Perubahan Dengan Hati

“Serasa ada kehangatan yang hilang kala kita kembali ke rumah akhir-akhir ini saya rasakan”, seorang teman setengah mengeluh mengucapkan kalimat itu pada saya. Ia yang seumur hidupnya –sama seperti saya –tinggal di rumah yang sama sejak beberapa hari kami dilahirkan, tengah membandingkan keadaan dulu saat kami masih kanak-kanak dengan kondisi lingkungan tempat tinggal kami saat ini.

“Lihat anak-anak itu”, ucapnya mengawasi beberapa anak yang nampak seru bermain. “Mungkin jaman memang sudah berubah. Tidak seperti saat kita kecil dulu, jika sudah mau magrib seperti sekarang ini, meski sedang asyik bermain kita pasti segera kembali ke rumah karena takut orang tua kita marah. Setelah mandi, lalu bersama-sama kta sholat magrib berjamaah di musholla kemudian belajar mengaji. Tapi anak-anak itu, sekarang ini, mendengar azan magrib pun terkadang mereka dengan leluasanya bermain. Sungguh sayang sekali masa kanak-kanak mereka tidak dididik dengan baik…”

Mendengar ucapan tersebut, saya hanya mampu tersenyum nyinyir. Ada benarnya juga ucapan itu, namun sayangnya kami takkan mampu berbuat apa-apa karena setiap anak yang notabenenya titipan Sang Ilahi adalah kewajiban orang tuanya untuk mendidik mereka, sedangkan kami bukan siapa-siapa. Dan sayangnya, percakapan itu harus terhenti karena panggilan azan yang menuntun kami untuk segera menghadap Sang Maha Pencipta.

Usai sholat, di rumah, malam itu cukup lama pikiran saya menerawang ke mana-mana. Beberapa kalimat obrolan tadi sore sempat terngiang kembali di telinga. Tentang keadaan kampung kecil tempat kami kembali dari aktifitas seharian, tentang kondisi nasional dan internasional yang nampaknya kian menyulitkan, tentang perbedaan-perbedaan masa lalu dan kini. Sayang memang, sungguh jauh berbeda antara menjalani kehidupan saat kita menjadi dewasa dengan masa kanak-kanak dulu. Keadaan seringkali kini tak pernah menjadi begitu sederhananya.

Perkataan teman saya tadi sore rasanya memang ada benarnya. Melihat kondisi sekarang ini, bahkan dalam lingkup kecil seperti keadaan kampung kecil yang saya tinggali hingga hari ini, rasa-rasanya keadaan memang telah begitu berubah. Entah karena faktor cara pandang diri kita yang telah melihat begitu banyak hal dalam kehidupan, entah karena proses pendewasaan diri saat mampu menyelesaikan masalah, atau mungkin memang begitulah hukum kehidupan berlaku; Tak ada yang tak pernah berubah kecuali perubahan itu sendiri. Dan kita harus mengakuinya secara terbuka.

Kondisi generasi kanak-kanak, jika dibandingkan masa kanak-kanak saya dahulu yang permainannya dimainkan berkelompok dengan peralatan ala kadarnya, kini, anak-anak (bahkan hingga mereka besar) digandrungi permainan elektronik yang individualis. Permainan seperti ini –menurut saya –cenderung mengarahkan seseorang menjadi pecundang karena takut kalah dan tak mau dikalahkan dengan siapapun yang lebih baik. Bermain video game selalu memberi peluang menang. Yaitu cukup dengan memilih tingkat kesulitan yang rendah maka akan siapapun yang bermain pasti menang. Amat berbeda halnya dengan permainan tradisional yang hanya memberi kesempatan sekali dan menghasilkan kemenangan atau kekalahan yang tidak dapat diulang. Karena itulah, tanpa sadar banyak anak lebih senang dan menikmati permainan video game sendirian dibanding bersama teman-temannya karena khawatir takut dikalahkan.

Tak jauh berbeda pada generasi yang lebih besar, anak-anak remaja yang sejatinya dalam pencarian identitas diri secara cepat maupun perlahan terus tergerus oleh budaya asing yang selalu terlihat baru dan nampak begitu memikat hati. Meski sadar akan kesejatian budi luhur di dalamnya, jarang sekali generasi usia belasan yang mampu bertahan pada prinsip budaya tradisional karena dianggap kuno oleh orang-orang seusia mereka. Entah dulu maupun sekarang keadaannya selalu demikian. Dan tentu saja ini patut mendapat perhatian.

Selain kedua generasi tersebut, mereka yang berusia senior yang hidup pada jaman ini tak jauh berbeda turut mengalami degradasi. Dan satu penyakit yang jarang sekali disadari namun akut adalah kecenderungan mengeluh yang mulai berbudaya. Entah cuaca yang tidak bersahabat, kondisi politik yang carut marut, perekonomian yang memburuk, hingga harapan-harapan yang seringkali sirna dari orang-orang terdekat. Begitu rumit hidup dengan ketidakpuasan dari berbagai sisi kehidupan.

Namun demikian –tanpa maksud menyamaratakan keadaan, menemui kondisi yang demikian kompleks sesungguhnya saya lebih senang melirik hal kecil yang bagi sebagian orang dianggap mustahil namun ajaibnya ternyata sungguh nyata adanya. Kelompok orang-orang yang selalu mencoba bersikap hangat dan terbuka bagi yang lain, yang senang dan ikhlas menolong tanpa pamrih, mereka yang begitu gigih dalam berusaha, tekun belajar, tak berputus asa, apalagi menyesali kekalahan, bagi sebagian kecil orang-orang dalam lingkup ini hidup sedianya adalah penerimaan. Tak ada permainan kalah atau menang melainkan pembelajaran dari setiap kejadian di dalamnya.

Bila memikirkan semua itu, saya sendiri pada akhirnya bingung jika harus mengambil kesimpulan inti permasalahan mengapa kehidupan (baca:orang-orang .red) melakukan begitu banyak kesalahan yang mengakibatkan suasana menjadi nyaman. Kecurigaan berlebih pada orang lain, kekhawatiran akan masa depan, kecemasan pada masa lalu yang buruk, dan beragam ketakutan tak berdasar telah membuat sebuah lingkaran setan yang tak berujung dan berakibat semua yang berada di dalamnya menjadi orang-orang yang kalah dan menjadi pecundang. Kecuali tentu saja mereka yang mau belajar untuk ikhlas menerima.

Menyadari kenyataan itulah, kita memerlukan banyak hal untuk memperbaikinya. Dan mengingat percakapan antara saya dan teman saya di awal, rasanya takkan mudah kita mendekati generasi kanak-kanak dan mengendalikan mereka tanpa mendekati orang tuanya untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan dan kedisiplinan sejak kecil dalam keluarga, takkan mungkin mengarahkan generasi remaja tanpa kita menghargai dan mau mendengarkan keinginan dan kebutuhan mereka. Begitupun dengan generasi yang lebih senior, tentu saja pendekatan dari hati ke hati dengan landasan niat yang tuluslah yang akan mampu membuktikan bahwa kita berkeinginan memajukan bangsa ini dari lingkup dasar yaitu masyarakatnya. Dan jika Anda bertanya –sebagaimana yang seringkali orang lain tanyakan pada saya, “Dengan cara bagaimana saya memulainya?”, jawabannya mudah:

Senyum, sapa, sebarkan salam…

Hanya dengan simpati keterangan yang kita jelaskan dapat diterima dengan baik. Dan tentu saja, jangan lupa dasari semua dengan kebersihan hati dan keihklasan InsyaAlloh keberhasilan yang dicapai akan berbuah kebahagiaan. Amin.

Salam,

Hary lasmana



0 comments ↓

There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below..

Leave a Comment