Beberapa menit kemudian laju bus yang bergerak perlahan berhenti untuk mengangkut penumpang di tepi jalan. Tawa khas kedua bocah yang sebelumnya meramaikan suasana dalam bus sayup – sayup menghilang seiring turunnya mereka saat bus berhenti menaikkan penumpang. Suasana berubah sepi. Tiada lagi suara tawa kedua pengamen yang mungkin takkan pernah dapat saya lupakan.
Turunnya kedua bocah pengamen itu tergantikan dengan tiga orang penumpang yang duduk menyebar diantara kursi kosong dalam bus. Diantara ketiganya, salah seorang penumpang yang tak sengaja saya amati adalah seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang nampak begitu tenang dan serius dalam mimik wajahnya. Kepalan tangan kirinya mengapit ponsel di bagian telinga. Ia nampak seksama mendengarkan suara percakapan dari alat komunikasi itu kemudian duduk tepat disamping kursi kosong yang berseberangan dari tempat saya berada.
”Sudah kamu tenang saja… Iya ini saya sedang menuju ke sana, nanti kalau sudah sampai baru kamu cerita lagi ya. Sekarang sabar saja dulu…”. pria itu tiba – tiba berkata – kata. Kemudian untuk beberapa saat ia terdiam dan kembali mendengarkan suara dari speaker ponselnya dengan seksama.
”Sudahlah kamu tenang dulu, tenang, cukup itu saja yang perlu dilakukan sekarang. Percaya deh, kalau semua yang diambil sama Yang di Atas sana pasti akan diganti dengan yang lebih baik. Semua pasti ada hikmahnya. Yang penting sekarang kamu selamat, sudah dulu yah… saya lagi di bus nih! nanti saja cerita lagi. Lima belas menit lagi juga sampai ok!”, pria itu menutup telepon tak lama setelah mengucap salam.
Mendengar ucapan beberapa kalimat pria itu, hati saya terusik dan membuat diri ini termangu cukup lama. Entah apa ya yang Tuhan rencanakan, setidaknya pagi ini tiga kondisi penting telah saya temui dan terasa begitu dahsyatnya mengusik keberadaan diri; Si mbok jamu dengan kepeduliannya pada sesama, dua bocah pengamen yang mampu lepas menikmati keadaan, dan kini seorang pria yang tak saya kenal menunjukkan sikap bijaknya untuk berpikir positif pada Sang Maha Pencipta. Betapa pagi ini saya merasa menjadi seorang yang begitu beruntung. Menerima tambahan ilmu kehidupan tanpa harus menghadiri kelas apalagi membaca buku… sungguh sesuatu yang begitu indahnya.
”Tuhan, semoga jalan kebaikan yang telah Engkau tunjukkan pada diri ini takkan pernah Engkau padamkan cahayanya sehingga hamba yang lemah ini takkan pernah berpaling ke jalan lain yang dapat membuat diriku jauh dariMu…”, seuntai kalimat itu terucap dalam hati mengiringi kebahagiaan suasana pagi yang saya terima pagi ini.
Pagi ini di kelas sekolah kehidupan saya bertemu tiga orang guru yang mungkin dalam keseharian mereka terlihat begitu kecil sebagai pengisi kehidupan namun ternyata memiliki jiwa begitu besar. Kesederhaanaan sikap mereka pada beberapa bagian kehidupan telah menggetarkan hati ini yang seringkali tak mampu menempatkan diri dengan baik karena teramat sering salah memilih sikap dengan berbangga diri dan cenderung tak pernah merasa puas. Dan membandingkan diri ini dengan ketiganya, rasanya hati kecil ini perlahan menciut karena harus mengakui segala kelemahan itu…
Sekali lagi segenggam bibit ilmu kehidupan telah saya terima secara gratis untuk ditanam dan diamalkan. Semoga kelak sepanjang napas ini berhembus ia tumbuh menjadi satu tanaman yang mampu berdiri tegak memayungi siapapun yang singgah dibawah rindang daunnya. Semoga ia juga akan tetap kokoh menghadapi badai kehidupan yang datangnya tak terduga. Dan mengingat – ingat semua itu, pada doa di dalam hati, sekali lagi saya meminta kepadaNya semoga pelajaran yang saya terima hari ini akan menjadi ilmu yang bisa saya terapkan, ilmu yang tidak hanya sekedar teori namun tak pernah bisa dilaksanakan.
Semoga saja semua keinginan sederhana itu dapat terjaga dari alpa dan bukan hanya sekedar harapan yang teruntai lewat kiasan indah tanpa makna. Sungguh, betapa diri ini ingin turut merasakan bahagia dalam arti sesungguhnya.
Salam,
Hary Lasmana


