati telah melumpuhkan hakekat keberadaan seorang manusia. Jika demikian yang terjadi, apa gunanya hidup kita? Bahkan sebuah pensil yang nampak bagus di matapun takkan berarti apa-apa jika tak mampu memberi goresan tulisan yang kita inginkan, apalagi hati pancaran diri seorang manusia.
Dan filosofi ketiga terdapat pada pasangan pensil yaitu karet penghapus: perbaikilah kesalahan.
Setiap pemilik pensil saya yakin biasanya juga memiliki benda yang satu ini, karet penghapus. Saya kira tak perlu dijelaskan kegunaannya untuk apa, karena tentunya kita tahu kegunannya, namun satuhal yang perlu dicermati saat membelinya adalah jangan asal atau sembarang memilih penghapus. Carilah penghapus berkualitas baik yang akan menghapus bersih coretan pensil yang tidak diinginkan dengan sempurna dan bukan penghapus berkualitas rendah yang malah justru akan menambah kotor. Kita tentu tidak menginginkan hal itu bukan?
Setiap hari yang kita jalani, setiap saat yang kita lalui, setiap persimpangan yang kita singgahi, dan seluruh perjalanan hidup, tak mungkin seorang manusia tak berbuat kesalahan. Baik diri kita, keluarga kita, kerabat, teman, juga siapapun yang kita temui adalah ladang kesalahan. Di saat sebuah kesalahan terjadi, disaat itulah, sebagaimana kesalahan dalam menggoreskan pensil, maka sesungguhnya kita membutuhkan sebuah penghapus bagi hati. Dan untuk memperbaikinya tentu saja kita butuh penghapus berkualitas dan bukan penghapus yang justru menambah kotor. Penghapus yang dapat membersihkan hati sepenuhnya seperti pemberian maaf yang tulus, keikhlasan, atau bisa juga berbentuk pengertian. Semua bergantung pada situasi dan kondisinya.
Namun sebaliknya, satuhal yang amat sulit memiliki penghapus hati berkualitas ini adalah harga yang begitu mahalnya. Sulit sekali memiliki penghapus berkualitas semacam ini jika dibandingkan penghapus hati yang berkualitas rendah yang dengan mudahnya memunculkan ego tinggi, kesombongan, iri, senang pamer, dan perilaku tercela lainnya. Namun semua berpulang kembali pada diri kita, penghapus hati mana yang kita ingin miliki.
Kehidupan menyimpan rahasianya. Kita tak tahu pasti bagaimana dan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, namun menuju ke sana, satuhal yang pasti hukum alam tak pernah berubah sepanjang jaman. Setiap benda yang dilempar akan jatuh ke bawah meski kita tidak tahu arahnya, begitupun juga dengan torehan pensil kehidupan yang kita miliki. Apapun yang kita tulis dengannya, akan kita baca sendiri kelak. Entah pada cermin kehidupan di rumah, mungkin juga dalam rangkaian kertas tugas yang kita kerjakan, adakalnya sesekali ia terhampar di sepenggal jalan yang di lalui, atau mungkin juga muncul pada permukaan telaga tempat kita melepas lelah. Dan mengikuti semua alur kehidupan itu, sungguh beruntunglah mereka yang memiliki karet penghapus berkualitas di hatinya.
Sebagian orang bijak berkata, bahwa manusia terlahir ke dunia bagai sehelai kertas putih. Bersih dan kosong. Apapun yang akan tertulis di atasnya bergantung pada si pelaku kehidupan itu sendiri. Apakah ia akan menggambar keindahan di atasnya, mencorat – coretnya dengan segala macam bentuk rupa, mengisi dengan kata – kata, melebur goresan kontras dan tajam, atau apapun yang diinginkannya, semua bergantung pada setiap pelakunya. Menyikapi perumpamaan seperti itu, satuhal yang tak kalah pentingnya tentu saja sebagaimana filosofi pensil yang saya kemukakan sebelumnya, dalam mengisi helai kertas kehidupan kita, selamanya dalam perjalanan hidup senantiasa kita akan butuh penghapus berkualitas untuk memperbaiki kesalahan goresan diatasnya. Beruntunglah mereka yang memiliki pensil berkualitas yang selalu dijaga ketajamannya, yang digunakan dengan hati – hati, dan tahu cara tebaik memanfaatkan penghapus berkualitas yang dimiliki.
Salam,
Hary Lasmana
January 5th, 2007 — Uncategorized
Suatu sore usai melepas lelah setelah berkeliling mencari barang dari toko ke toko di Blok M Mall, saya dan seorang teman lantas beranjak pergi untuk kembali ke rumah. Udara masih cukup terasa panas sore itu, namun karena ada beberapa barang yang dibutuhkan belum didapat akhirnya sekali lagi kami menyusuri lapak-lapak kaki lima yang padat tak beraturan sambil melangkah pulang. Satu demi satu, selintas, acuh dan tak acuh mata kami terus mengawasi sekeliling pajangan dagangan yang menghampar dan menggantung padat di sisi kanan dan kiri. Hingga kemudian di depan salah satu lapak aksesoris khusus perempuan akhirnya kami berhenti, dan teman saya memilah-milih benda yang dicarinya didalamnya.
Tak tahu harus berbuat apa, menungguinya berbelanja, di depan lapak itu persis saya berdiri sambil menikmati es krim yang saya pegang. Yang mengagetkan, ternyata tanpa saya sadari tingkah saya itu mengundang perhatian beberapa anak jalanan yang ada di sekitar tempat tersebut. Dan tanpa disangka, beberapa saat kemudian dalam hitungan detik tiga orang anak mengelilingi tempat saya berdiri.
“Oom bagi Oom…”, seorang anak lelaki kumal menegadahkan tangannya dengan tatapan iba. Disampingnya kedua orang anak perempuan yang kondisinya tak jauh berbeda mengucapkan kata-kata yang sama berulang-ulang.
”Apa?”, tanya saya penuh heran menatapnya.
“Bagi es krimnya Oom…”, lantas jawab anak itu kemudian.
”Iya Oom bagi es krimnya…”, kini seorang balita perempuan turut mengepung tempat saya berpijak. Mereka yang tadinya hanya bertiga kini bertambah jumlahnya menjadi empat orang.
Hati ini merasa risih, merasa heran, ”Kok bisa-bisanya mereka melakukan hal ini?”. Saya yang sebelumnya jarang sekali mau berbagi es krim dan cokelat kecuali pada keponakan dan adik perempuan saya satu-satunyapun menjadi luluh.
”Tuhan, sampai hati kau ciptakan kemiskinan di dunia seperti ini…”, lirih hati ini.
Tak tega hati ini menatap wajah-wajah penuh iba yang berkerumun di keliling saya ini, tapi hati juga masih menginginkan nikmatnya es krim nan lezat di tangan. ”Tapi saya masih ingin es krim ini, bagaimana kalau dibagi saja?”. Ucapan itu mereka balas dengan senyuman.
”Ini Oom ditaruh disini saja”, anak laki-laki itu sambil tersenyum menyodorkan gelas plastik kosong pembungkus air mineral pada saya.
Menerima gelas plastik kusam itu saya hanya bisa menghela napas dan mengembalikan pada si pemberinya. Tangan saya merogoh ke dalam saku kemudian mengeluarkan selembar uang ribuan, ”Ini beli segelas aqua untuk tempat es krim”. Dan keempat anak itu saling pandang. Entahlah apa yang ada dalam pikiran mereka. Ketika tiga pasang mata anak itu jatuh pada anak perempuan yang terakhir datang, anak itu lantas mengambil uang yang saya sodorkan lalu bergegas melangkah menuju penjaja minuman yang tak jauh dari tempat kami berdiri.
Menunggu kembalinya anak perempuan itu membawa gelas pengganti, kami berbicara, bercanda. Berbagi cerita hidup. Saya sendiri berusaha mengorek segala keterangan dari mereka untuk mencari tahu seberapa keras kehidupan yang telah dijalani. Kehidupan berbeda dari anak-anak lain yang jauh lebih beruntung. Hal ini menarik perhatian para pejalan kaki yang lewat. Beberapa pasang mata sempat melirik dan mencoba mencari tahu apa yang tengah kami lakukan sambil lalu. Namun kami tak ambil peduli.
Dari sedikit perbincangan itu saya mengetahui kemudian bahwa kedua anak perempuan yang berdiri di depan saya ini adalah siswi sekolah dasar yang tengah ”menikmati” liburan sekolah dengan lembur mengamen di jalan. Yang lebih tua bernama Anis, anak yatim, kelas lima SD –kakak dari Endang perempuan cilik yang tengah membeli air mineral, sedangkan yang lebih muda dan nampak pemalu adalah Narti, siswi kelas tiga di sekolah yang sama. Mereka bertiga tinggal di daerah Cipete bersama orang tua mereka. Sedangkan Iben anak laki-laki yang selalu tersenyum itu kehidupannya sehari-hari di jalanan. Putus sekolah dan jarang pulang ke rumahnya di daerah Bogor. Dan sayangnya perbincangan itu harus terputus karena teman yang tengah berbelanja nampak telah selesai. Ia melewati kami sambil memberi isyarat. Pun dari tempat saya berdiri nampak si kecil Endang berjalan menghampiri dengan membawa segelas air mineral yang dibelinya.
”Oom… airnya habis…”, ucapnya bercanda sembari menyembunyikan kedua tangan di belakang punggungnya. Saya hanya tersenyum yang dibalas dengan uluran kedua tangannya. Segelas air mineral yang ia pegang saya raih, sementara beberapa keping uang receh saya biarkan.
”Uangnya buat kamu saja”, saya ambil air mineral itu kemudian menancapkan sebatang sedotan tipis untuk meminumnya. Setelah kosong, gelas itu segera saja saya penuhi dengan cairan es krim dari cup sterofoam yang saya pegang. Dan keempat anak itupun tersenyum. Di bibir dan mata, juga seluruh tubuh memperlihatkan kegembiraan yang tak mampu saya lukiskan.
”Ben… bagi ke adik-adiknya ya!”, gelas plastik berisi es krim bertabur strawberry dan choco chips itu kini berpindah tangan. Bersahut-sahutan keempat anak itu mengucapkan terima kasih, lalu berlari menghampiri pedagang es untuk meminta sedotan limun. ”Ah anak-anak itu, saya tidak dapat membayangkan bagaimana segelas es krim yang sedikit itu ternyata sangat membahagiakan mereka”.
Dalam perjalanan pulang di dalam bus, cup besar sterofoam ditangan perlahan basah oleh embun es krim di dalamnya. Beratnya kini terasa berkurang lebih dari separuh dibandingkan beberapa menit lalu. Di samping saya, seorang teman terkasih tersenyum, wajahnya nampak begitu cerah seperti rembulan yang bersinar penuh dilangit. Suasana malam itu begitu indah dalam kepadatan lalu lintas Jakarta yang tak mengenal waktu.
Di sepanjang perjalanan dalam bus, sesuap demi sesuap sisa es krim dalam gelas perlahan masuk ke dalam mulut hingga tak bersisa. Segar… lezat… sungguh enak es krim yang menemani perjalanan pulang ini. Dan mungkin, inilah es krim terlezat yang pernah saya nikmati selama hidup saya.
Salam,
Hary Lasmana