Entries from November 2007 ↓

Bersyukur (bag.3 -selesai)

Beberapa menit kemudian laju bus yang bergerak perlahan berhenti untuk mengangkut penumpang di tepi jalan. Tawa khas kedua bocah yang sebelumnya meramaikan suasana dalam bus sayup – sayup menghilang seiring turunnya mereka saat bus berhenti menaikkan penumpang. Suasana berubah sepi. Tiada lagi suara tawa kedua pengamen yang mungkin takkan pernah dapat saya lupakan.

Turunnya kedua bocah pengamen itu tergantikan dengan tiga orang penumpang yang duduk menyebar diantara kursi kosong dalam bus. Diantara ketiganya, salah seorang penumpang yang tak sengaja saya amati adalah seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang nampak begitu tenang dan serius dalam mimik wajahnya. Kepalan tangan kirinya mengapit ponsel di bagian telinga. Ia nampak seksama mendengarkan suara percakapan dari alat komunikasi itu kemudian duduk tepat disamping kursi kosong yang berseberangan dari tempat saya berada.

”Sudah kamu tenang saja… Iya ini saya sedang menuju ke sana, nanti kalau sudah sampai baru kamu cerita lagi ya. Sekarang sabar saja dulu…”. pria itu tiba – tiba berkata – kata. Kemudian untuk beberapa saat ia terdiam dan kembali mendengarkan suara dari speaker ponselnya dengan seksama.

”Sudahlah kamu tenang dulu, tenang, cukup itu saja yang perlu dilakukan sekarang. Percaya deh, kalau semua yang diambil sama Yang di Atas sana pasti akan diganti dengan yang lebih baik. Semua pasti ada hikmahnya. Yang penting sekarang kamu selamat, sudah dulu yah… saya lagi di bus nih! nanti saja cerita lagi. Lima belas menit lagi juga sampai ok!”, pria itu menutup telepon tak lama setelah mengucap salam.

Mendengar ucapan beberapa kalimat pria itu, hati saya terusik dan membuat diri ini termangu cukup lama. Entah apa ya yang Tuhan rencanakan, setidaknya pagi ini tiga kondisi penting telah saya temui dan terasa begitu dahsyatnya mengusik keberadaan diri; Si mbok jamu dengan kepeduliannya pada sesama, dua bocah pengamen yang mampu lepas menikmati keadaan, dan kini seorang pria yang tak saya kenal menunjukkan sikap bijaknya untuk berpikir positif pada Sang Maha Pencipta. Betapa pagi ini saya merasa menjadi seorang yang begitu beruntung. Menerima tambahan ilmu kehidupan tanpa harus menghadiri kelas apalagi membaca buku… sungguh sesuatu yang begitu indahnya.

”Tuhan, semoga jalan kebaikan yang telah Engkau tunjukkan pada diri ini takkan pernah Engkau padamkan cahayanya sehingga hamba yang lemah ini takkan pernah berpaling ke jalan lain yang dapat membuat diriku jauh dariMu…”, seuntai kalimat itu terucap dalam hati mengiringi kebahagiaan suasana pagi yang saya terima pagi ini.

Pagi ini di kelas sekolah kehidupan saya bertemu tiga orang guru yang mungkin dalam keseharian mereka terlihat begitu kecil sebagai pengisi kehidupan namun ternyata memiliki jiwa begitu besar. Kesederhaanaan sikap mereka pada beberapa bagian kehidupan telah menggetarkan hati ini yang seringkali tak mampu menempatkan diri dengan baik karena teramat sering salah memilih sikap dengan berbangga diri dan cenderung tak pernah merasa puas. Dan membandingkan diri ini dengan ketiganya, rasanya hati kecil ini perlahan menciut karena harus mengakui segala kelemahan itu…

Sekali lagi segenggam bibit ilmu kehidupan telah saya terima secara gratis untuk ditanam dan diamalkan. Semoga kelak sepanjang napas ini berhembus ia tumbuh menjadi satu tanaman yang mampu berdiri tegak memayungi siapapun yang singgah dibawah rindang daunnya. Semoga ia juga akan tetap kokoh menghadapi badai kehidupan yang datangnya tak terduga. Dan mengingat – ingat semua itu, pada doa di dalam hati, sekali lagi saya meminta kepadaNya semoga pelajaran yang saya terima hari ini akan menjadi ilmu yang bisa saya terapkan, ilmu yang tidak hanya sekedar teori namun tak pernah bisa dilaksanakan.

Semoga saja semua keinginan sederhana itu dapat terjaga dari alpa dan bukan hanya sekedar harapan yang teruntai lewat kiasan indah tanpa makna. Sungguh, betapa diri ini ingin turut merasakan bahagia dalam arti sesungguhnya.

Salam,

Hary Lasmana

Bersyukur (bag.2)

Usai kepergian si mbok jamu, beberapa saat kemudian sayapun bersiap diri untuk pergi ke tempat kerja. Setelah mandi dan berseragam, seperti biasa, tak lupa menggendong tas di sebelah bahu saya lantas pamit pada mama dengan mencium tangan kanannya untuk meminta restu dan doa selamat. Pada langkah pertama saya keluar dari rumah, satu harapan muncul bersambung doa yang terucap dalam hati. Sebuah keinginan yang hanya saya dan Sang Maha Pencipta yang tahu. Selangkah demi selangkah kaki ini membawa saya menjauh dari rumah.

Hari ini udara terasa lembab entah karena apa. Angin kering menyebarkan udara panas yang bersumber dari pancaran sinar matahari yang bersinar begitu terang sejak awal penampakkannya. Pijar pusat energi bumi itu nampak beberapa kali memantul di atas kaca jendela gedung di pinggir jalan yang saya lalui. Baik saat berjalan hingga naik ke dalam bus yang menjadi kendaraan setia pengantar tubuh ini tiba di tempat tujuan, cahaya matahari terasa begitu terangnya dengan rasa udara tak jauh berbeda. Perkiraan saya, baru separuh pagi waktu berjalan, namun rasa panasnya seperti beranjak ke tengah hari. ”Mungkin dampak pemanasan global”, ucap diri ini mencari alasan semua keadaan itu.

Bus yang saya tumpangi berjalan tersendat diantara padat kerumunan kendaraan lain lalu berhenti tepat di depan sebuah halte untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Diantara lalu lalang aktivitas itu, dua pengamen cilik turut serta masuk ke dalam bus. Dan dengan sesegar keduanya lantas mengambil posisi berdiri tepat ditengah bus lalu bernyanyi setelah mengucapkan salam pembuka seadanya.

Suasana dalam bus mulai terasa berbeda dari sebelumnya dengan kehadiran dua bocah pengamen itu. Namun kasihan, meski suara lantang keduanya terdengar memenuhi seisi bus, nampaknya tak banyak penumpang yang memperhatikan keberadaan dua sejoli yang asik bernyanyi dengan nada sumbang mereka. Tak seorangpun acuh bahkan mungkin menganggap keduanya tak ada. Setelah beberapa bait dari dua lagu berbeda, salah seorang anak kemudian mengedarkan plastik pembungkus permen yang lusuh sebagai penutup ”pertunjukan” mereka dari kursi terdepan hingga paling akhir. Lalu berjalan ke arah belakang bus diikuti temannya yang begitu saja menghentikan nyanyiannya. Suasana kembali sepi.

”Dapat berapa?”, terdengar suara gembira penuh semangat salah seorang anak.

Terdengar gemerincing uang receh yang sepertinya dijatuhkan untuk dihitung jumlahnya. ”Cuma seratus…”

”haaaaahhhhhhh!?!??”, keterkejutan si penanya ditutup dengan tawa oleh keduanya. Tawa yang terdengar begitu gembira… tawa sederhana yang begitu lepas. Entahlah apa yang mereka tertawakan, yang jelas tawa mereka telah menarik penumpang lain terusik hingga memalingkan muka ke arah mereka, tak terkecuali saya.

Keduanya tertawa dan terus tertawa diantara deru bising mesin bus hingga beberapa saat. Tanpa disadari, nampaknya tawa keduanya tak sengaja telah mengusik hati penumpang yang mungkin jauh lebih beruntung dalam hal materi dari mereka. Namun kedua bocah yang mungkin memiliki kebesaran hati jauh lebih besar ini nampaknya tak menyadari hal itu. Bahkan tanpa menggurui, tawa keduanya makin terasa keras mengingatkan diri ini akan kesederhanaan berpikir dalam menerima kehidupan seperti apa adanya. Tertawalah, tersenyumlah, beryukurlah! Sikap sederhana itu jelas membuat siapapun menjadi nampak jauh lebih besar dari yang terlihat sebagaimana yang dicontohkan kedua bocah pengamen itu. Saya bersyukur, merasa beruntung keduanya naik dalam bus yang saya tumpangi.

(bersambung)