Pagi ini, tak jauh berbeda seperti pemakaman lain pada umumnya, TPU yang bersebelahan dengan kampus ramai dikunjungi para peziarah. Pedagang kembang dadakan, para pendoa yang dibayar, hingga perawat makam, turut berbaur bersama yang lainnya dan menjadikan area pemakaman bak pasar tradisional yang ramai. Hanya bedanya, disini tak ada sembako, cuma kembang tujuh rupa, air dalam botol, dan beberapa perlengkapan lain yang umum menghias tanah makam.
Dalam kerumunan itu saya perhatikan raut wajah yang begitu beragam dan hati ini diliputi rasa haru melihatnya. Kesedihan dan keceriaan menyatu pada wajah para peziarah; Antara rindu dan kesedihan berbalut dalam kasih sayang yang besarnya entah seberapa… hanya hati si pemilik dan penciptanya yang tahu.
Melihat keramaian itu, tiba-tiba saja dalam benak saya terlintas satu acara di akhir pekan awal bulan Agustus kemarin. Reuni yang dihadiri oleh kawan-kawan masa sekolah dulu mencairkan kerinduan yang telah tersimpan lama. Dalam balut suka dan bahagia, kegembiraan hati setelah lama tak berjumpa, sayangnya… perasaan itu harus ternodai dengan ketidakhadiran beberapa sahabat yang memang tak mungkin turut serta. Sang Pencipta telah terlebih dahulu memanggil mereka untuk berada disisi-Nya. Dan hati ini tanpa diketahui siapapun merenung cukup lama ketika satu per satu slide kenangan, testimony, tentang para sahabat ini diputar.
“Segalanya adalah ketentuan-Nya dan tak seorangpun kuasa menolak. Begitupun kita, kelak siapapun akan juga dipanggil oleh-Nya”, lirih hati ini menghibur diri.
Dalam keramaian terkadang tersimpan rasa kesepian, hal itu mungkin yang saya rasakan pada raut wajah para peziarah. Sendiri ataupun datang beramai-ramai, wajah-wajah sendu menyiratkan kerinduan, rasa rindu yang takkan mampu terobati. Dan mungkin karena alasan utama itulah betapa banyak orang memaksakan diri untuk selalu berziarah ke makam orang-orang yang selalu dekat dihati mereka.
Di dunia yang fana, kala kesempatan hidup telah berakhir dan tak ada lagi yang bisa dilakukan, tak seorangpun akan mampu mengelak. Semua telah usai kala sang malaikat pencabut nyawa berdiri dihadapan kita untuk melakukan tugasnya. Dan pada saat-saat terakhir, ketika jasad kaku terbujur tak berdaya, perlahan silaturahmi pun terputus, gumpalan urukan tanah secara perlahan menutupnya. Putuslah segala perkara anak manusia seiring tertanamnya jasad diperistirahatan terakhirnya. Hanya sebuah nama akan menyisakan kenangan abadi.
Kebaikan semasa hidup akan mengharumkan namanya, keburukan akan juga turut menjadi penghias sejarah pada siapapun yang melakukannya. Sadar akan hal itu, sepenggal kalimat yang terucap dalam hati cukuplah menjadi harapan “Semoga Ramadhan yang akan segera tiba menjadi ladang kebaikan yang menggembleng setiap insan untuk mengenal diri dan kesejatian Sang Pencipta. Semoga 30 hari ke depan dapat menjadi waktu terbaik bagi siapapun untuk berlatih dan keluar menjadi pemenang”.
Marhaban Yaa Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya. Semoga Ramadhan mampu membersihkan hati kita, mengembalikan semangat kebaikan yang mulai redup dan memunculkan arti kebahagiaan sesungguhnya yang selama ini dicari.
Dan untuk itu -menuntun diri ini menuju ke sana, perkenankan saya memulai langkah “karantina Ramadhan” ini dengan menghaturkan permintaan maaf sebesar-besarnya atas segala khilaf dan alpa. Semoga dalam 30 hari ke depan kita semua berhasil memaknai Ramadhan dan kehidupan dalam arti yang sesungguhnya.
Salam,
Hary Lasmana


