Kalau membandingkan keadaan saat ini dengan cerita-cerita kehidupan nenek saya pada masa penjajahan, seringkali saya merasa malu. Pasalnya di kehidupan yang tenang dan penuh peluang saat ini kebanyakan orang senang mengeluh akan banyak hal. Padahal jika dibandingkan dengan nenek saya yang usianya hampir 1 abad itu, seumur hidup bersamanya tak pernah saya temui ia melakukan hal itu. hanya Jikapun ada, sesekali kesedihan muncul yaitu terutama pada saat beliau melihat upacara pengibaran bendera di istana negara yang ditayangkan langsung di televisi. “Ingat teman-teman seperjuangan yang telah gugur dan tidak ikut merasakan betapa bahagianya kehidupan setelah merdeka…”. Kalimat yang sama selalu menjadi jawaban pertanyaan dari seorang mantan pejuang yang merasa bahagia bercampur sedih namun tak tahu harus berbuat apa.
Ingat akan hal itu, pikiran saya biasanya kemudian akan hanyut pada setiap nasihat beliau akan kehidupan ini. Bahwa setiap manusia selayaknya mampu hidup berdiri di atas kaki sendiri, tidak boleh berketergantungan apalagi menyulitkan orang lain. Sebisa mungkin –menurutnya, dalam hidupnya setiap manusia harus berupaya agar dapat bermanfaat bagi yang lain. Mampu menjaga nama baik dan kehormatan sebagai manusia yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan-Nya. Nasihat klise memang bagi sebagian orang, namun berarti benar bagi beliau yang seumur hidup penuh kesederhanaan.
Saya sendiri hingga saat ini senantiasa belajar untuk itu. Hidup dengan berdasar pada prinsip yang sederhana dan menjalaninya dengan sederhana juga. Tak perlu menjadi rumit, apalagi dibuat rumit. Karena rasanya kesederhanaan pun terlalu rumit bagi yang tidak mampu menerimanya. Itulah yang kemudian saya pahami tentang kehidupan berkat ajaran beliau.
Sebagaimana kita lihat dalam kehidupan saat ini, begitu banyak orang bingung dan bimbang menghadapi kehidupan. Seolah lepas dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau… kesulitan hidup seolah menjadi kutukan yang tak pernah berhenti menggelayut dalam lika-liku kehidupan setiap orang di dalamnya hingga tak sedikit orang-orang yang bermental lemah kemudian mengalah dan menghabisi hidup mereka dengan cara yang diinginkannya. Padahal kenyataannya kemudian –seperti kita ketahui –menghindar dengan menghampiri kematian seperti itupun tidaklah memberi jalan keluar terbaik. Sungguh amat disayangkan, di tengah hidup yang penuh peluang dan pilihan saat ini banyak orang terlena dalam bersenang-senang namun lupa bersyukur. Akibatnya ketika tertimpa cobaan berat, mereka selalu berusaha menampiknya. Mengelak dari kenyataan bahwa dimana-mana banyak orang mungkin lebih menderita dibanding keadaan yang dialaminya.
Mengakui hal itu, pada sisi lain saya bersyukur. Di negeri ini, pada saat ini, ditengah gencarnya gempuran bias arus informasi, di jaman kejayaan hendonisme yang terlihat begitu indah namun menyesatkan, masih banyak orang berupaya melakukan prinsip-prinsip hidup seperti nenek saya itu. Bersahabat dengan kesederhanaan dan berupaya untuk berguna bagi yang lain. Dan hebatnya, meski jumlahnya teramat kecil namun ternyata begitu besar pengaruhnya dan tak pernah habis. Bak pepatah, mati satu tumbuh seribu… jumlah mereka terus bertambah seperti sebuah pohon rindang yang menumbuhkan cabang-cabang begitu banyaknya.
Dibangunnya perpustakaan swadaya untuk masyarakat umum oleh individu maupun instansi, berdirinya sekolah alternatif bagi anak terlantar dan anak jalanan, pembekalan dan penyuluhan informasi tepat guna, dan masih banyak hal yang dapat dibanggakan pada masyarakat negeri ini yang peduli menunjukkan bahwa ternyata dibalik begitu banyak kekurangan pemerintah kita mengelola negara ditambah lagi kebusukan elit politik yang lupa nasib rakyatnya, masih banyak pribadi-pribadi yang mengedepankan hati mereka untuk membangun tanah air tercinta. Sebuah upaya yang tidak cukup hanya diacungi jempol tetapi perlu didukung dengan sebaik-baiknya.
Kehimpitan memang selalu menciptakan peluang bagi siapapun untuk menjadi juara bagi yang lain. Berputarnya dunia selalu mengubah banyak hal. Dari yang tidak mungkin menjadi mungkin dan begitupun sebaliknya, adakalanya sesuatu yang memiliki peluang besar dan kemungkinan untuk tercapai seringkali malah memberi kegagalan. Ketidak pastian ini menunjukkan bahwa tak ada yang tak mungkin, oleh karena itu selama kita memiliki keyakinan dan niat untuk melakukan perubahan, lakukanlah!
Tak peduli status kita di masyarakat, apakah kita kaya atau miskin, memiliki pekerjaan atau pengangguran, bersekolah atau tidak, lelaki atau perempuan, dan sebagainya, kita memiliki satu kehidupan dan satu peluang yang tak pernah terulang. Siapapun kita berpeluang untuk melakukan kebaikan dan berguna bagi yang lain. Menjadi seorang yang menolong, juga kelak suatu saat akan ditolong oleh yang lain. Oleh karena itu sudah sepantasnya mulai kini kita bersungguh-sungguh dalam setiap aktifitas kita, apapun yang kita kerjakan.
Bila kita seorang ilmuwan, sudah selayaknya meneliti guna menghasilkan penemuan yang bermanfaat bagi masyarakat, setiap pelajar dan mahasiswa belajar sebaik-baiknya demi meraih prestasi, atlet berlatih keras menjadi juara, pengusaha berupaya mempertahankan lapangan kerja yang telah dibukanya, karyawan bekerja sebaik mungkin dalam pekerjaannya, dan berbagai macam aktifitas apapun, upayalah maksimal adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan sebagai salah satu bentuk kontribusi positif dalam membangun negeri ini. Dengan cara demikian, siapapun kita dan apapun yang kita lakukan telah memiliki makna tersendiri dalam kelangsungan bangsa ini.
Saya percaya bahwa setiap usaha akan memberikan hasil. Sebagaimana jua upaya banyak orang saat ini yang terus berbagi ragam pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki kepada sesamanya, saya berharap semoga kita juga menyediakan hati untuk berdo’a demi kebaikan negeri ini. Agar setiap perbedaan menjadi bagian yang saling melengkapi kekurangan kita bersama, agar setiap kesalahan memberi pelajaran untuk dibenahi, agar setiap kesulitan mencairkan hikmah bagi setiap pribadi untuk berempati pada yang lain. Keluhuran pribadi bangsa ini adalah modal yang akan segera kembali jika kita mau mencoba saling peduli dan memperhatikan.
Bila rasa syukur dan bangga terhadap negeri ini meningkat –ah ijinkan saya berandai-andai, rasanya kejayaan negeri ini hanya tinggal menunggu waktu. Selayaknya bumi berputar, putaran yang kini berjalan adalah putaran yang tengah membawa negeri ini menuju ke puncak. Dan jika mimpi ini kemudian menjadi kenyataan, rasanya ini adalah buah termanis hasil lika-liku perjalanan kehidupan sebuah bangsa yang telah susah payah memperjuangkan kemerdekaan, harkat, serta martabatnya sebagai sebuah bangsa besar dan bukan hadiah cuma-cuma yang begitu saja datang dari langit.
Salam,
Hary lasmana



0 comments ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below..
Leave a Comment