Entries from March 2007 ↓

kebohongan

Terlambat bangun pagi ini, nada dering telepon genggam di samping tempat tidur menghentikan buai mimpi putus-putus yang tengah saya nikmati sejak semalam. Meski malas dan dengan terpaksa, akhirnya diri ini memaksa tubuh bangkit dan meraih handphone itu untuk menghentikan bunyi suaranya yang sangat menggangu. Sayup-sayup kedua bola mata mencoba membaca siapa penelpon iseng yang menganggu.

“Tidak tahu orang sedang beristirahat apa!”, maki saya dalam hati mengingat jadwal kerja siang hari yang masih tersisa beberapa jam ke depan.

Namun tak dinyana, melihat nomor penelpon yang tertera di layar handphone, betapa kaget diri ini saat mengetahui yang tengah menghubungi saya adalah seorang teman lama yang telah membuat janji. Lupa! Dan kontan mengantisipasinya, seribu satu alasan “kreatif” muncul dalam kepala untuk menjawab telepon itu. Mencoba menenangkan diri kemudian telepon itu segera saya angkat… dan mengalirlah perbicangan kami kemudian, dimana di dalamnya terselip sedikit kebohongan diri untuk berbasa-basi, mengatakan bahwa saya siap untuk bertemu dan akan segera berangkat.

Menutup telepon itu, lega hati ini. Pertemuan kami dibatalkan. Seorang saudara teman lama itu mengalami musibah dan memerlukan bantuannya. Dan tanpa reaksi berlebihan, saya segera mandi.

Usai mandi dan berpakaian, di meja makan, sepotong penganan saya makan satu demi satu mengisi perut yang lapar. Hangat, baru saja semua itu di masak. Mama yang bolak-balik dari dapur datang menghampiri dan kembali meletakkan sebuah piring berisi ikan cue’ dibanjiri bumbu pedas memenuhi meja. Asap yang mengepul diatasnya menandakan betapa panas ikan-ikan itu, namun tanpa peduli saya mengambil sepotong dan meletakkan di atas piring lain untuk mendinginkannya.

“Tidak kamu makan ikan itu Har?”, tanya Mama saat melihat saya duduk menunggu ikan panas itu di depan meja makan.

“Tunggu dingin dulu Ma…”, jawab saya sambil membelah potongan daging ikan itu. Asap panas makin mengepul dari dalamnya.

“Kenapa tidak kamu makan saja panas-panas seperti itu, bukankah itu lebih baik?”, ucapan Mama terdengar sinis.

“Maksud Mama?”,

“Iya, entah dengan siapa tadi kamu menelpon, tadi Mama dengar kamu berbicara bohong dengannya. Mama tidak suka itu. Mama ingin kamu berbicara jujur, seperti apa adanya. Cobalah menjadi seorang manusia sejati, akui kesalahanmu baik besar maupun kecil. Minta maaflah kalau berbuat kesalahan! Bukan berbohong untuk apapun alasannya. kamu tahu? Kebohongan yang kamu lakukan itu jauh terasa panas di telinga mama yang melahirkanmu ini dibanding panas ikan yang baru dimasak dipiring itu. Mengerti kamu?”.

Saya diam, tak berani memandang wajah mama yang lembut namun penuh wibawa. Rupanya tanpa saya sadari, mama yang tengah memasak tadi –yang saya lewati saat menerima telepon menuju kamar mandi –ternyata mendengar sedikit perbincangan kami. Saya diam, malu. Malu atas kekerdilan hati ini.

Baru saja saya berbohong. Atas kesalahan kecil, keterlambatan karena kelalaian saya. Hanya untuk menutupi kesalahan itu saya jadi berbohong. Sungguh betapa malunya menyadari semua itu.

Mama benar, tidak ada white lies atau apapun istilahnya untuk menutupi kesalahan sendiri demi menyenangkan hati orang lain. Saya sadar kini. Saya berjanji, ini adalah untuk yang terakhir kali saya melakukannya.

.

Salam,

Hary Lasmana

yang terbaik -Gratis

S000815b_2

Menjelang istirahat malam usai menikmati sebuah bacaan menutup hari, tiba-tiba pikiran dalam kepala ini keluar menerawang tak karuan. Melompat ke segala arah, menyenggol berbagai macam hal mudah maupun rumit, meninggalkan segala batas, dan menghadirkan begitu banyak ide liar yang sulit dikendalikan. Kantuk menjadi hilang, tubuh krmbali terasa segar. Entah karena apa, namun yang jelas jauh berbeda keadaannya sebelum segala macam pikiran itu hadir begitu saja.

”Syukurlah kepala ini hanya tercipta satu! Tak bisa saya bayangkan seandainya ia lebih dari itu”, gumam bimbang di hati ini menatap pekat langit dari tepi jendela. Udara terasa lembab memberi rasa basah  di permukaan kulit. Tetes air hujan terdengar sesekali. Hujan? Jadi… tak jadi… jadi… tak…. ragu nampaknya sang awan mendaratkan butiran air yang dibawanya.

”Ah awan, ternyata sulit juga jadi engkau. Dengan berat beban air yang kau tanggung itupun membuatmu sulit memikul pilihan. Tempat layak mana yang rela kau lepas butiran hujan ke atasnya?”. Gumam kecil yang tercetus kali ini –kembali –menghadirkan bayang pikiran lain. Sesungguhnya apapun yang tercipta pada kehidupan ini menanggung bebannya masing-masing.

Tak lama hujan turun. Merata.

Saya tersenyum memandangi remang keadaan diluar yang basah oleh hujan. Air bersih segar turun berkejar-kejaran setetes demi setetes dari langit. Mendarat dimanapun tetesan air hujan itu mau, suaranya terdengar bak kumpulan notasi do re mi tanpa aba-aba. Dan semua menjadi hening. Senyap. Alunan musik hujan menutup semua suara yang biasa terdengar di malam hari. Hanya ada getar melodi hujan saja sampai di telinga.

Saya bersyukur menerimanya. Berterima kasih pada air hujan yang turun dengan gratis malam ini. Atas kehadiran tak diduganya yang telah memunculkan pikiran kebahagiaan pada sisi lain secara terbuka. Ternyata benar pepatah yang mengatakan ”Seumur hidup kita, segala yang terbaik kita terima dengan gratis!”.

Sensitifitas kulit ini, sejak lahir ia telah mampu merasakan sekaligus melindungi tubuh dari segala panas dan lembabnya udara luar. Telinga dengan pekanya mendengar segala macam suara dari manapun sumbernya. Pengihatan mata telah banyak menunjukkan wujud kehidupan secara kongkret dan apa adanya. Dan hidung, apalah arti harum dan bau kehidupan tanpanya. Dan semuanya, semua kenikmatan itu gratis. Semua telah lengkap melekat di tubuh ini sejak lahir tanpa mengeluarkan biaya untuk membelinya. Mereka –panca indera –adalah hadiah terbaik dari Sang Maha Pencipta. Yang justru seringkali banyak orang abaikan karena tidak seperti keinginannya. Seandainya saja mereka mau bersyukur atas hal terbaik yang mereka miliki secara gratis sejak lahir.

Menutup malam dalam riuh denting tetesan air hujan yang turun , tubuh ini rebah untuk menjemput kantuk. Sisa-sisa pikiran yang masih menggelayut coba saya usir dengan perlahan. Rasa-rasanya masih banyak hal terbaik yang dimiliki setiap orang dalam kesempatan hidup ini secara cuma-cuma. Kasih sayang keluarga, waktu, kebebasan berpikir dan memilih, hingga senyum penghargaan yang terlontar dengan tulus. Sungguh berbahagialah mereka yang bisa menghargai semua itu dengan sempurna.

Malam berduet dengan hujan menyanyikan lagu alam. Di dalam kamar saya terbaring di atas kasur empuk memanggil kantuk. Sungguh betapa nikmat istirahat malam di kamar yang kering dan sejuk. Tak semua orang merasakan nikmat yang tengah saya terima malam ini, dan saya bersyukur untuk itu. Terima kasih Tuhan!

Salam,
Hary Lasmana

perubahan @ my kampoeng

Berkeliling kampung tempat tinggal di kala senggang dengan berjalan kaki adalah satuhal yang sangat menyenangkan bagi saya. Hal ini mungkin terasa aneh bagi sebagian orang, namun jujur saya akui dengan padatnya kegiatan dan rutinitas yang dimiliki bahkan untuk mengunjungi tetangga yang jarak rumahnya tak sampai seratus meterpun kini rasanya sulit sekali menjalin erat silaturahmi. Dan ini adalah obat –setidaknya saya menyebutnya begitu, usaha untuk mengatasi hubungan bertetangga menjadi terasa semakin menipis dan berjarak, bahkan terkadang hampa. Namun sayangnya menghadapi kondisi demikian, saya tak tahu harus bagaimana. Sangat dilematis memang, menghadapi hal mudah –menjaga hubungan –yang kian terasa mahal harganya..

Menyisati keadaan demikian, itulah sebabnya di saat waktu longgar, entah dalam perjalanan pergi ataupun pulang saya memilih jalan memutar. Melewati jalan agak jauh dengan harapan agar berpapasan dengan tetangga untuk menyapanya.

”Biarlah waktu perjalanan menjadi lebih lama, namun yang penting hati ini merasa senang”, perasaan itu muncul dalam benak untuk menghibur diri sepanjang kaki ini melangkah. Dan untunglah cara tersebut ternyata memang cukup ampuh. Beberapa tempat dan sudut jalan, juga pekarangan rumah yang menyimpan kenangan, melewatinya, tanpa disadari kaki ini memperlambat langkahnya. Membiarkan isi kepala sejenak mengingat semua kejadian yang pernah dialami dulu.

Sebuah selokan besar di satu sisi jalan, di sana, masih teringat dengan jelas dalam benak ini bagaimana ia pernah memandikan seorang teman dengan lumpurnya karena terjatuh saat belajar naik sepeda. Sebatang pohon mangga tua yang menyimpan memori kenangan nakal masa kanak-kanak masih berdiri kokoh di halaman rumah tua bergaya abad pertengahan. Halaman rumah yang luas itu, dulu, sesekali menjadi tempat kami berkumpul siang hari. Dan buah pada pepohonan yang ada disana lebih sering menjadi sasaran keisengan kami, untuk dicuri buahnya sepulang sekolah. Pada bagian lain yang terlewati, nampak satu sudut tanah lapang tempat saya dan teman-teman biasa bermain kelereng dan layang-layang kini semakin kusam dan sedikit berbeda. Tanahnya yang dulu selalu becek dan menjadi lumpur kecokelatan saat hujan kini telah pekat tertutup aspal. Dan pagar luar yang mengelilinginya, tempat saya dan teman bermain berkumpul menghabiskan malam, tetap saja sama. Kecuali warna cat dan kondisi sekelilingnya sedikit mengalami perubahan.

Sambung menyambung memori kisah lamapun muncul kembali. Tiba-tiba saya jadi teringat kebiasaan kami saat menghabiskan malam panjang di akhir pekan dulu. Secara bergilir, setiap sabtu malam menjadi rutinitas menginap di rumah teman tanpa terkecuali. Tak peduli seberapa besar ataupun kecil rumah teman tersebut, kami akan tetap menginap. Entah kemudian tidur di kamar beramai-ramai berhimpitan atau tidur di ruang tamu bukanlah masalah. Meski pada kenyataan justru saat tengah malam, orang tua kami biasanya menjemput. Dan kami kemudian tidur di rumah masing-masing. Ah sungguh banyak kenangan indah kala itu yang hingga kini tak terlupakan. Dan melewati semua tempat yang menjadi saksi bisu masa kecil yang penuh kenangan itu, tiba-tiba hati ini menjadi rindu. Berharap hadirnya kembali jalinan kekaraban dan kekompakan yang timbul oleh kebersamaan. Rasanya hal itu tak mungkin terulang kembali.

Seiring kesibukan dan berubahnya keadaan, perlahan kehidupan membentuk diri kami masing-masing. Satu persatu, teman yang dulu bebas bermain dan berkumpul kini terikat oleh keluarga barunya. Tiga orang dari kami telah mendahului menghadapNya, sementara beberapa lainnya kini berada di luar kota berbeda untuk menjalankan tugas pekerjaan. Hanya saat lebaran saja kenangan dulu mampu kami ceritakan kembali secara bersama-sama. Saat itu, adalah saat kami mengisi beberapa bagian cerita. Menertawakan diri kami masing-masing.

Hampir semuanya kini telah berubah, ya memang telah berubah! Beberapa rumah telah berganti pemilik dan entah siapa. Saat ini sangat sulit mengenal para tetangga baru karena batas pagar rumah mereka selalu tertutup rapat dengan penjagaan pagar tinggi dan teralis penuh duri. Jangankan menyapa untuk sekedar basa-basi, tatapan acuh dan curiga yang terpancar di mata mereka saja sudah bikin hati ini enggan. Cukuplah mengerti dari keadaan pagar rumah yang menyeramkan itu yang seolah memberi peringatan pada siapapun yang melihatnya, ”Si empu rumah tak ingin diganggu oleh siapapun!!”. Menyesakkan melihat keadaan itu. Kondisinya sangat jauh berbeda dengan saat saya kanak-kanak dulu. Dimana kami warga seisi kampung saling mengenal dan akrab. Setiap anak mengenal keluarga kawan bermainnya, dan setiap orang tua juga mengenal keluarga kawan bermain anaknya. Namun entah apa yang ada dalam benak para penghuni baru itu pada tetangga mereka, warga lama yang juga penduduk asli.

Sejak lahir dan besar di kampung ini saya selalu merasa aman dan nyaman. Terjadinya kasus kriminalitas ataupun kekerasan seingat saya dapat terhitung dengan jari. Dan kalaupun ada kejadian kriminalitas yang menyebalkan para tetangga pemilik pohon buah adalah seringkali disebabkan karena hilangnya buah-buahan di pohon mereka karena di curi anak-anak nakal yang iseng tak punya kegiatan. Dan salah satu tersangka utamanya mungkin saja saya, pemanjat pohon tercepat diantara anak-anak sebaya lainnya.

Tapi itu dulu. Saya yang berbagi cerita tentang keadaan tempat tinggal saya ini kini bukanlah lagi anak-anak iseng yang tak punya kegiatan. Saya sudah tobat dan bahkan jikapun memiliki waktu luang saya pastikan tak akan mengulangi hal buruk itu lagi. Dan melihat hal tersebut, kenyataan ini bisa saja menjadi bukti bukan? Bahwa ternyata memang warga kampung ini sudah berubah.

Salam,

Hary Lasmana

Cermin Kehidupan

Sebelum berangkat kerja, pergi ke sekolah, kampus, pasar, maupun menghadiri sebuah acara, rasanya tak seorangpun mampu percaya diri keluar dari rumahnya sebelum bercermin untuk merapikan diri. Sehabis mandi –untuk mencocokkan pakaian yang dikenakan, kita berdiri di depan sebuah cermin untuk melihat apakah padu pakaian yang dipilih terlihat cocok dan serasi atau justru terlihat tidak matching. Kemudian secara close up di depan cermin terutama kaum perempuan –wajah di make up pada beberapa bagian penting agar terlihat bersih dan segar. Dan tak lupa sisiran lembut pada mahkota kepala dilakukan agar bentuknya mempesona seperti yang diinginkan.

Semua rutinitas itu secara bervariasi lamanya dilakukan setiap orang. Ada yang membutuhkan waktu cukup lima menit saja, namun tak sedikit yang membutuhkan waktu berjam-jam dan menikmatinya. Semua bergantung pada situasi dan kondisi orang yang bercermin. Bagi yang cuek, mungkin hanya dengan melihat diri di depan kaca dan berdandan seadanya, singkat saja ia sudah merasa cukup puas. Namun bagi yang perfeksionis, saat berada di depan cermin adalah saat tepat untuk menyempurnakan segala kekurangan dirinya. Sisiran rambut harus sesuai dengan gaya pakaian, kecocokan warna pakaian harus pas dengan suasana hari dan acara, dan terutama di wajah, harus terlihat maksimal. Segar dan bersih, tak ada yang boleh terlihat biasa. Hingga dirasa sesuai seperti yang diinginkan barulah bisa hati lega beranjak dari depan cermin.

Begitulah potret umum diri kita, keadaan mahluk sosial saat ini. Cermin seakan telah menjadi kebutuhan primer selain makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Bahkan saking pentingnya, entah di rumah, di tempat beraktifitas, hingga melintas kaca bening yang memantulkan bayanganpun kita kerap bercermin meski hanya sekilas. Memastikan penampilan tetap terlihat menarik.

Mudah, murah, dan meriah. Ketiga hal itulah yang membuat begitu banyak orang merasa tergantung pada cermin. Hanya dengan bercermin sajalah siapapun mampu secara mandiri memanipulasi bagian fisik tubuh yang nampak tidak maksimal menjadi lebih baik. Tak peduli berapa banyak waktu terbuang demi kepuasan penampilan yang tak terbayarkan harganya.

Mendapati kenyataan itu siapapun pantas berterima kasih pada penemu cermin. Karena manfaat cermin, betapa banyak insan dalam kehidupannya dapat secara mandiri menutupi kekurangan fisik dirinya tanpa takut diketahui orang lain. Melalui bayangan yang seperti apa adanya segala kelebihan dan kekurangan terlihat jelas. Hanya satuhal yang sangat disayangkan adalah kemampuan cermin yang hanya mampu memperlihatkan bayang fisik saja. Ia tidak mampu memperlihatkan bayang kondisi jiwa dan ruhani dalam diri manusia yang berdiri di hadapannya.

Dalam hidup ini, jika diamati secara fisik kita bisa menjadi apapun. Seperti menjadi seorang perawat misalnya. Hanya dengan mengenakan pakaian perawat di rumah sakit dan seolah sibuk dengan tugas, bukan tak mungkin kita akan dihargai pasien yang tengah berobat sebagai perawat di rumah sakit tersebut meskipun kita sebenarnya bukan seorang perawat. Untuk menjadi seorang tentara, kita cukup mengenakan seragam tentara. Asalkan postur tubuh kita sesuai dan gaya kita meyakinkan, orang yang tak kenal pasti menyangka diri kita tentara. Atau bahkan setiap anak jalanan yang putus sekolah jika ia didandani dengan seragam sekolah saya yakin pasti dapat terlihat layaknya siswa sekolah. Begitulah fisik kita dengan begitu mudah dimanipulasi untuk menipu mata. Tapi cukupkah demikian?

Fisik kita yang terbalut seragam untuk menutupi identitas diri asli mungkin dapat menipu mata siapapun, namun ada dua hal yang tak pernah dapat dibohongi dalam hidup ini. Tuhan dan hati kecil kita sendiri. Bagaimanapun kebohongan itu dibuat, Tuhan tahu apa yang dikerjakan hambaNya. Dimanapun kita melakukan kebohongan, Tuhan pasti melihat. Bahkan sehebat apapun kita berkelit, Tuhan melalui hati kecil kita selalu jujur mengatakan hal yang sebenarnya. Siapapun bisa saja tertipu, tetapi tidak Tuhan dan hati kecil kta. Apa yang nampak pada mata kepala dapat menipu kita, tetapi segala bisikan yang terdengar dalam hati kecil tak mungkin dibohongi. Siapapun dalam hidup ini mendapat gelar penghormatan bukan atas seragam yang membalut tubuhnya, tetapi karena dedikasi dirinya terhadap pekerjaan yang dijalani.

Seorang dokter misalnya. Ia digelari dokter bukan karena seragam yang dikenakan, tetapi karena pendidikan dan pengabdiannya pada masyarakat; Seorang pengajar digelari guru bukan karena seragam yang dikenakan, tetapi karena pengabdian atas pekerjaan yang dijalankan. Juga demikian halnya seorang pilot, bukan seragam yang dikenakannyalah yang membuat masyarakat menghargainya sebagai pilot, namun karena keahliannya mengemudikan pesawat. Semua penghormatan itu diberikan bukan karena fisik pakaian yang dikenakan, namun lebih kepada jiwa si pemakai.

Seumur hidup kapanpun dan dimanapun kita inginkan, kita dapat memanipulasi kekurangan fisik diri secara mandiri tanpa diketahui orang lain terutama dengan bantuan cermin kaca. Namun tidak demikian halnya dengan kekurangan jiwa dan ruhani. Segala yang kurang dari keduanya hanya dapat tercermin dari keterbukaan diri kita pada orang lain. Sikap orang lain pada diri kitalah yang menunjukkan sesungguhnya kondisi jiwa dan rohani kita terhadap kehidupan.

Ia yang tak pernah dapat dimanipulasi oleh ketebalan make up, untaian rambut, ataupun warna dan gaya pakaian sejatinya adalah kejujuran. Dimanapun tempat kita bercermin dalam kehidupan ini, ia hanya akan menampilkan keadaan diri setiap orang seperti apa adanya. Kepolosan akan nampak sebagai kepolosan, kepalsuan akan terlihat sebagai sebuah kepalsuan. Tak lebih, juga tidak dikurangi. Layaknya gema yang terdengar, segala yang teriakkan ke dalamnya akan kembali pada diri kita berkali-kali hingga akhirnya menghilang. Begitulah kehidupan berlaku sebagai cermin jiwa setiap insan di dalamnya.

Tak ada usaha dapat memberi hasil sempurna pada kepalsuan. Apalagi memalsukan kebenaran hati. Segala usaha apapun untuk menutupinya hanya demi harap penilaian tinggi orang lain takkan pernah berguna. Pasti sia-sia

Kepalsuan takkan pernah berkilau lebih indah daripada keaslian. Layaknya kilau emas sepuh yang perlahan luntur, demikian juga kelak penilaian kepalsuan orang lain pada setiap pelakunya. Satu hukum pasti dalam hidup ini adalah, ”Apapun yang kita lempar ke dalam kehidupan, maka kehidupanpun akan memberi balasan setimpal sebagai gantinya”. Entah cepat atau lambat, begitulah kehidupan memperlakukan setiap insan dengan adilnya.

Cermin adalah keadilan. Ia hanya akan memantulkan sesuatu secara tepat sebagaimana benda yang berada di hadapannya. Tidak melebihi, tidak juga mengurangi. Ia adalah guru. Pengajar kebijakan setiap insan untuk berlaku sebagaimana yang diharapkan bayangnya muncul pada cermin.

Jangan terlena lama di hadapan cermin saat melihat keindahan bayangan yang ada di dalamnya saat kita berkaca. Perbuatan semacam itu dapat mengurangi keindahan yang telah ada. Namun jangan pula meratap apalagi menghancurkan cermin hanya karena bayang buruk yang nampak didalamnya. Bayang itu adalah milik kita. Berlakulah terbuka, jujur pada diri sendiri, perbaiki kesalahan, dan jangan pernah lengah dalam menyempurnakan segala kekurangan. Semoga usaha yang demikian mampu memperlihatkan bayang cermin kehidupan sesuai dengan yang kita harapkan.

.

Salam,

Hary Lasmana

Merayakan Kesuksesan

Sukses yang hadir dalam hidup sebenarnya kalau dapat diibaratkan nampak seperti buih putih di atas pasir pantai yang didorong gelombang dari tengah lautan. Banyak, namun mudah menguap dan hilang begitu saja. Kenapa saya katakan banyak dan mudah hilang? Karena memang sukses –sebagai bagian dari masa lalu –tanpa disadari sebenarnya telah menjadi kebiasaan bagi siapapun dalam hidup ini. Pergi dari rumah menuju tempat kuliah, setibanya dikampus berarti kita telah meraih kesuksesan; Pergi bekerja, apapun yang terjadi selama diperjalanan hingga kita mencapai tempat kerja juga adalah kesuksesan; Pada jam istirahat, untuk mengisi perut yang lapar kemudian kita makan hingga kenyang juga berarti sebuah kesuksesan. Begitupun halnya saat perut mulas lalu kita buang air besar di wc. Itu juga sebuah kesuksesan. Melihat kondisi tersebut, bukan main banyaknya kesuksesan hidup yang telah kita jalin setiap hari dalam hidup kita. Dan ini tentu saja kalau kita bersedia menganggapnya demikian.

Semua itu jika dilihat memang bukanlah suatu hal besar. Bukan sebuah keberhasilan yang mampu mengangkat nama kita menjadi tinggi apalagi terkenal. Namun demikian, tak layak seorangpun meremehkan kesuksesan semacam itu. Apalagi menganggapnya bukan apa-apa. Jangan keliru, karena sesungguhnya tanpa peran sukses-sukses kecil itu tak mungkin sukses besar dapat tercapai. Apalagi berhasil diraih dengan nilai sempurna.

Sebagai contoh, misalnya, bisa kita bayangkan bagaimana mungkin seorang atlet dapat menjadi juara jika saat ia berlatih selalu menahan lapar pada perutnya? Atau kehadiran seorang peneliti yang tak pernah sampai di laboratorium karena selalu terhambat di perjalanan. Juga misalnya seorang siswa dapat menjadi pintar jika di dalam kelas ia terus menahan kantuk karena tidak tidur dengan nyenyak di malam hari. Dengan perilaku demikian, jauh kesuksesan mungkin tercapai. Jadi jangan pernah remehkan segala hal kecil yang kita lakukan setiap hari. Semua memiliki nilai dan arti.

Hidup ini memiliki rahasianya sendiri yang tersimpan rapat. Dan menilainya, apapun yang kita jumpai semua bergantung penerimaan diri kita. Dengan kearifan, nilai kesuksesan dapat terlihat dengan penuh makna. Namun sebaliknya, jika kita menerimanya dengan ketidaksukaan maka ia pun akan menunjukkan hal yang senada. Bermakna negatif. Entah itu hal besar ataupun kecil hasilnya akan tetap sama. Bergantung pada perlakuan kita dalam memaknainya.

Sesungguhnya rutinitas yang terjadi di setiap hari telah mendidik kita tanpa kita sadari. Bahwa hal kecil seringkali memerlukan spontanitas dan sesekali perencanaan. Begitupun sebaliknya, hal besar selalu memerlukan rencana besar yang diiringi spontanitas kecil bersamanya. Keduanya begitu serasi diantara begitu banyak pasang keadaan yang kerpa kita jumpai dalam hidup ini.

Dan jika hal kecil dan hal besar adalah keserasian, begitu juga halnya dengan pertautan antara kegagalan menuju kesuksesan. Keduanya, layaknya sepasang kekasih yang tak bisa dilepaskan oleh apapun. Padanya selalu berlaku, ”Dimana kesuksesan yang dituju, disana kegagalan berdiri menghadang sebagai pintu menuju kesuksesan”. Begitu sederhana. Kegagalan begitu perkasanya seperti seorang guru yang tengah menguji kedalaman ilmu sang murid. Ia membekali siapapun yang berharap mencapai kesuksesan dengan membagikan bagian pengalaman yang dimilikinya dengan begitu adil. Ia-lah pintu itu, yang tak jarang harus dilewati berulangkali.

Begitulah sukses hadir secara sederhana. Dari hal kecil yang terlupakan hingga pertautannya dengan pahit kegagalan. Semua tak dapat dilepaskan antara satu dengan yang lainnya. Dimana kesuksesan terdengar berada, semua orang senang menuju ke sana. Meski pada akhirnya, seleksi alam akan menceritakan sisa banyak orang yang mampu mencapainya. Bahkan tak sedikit yang ternyata sekalipun tak pernah mencapainya.

Belajarlah dari kegagalan. Entah itu milik diri sendiri ataupun dari orang lain. Hanya kegagalanlah guru sesungguhnya untuk mengukur seberapa besar kekuatan diri kita dan seberapa besar penghalang yang ada. Setiap keinginan memiliki jalan mencapai tujuan, setiap usaha akan memberi hasil sesuai niatnya. Tak ada yang sia-sia. Dan bagi mereka yang tak kenal henti –tak menyerah sebelum berhasil, disanalah keajaiban itu perlu dirayakan.

Salam,

Hary Lasmana