Entries from March 2008 ↓
March 17th, 2008 — Uncategorized
"Peralatan Elektrik! Solusi penanganan krisis minyak dan gas bumi di masa depan"
Ditengah-tengah riuh-rendah kampanye pemanasan global (Global Warming),
kita pasti telah tahu bahwa penyumbang terbesar Gas Rumah Kaca di
Atmosfer adalah berasal dari sisa-sisa pembakaran bahan bakar minyak
sebagai sumber utama penghasil energi. Dan ironisnya, hingga kini bahan
bakar minyak tersebut merupakan sumber utama penghasil energi yang
dibutuhkan seluruh lapisan masyarakat. Entah itu menjalankan mesin
industri, kendaraan bermotor, maupun peralatan rumah tangga seperti
kompor dan pemanas air, mayoritas kita masih sangat ketergantungan
dengan bahan bakar yang digali dari dalam perut bumi itu.
Melihat
kenyataan yang ada, tentu sangatlah tidak bijak jika kita berupaya
mengurangi dampak pemanasan global dengan menghentikan sama sekali
konsumsi minyak yang telah menjadi salah satu sumber penyedia kebutuhan
hidup manusia ini hanya karena beralasan pemanasan global berdampak
pada penurunan kualitas kehidupan. Bisa kita bayangkan dampak
penghentian penggunaan bahan bakar tentu dapat mengarah pada perusakan
lebih besar bahkan juga pemusnahan kehidupan manusia itu sendiri. Maka
oleh karena itulah sikap terbaik saat ini terhadap penggunaan bahan
bakar dan kaitannya dengan pemanasan global adalah mengupayakan
pengurangan konsumsinya yaitu dengan cara menerapkan skala prioritas
penggunaannya yang bertujuan untuk mengefektif dan efisiensikan
penggunaan bahan bakar. Dengan melaksanakan hal yang demikian
diharapkan kesia-siaan dan pemborosan bahan bakar bisa dihentikan dan
dampak lebih luas bisa dirasakan dalam mewujudkan kualitas kehidupan
yang lebih baik sementara kita
berupaya mencari sumber energi alternatif pengganti bahan bakar minyak tersebut.
Berkat upaya dan perhatian mendalam, oleh para ahli kini beberapa
solusi energi alternatif telah ditemukan. Jika selama ini kita lebih
terpaku dan ketergantungan pada penggunaan mineral yang terdapat di
dalam bumi sebagai sumber utama energi, dipermukaannya –bumi , ternyata
menyediakan sumber energi potensial lain yang selama ini kerap kita
abaikan keberadaannya. Sebutlah diantaranya sinar matahari, gerak
angin, juga air. Melalui penelitian, ketiganya telah terbukti dapat
menjadi sumber energi dipergunakan secara luas. Entah sebagai sumber
energi listrik, pemanas air, dan penggerak mesin industri.
Melihat
kenyataan yang ada tersebut –tindakan segelintir orang akan kepedulian
mereka pada lingkungan dan kualitas kehidupan manusia di masa depan,
saya amat berharap upaya seperti ini bisa mendapat dukungan maksimal
dari masyarakat dan pemerintah secara khusus. Agar masyarakat tergerak
mau mencoba dan menggunakan produk yang menggunakan energi alternatif
ini dan pemerintah turut mempermudah sosialisasinya di masyarakat. Dan
jika hal ini yang terjadi, maka dalam bayang pikiran saya maka baik
pemerintah maupun masyarakat tentu akan sama-sama menikmati manfaatnya.
Keduanya sama-sama diuntungkan atas penggunaan kendaraan yang sumber
tenaganya berasal dari pasokan mineral di dalam bumi yang suatu saat
kelak pasti akan habis.
Sebagai contoh misalnya saya menggunakan
perbanding penggunaan motor elektrik roda dua dengan kendaraan yang
berjenis sama yang berbahan bakar minyak. Sebagaimana yang tertulis
dalam salah satu brosur motor listrik yang saya dapatkan dari sebuah
pameran, kecepatan maksimal motor elektrik adalah 45-50 Km/jam berdaya
tempuh “70km dan dengan beban charge accu maks 170 watt untuk mengisi
1,5 kwh (jika kosong sama sekali perlu dicharge 8 jam), maka silahkan
hitung sendiri perbandingannya antara motor berbahan bakar bensin yang
harga bahan bakarnya mencapai Rp.4500/liter dengan menggunakan motor
elektrik yang saya asumsikan tarif dasarnya Rp.600/Kwh. Tentu lebih
hemat motor elektrik bukan?
Dan bukan itu saja, coba Anda bayangkan
seandainya di masa depan teknologi panel surya berkembang begitu cepat
dan dapat ditanam di body motor elektrik, maka motor elektrik semacama
inipun tak perlu lagi dicharge tenaganya. Karena secara otomatis pijar
cahaya akan diubah menjadi sumber tenaga dan disimpan dalam accu
cadangan. Secara logika tentu hal ini dapat diterapkan dan bukan
sekedar angan belaka. Sebagaimana komputer pertama yang begitu besar
hingga fisiknya memenuhi satu ruangan besar, kini setelah berpuluh
tahun lamanya ia “berevolusi” hingga ukurannya mengecil hingga sebesar
satu genggaman tangan saja bahkan dengan fungsi yang tak pernah
terbayang sebelumnya. Dan demikian juga, sama halnya yang akan terjadi
dengan panel tenaga surya kita saat ini. Jika saat ini telah tersedia
begitu banyak kalkulator yang tidak menggunakan battere melainkan
energinya berasal dari pijar cahaya, maka kelak hal yang samapun akan
terjadi pada peralatan elektrik kita. Dan jika hal itu sungguh terjadi,
silahkan hitung sendiri berapa dana yang dapat dihemat dari subsidi BBM
kelak yang harganya kian melambung di pasar dunia. Dan karena alasan
terakhir yang saya sebutkan itulah setidaknya mengapa kita perlu
mendukung satu gerakan elektrisasi kendaraan dan mesin berbahan bakar
minyak yang dibundel dengan pengembangan teknologi panel surya yang
sumbernya (pijar matahari .red) takkan pernah habis hingga akhir jaman.
Mungkin Anda dan banyak orang yang membaca tulisan saya ini berpikir
dan membayangkan bahwa angan-angan saya ini terlalu muluk. Jika dugaan
saya itu benar dan Anda kurang berkenan dengannya, saya meminta maaf
karena memang saya tak bermaksud buruk. Dalam benak saya saat ini saya
hanya berupaya mengajukan satu solusi sederhana, sebuah terobosan kecil
akan harapan untuk memiliki alam bumi yang lebih baik di masa depan dan
bukan alam bumi yang semakin rusak. Saya percaya jika kita bersama-sama
peduli dan mau bergandengan tangan maka apa yang saya harapkan beserta
teman-teman lain yang peduli maka perbaikan kondisi lingkungan hidup
kita tentu akan dapat segera tercapai. Apalagi dengan melihat sisi
positifnya adalah ternyata upaya yang demikian berarti kita tidak hanya
menghemat sumber daya alam yang telah ada tetapi juga mengurangi
pengeluaran uang pribadi dan kas negara untuk sesuatu yang tidak perlu.
Pijar matahari, gerak angin, bahkan kotoran hewan sekalipun telah
terbukti dapat menjadi sumber energi alternatif yang tak kalah
hebatnya. Rasanya teramat pantas jika kini sekarang giliran Anda
melempar ide lain, adakah sesuatu yang bisa Anda perbuat untuk generasi
yang akan datang?
Salam,
Hary Lasmana
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Hary Lasmana [at] Rezaervani [dot] com | http://hlasmana. rezaervani. com
[online web] | www.hlasmana. tk
blog archive | http://pirez. blogs.friendster .com/pirezs_ blog/
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
March 5th, 2008 — Uncategorized
Mendapati betapa banyak masyarakat yang peduli dan mulai sadar akan ancaman kerusakan lingkungan belakangan ini, saya sungguh bersyukur. Mata mereka yang tadinya tertutup dan cuek serta berlaku “semau gue” tanpa memperdulikan pentingnya kebersihan dan kelestarian lingkungan kini mulai terbuka dengan bertubi-tubinya bencana yang datang silih berganti dengan dampaknya secara langsung. Entah banjir yang berulang kali datang, tanah longsor, tak menentunya musim kemarau dan penghujan, kini menjadi hal serius yang menarik perhatian setelah sebelumnya tak pernah diperhitungkan kedatangannya.
Banyak media memberitakan, orang-orang berkumpul membicarakan, para aktivis melakukan aksi dan kampanye, dan juga berbagai organisasi serta perusahaan mendukung kepedulian lingkungan ini yang telah menjadi isu global yang menuntut perhatian serius dari siapapun saya berharap kegiatan seperti ini bukan tindakan sesaat melainkan kegiatan berkesinambungan. Dan menyaksikan semua itu, setelah malam sebelumnya saya merasakan bagaimana kepedulian salah satu gerai pasar swalayan yang mendukung “aksi hijau” bumi dengan cara menjual kantung belanja kain yang bisa dicuci ulang sehingga tak perlu menggunakan kantung plastik saat berbelanja guna mengurangi sampah plastik serta setibanya di rumah saya saksikan sebuah stasiun siaran televisi mengusung program Go Green, tiba-tiba saja hati saya merasa sedikit miris dengan satu pertanyaan, “Dimana Pemerintah dan para politisi berpijak dengan keadaan ini? Ketika sesuatu yang hangat telah menjadi perbincangan di masyarakat karena dampaknya yang begitu dahsyat, nampaknya isi kepala pejabat pemerintahan dan politisi baik dulu dan sekarang tak pernah jauh berbeda. Mereka selalu merasa nyaman dalam kondisi apapun dan terlena dengan kursi empuk kendaraan mereka yang dibiayai dari pajak seluruh masyarakat yang mereka layani dengan pilih kasih… Dasar tak punya harga diri!”
Mendapati keadaan demikian, rasanya satuhal yang perlu dilakukan oleh masyarakat yang peduli dengan hal ini adalah bersatu. Menyatu dalam satu tujuan untuk menyelamatkan bumi dan kehidupannya. Bersatu melintasi batas daerah, wilayah, negara, untuk kehidupan di masa depan yang lebih baik karena jika tidak, aksi-aksi dan gaung yang terdengar saat ini seperti sebuah nyanyian merdu sebuah lagu bernama dinamika kehidupan yang terkungkung dalam tempurung saja. Terlihat, terdengar, dan dirasakan, namun tak ada hasil.
Sebagian kecil masyarakat mulai menghemat penggunaan listrik, bahan bakar, dan selektif pada peakaian peralatan yang menyisakan sampah, namun sayangnya hingga kini sebagian besar masyarakat justru kerap menghambur-hamburkannya dengan porsi yang tidak seimbang antara mereka yang menghemat dan yang tidak peduli. Dan aksi terhadap masyarakat yang demikian agar mereka juga turut mau peduli dengan lingkungan adalah perlunya tekanan dari penguasa dalam hal ini pemerintah juga politisi untuk bertindak membuat sebuah peraturan dan tata tertib yang tegas. Karena jika tidak ditindak, secara cepat atau lambat jika hal ini dibiarkan maka bencana akan segera terjadi. Dan saat bencana yang dikhawatirkan benar-benar, maka semua akan kena imbasnya. Bencana tak pernah melihat siapapun! Baik masyarakat yang peduli lingkungan ataupun masyarakat yang tidak peduli lingkungan akan terkena dampaknya.
Maka untuk itulah, saatnya bergandeng tangan menuntut pemerintah agar benar-benar peduli demi kesejahteraan masyarakat luas dan bukan demi kepentingan politik sesaat. Dan tentu saja bukan hanya pemerintah di Indonesia saja, seluruh dunia pun harus melakukan hal yang sama dan untuk kepentingan bersama masyarakat dunia ini. Saya rasa jika kita melakukannya bersama-sama, maka kelak keinginan kita ini bukan hanya sekedar wacana tetapi bisa menjadi tindakan nyata demi kelangsungan hidup berguna umat manusia di masa depan. Hanya saja pertanyaannya, “Maukah kita memulainya bersama?”
Salam
Hary Lasmana
March 1st, 2008 — Uncategorized
Apa itu Pemanasan Global?
Belakangan ini kata ”Pemanasan global” rasanya sudah tak asing lagi di telinga kita. Begitu banyak selebaran, siaran radio, dan aksi turun ke jalan oleh aktivis pecinta lingkungan yang diliput berbagai media tentang hal ini. Dan melihat keadaan tersebut sayangnya beberapa kali saya temukan ternyata ada mis-komunikasi antara pemberi informasi dan masyarakat awam tentang arti dan makna pemanasan global ini. Kita semua tahu bahwasannya pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan, namun berapakah banyak dari kita yang tahu bahwa sebenarnya bumi yang kita tempati ini telah berulangkali mengalami terjadinya penghangatan juga pendinginan dalam 4 milyar tahun keberadaannya? Maka karena dasar alasan itulah, melalui tulisan ini saya berharap dapat memberi informasi tambahan dalam meluruskan dan menambah informasi lain berkaitan isu pemanasan global yang seolah meneror masyarakat hingga khawatir karena efek kehancurannya bagi kehidupan manusia begitu dahsyat menurut prediksi para ahli ilmu bumi.
Terjadinya Pemanasan Global
Pemanasan global (menghangatnya suhu bumi) –sebagaimana informasi yang saya dapatkan dari Wikipedia dan situs kementrian lingkungan hidup –penyebab utamanya adalah akibat sinar matahari yang masuk ke bumi tidak dapat keluar (terjebak) di dalam lapisan udara bumi karena tertahan oleh gas rumah kaca di atmosfir. Gas rumah kaca yang merupakan sekumpulan karbondioksida dan gas-gas lain yang bersumber dari pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam ini ”mengikat” sebagian sinar matahari yang dipancarkan ke Bumi tidak memantul kembali keluar atmosfir yang mengakibatkan suhu udara di bumi meningkat. Sebagai ilustrasi sahabat pembaca dapat melihat gambar yang saya kutip dari situs kementrian lingkungan hidup:
Dampak Pemanasan Global
Sebenarnya tak ada yang perlu dikhawatirkan pada menghangatnya suhu di bumi karena secara lahiriah setiap mahluk yang ada di bumi diciptakan untuk beradaptasi dengan keadaan alam sekitarnya, namun satuhal yang kini dikhawatirkan para ahli lingkungan hidup adalah pemanasan global pada beberapa tahun belakangan ini terjadi begitu cepat sehingga berpotensi menimbulkan bencana alam dengan dampak kerusakan yang begitu besar pada masa yang akan datang. Sebagai contoh misalnya pemanasan global yang begitu cepat mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang berdampak pada ketinggian air laut dan membuat daratan-daratan rendah (pulau) terendam air dan tenggelam; pemanasan global juga berdampak pada kelangsungan hidup flora dan fauna dunia yang sangat bergantung pada suhu udara ekosistemnya. Jika flora dan fauna tersebut dapat beradaptasi maka dapat dipastikan kelangsungan hidupnya bisa terjamin sedangkan jika tidak mampu beradaptasi maka kepunahannya sudah diambang pintu; dan selain itu pemanasan global juga dapat berakibat pada meningkatnya korban penyakit yang ditularkan oleh serangga demam berdarah, malaria, dan diare karena dalam iklim hangat serangga sangat mudah berkembang biak. Jika hal demikian terjadi, sudah terbayang bukan bagaimana kelangsungan hidup manusia?
Nah setelah kita ketahui sebab dan akibat dari pemanasan global yang begitu cepat, maka segalanya kini kembali ke diri kita masing-masing apakah akan mendiamkannya dan mengalir seperti apa adanya, atau kita tergerak hati untuk berperan serta aktif didalamnya. Saya sendiri jika dimintai saran, maka saya akan mendorong siapapun untuk turut serta dalam kegiatan peduli pada pemanasan global ini. Kenapa? Karena semua kegiatan harian yang saya lihat dalam kegiatan peduli lingkungan hidup ini adalah kegiatan efektif dan efisien bagi diri sendiri khusunya dan bagi lingkungan hidup kita. Dapat kita saksikan sendiri bagaimana aktivitas peduli lingkungan ini menyarankan masyarakat untuk mengurangi atau setidaknya selektif dalam menggunakan peralatan dan perlengkapan harian seperti berkendaraan umum, penggunaan peralatan listrik hemat energi, penghematan sumber daya air, hemat kertas, dan sebagainya. Dampak kecil dari kegiatan itu bukanlah untuk orang lain melainkan untuk diri kita sendiri juga. Tidak hanya menghemat pengeluaran uang tetapi juga waktu dan tenaga. Dan melihat hasilnya, sahabat pembaca tentu tahu alasan saya mendorong orang lain untuk melakukan hal demikian bukan?
Salam,
Hary Lasmana