Memulai Perubahan

Seorang sahabat, karyawan di posisi level manager junior pernah datang dengan setengah mengeluh pada saya. Dengan raut wajah kecewa dan nampak kesal, ia tunjukkan kondisi tempat kerjanya sehari-hari. “Lihat, bagaimana orang-orang ini tidak memiliki rasa tanggung jawab pekerjaan. Istirahat mereka keluar lebih awal namun kembali mereka ke ruangan masing-masing sering terlambat. Ruang kerja sering berantakan, semerawut! Bagaimana produktifitas bisa tercapai maksimal kalau kebiasaan mereka seperti ini…”.

Mendengar keluh kesah itu, spontan saya hanya bisa menenangkan seraya memintanya bersabar dan berpikir jernih. “Sudah tenang saja dahulu mas, analisa dulu dengan baik keadaannya. Kalau memang dianggap masalah, berarti pasti ada jalan keluarnya. Kedisiplinan dan mental kerja karyawan adalah hal besar yang bisa disederhanakan. Segala problem di dalamnya pasti bisa segera diatasi. Dan… (setengah berbisik sambil tersenyum meledek) itu adalah tugas pemimpin!”. Ia tertawa mendengarnya.

Saya lupa kapan pastinya kejadian itu berada di dalam bagian kehidupan saya. Entah bagaimana keadaannya kini, apakah kondisinya masih tetap sama atau telah berubah, namun yang jelas beberapa minggu sejak kami bersama-sama mencar jalan keluar dari kondisi yang dihadapi sahabat saya ini keadaan telah menjadi lebih baik. Kedisiplinan meningkat dan produktifitaspun terangkat. Hasilnya… “Everyone happy!”

Jika melihat perubahan yang terjadi, mungkin tak seorangpun mengira jika faktor pengubah keadaan itu sebenarnya amat sederhana, “Semangat dan rasa kebersamaan”. Ya, rasa kebersamaan yang ternyata belakangan mulai terkikis akibat rutinitas yang acapkali menghasilkan kejenuhan, perlahan berhasil disingkirkan dengan cara memperkecil jarak antara staf dan atasan. Kebekuan di lingkungan kerja yang sering menurunkan dedikasi dan loyalitas pekerja berhasil dicairkan melalui rasa kebersamaan dengan cara yang cukup mudah yaitu memperbanyak kegiatan bersama-sama dengan saling menghargai keunikan setiap individu.

Sesekali sahabat saya ini membawakan penganan untuk rekan kerja dan bawahannya. Jika sebelumnya saat istirahat ia terbiasa makan siang dan sholat sendiri di ruangan, kini mulailah ia sholat berjamaah di musholla yang disediakan oleh perusahaan. Hasilnya, para karyawan yang biasanya tidur di Musholla atau berlama-lama ngobrol di kantin menjadi segan dan enggan mengulur waktu istirahat. Tanpa diberi aba-aba, mereka segera meninggalkan tempat kembali ke ruangan bahkan sebelum waktu istirahat berakhir. Dan tak lupa, dalam bekerja, setiap kali ada prestasi sekecil apapun sahabat ini memberikan apresiasi dengan berbagai cara. Baik itu hadiah maupun penghargaan yang membuat setiap orang merasa dihargai. Hingga akhirnya suasana kerja kini menjadi lebih meriah, jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya. Sungguh luar biasa.

Belajar dari pengalaman itu, saya merasa perlu berbagi. Tentang berbagai hal yang rasanya rumit ternyata seringkali jalan keluarnya begitu mudah. Hanya saja mampukah kita untuk memulai. Sebagaimana kondisi sahabat yang mengalami kebosanan gairah kerja di kantor, saya rasa setiap diri kitapun pernah mengalami hal yang sama. Entah di rumah, di sekolah, dalam beribadah, apapun aktifitas kita, hati dan semangat acapkali turun naik namun tentu saja bukan satu pembenaran untuk kita melakukan kesalahan atas dasar keadaan tersebut.

Kebosanan memang bukanlah sesuatu yang biasa, namun bukan juga hal yang luar biasa. Namun sayangnya seringkali jika kita tak mampu berpikir jernih, hal yang mudah dilakukan adalah melempar kesalahan, menyalahkan. Entah cuaca, entah lingkungan, entah keadaan, banyak hal yang menjadi kambing hitam. Padahal… diri kita sendirilah yang tak mampu mengendalikan perasaan. Jadi jangan salahkan siapapun, jika ingin menyalahkan ketidak bahagiaan hidup kita, segera cari cermin, dan tunjuk orang yang berada di dalam cermin di hadapan Anda. Dia-lah yang patut disalahkan.

Banyak cara untuk melakukan perubahan di lingkungan kita namun untuk hasil yang maksimal, cobalah untuk bersama-sama melakukannya. Ajaklah orang lain dan jangan sendirian. Dengan upaya serempak dan rutin, tentu tujuan perubahan akan lebih mudah di capai. Ibarat seikat sapu lidi (sapu aren), semakin banyak jumlah lidi yang terikat maka akan semakin cepat bersih kotoran tersapu begitupun halnya dengan kondisi lingkungan kita berada.

Kini, jika pada beberapa bagian hidup yang Anda jalani menemui banyak harapan akan datangnya perubahan namun ternyata keadaan tak jua kunjung berubah… ingatlah! mengapa tidak kita yang memulainya?

Salam,

Hary Lasmana



0 comments ↓

There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below..

Leave a Comment