Entries from January 2009 ↓

Percaya diri sebagai rasa bangga menjadi bagian bangsa besar

Jika kita mau merefleksi diri, ada satu hal yang saya perhatikan menjadi sumber keterbelakangan bangsa ini yaitu ketidak percayaan akan kemampuan diri sendiri. Keadaan mental seperti inilah yang menyebabkan mengapa hingga kini bangsa besar yang penuh semangat gotong royong dan pekerja keras ini sulit bersaing dengan bangsa-bangsa lain yang telah maju. Bahkan celakanya kini perlahan mulai tersusul oleh mereka yang sebelumnya berada di belakang. Sungguh sebuah ironi.

Ditengah gegap gempita pertumbuhan industri global, dalam berpakaian kita dengan bangga memamerkan baju dengan label luar negeri dibanding pakaian kreasi desainer lokal; Model rambut diatur sedemikian ala punk atau hippies untuk sekedar bergaya; Makan fast food ala barat untuk mengisi perut yang kosong dibanding rumah makan tradisional; Bahkan gawatnya cara berpikirpun ada yang lebih senang dengan gaya liberal yang mengutamakan ke-aku-an ku dengan kebebasan sebebas-bebasnya dibanding rasa kebersamaan dalam nilai-nilai positif yang telah menjadi budaya kita. Kalau pola hidup seperti ini yang menjadi tren, pantas bukan jika kita terus merosot ke bawah dan terpuruk?

Oleh karena keadaan itulah, perlu kesadaran dan keinginan sepenuh hati kita untuk membangkitkan bangsa ini melalui semangat nasionalisme. Sebuah semangat yang sarat dengan nilai-nilai dan budaya yang luhur dan diterapkan pada berbagai bidang kehidupan. Kita, sudah selayaknya membangun kepercayaan diri bangsa ini dengan saling mendukung segala bentuk seni tradisional, kreatifitas, produk, dan segala macam yang merupakan produk orisinalitas bangsa ini dengan cara memberi apresiasi atau menggunakannya sebagai prioritas utama dibanding menggunakan produk impor. Dengan cara ini kita telah menunjukkan bahwa kebanggan kita bukan sekedar pada kata-kata tetapi juga tindakan. Dan sisi positif lainnya adalah dengan berbuat demikian, tindakan kita tersebut secara langsung akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. Begitupun dengan sebaliknya.

Pengalaman telah menunjukkan bagaimana budaya asli negeri ini coba direbut dengan cara halus maupun kasar oleh negara tetangga yang serumpun; kekayaan negeri ini dikeruk dan dikuasai oleh pihak asing, begitupun dengan cara berpikir, secara perlahan dengan berkedok modernisme, sedikit demi sedikit kehidupan bertoleransi kita yang begitu luhur terkikis oleh individualisme yang tak sesuai dengan nilai-nilai yang kita anut. Kita mungkin tak sepenuhnya dapat menolak masuknya peradaban lain ke negeri ini, namun bukan berarti semua yang datang kita terima begitu saja. Bersikap selektif adalah jalan terbaik untuk mengambil manfaat dari era keterbukaan yang kita hadapai pada jaman ini. Dan tentu saja modal kepercayaan diri yang kuat adalah dasar terbaik.

Jadi tak ada salahnya jika mulai kini cobalah untuk berbelanja ke pasar tradisional, utamakan membeli produk dalam negeri, memakai pakaian khas tradisional, mengadakan atau mengunjungi pertunjukan tradisional bersama orang-orang terdekat, dan kenalkan budaya asli negeri kita pada generasi kanak-kanak sehingga mereka mengenal, akrab, dan cinta pada budaya negerinya. Semoga usaha yang demikian dapat menjadi tameng terhadap pengikisan identitas pribadi bangsa.

Salam,

Hary Lasmana

Menunggu pemimpin sempurna? Tidak perlu, karena membangun adalah tugas kita!

Ing ngarso sung tuladha, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani

Di depan memberi teladan, di tengah membangun karya, di belakang memberi dorongan…

[Quotes] Apa yang bisa kita berikan pada negara?

Ask not not what your country can do for you. Ask what you can do for your country

Jangan tanyakan apa yang bisa negara berikan padamu, tanyakan pada dirimu apa yang bisa kamu berikan pada negara

[John F. Kennedy]

Dimanakah Posisimu Saat Ini?

Kita tahu bahwa membangun negeri ini adalah tugas bagi setiap warga negaranya. Ini adalah satu kewajiban yang sepatutnya tak perlu lagi dipertanyakan. Siapapun ia, apapun pekerjaan dan jabatannya, status sosial masyarakat, hingga jenis kelaminnya apa, memiliki kewajiban sama untuk membangun bangsa dan negeri ini menjadi satu bangsa besar diantara bagian masyarakat dunia lainnya. Sebuah bangsa yang mampu menunjukkan dadanya seraya lantang berkata, “Aku bangsa Indonesia!”.

Bicara tentang membangun bangsa dan negeri ini -sebagai sebuah bangsa besar yang sedang berusaha maju sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia, menurut saya setidaknya ada tiga bagian yang perlu kita cermati dalam prosesnya yaitu,

  1. Apa sebenarnya yang akan kita bangun;
  2. Siapa saja pihak yang perlu terlibat dalam proses pembangunan;
  3. Bagaimana cara membangun yang tepat agar dapat berhasil seperti yang dicita-citakan?

Ketiga hal dasar tersebut amat perlu diketahui sebelum kita melangkah lebih jauh agar segala usaha membangun negeri tercinta ini tidak lagi berulang pada kegagalan dan keterpurukan. Dan mengingat akan hal itu, sepatutnyalah kita mencari peluang untuk menjadi lebih baik, mengoreksi segala kelemahan, dan mempertahankan segala hal positif. Agar cita-cita tidak sebatas mimpi, tetapi menjadi bukti. Untuk itu kita perlu menelusuri apa, siapa, dan bagaimana, cara membangun yang tepat demi kejayaan nusantara tercinta.

Sebagai langkah awal, sebagai seorang pribadi yang merdeka sudah sepantasnya jika kita bertanya pada diri kita sendiri akan arah langkah kita? Apakah tujuan hidup kita? Apakah sebenarnya yang ingin kita capai, sesuatu yang dituju, cita-cita yang ingin diraih, atau hal yang ingin diperoleh dalam hidup ini? Apakah kini langkah hidup tengah menuntun kita berjalan menuju ke cita-cita hidup sesungguhnya, atau jangan-jangan malah sebaliknya? Kita hanya sekedar menjalaninya saja tanpa tahu arah tujuan.

Pertanyaan ini amat penting. Refleksi semacam ini dapat menjadi sebuah dasar yang mampu memantapkan diri kita sebelum bergerak lebih lanjut. Menyusun rencana, menyiapkan segala keperluan, berusaha dengan keras, dan mengikhlaskan diri akan segala hasil pada-Nya. Karena sebagaimana telah kita ketahui bahwa cita-cita dan segala usaha yang dilakukan tanpa rencana kemungkinan besar akan menjadi sia-sia. Jikapun ia dapat berjalan, kelak dapat terjadi penyimpangan atau terhalang hambatan besar yang sedianya menghadang di tengah perjalanan. Karena itu amat penting untuk merenungkan kemampuan dan kesanggupan diri sendiri dalam usaha mengapai sebuah tujuan besar. Dengan harapan, dengan melakukan refleksi semacam ini, ibarat membangun sebuah rumah, kita seperti sedang membuat sebuah rancangan dan pondasi kokoh yang kelak akan mewujudkan cita-cita luhur tersebut.

Setelah merefleksi diri dengan sebaik mungkin, usai mengumpulkan seluruh bahan dan informasi, maka kini tibalah saatnya menjalani tahap demi tahap pembangunan sesuai dengan yang telah direncanakan. Setiap tahapan, sedikit demi sedikit, baik perlahan maupun cepat, pembangunan yang terencana dilaksanakan untuk mewujudkan cita-cita mulia yang telah dinantikan sejak awal. Dan tahap ini –pembangunan, adalah jaman dimana kita berada sekarang ini. Keadaaan yang terus bergerak dinamis dan penuh dinamika. Dan dalam kondisi saat ini, jika boleh saya bertanya, pada tahap pembangunan seperti ini, dimanakah posisi kita berada? Apa yang telah kita lakukan di dalamnya?

Sebagaimana telah kita saksikan saat ini, setelah proklamasi kemerdekan berkumandang lebih dari 63tahun, setelah para pendiri negara ini merumuskan banyak hal yang dibutuhkan untuk menjadi satu negara nusantara yang utuh, kita menyadari bahwa ternyata negeri ini masih belum merdeka sepenuhnya. Kita masih banyak bergantung pada Negara lain dan belum mampu berdiri di atas kaki sendiri. Keadaan timpang akibat pembangunan merata menjadikan ketidak adilan social di berbagai daerah. Entah itu lapangan kerja yang tidak seimbang dengan jumlah tenaga yang membutuhkan, pendidikan dasar yang belum merata, mahalnya harga kebutuhan pokok, fasilitas kesehatan kurang memadai bagi seluruh lapisan masyarakat, dan berbagai problematika lain yang tanpa henti terus menimpa bangsa ini. Melihat kenyataan itu, pernahkah kita bertanya pada diri kita, “Dimanakah posisi saya sebagai seorang warga negara? Apakah kontribusi yang telah kita beri pada negeri ini untuk menjadi lebih baik? Sejauh mana saya mampu melakukan sesuatu bagi kemajuan bangsa ini?” pertanyaan itu, hanya diri kita sendiri yang mampu menjawabannya.

Melihat kenyataan yang ada saat ini dan mencoba merefleksi ke dalam diri, setiap insan, siapapun kita pasti memiliki perbedaan. Ada kelebihan dan ada kekurangan. Dan karenanya, mengaitkannya dengan kontribusi pribadi dalam tujuan membangun bangsa tercinta, hal yang terbaik untuk memulai adalah dengan bertanya pada diri sendiri, “Apa yang mampu dan telah diri kita lakukan untuk membangun diri sendiri, pada lingkungan, pada bangsa dan negeri yang menunggu putra-putrinya bangkit dan mengharumkan namanya di seluruh penjuru dunia?”

Segala potensi yang kita miliki adalah bekal untuk memajukan bangsa ini, mewujudkan sebuah negeri yang adil dan makmur dan tidak berketergantungan pada bangsa lain. Dan hanya dalam kebersamaan saya percaya kita mampu mewujudkan cita-cita luhur ini yang memang bukan sekedar mimpi belaka.

Salam,

Hary Lasmana

Pemimpin yang Memimpin

Kita telah banyak mendengar cerita menakjubkan tentang pemimpin. Mereka yang berjiwa patriot, mati-matian membela identitas, komunitas, masyarakatnya, bangsa, negara lebih dari kepentingan diri sendiri dan kepentingan keluarga. Kisah pemimpin semacam ini bila diceritakan ibarat pasir ditepi lautan. sesekali hanyut dan terdorong oleh ombak pasir namun tak pernah habis. Selalu hadir dan menjadi tema abadi untuk dibanggakan di setiap jaman.

Pemimpin semacam ini tentu saja amat dibutuhkan –meski kadang kehadirannya kerap terulur waktu. Pemimpin yang lahir membela segala kepentingan seluruh lapisan masyarakat; Pemimpin yang menyatukan dan mengedepankan keadilan dan kesejatheraan; Pemimpin yang mengenal diri dan kapasitas kepemimpinannya; Pemimpin yang menjadi panutan di depan, merangkul saat berada di tengah masyarakat, dan siap memberi dorongan saat berada di belakang. Seorang pemimpin yang benar-benar memimpin.

Dan jika boleh membandingkan dengan keadaan kini, menjelang pemilihan umum tiba -seperti masyarakat pada umumnya, saya memiliki harap besar. Agar kelak akan benar-benar terpilih seorang pemimpin. Bukan atasan, apalagi raja yang hanya bisa memerintah tanpa merasai hati rakyat. Semoga pemilu 2009 adalah pintu yang menghantarkan bangsa ini menjadi lebih baik dengan menghadirkan manusia-manusia berkualitas terpilih dan bukan seorang politikus idol bak aktor panggung dadakan yang kelak menang suara di panggung gegap gempita pesta demokrasi negeri tercinta kita. Amin.

Salam,

Hary lasmana

Rumus 3M, Solusi Jitu Untuk Perbaikan Jangka Panjang

Banyak orang skeptis terhadap keadaan negeri ini. Ada yang pasrah dengan keadaan, ada yang mengeluh namun menjalani setengah hati, ada juga berteriak lantang, namun nyatanya perubahan tidak juga terjadi. Salah siapa ya?

Kalau ingat hal ini, saya cuma berpikir, “Mungkin memang sudah takdir yang kuasa negeri kita penuh dengan orang pintar tetapi keblinger”. Profesor banyak, tetapi tidak menghasilkan perbaikan. Yang ada malah kehancuran dan penjajahan dalam bentuk lain. Namun syukurnya, kita masih banyak memiliki orang baik dan peduli. Buktinya toh, dari sekian banyak bencana yang menimpa negeri ini, relawan, bantuan, dan sumbangan tanpa henti mengalir dari masyarakat. Menarik bukan.

Ingat hal itu, saya jadi ingat pada bagian lain lagi. Seorang teman yang terus mengajukan pertanyaan sebagai alternatif jawaban, mencari jalan keluar untuk perbaikan negeri yang masyarakatnya nyaris putus asa terhadap para pemimpin yang terus saja berbohong dan tuli terhadap suara dan jeritan rakyatnya. Hingga pada terakhir kali kami bertemu, dapatlah jalan keluar itu. Solusinya berupa sebuah tindakan yang mungkin dapat jadi jalan keluar jika saja setiap orang dengan rela dan ikhlas melakukannya. cukup 3M.

1.   Mulai dari diri sendiri,

2.   Mulai dari hal kecil,

3.   Mulai dari skarang!

Mudah, murah, menarik… dan tanpa basa-basi.

Sahabat, jika kita berharap pada manusia, kelak, baik besar ataupun kecil yang ada hanyalah kekecewaan. Dan daripada mengeluh atau menerima namun tak suka, apalagi harus berteriak lantang tapi tak kunjung menghasilkan, mari kita berupaya bersama melakukan segala perubahan di mulai dari mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, mulai dari sekarang.

Jika kita tidak menyukai sampah berserakan, mengapa tidak bersihkan? atau setidaknya minimal kita tidak menambah kotor dengan sampah yang kita buang sembarangan; jika kita tidak suka kendaraan bermotor di jalan saling serobot dan tidak tertib, bagaimana kalau mulai kini kita tidak ikut-ikutan seperti itu? Jika ada kawan yang melakukan korupsi, manipulasi, atau kegiatan merugikan lainnya, mampukah kita tidak hanya sekedar berdiam diri? tegurlah dengan sebaik mungkin. Tanpa menyakiti apalagi menggurui.

Saya percaya setiap manusia memiliki hati nurani. Dan setiap hati manusia cenderung pada kesalahan, oleh karena itu kita yang mengetahui kebenaran atau tengah dalam kondisi sadar dapat saling menjaga dan mengingatkan. Betapa indah keadaan yang demikian.

Berada dalam kondisi yang kelam bukan berarti kita juga harus terjerumus dan menjadi bagiannya. Bahkan sebaliknya, kita yang harus mampu membalikkan keadaan menjadi lebih baik, pun jika tidak, yang terbaik adalah tidak terseret arus karena takut merasa berbeda. Layaknya mutiara putih yang berada di dalam lumpur, mutiara yang kotor tetaplah sebuah mutiara bernilai saat ia dibersihkan kemudian dipindah tempatkan.

Semoga dengan cara demikian perubahan nyata ke arah yang lebih baik dapat kita hasilkan. Karena tindakan nyata jauh lebih baik daripada sekedar berdiam diri dan berharap.

Salam,

Hary Lasmana

Agar Negara ini Menjadi Lebih Baik, Hal Utama yang Harus Dilakukan Adalah: Berantas Korupsi!

Hebat! itu yang selalu yang ada dalam pikiran saya setiap kali menyaksikan kampanye dan janji calon anggota legislatif, politikus, calon presiden, atau para orator yang mulai bersaing sengit menjelang pemilu di negeri ini. Tapi… (ada tapinya loh), apa mungkin? apa benar? apa sesuai antara janji saat mereka kampanye dengan realisasi kelak saat terpilih? Kita lihat saja nanti.

Bicara tentang janji kampanye para calon dan kemungkinan terlaksananya bila mereka terpilih kelak, ada satu hal yang saya sasar dan perhatikan penuh sebagai salah satu kriteria memilih pada PEMILU 2009 yaitu isu KORUPSI. Mengapa hal ini menjadi salah satu hal utama, ya tentu saja sebagaimana kita tahu bahwasannya perilaku buruk yang merugikan banyak orang ini tanpa sadar telah berbudaya pada sebagian kalangan dan elit kekuasaan tingkat atas. Dan mau tak mau karena dampak kerugiannya pada masyarakat umum dan citra bangsa di mata dunia, hal ini tak dapat diabaikan. Oleh karenanya amat perlu memilih seorang pemimpin dan wakil rakyat yang tidak sekedar memiliki visi dan misi yang mengagumkan di atas kertas namun juga harus memiliki kredibilitas baik, tegas, dan merakyat. Bersih dan bertanggung jawab. Dengan demikian kepercayaan masyarakat internasional akan meningkat yang berdampak pada kepercayaan investor asing untuk menanamkan modalnya di sektor industri industri yang tengah kekurangan gairah dari pemodal asing.

Kini menanti waktu kampanye PEMILU 2009 tiba, rasanya adalah saat renungan terbaik bagi kita. Waktu untuk merefleksi segala kemungkinan, berharap, dan berdo’a akan kesuksesan pemilihan pemimpin dan wakil rakyat kelak. Semoga pemimpin dan jajaran wakil rakyat terpilih adalah orang-orang terbaik tidak hanya dari segi fisik dan ke-ilmu-an, tetapi juga dalam mental dan rasa tanggung jawab pada masyarakatnya dan negara. Saya percaya, seperti kumpulan kerang tersebar di tengah laut, diantara begitu banyak pilihan pasti ada salah satu kerang tersebut menyimpan mutiara di dalamnya. Dan harapan ini semoga juga dimiliki saudara-saudara saya yang tersebar di pelosok Nusantara.

 

Salam,

Hary Lasmana

[semoga bukan] Cerita Sedih

Ada satu kekesalan dalam hati kala kemarin mengunjungi green blog saya di http://hlasmana.rezaervani.com entah kenapa tiba-tiba down dengan keterangan ”MySQL server connection unavailable”. Dan pagi tadi saat saya coba lagi, kini alamat tersebut masih tidak dapat diakses. Sedih.

Teman, mungkin ada yang bisa bantu dan kasih informasi pada saya? tentang sebab musabab atau hal lain berkaitan dengan (kemungkinan) tangan jahil mereka yang memiliki kemampuan lebih di bidang ilmu komputer… apa kiranya yang perlu saya lakukan untuk mengembalikan file dan begitu banyak tulisan di sana. Hiks! padahal lagi ikut lomba XLAwards dan tiga artikel yang dilombakan untuk memenuhi syarat dimuat di blog itu.

Semoga kejadian menyakitkan ini mampu memberi hikmah besar yang dapat diambil pelajarannya. Amin.

Salam,

Hary Lasmana

Note: beberapa hari setelah tulisan ini diposting, blog hlasmana.rezaervani.com sudah dapat di akses kembali. Menurut Kang Rezaervani ada masalaha teknis software yang perlu diperbaharui. Alhamdulillah, terima kasih atas segala dukungan semua sahabat!