Entries from May 2009 ↓

Pernikahan

Saya hanya tersenyum simpul kala pedagang mie instant tempat saya berbelanja berkelakar tentang pernikahan. Pernikahan –menurutnya seraya meledek saya yang masih membujang –berarti kemudahan, karena segala yang biasanya dipersiapkan sendiri kala berstatus single kelak akan dibantu pasangannya mempersiapkan kebutuhan hidup dan keseharian. Dua tangan dan dua kaki akan menjadi dua kali lipat jumlahnya, menjadi lebih produktif. Begitulah menurut pengalaman pribadinya. Sementara mendengarkan si pencerita yang nampak begitu bersemangat, saya sendiri cukup mengiyakan, maklum belum punya pengalaman untuk dibagi.

Berlalu dari pedagang mie instant itu, setelah beberapa langkah menjauh, entah kenapa candaan yang dilontarkan si pedagang nyangkut cukup lama dalam benak saya, “Apa iya dengan menikah berarti menjadi tambahnya tenaga? Tubuh ibarat bertambah menjadi dua, kaki menjadi empat, begitupun dengan tangan kita. Namun bukankah justru akan menjadi jauh lebih sulit ketika “dua isi kepala disatukan?!??”. Aneh memang, candaan yang terlontar awalnya mungkin tanpa maksud apapun menjadi satuhal yang cukup lama mengganjal di hati. Dan mencoba menenangkan diri dan perasaan, cukuplah saya bersenda dengan ragam tulisan melalui buku dan dunia maya setiba di rumah.

Menikmati suasana kamar yang tenang, tiba-tiba saja saya jadi ingat si Fulan teman karib saya yang memiliki tiga orang anak. Menurutnya anak adalah titipan Tuhan yang rejekinya sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Buktinya meski dengan pekerjaan serabutan yang hanya cukup untuk mengontrak rumah sepetak dan tambal sulam menutupi kebutuhan sehari-hari, setidaknya hingga kini keluarga tersebut mampu bertahan. Sementara di tempat lain, tadi, saat melintas dalam perjalanan menuju rumah saya dapati satu keluarga nampak berdesak riang dan hangat berkumpul di tepi gang sempit yang mereka anggap bagian halaman rumah mereka. Di atas sebuah bangku panjang yang terbuat dari papan tanpa sandaran mereka melepas waktu bersama dengan canda dan tawa. Keadaan ini begitu kontrasnya dengan wajah keluarga lain dalam sebuah kendaraan produksi Eropa yang nampak gagahnya saat berhenti di perempatan lampu merah yang saya lalui. Di dalam kendaraan itu nampak setiap wajah membuang pandangan mereka menjauh satu sama lain. Tubuh mereka berada dekat, namun hatinya nampak terpaut jauh entah di mana.

“Pasti sunyi sekali di dalam kendaraan itu, jikapun ada suara terdengar pastilah itu siaran radio atau alunan musik dari pemutar CD”, gumam saya menyaksikannya sepintas lalu sambil berharap semoga saja dugaan saya salah.

Memikirkan kontrasnya kehidupan berkeluarga dalam contoh yang baru saja saya alami, tentu saja sesekali timbul rasa kalut yang bergelayut di sanubari, “Keluarga seperti apa kelak yang saya bangun dan miliki? Apakah seperti tukang bakmi yang mampu saling menguatkan? Keluarga yang saling menghibur seperti keadaan para tetangga yang saya lihat? Atau sebuah keluarga yang hanyut dengan problematika dirinya masing-masing seperti kondisi keluarga di dalam kendaraan di perempatan lampu merah yang saya lihat tadi? Entahlah.

Dan menyadari segala kemungkinan itu, hanya harap dan iba kehadirat-Nya saya hanturkan, “Semoga kelak keluarga yang InsyaAlloh kami bangun bersama adalah keluarga yang senantiasa menautkan pada dasar cinta kepada-Nya. Bukan pada benda yang kelak melapuk, bukan pada kecantikan yang perlahan memudar, apalagi kejayaan yang pasti sirna. Semoga dasar cinta yang demikian mampu menjadi pondasi kokoh bagi kami untuk mengarungi samudera kehidupan yang penuh ketidak pastian”.

Dan semoga cinta-Nya yang lebih besar senantiasa menaungi setiap anggota keluarga yang merasa menjadi bagian keluarganya secara utuh. Yang berbahagia dikala dekat, saling mendoakan dikala jauh. Amin.

Salam,

Hary Lasmana