Entries from September 2007 ↓

kaca mata

Ada satu kebiasaan sopir bus yang saya tumpangi kala hujan adalah biasanya ia akan memerintahkan kernetnya untuk menyiram bagian luar kaca depan mobil dengan air sabun atau air mineral lalu dilap dan disiram berulang kali hingga bersih. Dengan melihatnya, atau membaca ilustrasi saya tadi tentunya kita tahu bukan maksud si sopir. Tujuannya tak lain adalah untuk membersihkan kaca bagian depan itu dari kotoran yang melekat yang terbawa oleh butiran air hujan yang jatuh. Agar pandangan mata si sopir saat berkendara dapat terjangkau lebih baik.

Pada tempat dan waktu yang berbeda, beda sopir bus beda lagi dengan mobil sedan milik seorang teman yang sesekali saya tumpangi saat hujan turun dalam perjalanan berkendara. Kecanggihan fasilitas mobil sedan itu tentu saja membuat teman yang mengendarai tak perlu bersusah payah meminta bantuan orang lain untuk membersihkan kaca bagian depan dari kotoran yang terbawa tetesan air hujan sebagaimana yang dilakukan si sopir bus. Cukup tekan satu tombol dari dashboard lalu wipper akan bergerak secara otomatis menyapu air dan debu yang melekat di kaca. Mudah dan praktis.

Kalau ingat dua hal berbeda pada kondisi bersamaan itu, entah kenapa pikiran saya jadi membandingkannya dengan keadaan diri sendiri. Sebagaimana seorang manusia yang serba terbatas, sebenarnya keadaan kitapun demikian adanya. Pandangan diri kita dibatasi oleh sebuah ruang penglihatan media kaca layaknya berada dalam kendaraan tertutup. Dan karena keterbatasan itu, maka pastinya secara otomatis kemampuan mata melihatpun menjadi terbatas pada kejernihan kaca tersebut. Jika kacanya bersih dan bening, pandanganpun akan jelas terlihat. Ketika kaca kotor, maka otomatis pandangan pun terganggu bahkan lebih parahnya bisa – bisa sesuatu yang kita lihat itu menjadi bias. Terasa bukan bedanya?

Hal sederhana ini sebenarnya kalau mau kita amati sering dialami oleh banyak orang. Entah dalam lingkungan pergaulan aktivitas, hubungan di lingkungan kerja, bahkan dalam lingkup kecil seperti keluargapun sama. Dalam memandang keadaan di luar diri kita akan selalu dibatasi suatu kaca ruang diri (baca:penyaring) berupa hati. Hati ini lah sesungguhnya pembatas, penyaring penilaian, baik secara langsung maupun tidak langsung yang menentukan cara pandang seseorang terhadap keadaan diluar diri kita.

Entah disadari atau tidak, kita seringkali dengan cepat menilai orang lain yang baru kita jumpai berdasarkan penampilannya, sikap, atau cara orang tersebut bertutur. Hanya karena kesamaan logat bicaranya, seseorang yang baru kita temui lantas kita curigai dan dianggap sama dengan pelaku kriminal yang kita lihat dalam berita televisi. Karena dandanan yang acak – acakan, maka lalu kita menganggap orang tersebut adalah seorang yang urakan. Atau karena sikap santai seseorang, kita mencap ia sebagai seorang pemalas. Padahal kalau dipikir secara perlahan dan matang, dugaan tak mendasar seperti itu seringkali meleset dan yang terjadi justru sebaliknya. Orang yang kita nilai buruk itu ternyata tidak seperti yang kita bayangkan bahkan tak jarang jauh lebih baik dari diri kita. Itulah akibat langsung dari kotornya ”kaca diri” (baca: hati) yang kita miliki dan dibiarkan kotor berwaktu – waktu lamanya hingga membuahkan hasil apapun yang terlihat dalam pandangan kita menjadi turut kotor.

”Kotornya kaca saja sudah merepotkan, apalagi kotornya hati!”, saya bergumam sendiri sambil membayangkan jJika kotornya kaca saja dapat menyebabkan terganggunya pandangan, kotornya hati pasti bisa berdampak sangat buruk. Timbulnya kesulitan pada diri sendiri sudah pasti timbulnya bencana suatu saat kelak pasti bisa. Dan mendapati keadaan seperti itu, pantaskah jika hal itu kita diamkan? Tidakkah sebaiknya kita membersihkan ”kaca” itu demi kelancaran perjalanan hidup kita?

Menyimak hikmah kejernihan kaca itu, dalam perjalanan lain diantara untaian kisah hidup ini, saya jadi teringat akan seorang teman yang pernah sharing keluhan; Setelah bertahun – tahun bekerja pada satu divisi tanpa peningkatan karir dan kesejahteraan, kawan yang sangat pintar ini mulai merasa bosan. Serasa tak ada semangat dan gairah kerja lagi dalam dirinya. Apalagi ditambah suasana kerja yang terasa makin panas oleh gaya berpolitik sesama karyawan yang saling menjatuhkan. Hingga akhirnya ia berniat mengubah keadaan dengan mengambil keputusan untuk pindah tempat kerja.

Dengan berbekal percaya diri akan kemampuan yang dimiliki, ia pun mulai mengirim lamaran. Dan orang dengan talenta yang hebat semodel kawan saya ini tentu saja lamarannya cepat membuahkan hasil. Setidaknya satu persatu yang saya ketahui panggilan wawancara dan psikotes berdatangan dan iapun mengikutinya dengan antusias. Hanya sayang anehnya, dari sekian banyak tes yang diikuti itu tak satupun memberi hasil sesuai keinginan. Tiada perusahaanpun yang dilamarnya mau menerima ia bekerja sebagai pegawai. Hingga secara perlahan teman ini merasa jenuh dan pupus harapan. ”Kerja baru tak dapat, kerja di tempat lama serasa hidup segan, mati tak mau!”, keluhnya menerima kenyataan.

Berusaha meredam semua itu, saya hanya dapat berusaha menenangkan dengan memberinya satu tips sederhana; Yaitu tentang dua hal utama terutama dalam panggilan wawancara dan psikotes –sebagaimana seorang psikolog pernah bercerita pada saya, bahwa untuk lulus tes tahap awal itu maka diperlukan strategi khusus terutama adalah sikap yang ceria disertai gairah akan perubahan positif dalam diri kita.

”Pada dasarnya psikotes adalah ujian murni tentang keadaan diri kita sebenarnya. Maka jika ingin lulus, rahasianya selalu berlaku; Bgaimanapun hebatnya kita mengetahui teknik lulus psikotes atau seberapa lancarnya berbicara dalam panggilan wawancara kerja, ada satuhal yang tak dapat dipungkiri adalah bahwa sebenarnya tes itu merupakan masukan pada perusahaan untuk mengetahui sekilas tentang diri calon pegawai”. Maka karena itulah sebaiknya sebelum mengikuti wawancara dan psikotes alangkah baiknya mengubah keadaan diri dulu. Agar tidak nampak keburukan prilaku kita melalui psikotes.

Diberitahu hal itu teman inipun protes. Ia tidak tahu caranya. Namun, untungnya, secara perlahan ia mengikuti saran saya. Sebuah cara yang mudah – mudah sulit menuju ke sana. Mudah karena sangat sederhana, sulit jika belum terbiasa. Yaitu dengan mengubah sikap dan mental diri kita yang dimulai dari lingkungan kerja sehari hari. Memulai kebiasaan baik dengan bergembira setiap saat dan tak lupa bersyukur melalui sikap ikhlas pada setiap keadaan. Dan meski bingung mau harus mulai darimana, iapun mulai mencobanya.

Setiap kali mengirim lamaran pekerjaan, pada hari yang sama ia selalu mencoba tersenyum pada siapapun yang dikenalnya, membantu sesama rekan kerja tanpa diminta, dan menghindari keluh. Meski pada awal sulit, akunya, namun ia berhasil melalui hambatan itu dan bahkan jadi terbiasa dengannya. Tanpa disangka ternyata respon yang diterima dari lingkungan kerja pun seperti cermin positif. Sesama pegawai yang tadinya cuek, dengan perubahan sikap teman ini lama – lama terbiasa dan mengikutinya. Sesama rekan setiap hari semakin bertambah akrab dan erat. Jalinan komunikasi semakin kuat, dan kepercayaan satu sama lain membesar. Tanpa sadar sikap itu sikap dan kebiasaan semua karyawan di kantor.

Semua orang kini dengan mudah bertegur sapa, saling memperhatikan, dan selalu siap membantu pekerjaan orang lain. Diantara perubahan itu, tentu saja yang paling senang adalah teman yang saya. Setidaknya kini ia merasa nyaman dengan perubahan. Saking nyamannya, suatu kali ia mendapat tes panggilan kerja lain dan lulus,  tawaran kerja di perusahaan baru itu ditolaknya dengan alasan subyektif.

”Sebenarnya sih saya kini sudah merasa sangat nyaman dengan keadaan tempat kerja sekarang. Semua orang sangat kooperatif dan mendukung di sini. Saya bisa bekerja dengan baik dan merasa nyaman tanpa kegelisahan seperti dulu. Dan sekarang saya takut karena membayangkan jika seandainya saya pindah ke tempat baru malah akan kehilangan rekan kerja dan suasana yang sangat kondusif seperti disini”, ucapnya sambil tersenyum.

Melihat kenyataan itu, saya jadi berpikir. Membandingkan keadaan awal dan akhir kisah teman yang satu ini. Kalau mau dihitung. betapa banyak ya kesalahpahaman terhadap penilaian berbeda diluar diri kita itu terjadi yang disebabkan karena kealpaan kita melepas kacamata yang kita kenakan? Apalagi celakanya, setelah menilai kotor keadaan diluar diri kita itu ternyata penyebabnya justru adalah karena kotornya lensa kaca mata yang kita kenakan. Kaca mata yang membuat pandangan kita pada apapun yang nampak akan menjadi tak sempurna.

Nah! dalam keadaan demikian, alih – alih mencari keindahan, tentu saja dimanapun kita berada selama menggunakan kaca mata yang sama sudah tentu hasilnya takkan jauh berbeda. Dan kalau seperti itu kejadiannya, tentunya sudah bisa diketahui bukan siapa yang salah?

Salam,

Hary Lasmana

Pintu Komunikasi

Para ahli agama mengatakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan penuh ampunan. Di bulan ini segala kebaikan dibalas berkali lipat, pintu – pintu rahmat terbuka, dan adanya satu malam memperbaikinyamenakjubkan yaitu malam Lailatul Qadr, dimana didalamnya terdapat keberkahan yang melebihi berkah 1000 bulan. Itulah sebabnya mengapa di bulan ini begitu banyak muslimin berusaha meningkatkan ketakwaan dalam beramal saleh dengan berjuang menegakkan perintahNya. Semata untuk meraih tempat tertinggi dalam derajat kemuliaan seorang hamba pada Tuhannya.

Di masjid, musholla, di rumah, serta beberapa tempat umum, suasana khas Ramadhan sangat terasa. Banyak orang memadati tempat ibadah untuk mendekatkan diri padaNya dengan segala cara. Ada yang mengaji, memperbanyak shalat sunah, bersedekah, bahkan tak sedikit juga yang hanya sekedar beristirahat untuk melepas penat dan menjauhkan diri dari godaan yang bertaburan di jalanan. Menjaga dari hal – hal yang merusak ibadah.

Namun bagi saya dan beberapa teman, Ramadhan kali ini jauh berbeda dengan Ramadhan yang dijalani oleh kebanyakan orang. Secara umum, biasanya di saat berpuasa, banyak orang menghabiskan waktunya dengan tidur siang atau lebih pasif beraktivitas, namun saya dan beberapa teman –untungnya –memiliki kegiatan wajib. Di siang yang terik di akhir pekan, seperti biasa, puasa atau tidak puasa, kami berada di dalam kelas. Duduk manis sebagai murid yang baik, mendengarkan dan menyimak dosen yang tengah mengajar hingga usai.

Sebagaimana hari – hari sebelumnya, siang ini saya berada di dalam kelas. mata kuliah hari ini adalah Jaringan Komputer. Dari nama mata kuliahnyapun tentu sudah dapat dibayangkan bukan apa yang tengah saya pelajari, tak jauh dari seluk beluk koneksi jaringan alat digital super berguna di abad ini. Untunglah meski puasa, udara panas, dan kantuk yang sesekali datang, tak menghambat penyerapan materi yang diajarkan. Bahkan sebaliknya, dari paparan dosen di depan kelas tiba – tiba benak ini menerawang keluar jalur. Batin diri mempertanyakan hakikat kekurangan anak manusia dalam kehidupan yang dijalani sebagaimana konsep sebuah jaringan dalam dunia digital…

Dalam hidup, sebagaimana konsep sebuah jaringan komputer yang diterangkan dosen di depan kelas, kita akan selalu mengalami hambatan di dalamnya. Entah karena perangkat komputer kita yang berkualitas rendah, konektivitas jaringan yang sibuk, penerimaan yang kurang baik akibat teknologi server yang tidak memadai dan beberapa faktor lain seperti keabsahan sebuah gate (baca:pintu) yang juga sangat menentukan dalam pertukaran data. Secara sederhana, kita dapat membayangkan sebuah jaringan komputer seperti jalan bebas hambatan (baca: jalan tol).

Pada jalan tol, kelancaran jalan tol sangat ditentukan oleh pengguna dan fasilitasnya. Ramai atau tidaknya kendaraan yang lalu lalang, keadaan jalan, hingga faktor yang tak kalah pentingnya adalah banyaknya kesiapan pintu masuk dan keluar yang terbuka dalam memperlancar antrian kendaraan. Bisa kita bayangkan bukan, berapapun lebar dan pendeknya jalan namun jika tidak diseimbangkan dengan pintu masuk dan keluar yang tersedia tentu akan mengakibatkan antrian panjang. Dari sepuluh pintu keluar - masuk, jika hanya sebuah pintu saja yang terbuka maka dapat dipastikan antrian kendaraan akan menumpuk yang akan mengakibatkan kemacetan. Bayangkan jika ternyata hal itu yang terjadi pada diri kita dan hubungan dengan Sang Pencipta. Dari sepuluh pintu doa yang ada untuk kita berkomunikasi denganNya, ternyata hanya tersisa satu pintu saja dan itupun kini terbuka separuh…

Berkaca pada diri sendiri, betapa sering kita temui dalam kehidupan yang kita jalani diisi dengan berbagai keluhan. Ketika berusaha namun lebih banyak gagal dibanding berhasilnya, niat baik yang tak kesampaian, cita-cita kandas di tengah jalan, dan banyak lagi keadaan lainnya yang tak jarang membuat kita putus asa. Pun setelah semua usaha, doa yang kita panjat keharibaannyapun seolah tak didengar, tak ada yang dikabulkan. Mendapati keadaan demikian, pernahkah kita berinstropeksi, apa sebenarnya penyebab semua kegagalan itu?apa penyebab tidak tercapainya keinginan baik dan terhalangnya doa-doa… mungkinkah segala hambatan itu disebabkan karena tertutupnya pintu – pintu komunikasi kita denganNya, Sang Pemilik alam semesta?

Seringkali tanpa sadar dalam bertingkah laku menjalani hidup, kita melakukan banyak kesalahan. Entah besar ataupun kecil, setiap kesalahan -sebagaimana kebaikan, berakibat pada kehidupan yang kita jalani. Jika kebaikan berbuah ketenangan batin, kesalahanpun pada sisi lain berakibat pada tertutupnya pintu – pintu masuk doa kita kepadaNya. Setiap kesalahan yang terjadi mengakibatkan terdorongnya sisi pintu komunikasi kita dengaNya yang tadinya terbuka lebar menyempit ke sisi satunya bahkan tertutup. Apapun model kelakuan buruk itu. Entah tingkah kita yang kerap menyakiti perasaan orang lain, segelintir kesalahan yang kita anggap angin lalu, menolak menjalankan kewajiban, juga banyak perbuatan buruk lain, baik secara sadar ataupun tidak telah mendorong pintu komunikasi kita denganNya. Pintu yang tadinya terbuka lebar itu perlahan menutup dan menghalangi apapun permintaan kita kepadaNya. Lalu jika pintu – pintu komunikasi telah tertutup, bagaimana mungkin permintaan kita terpenuhi? suara kita pun rasanya akan sulit didengarpun olehNya… apalagi doa rasanya akan amat sulit dikabulkan.

Menyadari semua itu, maka alangkah baiknya kapanpun saat kita mengalami kegagalan berulang kali, selalu menemui hambatan besar dalam usaha, permintaan (doa) yang tak kunjung dikabulkan, janganlah menyerah apalagi pasrah. Introspeksi dirilah segera. Berkacalah pada kehidupan, lihat diri sendiri. Mungkin ada kesalahan dalam diri kita yang tidak kta sadari yang mengakibatkan pintu komunikasi kita denganNya telah tertutup. Jika benar, akuilah dan buka kembali pintu itu dengan bertobat, istigfarlah mengingat kuasaNya. Semoga keadaan yang demikian mampu melancarkan kembali komunikasi kita denganNya.

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.

Salam,
Hary Lasmana

Orang buta itu kita

Tiga pemuda yang buta sejak lahir di bawa ke sebuah kandang sapi oleh pemilik peternakan itu. Kemudian ketiganya di suruh berdiri di samping sapi tersebut pada sisi yang berbeda. Orang buta pertama berdiri tepat di samping kepala dan diperintahkan memegang sapi tersebut dengan dibatasi area dan waktunya selama beberapa detik dan harus mengingat ciri fisik sapi yang ia pegang. Orang buta ke dua kemudian juga kemudian diperintahkan hal yang sama, hanya saja pada tempat yang berbeda yaitu di sisi perut sapi berhadapan dengan orang buta pertama. Dan kemudian tak jauh berbeda dengan yang lain, orang buta ke tiga berdiri tepat di belakang sapi untuk mendapat giliran kesempatan memegang sapi tersebut selama beberapa detik dan mengingat ciri fisik sapi di hadapannya. Setelah selesai, ketiganya di bawa keluar dari kandang sapi dan berkumpul di bawah pohon rindang tak jauh dari kandang sapi itu berada.

”Jadi menurut kalian bagaimana ciri fisik sapi itu?”, tanya si peternak pada ketiga orang buta tersebut. Dan satu persatu ketiganya menjawab sesuai dengan deskripsi mereka masing – masing.

”Sapi itu ternyata mahluk hidup yang besarnya kira-kira sebesar bola basket dengan permukaan kasar dan memiliki dua buah benjolan seperti batu sebesar kepalan tangan di bagian atas. Bentuknya tidak rata dan terasa keras tulangnya”, demikian deskripsi orang buta pertama yang memegang kepala sapi

Orang buta ke dua dan ke tiga, terlihat tidak setuju dengan deskripsi orang buta pertama. Mereka lantas menambahkan,

”Bukan… ukan kayak begitu sapi itu. Modelnya besar seperti meja, ada kakinya. Permukannya memang sih kasar!”, orang buta kedua menggambarkan model sapi yang dipegangnya.

Mendengar hal itu, orang buta pertama merasa heran dan orang buta ke tiga makin bingung,

”Duh! Kalian ini bagaimana sih? Memang benar kalau sapi itu permukaannya kasar. Tapi kurang lengkap dan gak sebegitunya. Sapi itu seperti selang, tapi ada rambutnya!”, tegas si orang buta ke tiga sambil mengingat – ingat bagian ekor sapi yang dipegangnya.

* * * * *

Begitulah kisah ketiga orang buta di peternakan sapi. Berdasar rabaan tangan, jangakauan area yang terbatas dan dengan waktu tertentu mereka dipaksa mendefiniskan apakah sapi itu. Dan hasilnya kita telah baca, KACAU BALAU.

Pernahkah kita sadari, sebenarnya seringkali dalam hidup ini kita berlaku sebagaimana ketiga orang buta tersebut. Dengan terbatasnya jangkauan pikiran, waktu yang singkat, dan minimnya informasi yang dimiliki lantas kita mengambil kesimpulan sendiri. Saat ada orang lain yang mengungkapkan hal berbeda dari kesimpulan kita, lantas kita mendebat dan merasa diri kita sajalah yang benar, padahal jika bercermin pada kisah ketiga orang buta di atas tentu penilaiannya akan berbeda.

Dalam hidup ini memang salah satu hal yang paling sulit adalah bersikap obyektif. Kita lebih mudah merasa dan menyimpulkan bahwa kitalah yang paling benar, padahal jika kita runut dan lihat dari cara pandang berbeda sesungguhnya manusia cenderung salah. Masih ingatkah bagaimana sikap kita saat ditimpa beratnya ujian hidup dan lantas menyalahkan Tuhan karena merasa telah menunaikan kewajiban dan perintahNya? lalu kemudian mencari jalan keluar dan memohon padaNya, namun ketika keinginan itu tak terkabul segera, apa tanggapan kita? kita marah, tak menerima, dan menolak kehendakNya. Hingga beberapa waktu kemudian, saat semua berlalu, kita dapati satu hal yang membuat kita bersyukur. Kita mengetahui sendiri seandainya permintaan kita yang telah lalu dikabulkan justru akan membawa malapetaka. Dan mengetahuinya, tak lepas diri kita beryukur dan sadar.

Begitulah manusia dengan segala kekurangannya.

Saya jadi ingat sebuah nasihat dari seorang teman, ”Bahwa perbedaan sesungguhnya adalah sebuah fitrah dan penyeimbang dalam hidup. Dengan adanya perbedaan, maka kesempurnaan penciptaanNya terjadi. Maka alangkah baiknya sekalipun dalam pikiran kita merasa benar, maka cobalah bersikap terbuka dan menerima pendapat orang lain dengan merasa sebagai manusia yang tidak sempurna karena bisa jadi mungkin kebenaran sesungguhnya itu tengah berada di luar diri kita. Pun jika orang lain yang benar, jujur mengakui dan tetaplah berlaku obyektif pada orang tersebut. Kebenaran adalah mutlak miikNya dan kesalahan selalu disebabkan kekurangan kita sebagai manusia”.

Mrmang harus diakui manusia cenderung berbuat salah. Dan menyikapi rumitnya perbedaan karena keterbatasan kemampuan diri kita, hanya satuhal yang dapat mengimbanginya yaitu dengan terus bersabar dan pasrah diri pada keetapanNya. Hanya dengan bersabar dan meminta petunjuk dariNya jalan lurus yang berusaha kita tempuh pasti akan terasa lebih mudah dilalui. Kita adalah milikNya dan akan kembali padaNya

Salam,

Hary Lasmana

Mengendarai hidup

Kalau mau kita renungkan, kehidupan yang tengah kita jalani ini sebenarnya tak ubahnya berkendara di jalanan. Kita harus memiliki tujuan, persiapan, dan perencanaan untuk menjadi seorang yang berhasil. Tidak sekedarnya saja menjalani dan mengikuti arus. Setidaknya harus memiliki sikap dan menjunjung komitmen.

Dan selayaknya berkendara, sikap siap adalah hal utama yang tidak boleh kita remehkan. Menjalani hidup bagaikan mengemudi di jalan raya umum, kita tak pernah tahu apapun yang akan terjadi di perjalanan yang kita lalui. Entah diserobot oleh pengendara lain yang melintas ke jalur jalan yang sedang dilalui, pejalan kaki yang menyeberang tak pada tempatnya, pohon tumbang menghalangi jalan di saat hujan deras, genangan air yang menutupi lubang jalanan dan membuat kendaraan kita terperosok ke dalamnya, ban mobil yang pecah, dan sebagainya tentu dapat berakibat buruk jika kita tidak mampu mengantisipasinya dengan baik. Pengalaman dan wawasan kita menentukan hasil dari setiap kejadian yang kita temui. Untuk itulah kita patut mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk mencegah hal-hal yang dapat berdampak buruk dalam perjalanan hidup kita.

Kesehatan diri, terutama jiwa manusianya juga termasuk dalam salah satu faktor kesiapan yang tak kalah pentingnya. Dalam berita yang kita terima setiap hari, betapa banyak kecelakaan yang terjadi di jalan raya diakibatkan oleh faktor kelalaian pengemudi terutama oleh faktor lelah dan mengantuk juga pikiran yang melayang ke mana-mana hingga tidak fokus pada kondisi jalan. Begitupun dalam hidup ini, layaknya berkendara, diri kita, tubuh dan jiwa harus dijaga kesehatannya. Akan sangat sulit mencapai tujuan cita – cita jika tubuh dan terutama jiwa kita sakit dan didera kelelalahan. Hal tersebut dapat menghambat segala kegiatan.

Telah kita bisa saksikan betapa banyak orang yang menderita cacat fisik sejak lahir namun bisa mencapai kebahagiaan dan cita-cita hidupnya dibandingkan dengan sesorang yang sempurna sejak lahir namun kemudian meninggal akibat over dosis menggunakan narkoba ataupun bunuh diri akibat tak mampu menanggung derita hidup yang dihadapi. Semua itu akibat keadaan jiwa labil yang tak siap tak menanggung problematika kehidupan dan mencari jalan keluar. Hidup janganlah terpaku pada raga saja, tetapi juga jiwa. Keduanya harus seimbang dan saling mendukung. Jadi pintar-pintarlah kita menjaga dan merawatnya.

Selain siap dan sehat jiwa raga, dalam hidup ini yang tak kalah penting adalah kita harus senantiasa mawas diri. Kehati-hatian dalam hidup sangatlah diperlukan menuju keberhasilan cita-cita. Dalam hidup setiap saat kita dihadapkan begitu banyak pilihan. Dan apapun keputusan yang kita pilih, ia memiliki konsekuensinya masing-masing. Begitu banyak godaan hidup yang kita terima dalam hidup ini, entah berupa kesenangan hingga penderitaan yang tiada batasnya. Kita harus mampu bersikap tenang dan berpikir bijaksana menghadapinya agar tidak larut dan terjebak hingga salah mengambil keputusan. Kita harus mampu memahami segala sesuatu sesuai kadarnya agar berhasil mencapai tujuan utama hidup ini.

Telah kita saksikan betapa banyak kejayaan seseorang yang bergelimang harta dan jabatan namun karena salah penempatan diri akhirnya jadi terpuruk dan jatuh miskin. Pamornya jatuh dan menjadi bahan cemoohan. Namun pada sisi lain, ada seseorang yang hina di masyarakat bisa menjadi seorang yang besar dan terpandang karena kerja keras dan ketabahan hatinya dalam melewati cobaan hidup. Begitulah nasib, tak ada seorangpun tahu, maka untuk itulah kita perlu selalu mawas diri dan mempersiapkan diri sebaik mungkin agar tidak terjerumus ke dalam kenistaan hidup dengan salah satu caranya adalah senantiasa taat pada peraturan.

Di jalan raya, baik pengendara kendaraan maupun pejalan kaki, keduanya memiliki aturannya masing-masing. Setiap pejalan kaki harus berjalan di trotoar, menyebrang jalan di zebra cross atau jembatan penyebrangan. Di perempatan lalu lintas, setiap pengendara wajib mentaati lampu lalu lintas yang menyala. Jika hijau harus berjalan, jika merah harus berhenti. Tidak boleh sebaliknya atau tidak juga keduanya.

Setiap signal lampu dan marka jalan harus ditaati. Rambu di sisi jalan mengingatkan kita untuk waspada dan berhati-hati. Pertemuan dua jalur menjadi satu, tanjakan atau turunan curam, satu arah, ataupun larangan berbelok harus kita patuhi. Semua itu dibuat untuk menjaga ketertiban pengguna jalan yang berujung pada keselamatan bersama. Demikian juga dengan hidup yang kita jalani ini.

Semua memiliki aturannya, setiap orang diatur oleh norma kehidupan masing-masing dan berlaku universal. Adat-istiadat, agama, dan secara resmi undang-undang negara di buat untuk melindungi dan mengatur masyarakat untuk hidup secara baik. Bisa kita bayangkan tentunya apabila tak ada aturan dalam hidup. Betapa sulitnya mewujudkan kenyamanan, rasa aman, dan mencapai tujuan hidup seandainya dalam tatanan masyarakat sosial berlaku hukum rimba. Yang kuat menjadi raja, yang lemah tak terlindungi. Sulit mencari keadilan apalagi kebahagiaan dalam hidup demikian.

Begitulah hidup dan kenyataan yang berlaku di dalamnya. Sebagai mahluk sosial kita patut mempertimbangkan banyak hal karena siapapun kita, kita memiliki keterkaitan dengan kehidupan manusia lainnya. Banyak aspek patut menjadi bahan pertimbangan, bukan hanya berdasar pada diri sendiri, melainkan juga kepentingan bersama. Kita hidup dalam dunia yang sama, menghirup udara yang sama, berdasarkan hak yang sama sebagai mahluk ciptaanNya. Perbedaan bukanlah hal utama, kita memiliki kesamaan. Sebagaimana di jalan raya, siapapun berhak menggunakannya dan berbagi dengan yang lainnya. Siapapun yang melanggar harus di tilang, dan bagi mereka yang taat pada peraturan akan berbuah kelancaran perjalanan dan keselamatan.

Apapun tujuan hidup kita dalam hidup ini, pastikanlah bahwa telah ada perbekalan yang cukup, kendaraan yang sesuai, dan persiapan matang menuju ke sana. Hidup ini tak ubahnya sebuah perjalanan jauh yang tak mungkin dapat tercapai jika faktor penentunya tak sempurna. Kita tak mungkin mencapai tempat yang kita tuju dengan baik jika saat mengendarai kendaraan tubuh kita didera sakit parah. Begitupun dengan kendaraan yang rusak, alih-alih mengantar kita hingga tempat tujuan dengan selamat dan tepat waktu, yang mungkin terjadi adalah terhambatnya perjalanan akibat mogok, rusak, dan ketidaknyamanan selama di perjalanan. Apalagi jika ditambah minimnya pengetahuan kita mengenai rute perjalanan. Mungkinkah kita dapat menikmati proses perjalanan dalam keadaan demikian?

Kita memang tak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, namun hidup layaknya berkendara memiliki cara dan aturannya tersendiri. Tugas kita adalah mencari tahu dan menyesuaikan diri terhadap peraturan itu agar keberhasilan bisa diraih dengan sempurna. Dan khusus bagi mereka yang tidak melakukannya, cobalah berlapang dada dan jangan salahkan siapapun seandainya ketidaknyamanan itu begitu terasa di sepanjang perjalanan menuju tempat tujuan. Dan jika ternyata tempat tujuan itu tak pernah bisa dicapai, satuhal terbaik yang bisa kita lakukan adalah segera instropeksi diri. Kenalilah penyebab utamanya dan lakukan tindakan terbaik menanganinya. Kita yang menentukan keberhasilan diri kita sendiri.

.

Salam,

Hary Lasmana