Rahasia Seorang Pejuang

(17 Agustus 1995)

* * * * *

Usai upacara di sekolah, menikmati pagi yang riuh oleh hiasan bendera di sepanjang jalan, saya bergegas melangkah menuju rumah. Hangat sinar matahari yang baru saja seperempat naik ke permukaan cukup membuat suhu udara menjadi panas dan memicu adrenalin untuk mempercepat langkah. Ditambah lagi ketika berpapasan dengan segerombolan anak balita bersama orang tuanya menuju tanah lapang untuk mengikuti lomba 17an membuat saya semakin tak sabar. Langkah kaki ini, ingin rasanya memasang roket pada alasnya untuk mempercepat. Meski saat ini saya rasakan kecepatan langkahnya nampak tak jauh berbeda dari lomba jalan cepat di olimpiade, namun saya tak ingin berlari untuk mempercepatnya lagi. Bukan apa-apa, takut dianggap berlebihan oleh yang melihat. Untunglah… dalam jarak pandang mata, tiang listrik penanda ujung gang terakhir yang harus saya lewati sudah terlihat. Dari tikungan itu, rumah saya hanya tinggal beberapa langkah.

“Assalamualaikum…”, ucap saya riuh rendah ketika tiba depan pintu rumah. Dengan napas yang tersengal saya segera melepas sepatu dan menentengnya ke dalam… [baca selengkapnya]

*

Baca Juga Artikel terkait:

Apa, Siapa, dan Bagaimana Membangun Bangsa

Mulai, Mulai, dan Mulai!

Percaya diri sebagai rasa bangga menjadi bagian bangsa besar

Tidak hanya merusak, tetapi juga menghancurkan

Bicara tentang narkoba, bicara tentang hati



0 comments ↓

There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below..

Leave a Comment