Jika kita mau merefleksi diri, ada satu hal yang saya perhatikan menjadi sumber keterbelakangan bangsa ini yaitu ketidak percayaan akan kemampuan diri sendiri. Keadaan mental seperti inilah yang menyebabkan mengapa hingga kini bangsa besar yang penuh semangat gotong royong dan pekerja keras ini sulit bersaing dengan bangsa-bangsa lain yang telah maju. Bahkan celakanya kini perlahan mulai tersusul oleh mereka yang sebelumnya berada di belakang. Sungguh sebuah ironi.
Ditengah gegap gempita pertumbuhan industri global, dalam berpakaian kita dengan bangga memamerkan baju dengan label luar negeri dibanding pakaian kreasi desainer lokal; Model rambut diatur sedemikian ala punk atau hippies untuk sekedar bergaya; Makan fast food ala barat untuk mengisi perut yang kosong dibanding rumah makan tradisional; Bahkan gawatnya cara berpikirpun ada yang lebih senang dengan gaya liberal yang mengutamakan ke-aku-an ku dengan kebebasan sebebas-bebasnya dibanding rasa kebersamaan dalam nilai-nilai positif yang telah menjadi budaya kita. Kalau pola hidup seperti ini yang menjadi tren, pantas bukan jika kita terus merosot ke bawah dan terpuruk?
Oleh karena keadaan itulah, perlu kesadaran dan keinginan sepenuh hati kita untuk membangkitkan bangsa ini melalui semangat nasionalisme. Sebuah semangat yang sarat dengan nilai-nilai dan budaya yang luhur dan diterapkan pada berbagai bidang kehidupan. Kita, sudah selayaknya membangun kepercayaan diri bangsa ini dengan saling mendukung segala bentuk seni tradisional, kreatifitas, produk, dan segala macam yang merupakan produk orisinalitas bangsa ini dengan cara memberi apresiasi atau menggunakannya sebagai prioritas utama dibanding menggunakan produk impor. Dengan cara ini kita telah menunjukkan bahwa kebanggan kita bukan sekedar pada kata-kata tetapi juga tindakan. Dan sisi positif lainnya adalah dengan berbuat demikian, tindakan kita tersebut secara langsung akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. Begitupun dengan sebaliknya.
Pengalaman telah menunjukkan bagaimana budaya asli negeri ini coba direbut dengan cara halus maupun kasar oleh negara tetangga yang serumpun; kekayaan negeri ini dikeruk dan dikuasai oleh pihak asing, begitupun dengan cara berpikir, secara perlahan dengan berkedok modernisme, sedikit demi sedikit kehidupan bertoleransi kita yang begitu luhur terkikis oleh individualisme yang tak sesuai dengan nilai-nilai yang kita anut. Kita mungkin tak sepenuhnya dapat menolak masuknya peradaban lain ke negeri ini, namun bukan berarti semua yang datang kita terima begitu saja. Bersikap selektif adalah jalan terbaik untuk mengambil manfaat dari era keterbukaan yang kita hadapai pada jaman ini. Dan tentu saja modal kepercayaan diri yang kuat adalah dasar terbaik.
Jadi tak ada salahnya jika mulai kini cobalah untuk berbelanja ke pasar tradisional, utamakan membeli produk dalam negeri, memakai pakaian khas tradisional, mengadakan atau mengunjungi pertunjukan tradisional bersama orang-orang terdekat, dan kenalkan budaya asli negeri kita pada generasi kanak-kanak sehingga mereka mengenal, akrab, dan cinta pada budaya negerinya. Semoga usaha yang demikian dapat menjadi tameng terhadap pengikisan identitas pribadi bangsa.
Salam,
Hary Lasmana



0 comments ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below..
Leave a Comment