Entries from July 2007 ↓

Dan damai di bumi!

Dua minggu ini, dalam waktu senggang di dalamnya, tanpa sadar ternyata saya melaluinya bersama film – film mengagumkan. Sebutlah The Terminal, Patch Adam, The Pianist, Life is Beautiful, The Last Samurai dan beberapa karya klasik semacam Oliver! dan The Sounds of Music. Meski beberapa diantara film itu sebenarnya telah berulang kali saya tonton, hanya saja –senangnya saya, kali ini beberapa diantaranya baru benar – benar rampung saya nikmati hingga title credits di penghujung film tersebut. Semua selesai, benar – benar selesai! Tidak ada cerita terputus karena tertidur saat film berputar, tidak juga ditinggalkan karena gangguan yang muncul secara tiba – tiba, apalagi karena pilihan hati yang tergoda untuk menulis. Semua penghambat itu tiada.

Diantara beberapa film itu, sebutlah dua karya yang menarik perhatian diri ini karena apik penceritaan dan kuatnya acting pemain., yaitu The Pianist dan Life is Beautiful. Kedua film ini memiliki latar belakang kisah yang sama, yaitu tentang kehidupan penuh penderitaan orang – orang Yahudi semasa Perang Dunia yang berada dalam wilayah taklukan Jerman yang di pimpin Adolf Hitler. Penderitaan dan kehidupan tanpa harapan mereka terima akibat perlakuan penindasan, diskriminasi, penganiayaan, hingga pembunuhan. Saat itu, apapun dapat dilakukan oleh tentara Nazi terhadap orang – orang Yahudi semau mereka tanpa perasaan. Siapapun orang Yahudi itu, semuanya diperlakukan sama.  Semena – mena dan tanpa pertimbangan apapun. Begitulah film ini mengiringi kehidupan tokoh utama selama lebih dari dua jam.

Terlepas dari kekuatan cerita, penggambaran tokoh, akting pemain, tata suara, nilai artistik, dan segala macam hal yang membuat film ini menjadi begitu menarik, satu hal yang membuat saya merenung kehidupan darinya adalah betapa kesombongan selalu memberikan kesengsaraan. Melalui garapan tangan dingin sutradaranya, film ini secara langsung menggambarkan bagaimana terjadinya penindasan suatu kaum hanya karena berbeda dari yang lain. Sungguh tragis dan kejam.

Sulit membayangkan dan menerka jalan pikiran manusia memang. Meski siapapun tahu bahwa hidup damai begitu indahnya, kerukunan dan toleransi yang terjaga menciptakan suasana nyaman, juga faktor kebahagiaan adalah salah satunya mampu hidup berdampingan bersama yang lain, namun pada kenyataannya selalu saja terjadi pertikaian. Terus terjadi hingga kini.

Pada media massa yang terbit kemarin, tertulis di dalamnya dua faksi terbesar di Palestina Fatah dan Hamas terus bersitegang. Israel yang adalah kaum Yahudi yang pernah merasakan penindasan dan diskriminasi dari Nazi pada perang dunia ternyata tidak juga belajar dari pengalaman sejarah mereka. Bahwa perang dan ego yang mendukung penguasaan wilayah secara otoriter hanya meningkatkan kebencian dan takkan pernah menyelesaikan masalah. Duh! Seandainya saja saya tidak melihat kenyataan perlakuan kaum Yahudi terhadap warga Palestina yang juga berhak atas Zion di Israel tentu saya akan bersimpati pada penderitaan leluhur mereka yang mengalami kehidupan tragis saat perang dunia di daerah yang dikuasai Nazi.

Di Irak, karena alasan rezim otoriter yang berkuasa, Amerika dan Sekutu merasa berhak menyerang dan menguasai wilayah yang penuh dengan minyak itu. Dan atas alasan yang sama sedang merencanakan hal yang sama ke Iran, negara – negara Amerika Latin yang berseberangan politik, negara – negara sosialis dan komunis yang menentang demokrasi, dan mungkin juga negara kita yang ingin maju dan berkembang secara mandiri. Semua selalu tentang kekuasaan dan penguasaan faktor ekonomi meski dengan dalih atas nama kemanusiaan dan kebebasan rakyat.

Ego dan kesombongan para penguasa selalu membebani siapapun yang berada di bawahnya. Mungkin karena itulah, saat membaca satu slogan pada spanduk kampanye calon gubernur Jakarta “Serahkan pada ahlinya!” saya jadi tersenyum. Ya, memang segala sesatu harus diserahkan pada ahlinya untuk maju dan berkembang. Tapi kalaupun masih diberi pilihan, saya tentu saja lebih memilih seorang amanah yang bertanggung jawab pada diri dan Tuhannya.

Calon pemimpin harusnya dihadiahi kain kafan dan batu nisan sebelum ia memimpin, dan tidak hanya sekedar ucapan selamat juga doa kebaikan. Siapapun, sebelum ia duduk dan memerintah perlu untuk selalu diingatkan bahwa kelak pada saatnya menutup usia, segala perbuatannya akan dipertanyakan oleh Tuhan yang menciptakannya. Suatu hal yang nampaknya kini telah banyak orang lupakan.

Kehidupan kini nampaknya dipenuhi begitu banyak kepalsuan. Alih – alih tersenyum, ternyata dalam hati menyiapkan tangan mengepal siapa memukul, agama sekedar menjadi simbol, norma terkikis, ke-aku-an ku jadi terasa begitu menonjol. Keblinger orang – orang terhadap dunia ini. Begitu semangat menonjolkan ego hingga apapun yang membuatnya mampu memeluk dunia, itu yang dicari. Tak peduli main sikut, main culas, atau jilat – menjilat segala cara adalah boleh… dan sayangnya yang diberi perlakuan tak jauh berbeda malah mengangap itu adalah perwujudan rasa sayang. Ah edan memang! Padahal seseorang yang benar – benar menyayangi takkan menjerumuskan kekasihnya dengan pujian sejuta kata dan wangi parfum yang membuat terlena. Terkadang cubitan keras perlu diberikan untuk mengingatkan dari keindahan mimpi dan kesunyian fatamorgana yang jarang disadari karena membius perlahan hingga membuat siapapun berhalusinasi.

Dimanapun posisi kita berada, entah di dasar, di tengah, atau bagian yang lebih tinggi, alangkah bahagianya jika kita mampu mengenali segala yang kita temui sebagaimana adanya dan bukan angan – angan. Hidup dalam dunia nyata, dengan pikiran sederhana, keinginan sederhana, dan penyerahan total pada Sang pencipta, rasanya jauh lebih baik. Disana tersedia keajaiban hidup, dimana kenyataan pahit dan manis sama enaknya karena keadaan hati yang terbuka.

Semoga selalu ada damai di bumi!

Salam,

Hary Lasmana

the lion sleep tonight Lyrics

Lala kahle				[Sleep well]

In the jungle, the mighty jungle
The lion sleeps tonight
In the jungle, the mighty jungle
The lion sleeps tonight

(Chorus)
Imbube

Ingonyama ifile				[The lion's in peace]
Ingonyama ilele				[The lion sleeps]
Thula					[Hush]

Near the village, the peaceful village
The lion sleeps tonight
Near the village, the peaceful village
The lion sleeps tonight

(Chorus)

Ingonyama ilele				[The lion sleeps]

Hush, my darling, don't fear, my darling
The lion sleeps tonight
Hush, my darling, don't fear, my darling
The lion sleeps tonight

He, ha helelemama			[He, ha helelemama]
Ohi'mbube				[lion]

(Chorus)

Ixesha lifikile				[Time has come]
Lala					[Sleep]
Lala kahle				[Sleep well]

Near the village, the peaceful village
The lion sleeps tonight
Near the village, the peaceful village
The lion sleeps tonight

(Chorus)

My little darling
Don't fear, my little darling
My little darling
Don't fear, my little darling

Ingonyama ilele				[The lion sleeps]

harta yang berkah

Saya ingat bagaimana orang tua selalu berpesan dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup, "Bekerja mencari harta sebanyak apapun boleh - boleh saja, namun satuhal yang paling utama yang harus menyertainya adalah harta yang didapat itu harus membawa berkah!". Rasanya, nasihat itu ada benarnya.

Dalam menjalani hidup yang penuh rahasia ini, berkah memang sangat diperlukan. Ia adalah dasar ketenangan dan kenyamanan hidup kita. Dengan keberkahan, setidaknya siapapun yang merasa kekurangan harta akan tetap mampu bersyukur atas rejeki yang diterimanya, disaat hidup berkecukupan, maka kita akan mampu memanfaatkan sebaik mungkin rejeki itu. Begitupun saat memiliki kelebihan harta, hidup berkelimpahan, maka yang ada adalah kita akan senantiasa ingat pada orang – orang yang kekurangan dan membantunya. Kita akan dengan ikhlas menderma sebagian harta kita yang juga merupakan hak mereka. Sungguh indah bukan?

Dan berbicara mengenai keberkahan harta –hal yang sering kita tapikkan ini, sebenarnya dampaknya amatlah besar tanpa kita sadari. Telah banyak contoh dan pengalaman keseharian yang kita temui dalam kehidupan, secara tak langsung, keberkahan harta benda terkait juga dengan kebahagiaan hidup yang kita jalani. Dalam berkeluarga misalnya, pernahkah Anda temui sebuah contoh keluarga yang memiliki harta tidak berkah? Keluarga yang meski hidup dalam gelimang harta berlebih dan cukup secara lahir atas segala kebutuhannya, namun pada kenyataannya sulit menjalani hidup dalam damai. Seolah selalu saja ada masalah yang datang. Seringkali hanya karena hal sepele, antar sesama anggota keluarga jadi sering bertengkar, timbulnya permusuhan satu sama lain, hubungan antar anggota keluarga berjarak, kurangnya perhatian, bahkan tak jarang lunturnya kasih sayang dalam keluarga tersebut. Jika keadaan seperti ini yang terjadi, sebandingkah nilai bahagia dengan ukuran kebahagiaan yang dikorbankan?

Merujuk pada contoh tersebut, tak salah jika orang tua saya berulang kali menasihati perihal asal muasal harta, serta penggunaannya dalam keseharian. Ia harus berasal dari sumber yang halal dan dipergunakan untuk kebaikan. Bagi kebahagiaan diri sendiri, juga kebahagiaan orang lain. Karena disanalah inti keberkahan, sumber kebahagiaan memiliki harta itu terletak.

Berbicara soal keberkahan, ada satu kisah yang sempat saya dengar dalam keindahan keluarga yang selalu mengharap berkah harta yang dimiliki. Sebutlah Pak Udin, seorang Haji yang sukses membangun toko material dan bahan bangunan di desa. Bapak tiga anak ini suatu kali tanpa di duga mendapat lamaran seorang tokoh masyarakat untuk menikahi Halimah, seorang janda kembang beranak satu di desa tersebut. Tokoh masyarakat mengajukan lamaran ini dengan berdasar pada alasan untuk menghindari fitnah karena kebutuhan keuangan anak janda tersebut seringkali dibayarkan oleh sedekah Pak Udin. Pak Udin yang mendengar lamaran itu tentu saja kontan ia kaget. Bukan apa - apa, tak pernah terbayangkan bahwa hal itu akan terjadi. Seraya berpikir, ia meminta waktu pada si pelamar, ”Beri saya waktu sekitar satu minggu untuk memikirkan hal ini”.

Hingga seminggu kemudian, datanglah kembali tokoh masyarakat itu pada Pak Udin menagih jawaban atas lamaran ia sebelumnya.

Berusaha serendah mungkin, untuk tidak menyakiti tokoh masyarakat itu Pak Udin secara jelas menolak. ”Saya hidup dengan istri saya selama dua puluh tahun lebih. Suka dan duka saya lalui bersama istri saya dan anak – anak. Setelah berulang kali jatuh bangun dalam usaha, rupanya Alloh mendengar dan mengabulkan permintaan kami hingga seperti yang Bapak lihat kini. Hanya dengan beberapa tahun saja usaha material saya berkembang pesat dan maju. Jika dalam beberapa tahun ini saya menikmati kesenangan atas semua nikmat harta yang ada, namun dibandingkan dengan kebahagiaan keluarga saya seutuhnya, perbandingan iu tidaklah sebanding. Karena keluargalah saya maju dan berhasil setelah melalui masa – masa sulit. Dan semua keberhasilan ini adalah juga keberhasilan mereka yang tak mungkin saya korbankan untuk kesenangan saya semata. Saya memang mengakui kecantikan ibu Halimah dan secara naluri laki – laki ingin memperistrinya, namun ada hal lain yang menjadi pertimbangan saya yaitu keluarga yang selama ini mendampingi saya. Maka tanpa bermaksud menyinggung niat Bapak, maka saya tidak dapat memenuhi lamaran Bapak. Untuk menjaga gosip dan gunjingan, maka alangkah baiknya jika anak ibu Halimah menjadi anak asuh saya dan bila perlu menjadi anak angkat saya untuk dididik dan dibimbing oleh keluarga kami.” Jawaban itu dengan penuh keyakinan di ucapkan Pak Udin pada tokoh masyarakat itu untuk menolak lamaran pada dirinya secara halus.

Begitulah dunia ini. Harta, jika berpadu dengan hati yang bersih, Ia dapat memberi ketentraman tidak hanya bagi pemiliknya tetapi juga lingkungan disekitarnya. Manfaatnya sangat luas bagi mereka yang mampu menjalankan amanat, yang selalu ingat bahwa sebagian dari harta kita juga ada hak dari orang lain yang berkekurangan.

Ya Alloh berkahilah kami selama bulan rajab dan sya’ban, dan panjangkanlah umur kami hingga Ramadhan…

Salam,

Hary Lasmana

sandaran

Kaki kita jika dipaksa berjalan jauh pasti akan merasakan kelelahan. Di saat itu terjadi, siapapun orangnya, pastilah akan mencari tempat duduk untuk meredakan pegal sekaligus ketegangan di otot kaki. Syukur – syukur jika saat duduk bisa sambil bersandar pada dinding, tiang, atau apapun yang mampu menahan bobot tubuh kita. Setidaknya dengan duduk entah hanya sebentar atau lama, rasanya ketegangan dan capek dapat berkurang. Jika siap, kitapun bisa kembali lanjut berjalan.

Terbayang bukan? Begitu pentingnya istirahat… kaki disaat lelah berjalan, maka untuk memulihkannya perlu duduk utnuk istirahat. Dan tak sekedar menghilangkan pegal, istirahat juga menjadi proses pengumpulan sisa tenaga dan sekaligus membangun stamina yang telah berkurang. Nah jika pada lelahnya kaki kita melakukan hal seperti itu, pernahkah terbayang seandainya dalam perjalanan hidup ini diri kita mengalami kelelahan jiwa? Saat ketika perasaan meradang karena lelah menjalani hidup yang begitu keras dan perasaan hati ingin sekali berhenti berjalan untuk beristirahat. Namun sayangnya, ternyata kehidupan adalah perjalanan tanpa henti dan kita harus terus berjalan. Bagaimana jika itu yang terjadi pada diri kita? Apa tindakan terbaik yang bisa dilakukan? Cukupkah dengan duduk dan beristirahat, merenunginya, atau kita lebih memilih tetap berdiri sambil bersandar karena takut jika saat duduk jadi enggan melangkah lagi…

Setiap saat dalam hidup pasti kita akan mengalami fase yang demikian. Entah saat mengejar cita - cita penuh pengorbanan namun tak kunjung tercapai hingga akhirnya kandas di tengah jalan, saat mencoba membangun usaha berkali - kali jatuh bangun namun tak juga meraih sukses, meniti karir yang sia – sia karena tak juga ada peningkatan jabatan, dan masih banyak lagi episode hidup lain yang terkadang membuat kita lelah dan enggan mencoba dan belajar dari kegagalan. Pengalaman buruk itu, merasakan dan memikirkannya berulang kali tak jarang membuat air mata kita mengalir. Sedih, juga kecewa. Hingga tak jarang banyak yang tersesat, terjerumus ke dalam kegamangan dan tak tahu ke mana tujuan hidupnya. Begitu berat beban dipikul sendiri.

Meski tak semua seperti itu, beruntung bagi sebagian yang lain, mereka yang juga menderita kelelahan jiwa masih memiliki tempat bersandar dan mampu memilih secara tepat pelariannya. Hadirnya kehadiran orang - orang terkasih yang mampu memberi dukungan dan perhatian untuk tetap bertahan hingga dirinya bangkit kembali. Keluarga, lingkungan, sahabat, dan orang – orang lainnya yang memungkinkan siapapun yang tengah tertekan merasa nyaman dan pulih dari kelelahan diri.

Namun demikian, satu hal yang perlu diingat adalah, sadarkah kita bahwa tak selamanya orang – orang terkasih yang ada di sekeliling kita dapat selalu bersama kita setiap saat. Bilamana mereka sakit, kesibukan yang tak dapat ditinggal, atau perginya mereka menghadap Sang Maha Pencipta, saat mereka tiada, lalu pada siapa kita bisa mencari dukungan? Dapatkah kita menyandarakan diri pada ketidakpastian manusia?

Menerima hal itu, mulai kini, alangkah baiknya khusus bagi siapapun yang terbiasa bersandar pada orang lain dan memiliki rasa ketergantungan mulai melepaskan diri secara perlahan. Manusia dengan segala ketidak pastiannya cepat atau lambat pasti akan sirna. Pernahkan terbayang ketika tiada seorangpun dapat membantu, entah keluarga tempat kita biasa berlindung tercerai berai, orang - orang terkasih pergi, sahabat telah tiada, harta yang dimiliki perlahan habis, jabatan, karir, dan semua tempat kita bersandar itu tiada, ke mana lagi kita dapat bersandar? Tak pantas rasanya jika semua ketidak pastian itu menjadi tempat sandaran diri kita yang utama. Lalu jika bukan mereka lalu siapa…?

Tuhan adalah jawabannya.

Satu – satunya yang abadi dalam hidup adalah Ia, pencipta segala yang ada dan di langit dan di bumi. Tuhan yang kekal dan paling mengetahui kebutuhan hambaNya. Jangan berpaling, serahkanlah segala urusan padaNya. Ia yang Maha Mendengar, Maha Memberi, dan Maha Mengetahui. Saat ini, ingatkah diri kita kapan terakhir berdialog denganNya, curhat kepadaNya? atau jangan - jangan malah kita lupa kalau Tuhan itu tempat seharusnya kita bersandar? Jangan jauh – jauh, karena Ia dekat dari kita, sangat dekat bila kita mendekat, dan terasa jauh bila kita menjauh…

Salam,

Hary Lasmana

delik perjalanan

Mungkin sudah sifat manusia yang lemah untuk selalu mencari pembenaran atas dirinya. Dimana – mana, di banyak tempat dan kesempatan tak jarang terdengar suara sumbang atas keadaan yang dipaksakan menjadi benar. Para karyawan yang telah bekerja bertahun – tahun tak kunjung mengalami kenaikan jabatan, siswa yang belajar dengan rajin ternyata gagal dalam ujian, orang tua yang meradang atas sikap kasar anaknya yang dibesarkan dengan kasih sayang, dan banyak lagi cerita lain yang menghias kehidupan ini. Semua melengkapi runtutan kisah dalam sejarah kelam kehidupan kita yang tak pernah tidak merasakan pahitnya kegagalan.

Pernahkah dalam keadaan demikian kita bersyukur dan mengakui bahwa kebenaran absolut adalah milik Tuhan pencipta semesta jagad raya ini? Yang menuliskan garis kehidupan sesuai dengan kodrat yang diciptakannya. Pernahkah kita dengan ikhlas mengakui secara terbuka bahwa Ia lebih tahu akan kebutuhan diri kita? Atau masih ingatkah kita kapan saat terakhir kita dirundung masalah lalu memohon padaNya untuk diberi jalan keluar, tetapi saat masalah tersebut sirna, tiba – tiba kita menjadi kembali lupa padaNya? Lihat, betapa tidak adilnya diri kita akan pada Sang Pencipta.

Akal manusia sangat terbatas. Apa yang kita anggap benar hari ini dapat menjadi salah di keesokan hari, dan apa yang salah hari ini pun bisa menjadi benar di kemudian hari. Seperti siang dan malam, segala yang ada di atas bumi berputar dan berganti. Tak ada yang tetap.

Menatap kehidupan yang penuh misteri, seorang sahabat yang tengah memulai hidup baru menyongsong pagi sebagaimana adanya. Ia yang mempercayai bahwa rejeki bagi setiap insan telah digariskan sejak sebelum kelahirannya ke dunia berkata, ”Selama kita berusaha, berdo’a, dan menyerahkan segala hasil padaNya, maka keberkahan atas rejeki itulah yang kita dapatkan. Bukan sekedar banyak, tetapi cukup, bukan jumlahnya yang sedikit, tetapi rasa syukur atas segala yang diterima”.

Betapa mulianya jika saat ini kita berada di posisi atas, namun tak henti menyemangati diri untuk terus ingin menapaki anak tangga menuju puncak lebih tinggi. Meski satuhal yang perlu diingat adalah bahwa bukan sesungguhnya keberhasilan tidak diukur dari seberapa tinggi tempat kita berada, tetapi pada seberapa besar keberanian kita untuk terus menaiki anak tangga menuju puncak dan tak gentar sedikitpun seandainya terjerembab kembali, jatuh ke bawah, dan menerima kenyataan tanpa akhirnya berpasrah diri. Jika ternyata kita mampu seperti itu, pasti rasanya nyanyian angin lembut yang menyapa rerumputan akan terdengar begitu merdu.

Salam,

Hary Lasmana