Entries from October 2007 ↓

bersyukur

Pagi tadi si mbok jamu gendong langganan mama yang biasa berkeliling kampung datang ke rumah. Dengan “seragam” kebaya khas yang biasa dikenakannya sehari – hari ia datang bersilaturahmi ke para langganan sekaligus mengabarkan bahwa mulai hari ini jamu gendongnya beroperasi kembali. Si mbok kini sudah siap melayani kembali para pelanggan untuk menikmati khasiat olahan tanaman herbal hasil racikannya yang menurutnya tak kalah hebat dengan produk farmasi impor yang dibuat mesin canggih.

Oiya, cerita punya cerita, si mbok Jamu rupanya lebaran kali ini tidak pulang kampung. Keputusan itu diambil mendadak saat mengetahui kalau salah seorang kerabatnya di Jakarta tertimpa musibah kebakaran. Rumah kontrakan berikut seluruh isinya terbakar. Dan mengetahui hal itu, tentu saja membuat si mbok prihatin hingga mengurungkan niatnya tuk mudik berlebaran di kampung. Bahkan dengan besar hati, ongkos perjalanan yang belum dipergunakannya dialihkan untuk membantu meringankan beban saudaranya yang tertimpa musibah. “Wah… hebat betul si mbok jamu ini”, ucap saya dalam hati seraya kagum dan memuji si mbok yang mampu mengorbankan keinginannya berlebaran di kampung halaman demi kebahagiaan orang lain.

Tak berlama – lama, si mbok jamu pamit untuk mengunjungi rumah pelanggan lain yang belum di datangi.

Mengetahui kisah yang menghalangi kepergian si mbok jamu mudik, saya hanya mampu tersenyum dan mengangguk saat si mbok jamu mengucap pamit pada seluruh orang di rumah. Sebenarnya hati kecil ingin mendengar kisah heroik lain yang mungkin tersembunyi yang bisa diberikan dari seorang sederhana yang kedatangannya hari ini telah menyisakan sebuah pelajaran penting tentang kehidupan. Si mbok dengan kemampuannya yang terbatas telah menunjukkan pada saya bahwa kebahagiaan hidup ini dapat tercipta salah satunya adalah dengan tidak mengutamakan keinginan diri sendiri. Sebuah tindakan yang mampu mengarahkan kita pada terbukanya pintu kebahagiaan yang selama ini tertutup rapat karena kita tidak tahu bagaimana cara membukanya.

Kali ini si mbok jamu menjadi guru saya yang baru. Hanya sekejap kedatangannya, saya mendapat pelajaran berharga tentang kehidupan dan cara meraih meraih kebahagiaan di dalamnya. Ah sayang episode hidup seperti ini begitu singkatnya, padahal dengannya saya belajar bahwa sehebat apapun musibah, bencana, atau kejadian buruk menimpa, ia takkan mampu merenggut kebahagiaan secuilpun saat kita mampu mensyukuri nikmat lain yang kita miliki. Entah itu musibah, bencana, atau perkara menyakitkan lainnya, selama kita bersyukur da menerima seperti apa adanya kemudian bertindak memperbaiki pasti akan ditemukan jalan keluar menuju kondisi yang lebih baik.

Mbok jamu guru sederhana saya telah hilang dan pandangan, namun kalimat sederhana yang terucap dari hatinya begitu dahsyat menegur perasaan ini untuk lebih membuka diri terhadap keadaan sekeliling…

(bersambung)

Kerinduan

Menjelang senja di penghujung Ramadhan sayup terdengar gema takbir yang entah darimana. Langit cerah nampak bersahabat membuka kerinduan akan perginya bulan penuh rahmat dan ampunan ini. Seolah bercermin, saya tertegun melihat keburukan bayang diri yang terus bertambah mengiringi panjang usia yang ada. Ramadhan ini lagi - lagi saya kehilangan banyak moment untuk beribadah secara maksimal. Dan urusan dunia selalu menjadi penyebabnya.

Kalau boleh saya iri, saya ingin sekali berlaku seperti seorang mualaf yang rutin tarawih, mengikuti ceramah sehabis sholat subuh, dan tak malu bertanya pada ustad yang dijadikannya guru di masjid. Mualaf ini, bertingkah laku jauh lebih baik dari saya yang sejak lahir menjadi seorang muslim. Saya iri akan semangatnya menuntut ilmu dan upayanya mengamalkan pengetahuan yang dimilikinya.

Kalau diijinkan saya iri, saya ingin sekali seperti pak Haji tetangga saya yang setiap tahun selalu membagikan zakat hartanya pada fakir miskin sekitar tempat ia tinggal. Pak Haji yang dermawan ini pun menjadi orang tua asuh beberapa anak yatim dan menyantuni para janda juga manula. Sebagai kepala keluarga dapat dikatakan telah berhasil mendidik anak - anaknya hingga semua lulus sarjana bahkan sebagian berijazah universitas ternama di negeri tetangga. Kadang saya berharap seandainya saja kelak saya memiliki kesempatan yang sama dengannya.

Saya memang pengirian barangkali, bahkan pada seorang pemulung yang pekerjaannya mengumpulkan sisa gelas dan botol plastik yang pernah saya temui di pinggir jalan pun saya iri. Ketika bertemu dengannya, lelaki paruh baya ini bercerita tentang kisah perantauannya dari kampung halaman untuk menghidupi keluarganya. Dan pekerjaan menjadi pemulung adalah pilihan terakhir baginya ketimbang menjadi pengemis dan berpangku tangan sekedar mengharap uang dari pemberian orang lain. Nasib seperti ini diterimanya dengan senyum dan hati lapang. "Nggak mungkin mas saya kerja tinggi - tinggi, wong SD aja nggak lulus jadi ya cuma bisa kerja seperti ini. Yang penting usaha, apa aja yang penting halal dan nggak nyusahin orang lain. Wong dari sana sudah seperti ini… ya terima - terima aja. Yang penting bisa hidup, bisa makan. Pokoknya selama kita mau usaha Insya Allah pasti dapat. Rejeki sudah ada yang ngatur dari atas sana dan nggak bakal ketukar…". Ucapnya dengan wajah datar namun penuh semangat yang membuat hati ini kecut tanpa diketahui siapapun.

Sore ini di penghujung Ramadhan saya merenungi semua itu. Berpikir dan bertanya, "Kapan giliran saya ya Rabb? Wahai Tuhan yang menciptakan seisi alam… Bagaimana caranya agar hambamu ini bisa memiliki semangat menuntut ilmu dan berupaya mengamalkannya sebagaimana muallaf yang saya temui di masjid? Kapan hamba bisa kesempatan memiliki harta untuk hamba salurkan melalui corong fakir miskin yang Engkau katakan suara mereka jelas terdengar di singgasanaMu? Mampukah hambamu ini bisa seikhlas pemulung yang menerima nasib namun tak mengeluh dengan keberadaan dirinya…?". Tak tahan menahan berat beban semua keinginan itu, hampir saja puasa hari terakhir ini rusak karena semua kesedihan yang saya pertanyakan. "Astagfirullah…", saya mengucap kalimat itu secara spontan seraya mengingat keberadaanNya.

Ramadhan hari ini adalah Ramadhan terakhir. 29 hari kemarin seharusnya menjadi ajang pembinaan dan penempaan diri untuk bersemangat dalam beribadah, sadar dan bersyukur akan semua karuniaNya, juga senantiasa ikhlas pada setiap keadaan. Saya jadi malu karena menjadi pengiri pada situasi dan kondisi yang tidak tepat, dan lebih malu setelah menyadari kesempatan baik itu akan segera pergi meninggalkan diri ini.

Gema takbir sayup - sayup terdengar saling bersahutan. Kerinduan akan datangnya kembali bulan penuh rahmat dan ampunan ini perlahan terobati dengan hadirnya cakrawala senja yang nampak redup dan hangat. Pada gema takbir yang terdengar saya membayangkan pagi esok yang penuh cinta. Dimana - mana seluruh warga berbaur bersama tanpa peduli usia. Anak - anak, remaja, maupun orang tua bercengkrama dalam semangat berbagi. Memberi dan meminta maaf, menyempurnakan diri dengan segala ketidak sempurnaannya. Besok, setiap pintu rumah di tempat saya berada akan terbuka lebar bagi siapapun yang ingin berkunjung, setiap senyum di dalamnya akan meluluhkan dendam dan amarah. Segala kebencian akan lenyap bersama aliran air mata yang mengalir.

Membayangkan semua itu, terasa pada wajah saya air mata ini mencuri start dari yang lain. Ia menetes perlahan menangisi Ramadhan yang baru saja beranjak pergi dan menyisakan kerinduan. Ramadhan baru saja pergi, belum juga lepas sehari… tapi rindu di hati ini, entah kenapa begitu berat hati melepasnya.

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Taqabalallahu mina wa minkum

Minal Aidin wal Faidin

Mohon Maaf Lahir dan Batin

~Hary Lasmana

Bendera Kuning

Beberapa hari ini entah kenapa saya perhatikan di beberapa tempat di sepanjang perjalanan menuju kantor cukup banyak bendera kuning terikat di tiang listrik tepat di pangkal jalan masuk menuju area perumahan. Bendera tanda duka itu setidaknya berjumlah sekitar 3 – 5 di beberapa tempat terpisah. Jumlah yang cukup banyak menurut saya untuk ukuran sebuah wilayah yang jarak tempuhnya hanya beberapa menit dalam kondisi lancar sebagai pemberi tanda bahwa di daerah tersebut ada keluarga yang sedang berduka.

Pun sama halnya di hari ini. Kala siang saat hendak berkunjung ke suatu tempat, masih dengan tema yang sama, bendera kuning penanda duka itu kembali saya jumpai. Namun berbeda dengan beberapa hari sebelumnya, bendera kuning itu kali ini dikibas – kibas para pengendara motor pengiring konvoi di jalan untuk menghalau kendaraan lain yang melintas agar memberi jalan pada mobil ambulan yang membawa jenazah di dalamnya untuk dimakamkan.

Melihat kejadian itu saya jadi bertanya sendiri dalam hati. Suatu saat kelak siapapun yang meninggal dunia dalam keadaan normal pasti akan mengalami hal yang sama. Diiringi para keluarga dan kerabat, juga tetangga menuju tempat persemayaman terakhir. Sayangnya kita tidak tahu waktu tepatnya sehingga tidak dapat mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapNya dalam keadaan terbaik.

Siapapun takkan pernah tahu kapan batas kontrak usia kita berada di kehidupan ini. Tak seorangpun dapat memprediksi, tak ada seorangpun dapat memastikan apa yang akan terjadi kelak. Hari ini kita sehat wal afiat belum tentu besok kita berada dalam kondisi badan dan jiwa yang sama, hari ini kita berlapang dengan pekerjaan mungkin esok kita akan penuh dengan kesibukan, atau bisa saja hari ini kita tengah bersua dengan orang yang kita cintai namun keesokan hari semua lenyap dan meninggalkan kita dalam kesendirian. Tak ada yang menjamin masa yang akan terjadi kecuali semua berjalan atas kehendakNya.

Hari ini saya dibayang – bayangi kibaran bendera warna kuning yang berangsur – angsur menghilang selepas mata membuang pandangan dari iring – iringan pengantar jenazah. Saya percaya besok di lokasi warga berbeda akan ada seorang anak manusia yang akan pergi selamanya dengan ditangisi sanak keluarga. Orang itu bisa bagian dari keluarga kita, orang yang kita sayangi dan cintai, atau bahkan saya, atau bisa jadi Anda lah yang berikutnya? Kita tak pernah tahu kapan saat itu tiba. Ketika tubuh terbujur kaku dan tak bisa berbuat apa – apa, hanya satu harapan yang takkan dapat terucap terutama untuk meminta perlakuan terbaik dari siapapun yang mengurus tubuh kasar kita untuk bersatu kembali dengan tanah sementara Ruh kita menghadapNya, mempertanggung jawabkan segala perbuatan selama berada di dunia.

Saat itu bukan gelar dan jabatan, bukan juga harta,  apalagi panjang iringan pengantar jenazah kita. Hanya do’a dan amal jariah, serta ilmu bermanfaat yang senantiasa dipergunakan yang dapat meninggikan timbangan kebaikan.

Kita tahu itu, tapi apakah hari ini kita sudahkah mengamalkannya?

Salam,
Hary Lasmana