Entries from February 2007 ↓
February 23rd, 2007 — Uncategorized
Satu hal yang biasanya saya lakukan jika diberi kesempatan memilih rekan kerja baru adalah berusaha turut dalam kelompok yang terdapat di dalamnya para fresh graduated employee. Namun tentu saja, bukan didasari alasan untuk dianggap pekerja senior lalu dituakan sehingga mendapat perlakuan istimewa, tetapi karena didorong sedikit harapan agar kebersamaan tim yang beranggotakan para fresh graduated itu mampu menciptakan suasana kerja baru yang lebih baik dan segar. Unik, juga menarik untuk dirasakan. Selain tentunya harapan agar diri ini dapat termotivasi oleh semangat kerja yang lebih baik.
Meski malu, saya harus jujur mengakui semua itu. Karena memang atas dasar alasan itulah saya memilih satu tim kerja bersama mereka. Saya seorang yang percaya bahwa dimana sesuatu hal baru biasanya menyimpan semangat baru dan keinginan belajar yang tak kunjung padam. Niat inilah yang saya jaga. Dan memang pada kenyataannya bekerja bersama rekan-rekan fresh graduate membuat saya menemukan gairah belajar dan bekerja dibandingkan rekan kerja senior yang perlahan berkurang semangat dan kinerjanya karena terkikis waktu.
Setiap saat sarat dengan ilmu, kami belajar bersama secara perlahan. Hari demi hari, hingga kemudian seiring terlatih oleh rutinitas, kemudian satu persatu para rekan fresh graduated itu menjadi terbiasa dan mahir. Dari nol menjadi hasil, dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tak bisa menjadi mampu. Sebuah siklus normal yang umum terjadi dimana-mana. Namun syukurlah diri ini tetap tak berubah. Meski yang lain berangsur merasa mampu dan mahir, namun perasaan saya masih saja tetap sama; ingin terus belajar dan belajar.
Disaat menerima keadaan itulah biasanya mulai timbul rasa kehilangan teman belajar, sehingga kemudian saya kembali harus mencari teman fresh graduated baru yang diterima oleh perusahaan. Untuk menjadi murid sekaligus rekan aeperti sebelumnya. Meneruskan belajar yang entah sampai kapan.
Sadar akan kondisi demikian, tak salah bila banyak rekan senior ataupun sebaya acap menertawakan diri ini. Seringkali mereka yang mengibaratkan pekerjaan seakan sebuah pendakian menuju puncak gunung, setiap karyawan –menurut mereka, tak ubahnya segerombolan pendaki yang berharap mencapai puncak untuk menikmati keindahan dari atasnya. Namun kemudian membandingkan dengan diri saya, nyatanya saya, alih-alih menikmati keindahan itu malah nampak dengan sengaja melepas tenaga dan pikiran pada hal lain dan kembali turun ke lembah. Melupakan nikmatnya mencapai garis finish dan tiba di puncak. Hal yang sungguh sulit dimengerti oleh sebagian besar orang.
Tapi apa hendak dikata kalau memang kenyataan yang ada hati ini lebih senang melepas tenaga dan pikiran pada proses pendakian tanpa henti (baca: belajar) itu dibanding mengenang perjalanan yang telah dilalui disela waktu menikmati hasil yang dicapai. Tak mungkin semua orang sama bukan?
Tak salah memang pendapat rekan yang tak mengerti pola pikir yang saya lakukan, karena memang setiap orang memiliki konsep kebahagiaannya masing-masing. Ada yang berfokus pada hasil akhir usaha, sedangkan sebagian lagi lebih menikmati proses pencapaiannya dibanding hasil yang didapat. Namun juga tak sedikit yang berada diantara keduanya. Yang menerima apapun yang datang pada diri mereka. Manapun yang dipilih, tak ada yang salah dan hal itu sah saja. Lalu bagaimana dengan Saudara sendiri dalam memaknai kesuksesan dan menikmati kebahagiaan didalamnya? Yang manapun pilihan itu, pastikanlah bahwa itu adalah pilihan terbaik yang diinginkan.
Salam,
Hary Lasmana
February 22nd, 2007 — Uncategorized
"kupu-kupu kecil dan bunga"
kupu-kupu kecil itu dulu bernama ulat
yang tak terlihat karena begitu kecilnya
namun terus merayap ke atas batang pohon
memandang haru seisi taman
pada sisi lain batang tunas tumbuh
kuncupnya mekar perlahan oleh matahari pagi
menjadi bagian taman yang asri
juga isi dunia
bersama kerlip bintang ulat tertidur dalam gua kepompong
diantar bingarnya riuh pipit kecil menari di udara
awan meneteskan peluh
senja melukis bayu
ulat menggeliat dalam tubuh terpeluk sayap
kuncup memilih menjadi bunga
kupu-kupu kecil tersenyum di atasnya.
saat itu tidak pagi juga bukan siang
pada sebuah bangku taman seorang perempuan bercerita pada anak-anak yang menghabiskan bekal sarapan
tentang narasi kehidupan sejati
dimana seekor kupu-kupu kecil memilih hinggap pada bunga mekar
di sebuah taman yang penuh dengan pilihan
#Feb, 23 -2007
Semoga Menjadi keluarga sakinah, mawadah, warrohmah yaa Bro N Sist ^_^
February 18th, 2007 — Uncategorized
Seperti tanaman, cinta tumbuh dan berkembang dengan berbagai alasan. Adakalanya ia rimbun rendah laksana rumput, beberapa berkembang menghasilkan kuncup mawar indah yang membuat lainnya menjadi iri. Ada yang nampak kecil –biasa saja, namun harum nya begitu semerbak. Pun tak sedikit yang menjadi kebalikannya, terlihat membesar sembari menyebar bau kebusukan menyengat bak bunga bangkai.
Di dunia fana ini telah kita saksikan betapa begitu banyak insan dengan mudah dan hanyut jatuh ke dalam pangkuan cinta, tapi selintas lucunya -seiring waktu, mudah juga melupakannya. Ada yang menjalani hari-hari sulit tanpa merasakan kehadirannya, namun begitu melekat, rasa memiliki membuat dirinya sulit melepaskan. Ada yang pada awalnya mencintai, namun pada akhirnya berubah menjadi benci. Pun adapula rasa benci yang bergejolak pada awalnya namun kemudian perasaan itu berubah menjadi rasa suka. Sungguh hati dan perasaan itu memang seringkali muncul tanpa terduga.
Ketika perasaan suka mulai muncul dalam diri, hatipun dihinggapi penuh perasaan berbunga-bunga. Rasa sayang tumbuh dan dengan mudahnya kesimpulan terlontar, ”Cinta telah bersemi dalam dada ini” bersanding dengan rindu yang hadir. Rasa takut kehilangan muncul. Galau dan resah, juga was-was di hati menyelinap, mempertanyakan setiap keadaan yang bergerak perlahan, ”Selama apa cinta ini kelak akan bertahan?”.
Dan hari-hari kegelisahan itupun dimulai. Penderitaan semu yang tersimpan rapat mulai mengisi hati yang seolah terisi cinta namun sebenarnya menjadi kosong. Banyak yang terlena oleh ego yang bersemayam dalam diri.
Jauh dalam relung hati -tempat keindahan cinta mengembangkan sifat alaminya, sesungguhnya kehadirannya memperlihatkan pada setiap insan makna indah hadirnya. Munculnya kebersamaan, penghargaan tulus, hati yang ikhlas dan senantiasa berbagi, saling menjaga, saling menghargai, dan saling menanti dalam payung rindu akibat terpisah jarak dan waktu. Ia tidak hadir bersama nafsu, tapi berwujud kasih, untuk berbagi dan berbagi. Ia yang senantiasa mampu dan selalu sanggup membaurkan dua hal berbeda, antara senyum dan air mata, antara sedih dan tawa, keringat dingin dan dekap hangat, juga kecup mesra diantara perselisihan insan hanya terasa ketika kita mampu melepas segala ego menerima, apalagi meminta. Kemurniannya tinggi meski keberadaannya begitu rendah. Disanalah letak kemuliaan itu berada.
Cinta… semoga buta mata dan picik pikiran yang lebih dulu ada darinya tidak menghalangi kemampuan kita untuk memberinya tempat tumbuh. Biar ia besar dan menjadi rindang. Dan tidak hanya sekedar menjadi teduh bagi setiap yang bermanja dengannya, kecuali pada seorang spesial yang memang pantas mendapatkannya.
Salam,
Hary lasmana
February 8th, 2007 — Uncategorized
Bila ada waktu senggang, coba perhatikanlah keadaaan sekeliling rumah yang kita tempati. Mulai dari kamar, ruang tamu, dapur, wc, hingga halaman. Dan jangan lewatkan sedikitpun bagian-bagian ruangan itu. Dari lantai hingga atap, setiap sudut, juga setiap tembok pemisahnya. Bagaimana keadaannya sekarang? Masihkah sama seperti saat pertama rumah itu dibangun atau kini malah sudah jauh berbeda?
Perlahan seiring waktu berputar tanpa kita sadari tempat tinggal yang kita tempati terus melapuk. Beberapa bagian tembok yang terus memuai akibat panasnya siang dan menyusut oleh dinginnya malam akan memunculkan gurat retak dipermukaan dinding. Cat yang melapisinya mengelupas dan memudar. Lalu pada atap yang jarang diperhatikan, kita baru menyadari bahwa ada genting pecah ataupun bergeser letaknya hanya saat hujan tiba –saat tetesan air masuk ke dalam rumah. Sementara di luar, alang-alang liar tumbuh subur bersama rerumputan tebal akibat minimnya waktu luang yang kita sisihkan untuk membersihkannya. Menambah ketidaknyamanan.
Masih ingatkah kapan terakhir rumah kita bersihkan… hari ini? Kemarin? Minggu lalu? Sebulan lalu? Atau lebih dari itu? Entah seberapapun seringnya kita membersihkan rumah, saya yakin setiap kali lantai disapu, meja, kursi, lemari, dan perlengkapan rumah tangga di lap dan dibersihkan, pasti selalu saja ada debu menempel kemudian. Meski pintu rumah kita tertutup rapat, jendela dan lubang angin dibungkus kain kasa dan kawat nyamuk, debu selalu hinggap ke dalam rumah dan mengotori. Seolah tak pernah mau memahami keinginan pemiliknya yang ingin rumah selalu dalam keadaan bersih dan rapi.
Jika pada rumah tempat kita beristirahat berlaku demikian, cobalah tengok ke dalam diri kita –ke dalam rumah besar jiwa berada. Hati tempat segala keadaan diri bernaung dan dikendalikan olehnya, bagaimanakah ia saat ini? Adakah ia seperti rumah tempat tinggal yang sedang kita tempati; terurus dengan baik, atau malah justru berdebu di mana-mana?
Hati yang bersih tentu akan dapat menunjukkan kebaikan dan kebijaksaan bagi pemiliknya. Tenang menyikapi masalah, mampu mengendalikan diri, dan terutama peka terhadap hal diluar dirinya. Berbeda dengan hati yang berdebu. Pemilik hati berdebu akan sulit mengontrol diri hingga cenderung melakukan hal negatif yang tidak perlu. Kita semua tentu tidak menginginkan hal itu.
Sebagaimana rumah sebagai tempat tinggal, kitapun perlu menjaga dan merawat hati kita. Agar ia senantiasa bersih dan terawat dengan baik sehingga dapat berfungsi maksimal bagi pemiliknya dalam mengendalikan diri. Ada banyak cara untuk itu, bisa melalui siraman rohani, seminar, workhsop, maupun tulisan dan saran yang motivasi yang dapat menambah wawasan dan membuka pikiran untuk senantiasa berpikir positif.
Apa yang baik harus kita pelihara, dan segala yang buruk maka sudah sepantasnya kita tinggalkan. Begitulah seharusnya kita melatih hati untuk selalu peka terhadap kebaikan. Layaknya sebuah batu permata yang diasah, ia tidak membutuhkan hanya sekedar polesan seadanya untuk berkilau namun sebuah polesan dengan teknik terbaik sehingga mampu memancarkan kilau karat sesungguhnya. Dan hati kita juga layaknya mahluk yang perlu diberi makan. Namun bukan sekedar makanan biasa, harus makanan terbaik. Yang tidak hanya mengenyangkan tetapi juga menyehatkan sehingga seluruh fungsi hati mampu bekerja optimal sebagai tempat bernanung dan pengendali diri.
Seumur hidup kita akan selalu bersamanya. Hati, si tuan pengendali diri. Karena itulah sudah sepantasnya, semampu kita, memberi segala yang terbaik padanya. Karena hati ibarat cermin, ia akan memberikan hal yang sama pula bagi kita. Maka jangan asal, jangan sembarangan menggunakannya kecuali untuk segala sesuatu yang terbaik. Ibarat mendirikan sebuah bangunan megah yang harus kita lakukan adalah tak hanya sekedar membangun, tetapi membangun yang terbaik. Seperti juga seorang petugas keamanan khusus yang tak hanya sekedar menjaga, tapi perlindungan yang terbaik. Dan bagai seorang kolektor benda seni terhadap koleksinya yang tak mau hanya sekedar merawat, tapi memberi perawatan yang terbaik. Seperti itulah seharusnya kita memperlakukan hati kita.
Berikanlah selalu yang terbaik dan berhati-hatilah, karena segala yang nampak dalam perilaku kita berasal dari dalamnya.
Salam,
Hary Lasmana
February 4th, 2007 — Uncategorized
Melewati tepi anak sungai ciliwung yang meluap semalam hidung saya tersengat aroma busuk yang mengkontaminasi udara sekitarnya. Air keruh bercampur dengan kotoran yang hanyutlah penyebabnya. Mungkin. Karena tentunya tak ada hal lain yang bisa dijadikan alasan.
Menatap aliran air yang begitu deras dan teramat banyak hingga tak tertampung di sepanjang sungai membuat saya bergidik. Tak pernah terbayang kejadian ini akan terulang. Dan bahkan lebih parah dari kejadian lima tahun lalu, banjir besar yang untuk kedua kalinya terjadi ini sungguh mengejutkan. Aktivitas masyarakat tersendat, perekonomian terhambat, jaringan komunikasi, listrik, dan air sempat terputus di beberapa tempat, begitu juga transportasi. Nyaris terhenti.
Sudah dua hari dalam perjalanan pulang dari kantor menuju ke rumah saya harus berjalan kaki menembus kedalaman air yang mencapai kurang lebih setengah meter di beberapa tempat. Permukaan air merata telah menutupi jalan aspal yang biasanya nampak legam terbakar matahari. Dan perjalanan ini yang biasanya hanya cukup dengan duduk nyaman dalam bus terasa panjang dan memakan waktu lebih lama karena saya hanya mampu mengandalkan kedua kaki dengan langkah terseok-seok meraba permukaan jalan yang tertutup air keruh. Sedih, kesal, cape? Ah tak pantas rasanya saya ungkapkan semua keluh. Mensyukuri keadaan, saya merasa jauh lebih beruntung sementara banyak warga lain yang harus mengungsi karena tempat tinggalnya terendam air. Sementara saya di rumah masih dapat bercengkrama dalam kehangatan keluarga. Mandi, makan, tidur, dan bertukar pikiran. Sungguh sebuah nikmat tak terhingga.
Semalam saat diri ini tengah terlelap, hujan lebat kembali mengguyur. Udara sejuk yang dibawa oleh guyuran air hujan membuat istirahat begitu nyaman. Nyenyak hingga pagi. Beranjak keluar rumah kemudian, di jalanan masih terlihat sisa-sisa guyuran air yang tercurah dari langit menjadikannya nampak lebih gelap dari biasanya. Lembab. Langit tetap berselimut keruh awan kelabu yang masih setia sudah beberapa hari ini. Entahlah apa yang akan terjadi di beberapa hari ke depan, tak ada yang tahu pasti. Hanya dalam hati saya coba niatkan apapun yang sudah digariskan olehNya, semoga mampu saya terima sepenuh hati.
Jika hari ini kegembiraan yang akan datang, berarti saya harus bersiap juga menerima kesedihan yang sewaktu-waktu melengkapinya. Pun jika kesedihan yang harus terjadi hari ini, tak perlu berlarut meratapinya. Entah esok, lusa, atau kapanpun saatnya akan ada suasana bahagia kelak sebagai pengganti. Hidup hanya sekali maka tak perlu kita terlena olehn setiap keadaan didalamya.
Saya sadar tak ada yang mampu membendung segala hal alami dalam hidup ini. Entah luapan air hingga banjir, angin ribut yang merusak, api yang menghanguskan, atau longsor yang menutupi permukaan tanah yang lebih rendah. Kita tak tahu dan tak akan pernah tahu segala yang akan terjadi, namun begitu kita bisa mencegah dan mengarahkannya untuk mengantisipasi sewaktu-waktu kekhawatiran itu terjadi. Sebagaimana diri kita saat dirundung luapan cinta pada sang kekasih, yang kita mampu hanya mengungkapkan. Hanya memperlihatkan. Meskipun seandainya kelak cinta tak itu tak berbalas.
Dalam hidup ini sesungguhnya kita tak pernah akan bisa memberi. Kita hanya perantara saja. Semua hanya titipan dariNya, segala hanya milikNya. Jadi apapun yang kita punya saat ini, terima saja. Cukup niatkan demikian dan jangan pernah merasa memiliki berlebihan.
Semoga diri ini dapat senantiasa ikhlas dalam setiap keadaan agar mampu terus memeluk kesempurnaan kehidupan.
Salam,
Hary Lasmana
February 2nd, 2007 — Uncategorized
Siapapun jika ditanya, dalam hidupnya pasti tak menginginkan satupun penyakit bersarang di tubuh, apalagi dengan segala keterbatasan. Idealnya memang tak ada yang bersedia dilahirkan cacat, serba kekurangan, apalagi nasib buruk yang terus menimpa. Semua orang ingin hidup bahagia. Hidup dalam kecukupan, dan mencapai kesuksesan. Namun melihat kenyataan yang ada, kita harus bisa menerima dengan lapang bahwa kita memang berbeda-beda. Ada yang sempurna fisiknya dan ada yang cacat, ada yang kaya dan ada yang miskin, ada lelaki dan ada perempuan, ada yang tinggi dan ada yang pendek, dan masih banyak lagi perbedaan lain yang jika dihubungkan keduanya akan memperlihatkan bahwa segala sesuatu itu diciptakan berpasang-pasangan dan saling melengkapi.
Seperti siang dan malam, bulan dan matahari, juga bintang. Kita harus mampu menyadari bahwa tak satupun yang ada dalam kehidupan ini sia-sia adanya. Sebagai contoh seekor ulat yang menjijikan misalnya. Siapa sangka dibalik kerusakan daun tanaman yang dimakan oleh ulat, justru saat ulat tersebut menjadi kupu-kupu ia turut andil dalam berkembangbiaknya tanaman yang daunnya dulu ia makan. Ulat dan tanaman saling memberi keuntungan dalam siklus kehidupan mereka satu sama lain.
Ulat memakan daun pohon untuk tumbuh besar dan bermetamorfosis menjadi seekor kupu-kupu, lalu saat ia menjadi kupu-kupu, kupu-kupu tersebut membantu penyerbukan pohon untuk berbuah ataupun berbunga sehingga menjaga kelestarian pohon. Sebuah jalinan hubungan yang saling menguntungkan. Lalu jika dapat dibandingkan, bagaimana dengan keberadaan kita sebagai manusia dalam hidup ini dengan sesamanya. Mampukah kita manusia yang wujudnya jauh lebih sempurna dari seekor ulat dan tanaman mampu menunjukkan kemuliaan sebagaimana keduanya?
Pada beberapa hal telah kita saksikan majunya peradaban yang dibangun oleh manusia, namun pada beberapa bagian lain juga telah kita saksikan kehadiran manusia perusak yang memusnahkan segala sesuatu yang telah dibangun dengan susah payah itu. Ironi memang kehadiran manusia sebagai pemimpin di muka bumi ini. Kehadirannya dinantikan namun sekaligus juga dihindari. Meski tak selalu demikian. Semua kembali pada keadaan diri manusia untuk mengontrol diri dan segala ambisinya. Karena seperti sebuah pakaian, setiap jenisnya telah diciptakan sesuai dengan fungsinya masing-masing.
Ada gaun pesta diciptakan untuk dikenakan saat berpesta, seragam kerja dipakai untuk bekerja, juga pakaian santai, dapat digunakan untuk berjalan-jalan atau saat kita berada di rumah. Demikianlah pakaian berfungsi.
Sebuah topi penutup digunakan untuk melindungi kepala dari panas, sepatu dipijak sebagai alas kaki, begitupun baju dan celana. Semua mengisi bagiannya masing-masing dan tak mungkin berganti peran. Seberapapun mahalnya sebuah sepatu tak mungkin kita kenakan di kepala, topi yang murah bukan untuk digunakan sebagai alas kaki. Juga baju dan celana, fungsinya sudah jelas, keduanya saling melengkapi.
Mungkin hal inilah yang sebenarnya patut kita sadari dan syukuri dalam hidup. Bahwa setiap manusia lahir telah memiliki tugasnya masing-masing. Ya seandainya saja orang kaya senantiasa menyantuni yang miskin, yang pintar membantu yang kurang pintar, dan mereka yang kuat dengan senang hati menjaga yang lemah. Bayangkan betapa indahnya hidup dalam kondisi demikian.
Kehidupan sesungguhnya telah memberi kita banyak pilihan dan kesempatan. Dan layaknya membeli sebuah pakaian, kitapun memilih. Menjadi sebuah pakaian yang melekat ditubuh hanya sebagai pelengkap atau sebuah pakaian terbaik dan menjadi pilihan utama untuk dipakai di saat-saat istimewa. Atau malah menjadi pakaian usang yang tak layak disimpan dilemari untuk di simpan di gudang? Pilihan itu berpulang pada diri kita masing – masing.
Salam,
Hary Lasmana