Mari! Kita Lakukan Bersama-sama

Seorang sahabat yang telah kembali dari master pendidikan di negeri Kangguru pernah bercerita ikhwal keringnya tanah di sana. Pasalnya selama ia menempuh pendidikan di negeri itu, hujan dapat dihitung dengan jari dalam setahun. Amat jauh berbeda dengan negeri ini yang curah hujan cukup tinggi. Apalagi dengan kota Bogor yang hampir setiap sore turun hujan.

Keheranan akan hal itu, sahabat ini bersyukur sekaligus menyesali betapa ternyata negeri kita begitu subur dan kaya namun lemah dalam segi pengelolaan. Keterlambatan dan ketidak merataan pembangunan, rendahnya tingkat pendidikan, hingga kurangnya toleransi terhadap perbedaan menjadi salah satu faktor besar yang membuat negeri ini seringkali amat bergantung pada Negara lain. Ironis.

Menyadari hal itu, beruntunglah sejak dimulainya reformasi politik 10 tahun lalu telah memunculkan dinamika baru kehidupan bernegara dengan berbagai perubahan di dalamnya telah memberi kesempatan luas pada siapapun untuk menyuarakan kebebasan berpendapat. Setidaknya kini masyarakat memiliki kesempatan luas untuk menyampaikan aspirasi dan merasa seutuhnya sebagai seorang warga negara yang memiliki kewajiban dan hak pada negerinya.

Munculnya instansi, individu, maupun komunitas yang berusaha mewujudkan kepatuhan pada sistem yang berlaku adalah salah satu contohnya. Perang terhadap korupsi, kampanye anti narkoba, peningkatan taraf pendidikan dan kesehatan, penegakkan hokum, dan berbagai macam hal menuju kebaikan menjadi sesuatu yang terus diperjuangkan hingga saat ini. Hanya saja memang harus diakui masih banyak kelemahan dan kekurangan terutama sifatnya masih segelintir dan terpisah.

Seandainya saja seluruh kegiatan semacam ini dilakukan berjejaringan, tentu hasilnya jauh lebih baik dan manfaatnya pasti lebih besar. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah calon presiden negeri ini yang kelak akan menjadi pemimpin. Sebagaimana semboyan “Ing ngarso sung tuladha, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani”, seorang pemimpin berada di barisan depan untuk memberi teladan dan bukan malah menjadi contoh buruk yang menurunkan citra dn martabat diri dan bangsanya. Pemimpin pun harus mampu menyatu dengan masyarakat bangsanya dan dunia internasional. Berkarya sebaik mungkin. Pun sedianya pemimpin harus mampu memberi dorongan pada saat dibutuhkan.

Dan tak jauh berbeda dengan pemimpin, mereka yang dipimpin berkewajiban mengikuti dan loyal pada pimpinan yang benar. Mereka yang dipimpin harus menghargai kepemimpinan, mengikuti petunjuk dan perintah pemimpin, serta tak lupa mengoreksi pemimpin di saat melakukan kesalahan. Karena pada dasarnya tak ada seorangpun manusia sempurna.

Menyadari hal itu, satu hal penting yang amat perlu dilakukan saat ini adalah sosialisasi. Penyebar luasan informasi guna meningkatkan kualitas hidup bermasyarakat dan bernegara. Tentang hak dan kewajiban seorang warga negara apapun status dan jabatannya dalam struktur sosial masyarakat untuk menghindari ketimpangan informasi. Siapapun kita dapat berpartisipasi didalamnya dengan cara menyebarkan informasi seluas-luasnya tentang kewajiban dan hak warga negara serta memberi pencerahan akan hal ini. Bila seluruh masyarakat tahu dan sadar akan kewajiban dan haknya, tentu saja penegakan sistem kehidupan bernegara dapat berjalan dengan lebih baik dan tujuan masyarakat adil dan makmur dapat segera terwujud.

Salam,

Hary Lasmana



0 comments ↓

There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below..

Leave a Comment