Entries from August 2007 ↓

Renovasi dari Sang Pencipta

Gedung kampus univ tempat saya bekerja sedang di renovasi untuk dibangun perluasan dan ekstensi gedung baru. Hampir sebulan sudah kaki ini harus berjalan sekitar 100m lebih panjang dari biasanya. Dan mungkin hingga setahun ke depan hal seperti ini akan menjadi rutinitas. Pasrah deh!

Karena ruang tempat saya berada berbatasan langsung dengan proyek pembangunan, maka hampir sepanjang hari di dalam ruangan terdengar gema pukulan martil besar menghancurkan tembok dan pilar menjadi puing. Jika begitu riuh, biasanya saya pergi ke jendela mencari tahu "Apa sih yang dikerjakan para kuli di luar sana?". Dan terlihatlah, pilar - pilar yang hancur, pagar pembatas roboh, dan hari ini satu - satunya balkon yang menghadap pintu masuk utama telah hancur berkeping - keping. Entah esok apa lagi yang akan hancur untuk dibangun kembali.

Pagi ini menyaksikan kehancuran sebagian sisi gedung, saya jadi berpikir, "Betapa ikhlas dan mulia bangunan yang didirikan manusia ini…". Perasaan di hati muncul membandingkan diri dan banyak kisah manusia yang terdengar menjalani kehidupan dengan keterpaksaan. Manusia yang mulia justru seringkali kalah dari bangunan yang tak bernyawa. Aneh memang…

Setiap gedung yang tengah di renovasi, pasti beberapa bagiannya dihancurkan untuk diperbaiki. Entah pilar, satu sisi tembok, taman hijau, atau bagian - bagian lain yang sekiranya menghambat atau tidak diperlukan akan dihancurkan demi perbaikan dan perluasan fungsi maksimal gedung. Demi keamanan dan kenyamanan penggunanya. Begitulah manusia bekerja sesuai perhitungan dan tujuan jangka panjang. Jika manusia saja berbuat demikian, bagaimana dengan Tuhan? pencipta seisi alam…

Sesungguhnya Tuhan berbuat hal sama pada kita. Entah pagi, siang, sore, atapun malam, Tuhan selalu merenovasi dalam diri ciptaannya, meski sayangnya, sedikit sekali manusia yang sadar akan tujuan jangka panjang Tuhan yang selalu melakukan renovasi itu. Ada yang direnovasi dengan cara dihambat usahanya, ada yang diarahkan dalam kesulitan hidup berupa kemiskinan, juga ada pula yang berulang kali mendapat kegagalan, yang sayangnya cara Ia bekerja begitu sulit kita pahami hingga efek negatiflah yang timbul dalam diri kita saat menerima dan menjalani prosesnya. Padahal jika kita mau sabar dan berlapang dada, sesungguhnya Tuhan tengah mempersiapkan sesuatu. Entah kehidupan yang lebih baik, peningkatan karir, masa depan gemilang, atau apa saja yang tak pernah hadir dan ada dalam bayang pikiran kita. Tuhan bekerja sebagaimana para pekerja proyek itu, menghancurkan untuk membangun yang lebih baik jika kita senantiasa sabar, berpikir, dan tak patah semangat.

Saya jadi teringat kisah seorang teman yang suatu pagi gagal berangkat ke kampung halaman karena terlambat tiba di stasiun. Pagi itu suhu udara yang dingin dan lembab karena hujan semalaman membuat tidurnya begitu pulas hingga iapun bangun kesiangan. Kalau saja reminder di HP tidak berbunyi keras berulang – ulang, mungkin pagi itupun ia tidak bangun. Akhirnya setelah sadar dan bangun, bergegaslah ia mandi dan berangkat. Anehnya, meski terburu – buru dan berusaha tiba secepatnya, ia tetap saja tiba dengan telat di stasiun dan kereta yang akan ditumpanginya pun telah pergi. Merasa kecewa, pagi itu keinginan bertemu sanak saudara di kampung halaman jadi tertunda hingga menunggu kedatangan kereta yang baru akan kembali berangkat esok pagi. Kesal seharian, ia mengurung diri seharian dalam rumah. Dan malamnya, saat menyaksikan berita di televisi, sontak betapa kagetnya ia karena kereta yang seharusnya di tumpangi tadi pagi mengalami kecelakaan dan merenggut beberapa korban jiwa dan cedera. Seraya mengucap syukur ia berkata, "Jadi ini maksud Tuhan membuat saya bangun kesiangan pagi tadi, supaya saya bisa selamat bertemu keluarga meski di lain hari".

Ya begitulah cara Tuhan bekerja pada diri manusia. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada langkah di depan. Dan mengakui hal itu, alangkah baiknya mulai kini seandainya saat berjalan kaki kita tersandung sesuatu hingga terjatuh, bersyukurlah! Ingat akan betapa beruntungnya kita kelak. Mungkin saja tersandungnya kaki kita itu adalah ganjalan penyelamat diri kita untuk terhindar dari terperosok jauh lebih dalam pada lubang yang menghadang di depan. Kita tak pernah tahu bukan?

Salam,

Hary Lasmana

Writers Quotes

Kepada siapa saja yang bermimpi menjadi penulis, saya berteriak pada Anda, "Ya, kamu bisa! Ya, kamu bisa! Jangan dengarkan mereka!". Saya tidak bisa menulis dengan baik, tetapi telah berhasil melawan sesuatu yang mustahil. Menulis itu mudah, menyenangkan dan siapa saja dapat melakukannya.

~Linda Stafford

Berkaca Pada Langit

Semalam saat pulang menuju ke rumah, tiba - tiba hujan gerimis turun dan tak lama semakin deras. Saya yang awalnya berjalan dengan santai untuk menikmati udara lembab malam, perlahan mulai mempercepat langkah hingga setengah berlari menghindari kucuran air yang entah berapa banyak jatuh dari langit itu. Syukurlah jarak menuju rumah tidak jauh. Dalam hitungan menitpun akhirnya tempat yang dituju tercapai meski dengan sedikit titik basah menyebar tak merata pada pakaian yang saya kenakan.

Entah kapan terakhir hujan turun di sini, rasanya berbulan - bulan lalu pada di awal tahun 2007 namun saya sendiri tidak dapat memastikan tepatnya. Dan merasakan kesejukan turunnya air hujan yang begitu tenang, hadir rasa syukur dalam diri, setidaknya di tengah ketidak terdugaan hidup yang djalani selalu ada sesuatu yang membuat aliran ritme kehidupan tidak monoton. Kedatangan hujan yang tak terduga seperti malam ini misalnya.

Tak tahu mau berbuat apa, akhirnya saya memandang ke luar, ke langit malam yang nampak begitu gelap oleh udara basah air hujan. Terdengar dari luar sana irama lagu tanpa pemain, riuh namun tenang. Keadaannya sungguh berbeda dengan malam sebelumnya dimana kemarin bulan berbentuk sabit bersama kilau bintang gemintang menghias penuh cakrawala. Namun bagi saya, malam ini sama saja tak kalah indahnya. Setiap keadaaan memiliki keindahannya tersendiri, dan langit akan selalu memberi pemandangan yang berbeda sebagaimana lakon keadaan dalam hidup ini.

Tak selalu menjelang pagi di ufuk timur terbit matahari hangat, terkadang baru siang kita melihat matahari, atau bahkan seharian itu matahari tidak terlihat sama sekali. Siang yang terik terkadang terhalang awan tebal, sore terkadang memancarkan aura merah yang memanggil para capung keluar dari persembunyiannya. Di langit malam nan gelap kadang muncul bulan, bintang, atau meteor berekor yang begitu indahnya. Atau juga malah mungkin kita tak bisa melihat satu apapun benda di langit sana, seperti malam ini misalnya. Begitulah langit, begitu juga kehidupan. Keadaannya selalu silih berganti.

Dalam hening, menatap hujan yang turun dari langit malam ini, merasakan aura ketenangan malam yang sejuk dan membuatorang - orang tertidur lelap dalam buai mimpi, saya jadi hendak menangis. Ternyata memang benar manusia itu sungguh mahluk yang lemah. Entah berapa banyak secara sadar maupun tidak, kita terlalu sering mengaduh dan mengeluh. Selalu kurang, salah, bahkan merasa kalah. Dalam senang, dengan mudahnya kita terlena, saat masa sulit datang, berulang kali hati kita menjerit. Seandainya saja setiap orang mau berkaca pada langit, bukankah setiap keadaan yang berbeda adalah anugerah? Tak mungkin kita bisa merasa lapang kalu tidak pernah merasakan gegap gempita kesempitan. Jika saja di saat senang kita tidak terlena, mungkin datangnya saat sulit selalu ada sesuatu yang akan dengan mudah menghibur. Segala sesuatu akan terasa begitu indah jika kita mau menerima seperti apa adanya.

Langit malam ini telah menjadi guru saya. Ia mengajarkan bahwa perubahan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, tetapi dinikmati kedatangannya. Langit, kehidupan esok dapat saja tergambar dari keadaan di atasnya. Seperti yang terjadi di malam ini, air hujan yang turun pasti akan memunculkan kehidupan baru yang berbeda esok hari. Entah bunga baru akan mekar, rerumputan tumbuh menjadi tempat bermain serangga, lubang di jalan menampung kubangan air menjadi sarang nyamuk atau katak liar, atau mungkin saja udara lembab sisa hujan malam ini akan memunculkan inspirasi kehidupan bagi setiap insan? Entahlah… Lihat saja esok pagi!

Salam,

Hary Lasmana

Untold Story: Bapakku

Tak pernah jemu, berulang kali Bapak menceritakan kegetiran hidup yang pernah dialami sepanjang kehidupannya pada saya. Mulai dari terlahir dan hidup dalam keluarga broken home, tinggal berpindah – pindah tempat agar selalu berada dekat bersama ibu yang disayangi, Bandung – Jakarta – Bogor, di ketiga kota itulah Bapak tinggal dan tumbuh, sambil terus memperjuangkan cita – cita menjadi seorang dokter yang meski kemudian akhirnya harus kandas di tengah jalan. Bapak tak pernah tamat SLTA karena tiada dukungan ekonomi, bimbingan, dan juga cibiran negatif dari lingkungan tempat tinggalnya. Dan untunglah dengan bekal jiwa besar, Bapak menerima kenyataan itu dengan hati terbuka. Bapak tak pernah menyesal dengan apa yang telah terjadi, bahkan sebaliknya, ia bersyukur menerima semua keadaan itu.

Lima puluh tahun lebih Bapak terlahir ke dunia ini, tak sedikit pengalaman hidup yang perlahan membuat dirinya besar sebagai seorang manusia dalam garis kehidupan yang serba terbatas dan penuh perjuangan. Dan sebagaimana seorang yang bertanggung jawab, Bapak selalu berharap agar kelak anak – anaknya tidak merasakan pahit pendeitaan hidup sebagaimana yang pernah dirasakannya. Itulah sebab mengapa tak  henti – hentinya Bapak membanting tulang menutupi kebutuhan keluarga sambil sesekali bercerita pengalaman masa lalu pada kami anak – anaknya sebagai penyemangat dan pembanding kehidupan yang kini tengah dijalani.

”Saya pernah gagal meraih cita – cita. Lulus SLTA tidak tamat hanya karena tiada biaya dan tak tahu harus mengadu ke mana. Saya tidak ingin hal seperti itu terulang kembali pada keluarga saya. Dan kalian anak – anak, saat ini kita memang tidak mampu, tidak memiliki biaya, namun kalian harus tetap sekolah! Biar bagaimanapun nanti Bapak yang pergi ke sekolah menghadap kepala sekolah. Pokoknya kalian harus tetap sekolah sampai lulus. Hanya itu kewajiban kalian. Soal biaya dan urusan lain – lain kalian tidak usah pikirkan, itu urusan Bapak. Yang penting sekarang kalian cukup belajar dengan baik agar nilai kalian stabil dan syukur – syukur bisa berprestasi”, begitulah sepenggal nasihat yang biasa diucapkan Bapak pada kami anak – anaknya saat mengadukan penagihan biaya sekolah yang tertunggak berbulan – bulan. Bapak selalu menanggapinya dengan tenang dan penuh wibawa. Dan memang benar, seelah itu pada keesokan hari biasanya Bapak akan datang menghadap pihak sekolah untuk menyelesaikan segala urusan yang diadukan. Namun bukan berarti untuk melunasi seluruh tunggakan. Entahlah bagaimana negosiasi Bapak dengan pihak sekolah, yang jelas bagi saya setidaknya setelah Bapak menghadap pihak sekolah maka beberapa bulan ke depan tidak akan penagihan tunggakan langsung oleh tata usaha sekolah pada saya kecuali akan ada ulangan umum.

Mengingat kembali memori di masa lalu, dalam hati kini tersimpan rasa haru atas semua kejadian semacam itu. Dulu, berulang kali sebenarnya saya memendam kekesalan atas jawaban – jawaban Bapak perihal penagihan biaya sekolah yang tertunggak. Keadaan tersebut –jujur saya akui –membuat saya merasa minder dalam lingkungan pergaulan antar siswa. Meski Bapak selalu bersikap tenang dan seolah menyanggupi segala kebutuhan kami, dalam hati kecil saya yang merasakan sendiri hidup penuh keterbatasan keluarga meragukan kemampuan finansial yang ada dalam memenuhi kebutuhan sekolah yang tidak kecil jumlahnya. Namun syukurlah ternyata kekhawatiran itu tidak terbukti, karena kemudian ternyata, kami, empat bersaudara ini berhasil lulus SLTA dari sekolah negeri dengan hasil yang baik dan bahkan salah satu adik saya adalah salah satu lulusan dari sekolah unggulan negeri terbaik yang berada di jalan Salemba Raya. Dan kini, kecuali kakak saya saja yang belum sempat merasakan bangku kuliah selain ketiga adiknya.

”Kalian seharusnya bersyukur memiliki orang tua seperti Bapak kalian. Jarang sekali ada orang tua yang bersedia meluangkan waktu untuk bertukar pikiran atau sekedar bercanda dengan begitu akrab dengan anak – anaknya. Coba bandingkanlah dengan orang tua yang lain, jangankan untuk tukar pikiran, terkadang meluangkan waktu untuk mengobrol pun sulit sekali”, nasihat Mama mengenai figur Bapak yang penuh perhatian pada keluarga itu masih terngiang jelas di telinga.

Dan mengingat semua yang telah lalu, khususnya saat usia remaja, rasanya banyak sekali dosa saya pada orang tua. Terutama dalam hal menyepelekan kemampuan orang tua membiayai pendidikan kami sebagaimana taget Bapak agar minimal anak – anaknya dapat lulus setingkat SLTA. Target yang tidak muluk – muluk mengingat segala keterbatasan yang ada, yang ternyata harapan tersebut menjadi kenyataan meski penuh dengan perjuangan.

Entah berapa banyak perusahaan tempat Bapak bekerja dulu, saya tidak pernah menghitungnya. Berulang kali Bapak berpindah – pindah tempat kerja dan profesi demi keutuhan dan keberhasilan keluarga. Suatu kali menjadi petugas administrasi gudang di pelabuhan, karyawan ekspedisi barang di Singapura, menjadi sopir taksi, sopir pribadi, berdagang kelontong, dan berbagai macam profesi lain digelutinya untuk menafkahi keluarga. Dan seringkali karena keadaan itulah kondisi keuangan keluarga menjadi goyah dan tak jarang membuat banyak orang bertanya – tanya atas bergonta gantinya pekerjaan Bapak, namun tak pernah sekalipun Bapak mengungkapkan alasannya pada orang lain.

Bagi Bapak keluarga adalah prioritas utama dalam hidupnya. Tak ada yang lebih penting dari itu. Entah pekerjaan, ambisi pribadi, apalagi cbiran orang, Bapak tak pernah mau pedulikan demi kebahagiaan dan keberhasilan anak – anaknya. Itulah rahasia yang selalu disimpan erat mengapa Bapak jarang dapat bertahan lama bekerja di suatu tempat.

Terutama disaat menemui keganjilan ataupun kegoyahan pada diri anak – anaknya, khususnya saat memasuki usia remaja, saya ingat betul seringkali Bapak meninggalkan pekerjaan hanya untuk mencurahkan perhatian khusus pada anak – anak yang sedang menghadapi masalah. Bapak menyiapkan dirinya secara penuh untuk mendukung, membantu, dan tak jarang melibatkan diri untuk memberi solusi yang terbaik.

Itulah kenyataan sesungguhnya. Tentang figur seorang lelaki, pemimpin, sahabat, orang tua yang selalu berusaha hadir mengisi setiap bagian perkembangan hidup anak – anaknya. Dengan memimpin secara demokratis, Bapak selalu menjadi tempat kami bertukar pikiran, menampung keluh kesah, bahkan tak jarang menjadi murid dari anak – anaknya secara terbuka. Ya! seorang murid. Bila ada sesuatu yang tidak diketahuinya, tak segan Bapak bertanya walau hanya untuk sekedar meminta informasi, saran, ataupun masukan pendapat. Demikianlah Bapak yang sangat apa adanya.

Merenung pada kisah hubungan keluarga ini, betapa saya bersyukur memiliki seorang Bapak yang penuh perhatian, bersahabat, dan mendidik anak - anaknya secara tidak langsung untuk menjadi guru bagi diri sendiri sekaligus juga tak lupa menekankan untuk selalu rendah hati karena ketidaksempurnaan seorang manusia. Maka pantas rasanya jika ada satu pertanyaan perihal salah satu sahabat terbaik yang saya miliki dalam hidup ini, maka nama yang terucap pastilah nama Bapak. Ia yang menganggap setiap anak adalah bagian dari dirinya, yang tidak sekedar bagian dari keluarga yang utuh, tetapi juga anggota sebuah tim yang harus solid. Bapak, figur pemimpin yang bersahabat tanpa memandang usia dan status, penuh wibawa, tegas, sekaligus juga penipu ulung yang mampu menyembunyikan kesulitan yang tengah dihadapi dari kami anak – anaknya. “Tuhan, semoga saja kelak jika saya memiliki kesempatan untuk memimpin sebuah keluarga, saya bisa meniru segala kebaikan itu”.

Salam,

Hary Lasmana

Nur Baiti

"Baiti Jannati" -Rumahku adalah surga bagiku, demikian rasulullah menggambarkan keindahan dan kebahagiaan rumah tangga yang sakinah di dalamnya. Slogan yang terdengar indah itu mungkin memang layak menjadi mimpi bagi setiap pasangan yang membangun mahligai rumah tangga demi kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat kelak. Dan mungkin atas dasar harapan demikian pula orang tua salah seorang sahabat memberi nama anak perempuan mereka yang lahir 26 tahun lalu dengan nama "Nurbaiti", -Cahaya Rumah (cahaya bagi keluarga di rumah -red) dengan harapan kehadirannya dapat membuat rumah menjadi jauh lebih bersinar dan penuh kedamaian.

Do’a adalah harapan setiap orang tua pada anaknya. Sepertinya petuah itu benar adanya, setidaknya pada diri Baiti (panggilan akrab Nurbaiti) yang saya kenal saat tingkat akhir SMU ini menunjukkan hal itu. Periang, ramah, dan senang membantu siapapun, perempuan bertubuh mungil ini menunjukkan bakti pada orang tua dengan prestasi belajarnya yang tinggi dengan meraih predikat penghargaan siswa dengan kelulusan terbaik diantara teman - teman seangkatannya di pertengahan tahun 1999. "Saya saja bangga dengan prestasinya tersebut, apalagi tentu kedua orang tuanya", ucap saya dalam hati tatkala mengetahui nilai kelulusan ujian nasional saya yang jauh terpaut darinya.

Sejak kelulusan SMU hingga kini, bertahun - tahun kemudian, seingat saya hanya sesekali komunikasi diantara kami terjalin. Satu kali bertatap muka di saat buka puasa bersama di Sarinah beberapa tahun lalu, selebihnya melalui chat via online messenger. Dan memang begitulah nampaknya kondisi kehidupan kota besar, seiring waktu berjalan, rutinitas, kesibukan, membuat setiap orang larut dalam aktifitasnya hingga lupa untuk bersosialiasi dan bersilaturahmi terutama untuk menjaga keakraban antar insan yang telah saling mengenal. Untungnya dengan kecanggihan teknologi yang ada, pembatas jarak bisa teratasi.

Sore ini, mendapat sebuah pesan dalam inbox Friendster dari seorang sahabat lama lain di SMU dulu, terkirim kabar darinya bahwa Baiti, perempuan yang pemalu itu tengah dirawat di rumah sakit akibat penyakit lupus yang dideritanya. Ah berita ini tentu saja mengagetkan saya. Setelah mengenalnya bertahun - tahun, baru kali ini saya ketahui ternyata penyakit lupus itu telah menggerogoti tubuh mungilnya sekitar 7 tahun. "Duh! sahabat macam apa saya ini?", geram saya dalam hati seraya menekan keypad handphone untuk menghubungi untuk mengetahui keadaannya.

Telepon tersambung, suara lirih terdengar dari sana membuka pembicaraan.

*off record.

Mengakhiri perbincangan di telepon, saya menghela nafas panjang. Seraya menghibur diri menatap luas cakrawala dari tepi jendela, "Apapun yang ada di dunia ini bisa terjadi tanpa dapat diduga. Sehat dengan cepat dapat berubah menjadi sakit, mudah menjadi sulit, senang menjadi derita, bahkan bahagia bisa lekas berganti nestapa. Tak ada yang kekal selama bumi berputar", tegas saya menghibur diri sendiri dengan rangkaian kalimat itu saat mempertanyakan keadilan Tuhan yang tak pernah terjangkau oleh isi kepala.

Tiba - tiba saya jadi teringat akan dulu, tentang rencana makan siang kami yang tertunda hingga kini. Saat itu ia berkantor di daerah Sudirman, tak jauh dari tempat kerja saya yang lama. Sepotong ingatan juga muncul, bagaimana senang reaksinya saat mengetahui bahwa waktu kelahiran kami hanya berselisih beberapa jam saja. "Wah kalau kita adakan perayaan ulang tahun bersama tentu asyik juga ya pirez!", ucapnya dengan begitu ceria.

Ah! Mengingat banyak kenangan itu semua, lagi – lagi yang mampu saya lakukan hanya mencoba menghibur diri, "Bukankah saat manusia lahir, seluruh takdir telah dicatat? Lahir, mati, jodoh, rejeki, bahkan lika – liku hidup kitapun telah ada garis perjalanannya. Untuk apa khawatir, jalani saja semua yang ada tanpa terpaku dengan keadaan…"

Biarlah segala takdir terjadi atas kehendak Mu Tuhan… Namun demikian, tolong beri sahabat cantik saya itu kekuatan. Please!!

Hary lasmana