Entries from April 2007 ↓
April 30th, 2007 — Uncategorized
IN THE NAME OF ALLOH
Berhentilah mencaci maki kegelapan
lebih baik kau nyalakan secercah cahaya
bagi mereka yang kegelapan
Tebarkanlah iman dengan cinta
gubahlah dunia dengan prestasi
jadikan hidupmu penuh arti
setelah itu bolehlah bersiap untuk mati
kalau kelak datang hari perjumpaan
basahkan bibirmu dengan ucapan kalimat toyibah
Laa ilaaha illalloh
Dauzan Farouk
Pendiri MABULIR, Kauman, Yogya
April 29th, 2007 — Uncategorized
Ketika dulu nenek masih tinggal serumah dengan kami di Jakarta, saya hapal betul pengemis ”langganan” nenek yang sering mampir ke rumah. Ada perempuan yang nampak lebih tua dari nenek namun usianya ternyata jauh lebih muda, beberapa ibu paruh baya yang selalu menggendong anak balitanya, seorang pria cacat kaki yang kalau berjalan harus dibantu dengan tongkat, dan seorang pemuda yang mungkin usianya tak jauh berbeda dengan kakak saya.
”Panjang umur dan berkah untuk bu haji…”, ucap seorang ibu biasanya setelah diberi sedekah ala kadarnya dari si nenek. Wajah gembiranya tetap tak mampu menghapus kegelisahan yang tergurat dalam dirinya. Sementara pengemis yang cacat kaki biasanya membalas sedekah yang diterimanya dengan senyuman manis sambil tak lupa mengucap terima kasih. Kecuali keduanya yang saya hapal, pengemis lain biasanya cukup mengucap terima kasih dengan lirih disertai wajah layu dan lemas menerima apapun yang diberi lalu pergi mencoba peruntungan ke rumah yang lain dengan sikap yang sama.
Itu dulu. Kini, lain si nenek lain lagi cerita menantunya –mama saya –dengan pengemis di rumah. Semenjak si nenek berpindah ke Bogor, entah kenapa beberapa pengemis langganan si nenek juga serta merta turut menghilang. Beberapa dari mereka tak pernah kembali menampakkan diri kecuali ibu perempuan tua dan pengemis pria yang kakinya cacat itu yang masih setia datang. Satu kali, dua kali, tiga kali, secara berkala keduanya secara rutin datang ke rumah dan kini menjadi pengemis langganan mama.
”Maaf saya sedang tidak ada uang, kalau makanan mau?”, tanya mama suatu pagi pada pengemis yang rasanya baru hari itu datang ke rumah. Perempuan paruh baya yang kumal itu menunduk seakan menutupi sesuatu pada dirinya dan menjawab pertanyaan mama dengan anggukan pelan tanda setuju sambil mengusapi wajah anak dalam kain gendongan di dadanya. Rasanya ia sedang berdialog dengan dirinya, dengan anaknya tanpa kata. Entah apa, hanya ia tahu. Sementara menunggu mama membungkus nasi dan lauk yang berada dalam etalase makanan dagangannya, pengemis itu setia berdiri di depan pintu meski sudah dipersilahkan masuk ke dalam rumah.
Sebungkus nasi dengan lauk ala kadarnya itu diterima wajah senyum. Setelah mengucap terima kasih dan salam pengemis itupun pergi tanpa menunggu lama.
”Syukurlah dengan keadaan seperti sekarang ini kita masih bisa memberi ya Har”, mama menatap ke arah diri ini meminta persetujuan.
”Ya…”, jawab saya lirih membayangkan seandainya pengemis itu adalah salah satu dari keluarga atau salah satu kerabat yang saya kenal. Semoga nasib kami tidak demikian adanya hingga kapanpun.
Betapa saya bersyukur atas semua nikmat hidup ini. Bahkan dalam kekurangan, dalam kelebihan, atau hidup yang bagaimanapun, teladan bagi saya dirumah selalu ada. Entah nenek ataupun mama setia mengajarkan kami anak-anaknya untuk selalu memikirkan keadaan orang lain. Tidak mementingkan diri sendiri, apalagi tidak peduli. ”Setidaknya banyak hal yang selalu bisa kita bagi”, ucap mama menerangkan perihal berbagi yang sayangnya harus terhenti oleh datangnya beberapa pembeli yang hendak sarapan pagi.
Ruangan kini terasa menjadi sempit oleh kedatangan tiga anak laki-laki yang baru saja datang hendak sarapan. Saya segera bangkit dari duduk dan meninggalkan ruangan. Mau mandi.
”Harganya satu bungkusnya berapa bu?”, suara seorang anak laki-laki terdengar saat saya mulai pergi meninggalkan ruangan itu. Namun belum pertanyaan itu terjawab, pertanyaan lain segera membalasnya.
”Kalau pakai telur berapa?”
”Saya pakai tahu dan tempe saja bu, berapa harganya?”, nampak seorang anak tak mau kalah mengikuti pertanyaan kedua temannya.
”Sebentar satu-persatu tanyanya ya…”, terdengar suara lembut mama menengahi semua pertanyaan itu.
Setelah masuk ke kamar mandi, riuh suara menghilang. Hanya hening yang kemudian diisi tumpahan air membasahi badan.
Usai saya mandi dari jauh saya perhatikan ruangan telah berganti suasana. Seorang ibu, tetangga samping rumah kini berada bersama mama menggantikan ketiga anak yang hendak membeli nasi untuk sarapan pagi. Tanpa bermaksud menarik perhatian keduanya, saya masuk ke dalam kamar yang letaknya berdampingan dengan ruang makan tempat mama menjajakan makanannya. Berpakaian.
”Oh anak-anak itu datang dari jauh, dari Serang untuk bertanding bola”, terdengar suara mama dengan jelas. Nampak keduanya seperti sedang membicarakan ketiga anak yang baru saja membeli makanan tadi.
”Kelihatannya tadi ibu beri anak yang satu itu gratis ya? Apa tidak takut rugi dagangannya?”, suara si pembeli terdengar
”Oh iya memang. Kebetulan anak yang satu itu kehabisan uang. Kasihan… datang dari jauh, kehabisan ongkos dan belum sarapan. Saya jadi ingat anak-anak saya, mudah-mudahan tidak ada yang seperti itu. Ya tapi nasib tak ada yang tahu, kalaupun ternyata ada yang mengalami kejadian serupa, semoga apa yang saya lakukan tadi balasannya adalah pertolongan untuk anak-anak saya seandainya mereka mendapat kesulitan di suatu tempat.”
Mendengar jawaban mama yang terakhir itu saya jadi terdiam dan menangisinya dalam hati. Terharu. Seorang ibu, entah hatinya terbuat dari apa. Segala hal selalu saja ia kaitkan dengan nasib anak-anaknya. Sepanjang usia hidupnya entah berapa banyak luka tertoreh dihati atas segala perilaku anak-anaknya, namun baginya tak ada ruang untuk dendam apalagi balasan kecuali do’a bagi anak-anak tercinta. Ibu apa kata yang tepat untuk menggambarkan keindahan itu?
Pagi itu usai mandi dan berpakaian saya memandangi cermin. Bayang tubuh di dalamnya adalah bayang yang sama seperti hari-hari kemarin, namun baru pagi itu saya menyadari bahwa pada sekujur tubuh rapuh itu ternyata tak sejengkal ruaspun darinya lepas dari perlindungan seorang ibu. Do’a yang menjaga dan berharap kebahagiaan sepenuhnya. Sungguh… betapa beruntungnya saya.
Salam,
Hary Lasmana
April 20th, 2007 — Uncategorized
Ramai di media tentang usainya ujian akhir nasional tingkat SLTA hari ini, saya jadi teringat saat-saat terakhir di sekolah dulu. George, seorang karib pendiam pemimpin paskibra di sekolah, ia pernah saya beri sebuah quotes yang saya tulis dan saya karang sendiri. "Sukses bukanlah hal besar yang harus dicapai dalam hidup ini, sukses seharusnya menjadi bagian dalam hidup kita sehari-hari". Quotes yang saya tulis di halaman belakang sebuah kertas yang bergambar seekor singa tengah menggenggam seuntai padi itu saya berikan padanya di dalam kelas. Pasti kapan waktunya saya lupa, apalagi sebab musabab munculnya kata-kata itu. Sedikit yang saya ingat hanyalah quotes itu terinspirasi oleh kisah hidup orang-orang terkenal luar biasa dalam sejarah dunia yang kisahnya saya baca di perpustakaan sekolah yang baru saja rampung direnovasi saat itu.
Ada Albert Einstein, seorang ilmuwan keturunan Yahudi yang menderita dyslexia dan syndrom Asperger -mirip autis -yang membuat diri dan lingkungan belajarnya satu sama lain sulit menerima mencengangkan dunia dengan teori relativitasnya. Kemudian Thomas A. Edison yang dianggap bodoh sehingga dikeluarkan dari sekolah, namun berkat cinta kasih orangtua akirnya mampu tumbuh menjadi seorang ilmuwan pencipta lampu pijar dan sekitar menghasilkan sekitar seribu penemuan yang sangat bermanfaat bahkan hingga kini. Kemudian juga ada Beethoven musikus yang tuli namun mampu menggubah not-not dengan begitu mengagumkan. Kisah mereka bertiga yang telah saya baca membekas di dalam hati hingga memberi inspirasi untuk menciptakan quotes kesuksesan yang harus saya akui jua turut memotivasi diri dalam berkarya.
Satu persatu kemudian dari buku yang saya baca, selain ketiganya, kini saya mengenal banyak lagi kisah tokoh lain. Ada Bunda Teresa dari Kolkata yang telah merawat begitu banyak orang serba kekurangan yang tak dikenalnya untuk dirawat dengan sepenuh hati. Nelson Mandela, humanisme yang tidak mau kompromi dengan penjajah, Mahatma Gandhi yang berjuang tanpa kekerasan dalam memperjuangkan negerinya, hingga kisah Mark Inglis, yang telah kehilangan kedua kaki namun berhasil mencapai puncak gunung tertinggi di dunia, Mount Everest. Atau jika tak ingin beranjak jauh ke masa lalu dan ke lain negeri, di dunia maya, seorang blind blogger (Blogger Tuna Netra) Indonesia, Rama Aditya pun jua mampu memberi inspirasi tentang sejatinya hidup dan kehidupan. Untuk merasakan keindahan didalamnya dan berbagi kehidupan bersama yang lain. Begitu banyak keajaiban dalam hidup ini yang bisa kita temui dan kita patut bersyukur atasnya.
Merasakan itu semua. saya jadi teringat nasihat orang tua yang mengatakan bahwa segala sesuatu dalam hidup ini telah memiliki bagiannya masing-masing dalam bentang kehidupan yang dijalani. Setiap insan yang hadir dalam kehidupan diciptakan dengan komposisi terbaik dan sama. Lahir tanpa membawa apa-apa, tak berdaya, memiliki kemampuan terbatas, juga menangis dengan melodi yang sama. Hanya tempat, waktu, dan lingkunganlah yang membedakan. Selebihnya sama. Hingga seiring bergeraknya waktu, perbedaan itu akan terus membesar. Dan satu diantara perbedaan itu adalah segi kemanfaatan hadirnya seseorang bagi kehidupan. Mereka yang lebih baik adalah seseorang yang hidupnya dapat bermanfaat dan dibutuhkan oleh yang lain.
Bicara soal manfaat, dalam sejarah hidup saya yang sangat singkat, kini dalam benak teringat hari terakhir ujian nasional SLTA dulu. Siang itu, usai ujian, berkumpul di halaman sekolah hingga sore tanpa tujuan, satu per satu teman kembali ke rumah masing-masing dan sebagian lagi pergi entah ke mana untuk merayakan usainya ujian. Beranjak sore suasana semakin sepi, hanya tersisa sekitar dua puluhan orang saja yang ada. Sementara yang lain berpencar membentuk kelompok, saya sendirian, duduk membelakangi wall climbing tempat biasa saya melepas kegembiraan bersama teman pecinta alam lain. Mata redup memandangi sekelompok teman yang tengah bersemangat menendang-nendang bola diantara kaki mereka. Sisanya berkerumun di dekat salah satu tiang gawang, berdendang bersama dengan diiringi kocokan senar gitar merdu. Semua hanyut dalam suasana keakraban yang tak pernah terulang hingga kini, lalu tenggelam begitu saja tanpa arti setelah beberapa minggu kemudian tersebar berita kelulusan ke telinga setiap siswa.
Beratnya ujian sekolah yang menguji pengetahuan kami setelah menempuh pelajaran tiga tahun lamanya itu hanya membekali setiap siswa dengan begitu banyak kenangan dan pengalaman indah. Saat itu banyak yang tak mengerti benar untuk apa mereka sekolah dan akan melanjutkan ke mana setelahnya. Tak jauh berbeda dengan kehidupan beberapa orang yang saya temui. Hanya saja satuhal yang saya rasakan hingga beberapa lama kemudian adalah ternyata ujian sekolah tak ada berarti apa-apa jika dibandingkan dengan ujian hidup yang ternyata jauh lebih sulit berkali lipat.
Dalam ujian kehidupan, kita takkan mampu menduga soal dan jawaban. Apalagi nilai akhir. Setiap keberhasilan tak memiliki alat pengukuran kecuali rasa lega di hati. Ia juga tak memiliki rumus baku pada setiap masalah yang muncul kecuali beberapa alternatif pemecahan dan itupun dibarengi dengan segala macam konsekuensi. Di dalamnya terdapat nilai kebenaran yang tidak absolut. Mencengangkan, juga membingungkan. Bahwa kebaikan tidak selamanya dianggap baik, kesalahan bukan berarti pengingkaran, juga keburukan tidak pasti ia buruk. Betapa hidup ternyata menjadi sebuah rangkaian cerita bersambung akan banyak hal. Mulai dari keadaan bahagia namun penuh untaian air mata, hingga rasa syukur yang diliputi hati cemas. Semua memiliki maknanya masing-masing dan bergantung pada kelapangan hati pemiliknya.
Hidup ini memang sulit dan tak dapat diduga, namun satuhal yang selalu membuat hati ini tenang menatap baying masa depan adalah sepenggal nasihat yang selalu saya ingat, "Hidup takkan menjadi beban jika kita tahu tujuan akhirnya".
Orang tua saya yang berkata demikian. Dan saya percaya mereka.
Salam,
Hary Lasmana
April 13th, 2007 — Uncategorized
Saya memiliki pengalaman menarik tentang belajar merokok dulu di saat memasuki awal sekolah menengah pertama. Saat itu sama seperti sifat manusia pada umumnya, saya dan teman-teman yang notabenenya masih kanak-kanak dengan rasa takut namun ingin mencoba berkumpul di rumah seorang teman usai sekolah usai. Di dalam kamarnya, satu batang rokok yang dibeli beberapa hari lalu di warung kami hisap secara bergilir. Bergaya layaknya orang tua yang telah mahir dengan asap tembakau itu, beberapa teman sempat terbatuk akibat tajamnya bauran nikotin dalam asap dalam tenggorokan. Saya sendiri harus mengakui kalau asap rokok yang saya hisap itu benar-benar tak enak. Entah kenapa banyak orang menjadi pecandunya.
Entah karena merasa tak enak dengan teman, atau merasa kalah oleh hasrat keingin tahuan yang timbul saya dan beberapa teman mencobanya. Hari itu, keesokan hari, beberapa hari kemudian, dan terus berlanjut, tak sampai berbulan-bulan akhirnya kami menjadi terbiasa dan mahir seperti perokok aktif saja. Waktu yang sangat singkat bagi kami menjadi pecandu rokok. Uang jajan yang ada tersisih sebagian untuk batang tembakau itu.
Begitulah kenyataan yang sempat saya alami untuk menjadi pecandu rokok. Begitu mudahnya. Hanya dengan beberapa kali batuk dan menahan pekatnya tenggorokan bagi yang belum terbiasa, siapapun pasti bisa. Dan dapat dipastikan kebiasaan itu akan bertahan seumur hidup, bahkan hingga akhir hayat si perokok seandainya ia tidak mau berhenti atau dipaksa berhenti terutama oleh penyakit yang datang bersama asap rokok yang begitu nikmat agi para perokok. Namun sayangnya berhenti merokok tak semudah kita belajar merokok.
Terutama bagi perokok berat, meski didera sakit parah ataupun diberi pengertian akan bahaya racun di dalam asap rokok akan selalu sulit berhenti merokok. ”Lebih baik tidak makan daripada tidak merokok”, rata-rata perokok berat berkilah demikian jika diharuskan menghemat uang untuk hal lain yang lebih bermanfaat. Entah itu untuk berobat, membeli perlengkapan sekolah anak, atau kebutuhan sehari-hari misalnya.
Begitu besar pengaruh rokokpun telah menunjukkan betapa tingkat keberhasilan perokok beratpun sangat rendah. Dan yang satu ini bergantung seberapa besar niat dan usaha setiap individu tentunya. Banyak yang berhasil berhenti merokok, seperti saya misalnya, namun dalam pengamatan yang saya lakukan justru jauh lebih banyak lagi yang gagal. Seorang teman telah mencoba berhenti merokok dengan cara mengurangi asupan rokok setiap hari dari sebungkus rokok perhari menjadi separuh bungkus tetap saja tidak mampu secara total berhenti merokok. ”Seperti ada sesuatu yang kurang dalam hidup ini kalau tidak merokok”, ucapnya membela diri saat ditanya alasannya. Pun setali tiga uang dengan teman lain perokok berat yang mampu berhenti selama beberapa bulan hingga kembali menjadi penghisap daun tembakau kering itu. Namun hal itu tak berlaku bagi seorang teman lain yang mampu berhenti merokok dengan tekad bulat di hatinya. ”Semua kembali pada niat dan komitmen diri masing-masing”, ucapnya tenang menanggapi.
Mungkin benar ucapan teman itu kalau dipikir-pikir. Apapun yang kita kerjakan semua kembali ke niat individu masing-masing. Hal sulit akan lebih mudah dijalani dengan niat ikhlas, hal mudahpun akan terasa berat jika dengan niat hati berbeda. Dan kalau boleh sedikit memberi saran, seorang bijak pernah berkata, ”Jangan memulai sebuah keburukan dan membiarkan ia berlalu hingga menjadi kebiasaan dalam hidup kita. Akan jauh lebih sulit melepaskan sebuah keburukan yang telah menjadi kebiasaan dibandingkan saat kita memulainya.”
Salam,
Hary Lasmana
April 5th, 2007 — Uncategorized
Mengantuk yang seyogyanya murah, mudah, dan alami adalah salah satu anugerah yang patut disyukuri oleh siapapun dalam hidup ini. Namun demikian jangan sepelekan kantuk yang kita rasakan, karena salah penempatan dan ketidakmampuan memanajemennya dapat berakibat fatal. Tidak percaya? Setidaknya satu bukti yang saya ingat adalah perkataan seorang sopir taksi yang berulang kali menemukan banyak masalah yang terjadi akibat mengantuk yang tidak pada tempatnya.
“Hal yang paling banyak mengakibatkan kecelakaan kendaraan di jalan terutama adalah karena faktor manusia yang tidak mampu fokus saat berkendaraan. Mengantuk adalah sebab terbanyak”, begitu ucapnya pada saya.
Dan tentu saja bukan tanpa alasan sopir taksi itu berkata demikian, ia sendiri memiliki beberapa pengalaman buruk dan pernah mengalami kecelakaan akibatkan mengantuk di saat berkendaraan. Hal yang sama juga dialami dengan beberapa sobat karibnya sesama sopir taksi, mereka sempat mengalami kecelakaan akibat mengantuk. Dan bahkan katanya lagi, hampir seluruh mobil pada perusahaan tempat ia bekerja ternyata pernah diservis karena kecelakaan yang diakibatkan sopir yang mengendarai mengantuk. Rupanya, mengantuk atas alasan apapun adalah hal yang tidak boleh disepelekan begitu saja terutama oleh para sopir yang membawa kendaraan. Setidaknya itu yang dapat saya simpulkan kemudian.
Menerima pengalaman dari sopir taksi itu, saya jadi teringat pengalaman pribadi. Serupa namun tak sama, dulu sayapun pernah mengalami kecelakaan saat berkendaraan akibat mengantuk. Hanya saja bedanya, musibah yang saya alami ini terjadi di atas sepeda motor. Entahlah bagaimana ceritanya hingga terjadi demikian. Yang jelas karena tertidur dan tak mampu mengendalikan dengan baik, suatu kali sepeda motor yang saya kendarai menabrak trotoar di tepi jalan. Untunglah musibah tersebut tidak berakibat fatal meskipun rasa malu tak dapat disembunyikan kalau mengingatnya.
Lain kejadian di atas motor, lain lagi kejadian memalukan lain akibat mengantuk yang saya alami saat mengikuti perkuliahan di dalam kelas. Padatnya jadwal kerja setiap hari ditambah harus mengikuti perkuliahan karyawan, adakalanya sesekali tubuh terasa begitu lelah. Namun sayangnya saat hal itu terjadi tubuh tak dapat langsung beristirahat di rumah karena di saat bersamaan harus mengikuti perkuliahan. Kondisi simalakama seperti itu seringkali membuat diri sulit sekali berkonsentrasi. Duduk sejenak mendengarkan dosen di depan kelas yang sedang menerangkan, rasa kantuk pasti datang perlahan. Bahkan meski sudah mencoba bertahan dengan segala cara, selalu sia-sia. Sedikit demi sedikit kelopak mata turun hingga akhirnya secara perlahan tanpa sadar tubuh sudah tertidur pulas di atas kursi. Dan hal yang sangat tidak menyenangkannya adalah ketika dosen yang sedang mengajar mengetahuinya. Malu dan tidak enak hati rasanya. Namun untunglah kejadian itu tak pernah menjadi masalah besar yang menghambat perkuliahan.
Mengantuk saat berkendaraan di jalan, mengikuti kuliah di dalam kelas, juga menumpang bus umum, ternyata sama. Tidak boleh! Ketiganya memberikan pengalaman buruk pada saya. Jika di kendaraan mengakibatkan celaka, di kelas menjadi malu, sedangkan di bus bisa membuat kita lengah dan barang bawaan dapat berpindah tangan akibat ulah pencopet. Setidaknya itulah pengalaman yang pernah saya temui. Makanya jika dulu hampir setiap kali naik kendaraan umum rakyat itu di sepanjang perjalanan saya lebih sering tertidur, namun kini tidak lagi. Tak mau saya kalau sampai kesalahan terjadi berulang kali.
Mengantuk di tempat yang salah memang tak baik bahkan dapat berbahaya. Namun meski sempat mengalami beberapa kejadian buruk akibat mengantuk, saya bersyukur hingga saat ini masih diberi kenikmatan itu. Entah di sofa, di atas karpet, di lantai, apalagi di atas kasur empuk tubuh ini tak memilah di tempat mana ia mengantuk dan dapat dengan cepatnya menyesuaikan diri untuk tidur. Sungguh sebuah anugerah murah, mudah, dan alami yang sempurna. Namun sayang ternyata betapa nikmat yang saya terima ini tidak mampu dialami seorang teman eksekutif yang mengalami kesulitan tidur untuk mengakhiri hari dengan beristirahat malam. Ia tak mampu dengan mudahnya mengantuk meski memejamkan mata beberapa lama untuk tidur.
Entah sudah berapa lama teman eksekutif ini mengalami sulit tidur malam. Padatnya aktifitas dan tingginya tekanan hidup pada dirinya ternyata telah merenggut satu hal sederhana, kecil, murah, mudah, dan alami dari dirinya. Kenikmatan yang sedianya sejak lahir semua orang bisa merasakannya namun ternyata begitu sulit bagi dirinya.
Sudah bukan hal aneh bagi ia menelan pil obat tidur untuk melelapkan diri demi istirahat malam yang dinantikan. Meski tak ingin ketergantungan, namun ia tak berdaya. Sulit sekali menenangkan pikiran tanpa bantuan bahan-bahan kimia itu. Sungguh kasihan, jika demikian apalah artinya semua yang dimiliki jika ternyata untuk hal sederhana, kecil, murah, mudah, dan alami itu –tidur –harus dibeli? Namun syukurlah mengikuti anjuran beberapa teman akhirnya ia mampu menemukan jalan keluarnya yang terbaik.
Eksekutif itu dalam kesehariannya kini secara perlahan memasukkan aktifitas peduli sesama diantara rutinitas bisnisnya. Tidak hanya berorientasi keuntungan, melalui kegiatan sosial yang dijalani akhirnya ia perlahan berhasil mendapatkan kembali kebahagiaan lain yang selama ini hilang. Melihat penderitaan orang lain dan membantu meringankannya, telah menyadarkannya akan kebahagiaan sesungguhnya. Dan seiring dengan sadarnya ia akan hal tersebut, perlahan kemudahan istirahat itu muncul. Nikmat mengantuk dan tidur itu kembali padanya, dan iapun akhirnya terbebas dari cengkraman obat tidur yang selalu setia mengawali istirahat malamnya dulu.
Ia berbahagia, sangat berbahagia. Begitupun saya. Dan satuhal yang tak terlupakan adalah dalam perbincangan terakhir kami, ia menceritakan betapa bersyukurnya ia atas terbukanya hati dan pikiran tentang banyak hal yang sering ia abaikan dulu. Banyak kenikmatan kini telah kembali dirasakannya, dan tidak hanya nikmat mengantuk untuk tidur saja.
”Ternyata kunci anugerah yang hilang itu ternyata sama sederhana, kecil, mudah, murah, dan begitu alaminya dalam kehidupan ini. Kita cukup berusaha maksimal dan menyerahkan segala hasil pada Yang Maha Kuasa, juga tak lupa berbagi pada sesama”, ucapnya menutup pembicaraan.
Ah kawan! Cara mengantuk yang kamu cari itu ternyata tidak hanya memberimu satu nikmat tidur saja, tetapi juga menyertakan banyak kenikmatan lain yang berasal dari kunci yang sama. Seperti kata yang terucap dari bibirmu, “Berusaha maksimal dan menyerahkan segala hasil pada Yang Maha Kuasa, juga tak lupa berbagi pada sesama”.
Sungguh luar biasa!
Salam,
Hary Lasmana