Entries from May 2007 ↓

Suatu Pagi di Kedai Makan

Sudah beberapa bulan, nampak cuaca belakangan ini kian tak menentu. Adakalanya pagi terang benderang hingga menjelang siang, namun tak lama kemudian, disaat sinar matahari itu begitu terik menyengat permukaan kulit, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Sangat sulit diduga. Udara lembab, kering, angin kencang, berbaur menjadi satu. Banyak orang yang tidak dalam keadaan kondisi prima dengan keadaan cuaca seperti ini akan mudah terserang influenza. Seperti saya contohnya.

Namun jika hanya perubahan drastis dari cuaca panas berganti menjadi hujan deras saja mungkin tak seberapa, satu hal yang menimbulkan kegelisahan di hati adalah bencana alam yang beruntun menimpa beberapa daerah yang disiarkan di televisi. Betapa dahsyatnya dampak buruk akibat labil kondisi alam di negeri ini. Begitu besar kerusakan yang terjadi dan memakan banyak jatuhnnya korban serta banyak kerugian lain yang tak sedikit jumlahnya sangat menyayat hati. Banyak yang berkata kalau alam tengah murka! Entahlah, yang pasti, entah itu di pesisir pantai, sepanjang aliran sungai, ataupun pemukiman masyarakat di pegunungan, semua tak luput mendapat bagiannya. Bencana akibat kondisi alam yang tidak terduga.

Pagi tadi saat berteduh di sebuah kedai makanan kala hujan turun dengan deras secara tiba – tiba, merenungi semua itu, saya hanya mampu mengelus dada sekaligus bersyukur karena diantara banyaknya musibah yang menimpa negeri ini saya masih dapat merasakan kenikmatan yang datang silih berganti. Tubuh sehat karena cukup istirahat, langgeng pekerjaan dan nikmat bekerja, hidup dalam sebuah keluarga utuh yang saling menyayangi, dan juga terhindarnya kami sekeluarga dari tragedi memilukan yang kerap terjadi. Semua itu menyadarkan saya betapa Tuhan menganugerahkan banyak kenikmatan yang seringkali saya abaikan. Tapi memang demikianlah manusia dalam hidup ini, terlalu sering terlena. Saat suka terlupa, saat susah baru mengingatNya. Dan menyadarinya, saya hanya mampu tersenyum kecil dalam ucapan syukur dalam hati sambil hanyut mendengarkan lintas nyanyian alam senandungnya nampak jernih terdengar melalui tetesan air hujan yang pecah saat berbenturan dengan permukaan jalan.

”De’… jangan berdiri di luar, sini masuk saja ke dalam. Hujannya deras di luar nanti malah kebasahan.”, seorang perempuan memanggil perlahan dari dalam warung makan yang pada teras depan kiosnya saya tumpangi untuk berteduh. Suara panggilan itu telah membuyarkan segala macam pikiran yang tengah bermain di kepala.

“Iya, terima kasih ibu tidak apa-apa saya menunggu di sini saja sampai hujannya reda. Mudah-mudahan tidak lama lagi berhenti hujannya”, balas saya sambil tersenyum. Menerima jawaban itu, perempuan paruh baya itu tak berkata apa-apa dan meneruskan pekerjaannya memotong sayuran.

Hingga beberapa menit berselang, hujan semakin deras. Udara dingin dan basah terus menerpa seragam kerja yang saya kenakan. Lama kelamaan rasa dingin yang menyelimuti kulit membuat saya mengalah dan kemudian memilih masuk ke dalam kedai makan itu untuk berteduh menghindar dari angin yang membawa butiran air yang tak terhitung banyaknya.

”Teh manis hangatnya satu Bu!”, ucap saya singkat sambil tak lepas memandang ke arah air hujan. Ibu penjaga kedai itu lantas meletakkan pisau yang dipegangnya dan dengan sigap menyediakan permintaan saya tersebut.

Segelas teh manis hangat yang mengepulkan uap panas dihantarkan oleh ibu pnejual makanan itu ke meja tempat saya berada. Sepiring penganan goreng melengkapinya, menemani penantian saya menunggu hujan reda. Ibu penjaga kedai kembali ke tempat ia duduk semula dan kembali asyik berkutat dengan pekerjaannya memotong sayuran. Hujan deras terus mengalir selama beberapa menit kemudian, dan syukurlah, tak lama berselang hujan mereda dan menyisakan gerimis kecil. Tentu saja melihat kesempatan baik itu saya segera membayar teh manis hangat juga beberapa potong penganan yang telah dimakan. Saat bergegas pergi keluar, tiba-tiba berpapasan dengan saya, masuk seorang anak kecil yang pakaiannya basah kuyup sambil menenteng sebuah payung masuk ke dalam kedai dengan setengah berlari.

”Ibu ini Adi bawa uang”, anak kecil yang sepertinya berusia sekitar tujuh tahun itu menyodorkan beberapa lembar uang ribuan basah dalam genggamannya. Kemudian kembali dengan tergopoh-gopoh tangannya merogoh kedua kantung celana dan mengeluarkan beberapa lembar uang yang kondisinya tak jauh berbeda.

”Seribu, dua ribu, tiga ribu, empat ribu, lima ribu, enam ribu…”, anak itu menghitung lembaran uang itu sambil merapikannya dari lipatan lalu meletakkan di meja. ”Semua ada enam ribu”, ucapnya dengan begitu gembira saat meletakkan lembar ribuan terakhir.

Ibu penjual makanan itu dengan wajah masam menghampiri anak kecil itu.

”Sudah jangan menghitung uang terus… sana cepat lepas pakaiannya dan kamu segera mandi! Jangan sampai sakit nanti…”, nampak si Ibu tak sabar melihat tingkah anak kecil itu dan serta merta segera melepaskan kaos yang dipakai anak tersebut. Dalam sekejap, kaos, celana, dan payung telah berkumpul, tergeletak di lantai.

Kembali berlari dengan tanpa pakaian, anak kecil itu menghilang setelah melewati sebuah pintu terbuka di ujung ruangan. Ibu penjaga kedai itu sendiri nampak acuh dengan keadaan anaknya. Dilipatnya lembaran uang basah itu seraya bergumam, ”Duh Gusti terima kasih, rejeki memang tak pernah tertukar. Pagi ini warung makan saya sepi pembeli tapi Engkau titipkan sedikit melalui tangan anak hambamu ini. Semoga siang nanti warung ini bisa didatangi lebih banyak pembeli…”.

Saya masih berada di depan pintu saat ibu penjaga kedai itu mengucap syukur. “Tuhan semoga Engkau berikan hambaMu ini sifat sabar dan ikhlas, juga kemampuan bersyukur untuk menerima keadaan hidup yang telah Engkau gariskan sebagaimana yang telah dicontohkan ibu penjaga kedai itu”, doa itu mengiringi langkah kaki saya menjauhi kedai.

Salam,

Hary Lasmana

Janji

Saya hutang janji dengan Yanti –gadis manis yang kira-kira usianya saat ini mungkin 10 tahun –salah seorang anak penghuni salah satu panti asuhan di Cipayung. Dalam kunjungan terakhir tiga tahun lalu saya berjanji padanya, “Sekiranya ada waktu, kakak akan segera kembali mengunjungi kamu”. Setengah berbisik saya mengucap kata-kata itu saat melepas kepergian diri ini darinya. Kata-kata yang memberi harapan, janji! Dan malangnya ternyata adalah hal yang sulit ditepati, bahkan hingga kini.

Kalau mengingat janji itu hati jadi sedih rasanya. Bukan apa-apa, seperti memiliki hutang yang tak seberapa namun celakanya ternyata sulit dilunasi. Cemas saya kalau mengingatnya. Sulit membayangkan bagaimana mewujudkan janji itu, apalagi janji yang satu ini memang bukan sekedar janji pada sekedar anak kecil penghuni panti asuhan yang berulang kali mungkin mendapati janji yang sama dari orang-orang yang telah mengunjunginya, tetapi janji ini adalah juga janji pada diri sendiri. Sebuah keinginan untuk membawakan ia dan kalau mungkin juga bagi saudara-saudaranya di panti itu sebuah premi asuransi pendidikan yang menjamin setiap anak disana dapat bersekolah hingga perguruan tinggi. Setidaknya jika mereka dapat bersekolah hingga perguruan tinggi, harapan saya, mereka bisa hidup mandiri seperti masyarakat pada umumnya dan tak selamanya berketergantungan pada bantuan orang lain.

“Yanti… hidup tinggal bersama orang tua kandung saja terkadang terasa sulit, bagaimana dengan kamu yang kelak akan menghadapi segalanya sendiri. Tanpa sanak saudara, tanpa bimbingan orang tua, juga tanpa rumah tempat kamu berlindung dan dihargai…”, itulah ratapan saya dalam hati saat meninggalkannya seraya berdoa untuk kebahagiaannya, juga kebahagiaan bagi anak-anak lain yang bernasib sama di seluruh belahan bumi ini.

Kini tiga tahun sudah janji dan keinginan itu tersimpan rapat tanpa ada yang menyentuh. Satu, dua, tiga, dan beberapa orang setelahnya yang saya temui tak sedikit yang menawarkan bantuan berupa kebutuhan sehari-hari bagi penghuni panti. Saya bersyukur atas semua pemberian itu, atas kepedulian mereka, dan tak lupa berterima kasih atasnya –semoga Tuhan membalas segala kebaikan berlipat ganda sesuai niat masing-masing, namun sayangnya itu belum cukup. Saya, saat ini tengah mencari kepastian masa depan dan tak hanya sekedar rasa nyaman yang segera musnah oleh waktu bagi Yanti dan saudara-saudarinya sesama penghuni panti asuhan. Sebuah jaminan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak yang tak mengenal ibu yang melahirkannya dan tak tahu berasal dari sperma ayah yang mana. Anak-anak itu, sebagaimana anak-anak lain yang bisa tidur nyaman dalam naungan orang tua dan rumah yang melindungi dari cuaca tak menentuk layak mendapat kehidupan masa depan lebih baik. Dan saya kini gamang, bagaimana cara mewujudkan janji dan keinginan itu?

Yanti maaf saya bukan tidak ingin menjenguk kamu, entah kenapa ternyata sulit mencari dermawan yang tidak hanya sekedar memberi namun juga mau peduli. Doakan kakak semoga saja Tuhan memberikan jalan pertemuan kita dengan manusia berhati malaikat yang dapat mewujudkan cita-cita kamu dan saudara saudarimu sesama penghuni panti. Manusia mulia itu mungkin tengah membaca tulisan ini.

Salam,

Hary Lasmana

Kutipan Buku: Kisah Kepompong dan Kehidupan

Dalam sebuah buku berjudul "Selalu melibatkan Alloh" yang disusun oleh M. Al-Ghazali, Penerbit Serambi, 2003, hlm. 173-174, tertulis kutipan bermakna yang mungkin dapat memberi pencerahan bagi siapapun yang membaca…

# # # # #

‘Abd al -’Aziz al-islambuli pernah menulis:

CocoonSeorang ahli hadis pernah bercerita tentang dirinya: Semasa kecil, aku gemar mengumpulkan kepompong ulat sutera dan menyaksikan keluarnya kupu-kupu darinya pada musim semi. Usaha sang kupu-kupu untuk keluar dari kepompongnya sangat menarik perhatianku. Suatu hari, bapakku membawa gunting, lalu aku menggunakannya untuk memotongi bulu kepompong yang menutupi kupu-kupu untuk membantunya keluar, tetapi tak lama justru kemudian ia justru mati. Ketika itu ayahku berkata, "Wahai anakku, ketika kupu-kupu berusaha keluar dari kepompong, ia mengeluarkan racun dari tubuhnya. Jika tidak mengeluarkannya, ia akan mati. Begitupun manusia, jika mereka berjuang mencapai apa yang diinginkan itu dapat diraih tanpa perjuangan, mereka akan lemah dan kehilangan sesuatu yang sangat berharga dari dirinya".

Watak kehidupan ini memang menarik. Ia tidak akan memberi kita sesuatu kecuali untuk mengambil sesuatu dari kita. Ia tidak menghibahi kita sesuatu kecuali untuk mendapat imbalan. Ia memberi kita sesuatu untuk dibayar sepadan. Maka, janga heran jika keinginan-keinginan kita tidak tercapai tanpa melewati terjal nan penuh onak dan duri. Dunia menguji kita dengan beragam perjuangan untuk mendorong manusia agar menghadapi dan mengalahkannya.

Dengan begitu, kita akan menjadi tahu arti sebuah kesulitan dan perjuangan, tahu perbedaan antara para pejuang sejati dan para pengecut. Kesulitan hidup itulah yang dapat menyingkap kualitas seseorang; kuat atau lemah, mau menggunakan akal atau malah menyerah. Hidup ini tak lain dari perputaran antara kebahagiaan dan kesedihan, suka dan duka, lempang dan sempit. Hidup tak berarti jika hanya memiliki satu warna.

Dulu orang-orang berkata, "Karena ada lawannya sesuatu menjadi tampak dan teruji. Makanan disebut manis kalau ada yang pahit. Tidak dapat dirasakan enaknya yang manis tanpa merasakan tidak enaknya yang kecut."

Barangkali akan lebih bermanfaat jika di sini kita menuangkan tawaduk. Ia berkata, "Setiap kali berceramah, saya selalu mengutip ayat-ayat Al-Qur’an dan melengkapinya dengan ucapan para filsuf dan ahli hikmah. Itu membuat saya tenang. Saya juga sering mengetengahkan ilustrasi dan perumpamaan menarik yang diambil dari kehidupan sehari-hari, yang tiap kali saya mengingatnya batin dan jiwa saya menjadi tenang."

"Diantara perumpamaan itu adalah, kehidupan sehari-hari kita bagaikan gelas yang setengahnya berisi air, sedang separuhnya lagi kosong. Kamu tidak bisa menghukuminya bahwa ia penuh seluruhnya atau kosong seluruhnya. Demikian pula manusia. Kamu tak akan menemukan hidup mereka penuh seluruhnya atau kosong seluruhnya. Tetapi, setiap kita mempunyai jatah kebahagiaan dan kesedihan. Oleh sebab itu, seseorang merasa bahagia atau sedih sesuai dengan persepsinya kepada gelas itu. Jika ia melihat kepada separuhnya yang berisi air, ia akan bahagia dalam hidupnya. Jika ia melihat kepada separuhnya lagi yang kosong, ia akan berduka dalam hidupnya.

"Begitulah saya membiasakan diri. Jika jiwa saya terdorong untuk mengeluh, saya segera mengingatkan diri bahwa hidup ini tidak sepenuhnya kosong, tetapi separuhnya lagi dipenuhi air. Maka hilanglah keluh kesah dan kesedihan."

# # # # #

Harmoni Keluarga

Sejak dulu hingga kini, dimana-mana terdengar nyanyian merdu tentang keindahan hati seorang ibu. Kisah kehebatannya ramai dibicarakan melampaui batas samudera dan pegunungan tinggi sebagai sesuatu terbaik yang hadir di muka bumi. Ibu yang do’anya menembus langit, yang ratapannya jauh lebih dahsyat dari kekuatan raganya, yang suara hati menjadi harapan bagi siapapun yang pernah bermukim dalam rahimnya dipuja dengan amat sangat oleh mereka yang pernah merasakan kehangatannya.

Ibu sebegitu istimewanya. Meski bukan kekasih Tuhan, tetapi dari setiap ibu lahir manusia-manusia pengisi kehidupan ini. Ibu, betapa letakmu sebegitu tinggi di hadapanNya hingga surga yang dijanjikanpun jua terletak pada kaki yang menopangmu. Namun ibu, betapa bahagianya mengetahui semua keindahan itu dilengkapi sempurna dengan cinta yang terbagi. Untuk ayah, juga kami anak-anakmu.

* * * * *

Ayah. Bapak atau Pap biasa kami memanggilnya di rumah memang hanya seorang lelaki biasa. Namun bagi kami sekeluarga, sikap bertanggung jawab yang dimilikinya menunjukkan betapa derajat ia tak kalah oleh ketinggian panglima manapun dalam kehidupan ini. Bahunya memang tak sekekar atlet bina raga, kemampuan berpikirnya jua tak secerdas para professor peneliti, namun ia, dalam dirinya tersimpan kekuatan besar yang bak pancaran sinar matahari akan selalu rutin bersinar pada bumi.

Sebagaimana matahari, Pap kadang bersinar begitu terik. Tegas, namun bukan tanpa tujuan. Ia menyinari begitu panas, menyengat untuk menyemangati kelancaran perjalanan kami anak-anaknya meniti kehidupan. Dengan ketelitian ia tunjukkan banyak hal yang kadang tak nampak dan terlewati begitu saja karena fokus pikiran kami yang lemah. Cara itu kami terima, cara itu kami banggakan meski sayang ternyata seperti juga kehidupan, cara itupun berubah. Matahari tak selamanya bersinar terik, Pap pun berlaku demikian. Bak matahari, berkali-kali pancaran sinar yang pap beri adalah sinar hangat dan redup. ”Coba memberi kenyamanan”, penjelasan Pap pada kami yang ternyata ampuh menenangkan perasaan atas gejolak keadaan yang dihadapi terutama disaat pubertas menghadang. Hingga kemudian –sebagaimana juga matahari kerap tertutup awan–beberapa kali Pap bahkan tak menampakkan diri sama sekali. Tak memberi cahaya dan membiarkan kami anak-anaknya menghadapi sendiri hembusan angin kehidupan yang dingin. Sangat dingin!

Pada beberapa waktu ketika Pap menghilang dan tak nampak sebagai pemecah masalah yang kami nantikan, saat itulah kami sadar bahwa Pap bukanlah seseorang yang selalu bisa diharapkan untuk selalu menjadi bagian kehidupan kami. Kami harus mampu memecahkan masalah sendiri dan tidak selalu bergantung padanya. Anehnya saat satu persatu masalah usai –lagi-lagi seperti matahari, Pap muncul dari balik awan tempat ia bersembunyi sambil tersenyum. Ternyata Pap sedang memberi pelajaran berharga tentang kehidupan pada kami. Tentang hidup sesungguhnya. Bahwa panas, sejuk, dingin, lembab, basah, dan kering adalah bagian kehidupan yang akan dihadapi semua orang. ”Hiduplah dalam kenyataan sebenarnya”, Pap memeluk kami penuh kerinduan. Betapa bahagia dan bersyukurnya kami…

Dari semua bentuk kehidupan, hal yang terindah di dalamnya bukanlah panorama alam yang terlihat oleh mata, bukan sukses karir yang dibangun dari dasar, bukan juga saat bercengkrama bersama kekasih yang tanpa ikatan sah. Keluarga harmonis yang saling mendukung dan berbagi apa adanya adalah hal yang tak ternilai dalam hidup ini. Di dalam keluarga harmonis gubahan nilai kehidupan menghadirkan begitu banyak cerita yang terbentuk oleh untaian do’a ibu yang senantiasa melindungi, bimbingan seorang ayah yang begitu cermat, dan anak-anak yang mengerti mengapa mereka tercipta. Sungguh betapa bahagia menerima semua anugerah itu. Dan memilikinya, rasanya saya tak perlu membayangkan bagaimana nikmatnya berada di surga.

Salam,

Hary Lasmana