Malam dan Permukaan Air

Sebenarnya kalau dipikir-pikir hidup ini seperti berkendaraan pada malam hari. Pandangan kita mengamati jalan amat terbatas oleh cahaya remang yang ala kadarnya. Tak ada yang benar-benar pasti akan keadaan yang akan dilalui; Semua samar. Jalan raya hanya nampak hitamnya saja dibatasi marka dan trotoar, pepohonan hanya terlihat rerimbunan, tak jauh berbeda dengan keadaan di belakang kendaraan. Meski terkadang jelas terlihat karena telah dilalui, namun kita tak dapat melihatnya terus-menerus melalui kaca spion. Salah-salah malah bisa celaka di jalan.

Sama halnya dengan hidup yang kita jalani. Kemampuan kita menatap masa depan hanya sebatas mereka-reka tanpa tahu kepastian sesungguhnya. Tak heran jika keadaan yang acapkali mengaburkan keinginan ini mengombang-ambingkan jiwa mereka yang lemah untuk mengeluh bahkan mengutuk kehidupan. Suatu sikap yang amat berbeda dengan mereka yang berseberangan karena sadar bahwa hidup penuh dengan keterbatasan. Bahkan untuk mereka yang bersikap menerima, sebagaimana remangnya keadaan akibat gulita malam, ketidak pastian hidup justru adalah sebuah tantangan yang mengasyikkan.

Bagi mereka yang bersikap menerima keterbatasan dengan lapang, meski malam hari keadaan  mengaburkan segala yang seharusnya tampak, jalan raya bukanlah sesuatu yang harus dijauhi. Dengan perpaduan akal dan hati, penglihatan menjadi dasar kekuatan untuk mencapai suatu tujuan. Tanpa bantuan keduanya, rasanya penglihatan hanyalah sebuah alat navigasi yang tidak akurat dan kemungkinan menemui kegagalan dalam menentukan arah sangat besar. Itulah sebab utama mengapa seseorang yang berkendaraan mampu tiba ditempat tujuan yang jarak tempuhnya kiloan meter hanya dengan mengandalkan cahaya penerangan lampu beberapa meter saja jaraknya. Keinginan dan kemampuan terlatih menunjukkan sesuatu yang ingin diraih bisa tercapai dalam hidup ini. Dan kuncinya tentu saja, “Siapapun bisa, selama ada tekad yang kuat”.

Berbicara tentang tekad dan penglihatan pengendara di malam hari, saya jadi ingin bercerita tentang kebiasaan saya bercermin di permukaan air di kamar mandi. Kebiasaan ini sebenarnya hanya satu hal kecil namun mengajarkan kearifan tentang ketidakpastian dan hubungannya dengan tekad dan penglihatan. Dibalik ketidak pastiannya, permukaan air yang rapuh -yang dengan mudahnya berubah bentuk, entah itu beriak ataupun bergelombang jelas membuat banyak orang enggan bercermin padanya. Tak banyak orang mampu menerima kerupawanan mereka diacak-acak oleh benda yang hanya mampu mengalir tanpa perlawanan. Bagi sebagian orang semacam ini, air hanya ternilai dari kejernihan warnanya dan kebersihan dasar bak penampungnya untuk digunakan. Permukaan air, menurutnya, bukanlah sesuatu yang besar untuk dinilai.

Tentu saja ketidak mampuan manusia berkaca pada air bukanlah sebuah kesalahan melainkan kelemahan manusia. Air sebagai inti dan bagian dari hidup, melalui permukaanya yang rapuh sesungguhnya menunjukkan bahwa untuk melihat sesuatupun perlu kita niatkan dan arahkan agar sesuai seperti yang kita inginkan. Dan jikapun hal tersebut tercapai, bukanlah sesuatu yang mutlak jika sesuatu yang diniatkan akan selalu sesuai seperti yang diharapkan. Sebagaimana permukaan air, kehidupan jua beriak dan bergelombang terhadap hasil usaha setiap manusia.

Dan disanalah kehidupan mengajarkan kearifan, Banyak orang berhasil karena mereka mau menerima ketidak pastian hidup yang beriak dan bergelombang, sedangkan sebagian besar yang gagal adalah karena lebih senang kemudahan memandangi ke dalam air yang bias dan seolah  pasti.

Hidup, berbicara tentang ketidak pastian didalamnya, hari ini sekali lagi saya melalui tanggal kelahiran saya. Entah tekad ataupun pandang penglihatan yang saya miliki saat ini, rasa-rasanya bercermin pada permukaan air yang tenang di kamar mandi tadi saya cukup  menampar semangat saya yang dengan mudahnya terombang-ambing ketidak pastian keadaan. Maka karena itulah malam ini saya sengaja menjaga mata guna merenung dan bersyukur seraya meminta padaNya, “Tuhan… beri saya kekuatan, beri saya kemampuan, beri saya keikhlasan agar saya mampu kembali secara rutin berbagi cerita dengan orang-orang yang mungkin pernah kecewa saat menjenguk blog ini karena hanya mendapati tulisan-tulisan yang sama seperti sebelumnya”.

Terima kasih para sahabat atas kedatangannya ke blog HLasmana.
Salam,
Hary Lasmana



0 comments ↓

There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below..

Leave a Comment