Entries from February 2008 ↓
February 27th, 2008 — Uncategorized
Beberapa
teman seringkali datang ke saya saat flash disk, memori card, harddisk, atau
perangkat penyimpanan digital lain milik mereka hilang terhapus virus,
ter-delete tanpa backup, atau tiba-tiba rusak sehingga tidak dapat diakses
lagi. Harapan mereka mendatangi saya tentu saja untuk meminta bantuan agar saya
dapat “mengembalikan" data yang hilang tersebut supaya bisa kembali
dipergunakan sebagaimana keadaan sebelumnya. Dan saya yang mendapat kepercayaan
dimintai bantuan seperti itu tentu saja selama ada waktu luang akan dengan
senang hati membantu. Apalagi hal menyenangkannya adalah ketika data yang
hilang dapat diambil kemudian saat diserahkan pada si empunya biasanya semangkok
bakso atau sebatang coklat segera terhidang sebagai ucapan terima kasih. ^_^
Setelah
berulang kali menerima "job" semacam ini dan dengan berdasar riset
kecil juga niat iseng-iseng bermanfaat, saya mengambil satu kesimpulan kecil
yang disertai kemirisan hati; bahwa ternyata pengetahuan masyarakat umum akan
penggunaan perangkat digital para pengguna alat elektronik yang menggunakan
media penyimpanan data masih amat rendah. Banyak pengguna penyimpanan media
digital tidak mengetahui pentingnya menjaga keamanan data dan file mereka agar
tidak disebarluaskan atau dimanfaatkan oleh pihak tertentu yang bukan haknya.
Sebagai
contoh Memory Card handphone yang berisi foto atau rekaman yang bersifat pribadi.
Saat handphone kita rusak atau dijual beserta memory cardnya misalnya; jika
seorang teknisi hp ataupun pengguna handphone 2nd yang iseng
memiliki kemampuan mengambil file-file yang terhapus atau diformat, biasanya
file-file tersebut akan disimpan sebagai sebuah “koleksi pribadinya” yang
kemungkinan besar cepat atau lambat akan tersebar melalui metode berbagi file
pada teman atau siapapun yang diinginkannya. Dan gawatnya, jika si pelaku iseng
tersebut menyebar luaskan melalui koneksi internet bisa dibayangkan betapa cepat
dan luas penyebarannya hingga kemungkinan besar akan begitu sulit diprediksi area
sebarannya dan bisa jadi tak bisa dihentikan. Coba bayangkan jika hal ini yang
terjadi pada file pribadi Anda? Sudah terbayang kerugiannya bukan…
Nah
sebelum hal-hal merugikan tersebut terjadi pada diri Anda sekaligus juga untuk
mencegah dampak negativenya lebih lanjut –baik pada diri sendiri, teman,
keluarga, dan orang-orang yang Anda sayangi, maka sebaiknya sebelum media
penyimpanan digital milik Anda (apapun bentuknya) dipindah tangankan karena
dipinjam, dijual, atau hendak dibuang selamanya satuhal yang perlu dilakukan
adalah bersihkan (hapus) data dan file pribadi Anda secara permanen dengan
cara:
1. Hapus
seluruh data yang ada di media penyimpanan digital Anda.
2. Kemudian lakukan format media penyimpanan digital
tersebut
3. Berikutnya isi penuh media penyimpanan Anda dengan
data sampah (file-file tidak penting; misalnya MP3, program computer, dll) hingga
memunculkan keterangan bahwa media penyimpanan digital sudah penuh dan tidak
dapat diisi kembali yang memunculkan pesan:

Kini
setelah Anda melakukan tiga hal diatas, Anda telah melakukan pengamanan data
dan file pribadi dari tangan-tangan jahil yang memiliki “kemampuan lebih” dalam
mengembalikan data yang terhapus. Namun jika masih merasa khawatir, cukup ulangi
point ke-3 berulang kali hingga Anda merasa yakin. Lakukan: Kosongkan, isi
hingga penuh, kosongkan lagi, isi hingga penuh lagi, dan seterusnya. (note:
Saya tidak menyarankan melakukan format berulang kali, cukup melakukan poin
ke-3 saja). Insya Alloh jikapun orang lain yang memiliki kemampuan mengambil
data ataupun file yang telah dihapus, maka hasil yang didapatnya tidak akan
sempurna. Seperti contoh file .JPG berikut:

Dan sebagai sebagai penutup
tulisan ini ijinkan saya kembali mengingatkan sahabat sekalian bahwa… Menghapus
(delete) dan FORMAT media penyimpanan digital tidaklah menghapus data yang
tersimpan di dalam media tersebut SECARA PERMANEN karena pada dasarnya masih
tersimpan di dalam fisik media penyimpanan digital. Dan data yang tersimpan
tersebut pada dasarnya masih dapat diakses kembali dengan menggunakan metode tertentu. Jadi pintar-pintarlah menjaga media
penyimpanan digital Anda, karena melalui data dan file didalamnya dapat
tersiar cerita tentang apa dan siapa pemiliknya.
Salam,
Hary Lasmana
February 18th, 2008 — Uncategorized
Riuh rendah polemik mengenai kehadiran agama baru dan konsep ke-Tuhan-an yang terus berkembang, belakangan ini saya senang sekali memperhatikan beragam kegiatan yang menjadi bagian hidup masyarakat. Ketika masyarakat tersinggung dan marah bahkan kerap bersikap anarkis langsung pada si pelaku yang dianggap melakukan penyimpangan konsep ke-Tuhan-an karena atribut agama yang dikembangkan melebar dan tidak sesuai kaidah umum, banyak masyarakat bahkan para pemuka agama rupanya tidak menyadari bahwa “agama-agama baru” dengan wujud lain dan tanpa nama bermunculan merasuk ke hati dan perilaku keseharian masyarakat. Dan dari pengamatan keseharian itu, setidaknya ada (baru) tiga hal pokok yang bisa saya rangkum dari pengamatan tersebut, yaitu:
Games Elektronik
Kehadiran permainan elektronik semacam playstation, Wii (Nitendo), X-Box, atau computer games yang dapat dimainkan oleh siapapun dan dari segala usia siapa disangka kini telah menjadi sebuah trend dan gaya hidup tersendiri bagi penikmatnya. Baik anak-anak, remaja, maupun orang tua penggila permainan ini seringkali hanyut dalam permainan dan lupa akan segalanya. Lupa makan, ibadah, bahkan lupa kewajiban utama lainnya. Bahkan pernah terjadi seorang anak sekolah dasar di laporkan hilang oleh keluarganya karena beberapa hari tidak pulang ternyata ditemukan sedang berada di sebuah rental komputer (baca: warnet) tempat langganan anak-anak seusianya bermain games online. Dahsyat bukan?
Televisi
Banyak orang tidak menyadari efek negatif televisi. Terbuangnya waktu sia-sia saat menikmati tayangan yang memikat dan tanpa terasa menjadi candu bagi pelanggan setia hiburan elektronik ini. Coba tanya ibu-ibu di rumah saat mereka tak ada kegiatan? jika diperhatikan, televisi adalah pembuang kejenuhan utama bagi mereka. Sejak sore hingga menjelang tengah malam siaran televisi seolah gerbong kereta yang begitu panjang tanpa henti menawarkan hiburan dengan tayangan sinetronnya. Dan strategi pemasangan tayangan ini harus diakui memang begitu tepat menjadikan perempuan sebagai target utamanya. Kaum ibu, khususnya dari golongan kelas menengah ke bawah seolah menjadi jamaah yang tak perlu diatur barisannya untuk berada di depan televisi saat sinetron kesenangan mereka diputar. Sinetron menjadi sesuatu yang wajib disaksikan.
Tak hanya kaum ibu, coba tengok para lelaki dimanapun (terutama penggila sepakbola). Pada jam-jam tertentu saat tengah malam, biasanya mereka akan bangun untuk menyaksikan pertandingan yang dinantikan. Coba bandingkan jika pada waktu yang sama di hari berbeda tanpa siaran pertandingan olahraga apakah ia mampu bangun untuk ibadah menyembah pada Tuhan penciptanya? Pasti sulit dilakukan.
Lain orang tua, tak jauh berbeda dengan perilaku anak-anaknya. Televisi juga menjadi bagian hidup usia kanak-kanak. Sebagaimana para ibu dengan sinetron, para pria dengan tayangan olahraga, anak-anak memiliki jatah tayangan juga. Film-film cartoon maupun siaran lain yang disaksikan oleh anak-anak pada umumnya meski tak segencar sinetron seolah menjadi sesuatu yang wajib disaksikan sebagai bahan cerita di sekolah. Satu hal yang paling mengkhawatirkan dari sisi ini adalah sikap dan perilaku anak yang tidak memahami sepenuhnya bahwa segala yang mereka saksikan di televisi adalah tidak sepenuhnya benar karena berisi trik kamera dan rekayasa komputer. Telah terjadi kasus kemtian dan kecelakaan beberapa anak karena ketidakpahaman mereka akan tayangan televisi ditambah lagi sikap konsumtif akibat iklan produk komersil yang bertubi-tubi menghujani selingan tayangan yang ditonton.
Betapa hebat televisi kini telah merasuk ke kehidupan keluarga yang membuat kita lupa akan tujuan hidup sesungguhnya.
Rutinitas Pekerjaan
Di tempat kerja coba perhatikan, betapa banyak orang tanpa sadar melalaikan tugas dan tanggungjawabnya sebagai seorang hamba. Mengabaikan kewajiban sholat hingga akhir waktu bahkan tak jarang juga jadi terlewat. Rutinitas pekerjaan tak ayal seolah menjadi Tuhan baru dimana seseorang tanpa sukses pekerjaan seolah eksistensi keberadaan dirinya terhapus. Manusia dalam golongan ini cenderung mengutamakan instruksi atasan daripada kewajiban utama seorang manusia terhadap Tuhannya. Dan jika dari segi sikap terlihat demikian, penampilanpun setali tiga uang. Jika ke kantor pakaian nampak necis dan perlente, berbeda saat melaksanakan ibadah terutama di rumah. Cukup pakaian biasa, yang penting bersih dan sederhana.
Ketiga hal yang saya utarakan tersebut bukanlah sebuah fenomena baru. Pergeseran nilai-nilai ini tanpa kita sadari terjadi secara perlahan. Jika saat saya menuliskan artikel ini baru tiga termuat, bisa saja dikemudian hari jumlahnya akan bertambah seiring pergeseran nilai-nilai dan budaya masyarakat. Miris… namun apa bisa dikata, begitulah gaya pendidikan kapitalisme budaya barat yang diajarkan oleh orang tua kepada anak-anaknya tanpa mengerti dulu pengaruh besarnya kelak. Sebagaimana pepatah mengatakan “Hemat pangkal kaya” yang sering disalah artikan oleh banyak orang, telah kita saksikan kini (atau mungkin kita juga menjadi bagian di dalamnya) bahwa banyak orang yang merasa aman dan nyaman karena panjang deretan angka di buku tabungannya daripada banyak beramal dan berbuat baik pada orang lain. Kita lupa bahwa harta adalah amanah yang bukan milik abadi setiap insan. Cepat atau lambat, seperti air ia akan mengalir baik disalurkan oleh kita atau tidak.
Kita tahu dan mengerti bahwa setiap nafas kita digenggam olehNya, hidup dan mati kita ditanganNya, dan semoga saja kita tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang silau akan materi dunia yang membuat segala wujud kebendaan itu menjadi tembok pemisah antara kita dan Sang Pencipta.
Salam,
Hary Lasmana
February 8th, 2008 — Uncategorized
"Saya masih disini…!", hanya kata-kata itu yang terlintas dalam benak untuk disampaikan tatkala beberapa rekan dan sahabat setia yang berulangkali mampir ke blog ini dan mendapatinya tanpa perubahan.
Maaf… bukan maksud hati hendak mengabaikan keinginan para sahabat, blog ini memang seharusnya di update seminggu sekali sebagaimana keinginan sebelumnya, namun sayangnya akibat rutinitas baru yang membuat saya harus menyesuaikan diri cukup lama dengan perubahan itu membuat saya jarang sekali terkoneksi ke internet. Maaf… sekali lagi saya minta maaf. Dan berhubung saya sudah mulai berkata-kata dengan tulisan kembali, maka Insya Allah mulai bulan ini keteraturan update tulisan akan saya jaga. Adakah yang punya ide atau saran hari apa sebaiknya update blog dilakukan dan tema apa saja yang baiknya saya bahas disini?
Sahabat… terima kasih atas segala dukungan dan doa yang membuat saya hingga kini masih mampu menulis meski dalam beberapa waktu kemarin melalui format tulisan yang berbeda.
Saya menulis dan Anda membaca… semoga kita bisa mengambil manfaat darinya.
Salam,
Hary Lasmana