Entries from April 2008 ↓

Kepedulian mulai dari rumah

Banyak ibu rumah tangga seringkali mengeluh karena pengeluaran rutin bulanan yang tidak kunjung bertambah namun berlaku sebalinya dengan pemasukan. Hari demi hari inflasi semakin mencekik kebutuhan hidup sehari-hari dan seiring dengan itu berimbas pada hal-hal lain yang juga amat penting. Hal seperti ini jika tidak disikapi dengan baik tentu akan menjadi satu masalah besar yang tidak hanya berimbas pada keharmonisan keluarga namun juga bukan tak mungkin berujung pada perpecahan. Faktor ekonomi tak pelak adalah salah satu penyebab keretakan rumah tangga yang mengakibatkan kerugian besar bagi setiap anggotanya. Nah, sebelum itu terjadi, ada baiknya kita mengelola pengeluaran atau menambah pemasukan keuangan keluarga untuk mencegah keinginan awal membentuk keluarga harmonis hingga akhir hayat itu hancur berantakan hanya karena faktor ketidaksiapan kita mengatasi krisis keuangan keluarga.

Pada kesempatan ini, satu hal yang ingin saya bagi, khususnya yang berkaitan dengan isu pemanasan global adalah bagaimana menyiasati tingginya pengeluaran rutin bulanan atau yang tak tentu akibat peralatan elektrik di rumah kita.

Gunakan Seperlunya

Saat ini, khususnya di kota-kota besar rasanya tak satu rumahpun yang tak tersambung listrik. Hal ini tentunya menandakan listrik adalah suatu kebutuhan primer masyarakat (catatan untuk pemerintah: makanya jangan diprivatisasi ya!) dan karena kebutuhan pokok listrik yang disediakan oleh pemerintah melalui PLN adalah dengan sistem pasca bayar (pakai dulu, bayar kemudian), maka seringkali masyarakat pengguna listrik terlena dan terjebak pola hidup konsumtif dan tak ambil pusing dalam penggunaannya sehari-hari.

Lampu ruangan menyala tanpa ada seorangpun didalamnya, radio dan televisi menyala namun tak seorangpun yang mendengar/menyaksikan, kipas angin, AC, jet pump air tanah, dan peralatan rumah tangga lain yang telah menjadi bagian hidup kita menyala sia-sia seringkali menjadi sumber penyebab tingginya tagihan rekening listrik bulanan. Semua itu akibat kebiasaan pola hidup kita yang tak peduli atau tidak bertanggung jawabnya. Dan dengan kebiasaan itu, imbasnya tentu saja pada penggunanya. Akibat utamanya tentu saja selain membuat besarnya tagihan rekening listrik, selain itu juga mengakibatkan berkurangnya masa pakai benda-benda elektronik tersebut. Misalnya jika sebuah lampu dalam pemakaian normal dapat digunakan dalam 2 tahun, namun karena tidak pernah dimatikan setiap hari maka masa pakainya jadi berkurang separuhnya. Jadilah setiap tahun kita secara rutin membeli lampu yang sama untuk menggantikannya. Merugikan bukan?

Selain tingginya tagihan rekening dan berkurangnya masa pakai benda elektrik, satuhal yang seringkali tak disadari dengan perilaku semacam itu adalah bahaya korsleting yang dapat mengakibatkan kebakaran rumah. Akibat kebiasaan buruk ini kerugian besar terjadi dan seringkali merenggut korban didalamnya. Jadi masihkah kita mau cuek bebek dan tidak mengantispasinya sejak dini dengan resiko sebesar itu?

Selektif Membeli

Jika dalam keseharian kita dapat menghemat listrik dalam penggunaan, ada satu cara lagi untuk menghemat listrik yaitu sebelum membeli peralatan tersebut. Sebelum membeli peralatan elektrik, cobalah cari informasi secukupnya tentang produk yang diminati. Usahakan memilih yang hemat energi dan jangan membeli peralatan elektrik hanya berdasar pada harganya yang murah apalagi karena bentuknya yang bagus. Dengan cara selektif ini maka rencana pengeluaran rutin bulanan kitapun dapat terbantu. Dan selain dengan cara itu, usahakan membeli perlatan elektrik yang multi fungsi.

Dengan membeli peralatan elektrik multi fungsi, maka Anda dapat meghemat pengeluaran untuk beberapa perlengkapan. Selain menghemat dana, peralatan semacam itu tidak membutuhkan tempat seluas perlatan elektrik lain secara terpisah sehingga Anda dengan mudah mengatur posisi dan keserasian ruangan.

Rawat Peralatan Elektronik

Selain menggunakan peralatan listrik seperlunya dan menyeleksi peralatan tersebut sebelum dibeli, satu cara lain untuk menghemat listrik adalah merawat perlatan tersebut. Sebagai contoh misalnya jika Anda menggunakan kipas angin di rumah, coba perhatikanlah apakah telah banyak debu menempel di baling-balingnya? Jika ya, coba bersihkanlah agar kipas tersebut memutar sempurna dan jangan lupa beri sedikit pelumas dibatang besi (dinamo) yang menggerakkan baling-baling itu untuk memperlancar gerak putarnya. Dengan melakukan perawatan demikian, selain memaksimalkan fungsinya, setidaknya akan berimbas pada tarikan listrik yang tentu semakin baik (teratur) dan entah besar maupun kecil tentu akan berefek pada tagihan listrik bulanan disamping tentunya berimbas pada kesehatan keluarga akan lebih terjaga karena debu kotoran yang menumpuk di kipas angin telah dibersihkan.

Coba Anda lakukanlah hal yang sama pada peralatan elektrik lainnya dan selain itu periksalah bagian-bagian tertentu lainnya untuk dibersihkan. Secara rutin periksalah kabel-kabel yang dicolok ke saklar apakah masih sempurna atau telah terkelupas karena digigit serangga atau hewan pengerat? Jika ya cepatlah ganti atau tutup dengan isolasi. Dan selain itu pastikan setiap stop kontak terhubung sempurna dan bukan asal menempel. Hal ini bertujuan untuk memperlancar arus listrik dan mengurangi panas yang timbul akibat konduktor (colokan listrik) yang tidak terhubung dengan pas.

Hemat listrik, selektif dalam peralatan elektronik, dan perawatan untuk memaksimalkan fungsinya bukanlah hal sulit. Jika Anda peduli pada diri Anda sendiri, keluarga, dan bumi kita tercinta, lakukanlah mulai dari sekarang secara teratur dan terus-menerus. Serta usahakan untuk mengajak lingkungan sekitar dimanapun Anda berada. Toh manfaatnya untuk semua bukan?

Act Local, Think Global!

Maaf saya tidak lumpuh

"Nggak bawa motor Har?", lagi-lagi pertanyaan yang sama dilontarkan oleh bibir berbeda seorang kawan saat berpapasan di jalan. Dan kembali -dengan jawaban yang tak jauh berbeda dari jawaban-jawaban sebelumnya -saya menggelengkan kepala sambil memperkuat argumen di dalam hati bahwa nampaknya suatu hal aneh bagi sebagian orang kalau kita memiliki kendaran pribadi namun lebih memilih jalan kaki atau berkendaraan umum saat ini. Sayapun kembali berjalan menuju tempat biasa saya menunggu bus menuju kampus.More...

* * * * * 

Melihat mudahnya kredit motor dan meningkatnya fenomena kredit macet serta dampaknya kelak puluhan tahun yang akan datang nampaknya dirasakan bukan ancaman bagi pemerintah. Pun masyarakat nampaknya terlena dengan semua itu. Perlahan tapi pasti inflasi menekan ekonomi yang sekali-sekali saja memberi kelegaan pada masyarakat dibanding lebih banyak menyesakkan dada mereka yang tidak mengerti apa itu ekonomi makro. Liberalisasi ekonomi sudah berada di depan mata. BUMN satu per satu nampaknya bukan lagi jadi aset yang membanggakan, namun justru menyesakkan negara yang selalu dirundung kerugian setiap usahanya. Tapi yah begitulah memang kalau tak mau belajar dari masa lalu dan menatap masa depan lebih baik apalagi belajar punya rasa malu dan mengenal arti bangga sesungguhnya.

Harga-harga naik, sembako menjadi barang mewah senilai emas di negeri yang terkenal subur. Manusia pribumi yang lahir dan besar di dalamnya ibarat tikus yang perlahan satu per satu mati di lumbung padi. Bergidik saya membayangkan itu semua. Bergidik ngeri membayangkan bencana kemanusiaan yang terjadi jika tidak dihentikan segera.

"Duk!!!". Kepala saya terbentur jendela karena rupanya roda bus terperosok ke dalam lubang jalan yang rasanya baru beberapa bulan lalu di aspal di atasnya. Pikiran yang baru saja menggeliat lebih dalam lenyaplah sudah dan kini beralih ke kejadian yang membuat saya mengaduh meski perlahan. Entah sopir bus yang bengong memikirkan apa? atau bodohnya insinyur sipil jalan raya ini yang sudah lupa rumus campuran aspal agar jalan bisa kuat digunakan bertahun-tahun, atau mungkin tikus di lumbung padi kini telah beralih ke jalan raya dan mengigiti aspal dan bukan padi atau sampah sayur di dapurkah yang membuat jalan raya begitu mudah berlubang? Entahlah.

Perlahan pikiran saya kini jadi melayang pada keadaan bumi ini. Bumi yang tengah gundul dan ompong karena ulah penghuninya. Sayangnya bayangan itu lenyap karena raung knalpot motor begitu bising tepat di samping jendela saya duduk dalam bus. Saya jadi ingat pertanyaan teman di jalan tadi mengapa saya tidak sendiri saja naik motor untuk beraktifitas. Saya gerak-gerakkan kedua kaki saya dalam dentingan musik yang terdengar entah dari mana. Ah! rasanya mudah saja, kedua kaki saya tidak lumpuh dan masih mampu berjalan beberapa kilo meter untuk menyehatkan tubuh dan menyegarkan jiwa. Setidaknya dengan itulah saya bersyukur akan nikmat Yang Maha Kuasa. Dan jika ditanya mengapa saya lebih senang naik bus daripada berkendara motor sendiri, itupun jawabnya mudah saja, "Selain untuk  mengurangi polusi dan luapan karbondioksida ke udara dari kendaraan pribadi di jalan raya, tak banyak yang tahu kalau inspirasi menulis seringkali di dapat dari tempat-tempat umum seperti bus ini". Dan kalau besok-besok kembali ada yang bertanya mengapa saya senang naik bus, tentu saja jawaban utamanya (maaf) takkan saya ceritakan.

Salam,

Hary Lasmana