Dimanakah Posisimu Saat Ini?

Kita tahu bahwa membangun negeri ini adalah tugas bagi setiap warga negaranya. Ini adalah satu kewajiban yang sepatutnya tak perlu lagi dipertanyakan. Siapapun ia, apapun pekerjaan dan jabatannya, status sosial masyarakat, hingga jenis kelaminnya apa, memiliki kewajiban sama untuk membangun bangsa dan negeri ini menjadi satu bangsa besar diantara bagian masyarakat dunia lainnya. Sebuah bangsa yang mampu menunjukkan dadanya seraya lantang berkata, “Aku bangsa Indonesia!”.

Bicara tentang membangun bangsa dan negeri ini -sebagai sebuah bangsa besar yang sedang berusaha maju sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia, menurut saya setidaknya ada tiga bagian yang perlu kita cermati dalam prosesnya yaitu,

  1. Apa sebenarnya yang akan kita bangun;
  2. Siapa saja pihak yang perlu terlibat dalam proses pembangunan;
  3. Bagaimana cara membangun yang tepat agar dapat berhasil seperti yang dicita-citakan?

Ketiga hal dasar tersebut amat perlu diketahui sebelum kita melangkah lebih jauh agar segala usaha membangun negeri tercinta ini tidak lagi berulang pada kegagalan dan keterpurukan. Dan mengingat akan hal itu, sepatutnyalah kita mencari peluang untuk menjadi lebih baik, mengoreksi segala kelemahan, dan mempertahankan segala hal positif. Agar cita-cita tidak sebatas mimpi, tetapi menjadi bukti. Untuk itu kita perlu menelusuri apa, siapa, dan bagaimana, cara membangun yang tepat demi kejayaan nusantara tercinta.

Sebagai langkah awal, sebagai seorang pribadi yang merdeka sudah sepantasnya jika kita bertanya pada diri kita sendiri akan arah langkah kita? Apakah tujuan hidup kita? Apakah sebenarnya yang ingin kita capai, sesuatu yang dituju, cita-cita yang ingin diraih, atau hal yang ingin diperoleh dalam hidup ini? Apakah kini langkah hidup tengah menuntun kita berjalan menuju ke cita-cita hidup sesungguhnya, atau jangan-jangan malah sebaliknya? Kita hanya sekedar menjalaninya saja tanpa tahu arah tujuan.

Pertanyaan ini amat penting. Refleksi semacam ini dapat menjadi sebuah dasar yang mampu memantapkan diri kita sebelum bergerak lebih lanjut. Menyusun rencana, menyiapkan segala keperluan, berusaha dengan keras, dan mengikhlaskan diri akan segala hasil pada-Nya. Karena sebagaimana telah kita ketahui bahwa cita-cita dan segala usaha yang dilakukan tanpa rencana kemungkinan besar akan menjadi sia-sia. Jikapun ia dapat berjalan, kelak dapat terjadi penyimpangan atau terhalang hambatan besar yang sedianya menghadang di tengah perjalanan. Karena itu amat penting untuk merenungkan kemampuan dan kesanggupan diri sendiri dalam usaha mengapai sebuah tujuan besar. Dengan harapan, dengan melakukan refleksi semacam ini, ibarat membangun sebuah rumah, kita seperti sedang membuat sebuah rancangan dan pondasi kokoh yang kelak akan mewujudkan cita-cita luhur tersebut.

Setelah merefleksi diri dengan sebaik mungkin, usai mengumpulkan seluruh bahan dan informasi, maka kini tibalah saatnya menjalani tahap demi tahap pembangunan sesuai dengan yang telah direncanakan. Setiap tahapan, sedikit demi sedikit, baik perlahan maupun cepat, pembangunan yang terencana dilaksanakan untuk mewujudkan cita-cita mulia yang telah dinantikan sejak awal. Dan tahap ini –pembangunan, adalah jaman dimana kita berada sekarang ini. Keadaaan yang terus bergerak dinamis dan penuh dinamika. Dan dalam kondisi saat ini, jika boleh saya bertanya, pada tahap pembangunan seperti ini, dimanakah posisi kita berada? Apa yang telah kita lakukan di dalamnya?

Sebagaimana telah kita saksikan saat ini, setelah proklamasi kemerdekan berkumandang lebih dari 63tahun, setelah para pendiri negara ini merumuskan banyak hal yang dibutuhkan untuk menjadi satu negara nusantara yang utuh, kita menyadari bahwa ternyata negeri ini masih belum merdeka sepenuhnya. Kita masih banyak bergantung pada Negara lain dan belum mampu berdiri di atas kaki sendiri. Keadaan timpang akibat pembangunan merata menjadikan ketidak adilan social di berbagai daerah. Entah itu lapangan kerja yang tidak seimbang dengan jumlah tenaga yang membutuhkan, pendidikan dasar yang belum merata, mahalnya harga kebutuhan pokok, fasilitas kesehatan kurang memadai bagi seluruh lapisan masyarakat, dan berbagai problematika lain yang tanpa henti terus menimpa bangsa ini. Melihat kenyataan itu, pernahkah kita bertanya pada diri kita, “Dimanakah posisi saya sebagai seorang warga negara? Apakah kontribusi yang telah kita beri pada negeri ini untuk menjadi lebih baik? Sejauh mana saya mampu melakukan sesuatu bagi kemajuan bangsa ini?” pertanyaan itu, hanya diri kita sendiri yang mampu menjawabannya.

Melihat kenyataan yang ada saat ini dan mencoba merefleksi ke dalam diri, setiap insan, siapapun kita pasti memiliki perbedaan. Ada kelebihan dan ada kekurangan. Dan karenanya, mengaitkannya dengan kontribusi pribadi dalam tujuan membangun bangsa tercinta, hal yang terbaik untuk memulai adalah dengan bertanya pada diri sendiri, “Apa yang mampu dan telah diri kita lakukan untuk membangun diri sendiri, pada lingkungan, pada bangsa dan negeri yang menunggu putra-putrinya bangkit dan mengharumkan namanya di seluruh penjuru dunia?”

Segala potensi yang kita miliki adalah bekal untuk memajukan bangsa ini, mewujudkan sebuah negeri yang adil dan makmur dan tidak berketergantungan pada bangsa lain. Dan hanya dalam kebersamaan saya percaya kita mampu mewujudkan cita-cita luhur ini yang memang bukan sekedar mimpi belaka.

Salam,

Hary Lasmana

Pemimpin yang Memimpin

Kita telah banyak mendengar cerita menakjubkan tentang pemimpin. Mereka yang berjiwa patriot, mati-matian membela identitas, komunitas, masyarakatnya, bangsa, negara lebih dari kepentingan diri sendiri dan kepentingan keluarga. Kisah pemimpin semacam ini bila diceritakan ibarat pasir ditepi lautan. sesekali hanyut dan terdorong oleh ombak pasir namun tak pernah habis. Selalu hadir dan menjadi tema abadi untuk dibanggakan di setiap jaman.

Pemimpin semacam ini tentu saja amat dibutuhkan –meski kadang kehadirannya kerap terulur waktu. Pemimpin yang lahir membela segala kepentingan seluruh lapisan masyarakat; Pemimpin yang menyatukan dan mengedepankan keadilan dan kesejatheraan; Pemimpin yang mengenal diri dan kapasitas kepemimpinannya; Pemimpin yang menjadi panutan di depan, merangkul saat berada di tengah masyarakat, dan siap memberi dorongan saat berada di belakang. Seorang pemimpin yang benar-benar memimpin.

Dan jika boleh membandingkan dengan keadaan kini, menjelang pemilihan umum tiba -seperti masyarakat pada umumnya, saya memiliki harap besar. Agar kelak akan benar-benar terpilih seorang pemimpin. Bukan atasan, apalagi raja yang hanya bisa memerintah tanpa merasai hati rakyat. Semoga pemilu 2009 adalah pintu yang menghantarkan bangsa ini menjadi lebih baik dengan menghadirkan manusia-manusia berkualitas terpilih dan bukan seorang politikus idol bak aktor panggung dadakan yang kelak menang suara di panggung gegap gempita pesta demokrasi negeri tercinta kita. Amin.

Salam,

Hary lasmana

Rumus 3M, Solusi Jitu Untuk Perbaikan Jangka Panjang

Banyak orang skeptis terhadap keadaan negeri ini. Ada yang pasrah dengan keadaan, ada yang mengeluh namun menjalani setengah hati, ada juga berteriak lantang, namun nyatanya perubahan tidak juga terjadi. Salah siapa ya?

Kalau ingat hal ini, saya cuma berpikir, “Mungkin memang sudah takdir yang kuasa negeri kita penuh dengan orang pintar tetapi keblinger”. Profesor banyak, tetapi tidak menghasilkan perbaikan. Yang ada malah kehancuran dan penjajahan dalam bentuk lain. Namun syukurnya, kita masih banyak memiliki orang baik dan peduli. Buktinya toh, dari sekian banyak bencana yang menimpa negeri ini, relawan, bantuan, dan sumbangan tanpa henti mengalir dari masyarakat. Menarik bukan.

Ingat hal itu, saya jadi ingat pada bagian lain lagi. Seorang teman yang terus mengajukan pertanyaan sebagai alternatif jawaban, mencari jalan keluar untuk perbaikan negeri yang masyarakatnya nyaris putus asa terhadap para pemimpin yang terus saja berbohong dan tuli terhadap suara dan jeritan rakyatnya. Hingga pada terakhir kali kami bertemu, dapatlah jalan keluar itu. Solusinya berupa sebuah tindakan yang mungkin dapat jadi jalan keluar jika saja setiap orang dengan rela dan ikhlas melakukannya. cukup 3M.

1.   Mulai dari diri sendiri,

2.   Mulai dari hal kecil,

3.   Mulai dari skarang!

Mudah, murah, menarik… dan tanpa basa-basi.

Sahabat, jika kita berharap pada manusia, kelak, baik besar ataupun kecil yang ada hanyalah kekecewaan. Dan daripada mengeluh atau menerima namun tak suka, apalagi harus berteriak lantang tapi tak kunjung menghasilkan, mari kita berupaya bersama melakukan segala perubahan di mulai dari mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, mulai dari sekarang.

Jika kita tidak menyukai sampah berserakan, mengapa tidak bersihkan? atau setidaknya minimal kita tidak menambah kotor dengan sampah yang kita buang sembarangan; jika kita tidak suka kendaraan bermotor di jalan saling serobot dan tidak tertib, bagaimana kalau mulai kini kita tidak ikut-ikutan seperti itu? Jika ada kawan yang melakukan korupsi, manipulasi, atau kegiatan merugikan lainnya, mampukah kita tidak hanya sekedar berdiam diri? tegurlah dengan sebaik mungkin. Tanpa menyakiti apalagi menggurui.

Saya percaya setiap manusia memiliki hati nurani. Dan setiap hati manusia cenderung pada kesalahan, oleh karena itu kita yang mengetahui kebenaran atau tengah dalam kondisi sadar dapat saling menjaga dan mengingatkan. Betapa indah keadaan yang demikian.

Berada dalam kondisi yang kelam bukan berarti kita juga harus terjerumus dan menjadi bagiannya. Bahkan sebaliknya, kita yang harus mampu membalikkan keadaan menjadi lebih baik, pun jika tidak, yang terbaik adalah tidak terseret arus karena takut merasa berbeda. Layaknya mutiara putih yang berada di dalam lumpur, mutiara yang kotor tetaplah sebuah mutiara bernilai saat ia dibersihkan kemudian dipindah tempatkan.

Semoga dengan cara demikian perubahan nyata ke arah yang lebih baik dapat kita hasilkan. Karena tindakan nyata jauh lebih baik daripada sekedar berdiam diri dan berharap.

Salam,

Hary Lasmana

Agar Negara ini Menjadi Lebih Baik, Hal Utama yang Harus Dilakukan Adalah: Berantas Korupsi!

Hebat! itu yang selalu yang ada dalam pikiran saya setiap kali menyaksikan kampanye dan janji calon anggota legislatif, politikus, calon presiden, atau para orator yang mulai bersaing sengit menjelang pemilu di negeri ini. Tapi… (ada tapinya loh), apa mungkin? apa benar? apa sesuai antara janji saat mereka kampanye dengan realisasi kelak saat terpilih? Kita lihat saja nanti.

Bicara tentang janji kampanye para calon dan kemungkinan terlaksananya bila mereka terpilih kelak, ada satu hal yang saya sasar dan perhatikan penuh sebagai salah satu kriteria memilih pada PEMILU 2009 yaitu isu KORUPSI. Mengapa hal ini menjadi salah satu hal utama, ya tentu saja sebagaimana kita tahu bahwasannya perilaku buruk yang merugikan banyak orang ini tanpa sadar telah berbudaya pada sebagian kalangan dan elit kekuasaan tingkat atas. Dan mau tak mau karena dampak kerugiannya pada masyarakat umum dan citra bangsa di mata dunia, hal ini tak dapat diabaikan. Oleh karenanya amat perlu memilih seorang pemimpin dan wakil rakyat yang tidak sekedar memiliki visi dan misi yang mengagumkan di atas kertas namun juga harus memiliki kredibilitas baik, tegas, dan merakyat. Bersih dan bertanggung jawab. Dengan demikian kepercayaan masyarakat internasional akan meningkat yang berdampak pada kepercayaan investor asing untuk menanamkan modalnya di sektor industri industri yang tengah kekurangan gairah dari pemodal asing.

Kini menanti waktu kampanye PEMILU 2009 tiba, rasanya adalah saat renungan terbaik bagi kita. Waktu untuk merefleksi segala kemungkinan, berharap, dan berdo’a akan kesuksesan pemilihan pemimpin dan wakil rakyat kelak. Semoga pemimpin dan jajaran wakil rakyat terpilih adalah orang-orang terbaik tidak hanya dari segi fisik dan ke-ilmu-an, tetapi juga dalam mental dan rasa tanggung jawab pada masyarakatnya dan negara. Saya percaya, seperti kumpulan kerang tersebar di tengah laut, diantara begitu banyak pilihan pasti ada salah satu kerang tersebut menyimpan mutiara di dalamnya. Dan harapan ini semoga juga dimiliki saudara-saudara saya yang tersebar di pelosok Nusantara.

 

Salam,

Hary Lasmana

[semoga bukan] Cerita Sedih

Ada satu kekesalan dalam hati kala kemarin mengunjungi green blog saya di http://hlasmana.rezaervani.com entah kenapa tiba-tiba down dengan keterangan ”MySQL server connection unavailable”. Dan pagi tadi saat saya coba lagi, kini alamat tersebut masih tidak dapat diakses. Sedih.

Teman, mungkin ada yang bisa bantu dan kasih informasi pada saya? tentang sebab musabab atau hal lain berkaitan dengan (kemungkinan) tangan jahil mereka yang memiliki kemampuan lebih di bidang ilmu komputer… apa kiranya yang perlu saya lakukan untuk mengembalikan file dan begitu banyak tulisan di sana. Hiks! padahal lagi ikut lomba XLAwards dan tiga artikel yang dilombakan untuk memenuhi syarat dimuat di blog itu.

Semoga kejadian menyakitkan ini mampu memberi hikmah besar yang dapat diambil pelajarannya. Amin.

Salam,

Hary Lasmana

Note: beberapa hari setelah tulisan ini diposting, blog hlasmana.rezaervani.com sudah dapat di akses kembali. Menurut Kang Rezaervani ada masalaha teknis software yang perlu diperbaharui. Alhamdulillah, terima kasih atas segala dukungan semua sahabat!

Malam dan Permukaan Air

Sebenarnya kalau dipikir-pikir hidup ini seperti berkendaraan pada malam hari. Pandangan kita mengamati jalan amat terbatas oleh cahaya remang yang ala kadarnya. Tak ada yang benar-benar pasti akan keadaan yang akan dilalui; Semua samar. Jalan raya hanya nampak hitamnya saja dibatasi marka dan trotoar, pepohonan hanya terlihat rerimbunan, tak jauh berbeda dengan keadaan di belakang kendaraan. Meski terkadang jelas terlihat karena telah dilalui, namun kita tak dapat melihatnya terus-menerus melalui kaca spion. Salah-salah malah bisa celaka di jalan.

Sama halnya dengan hidup yang kita jalani. Kemampuan kita menatap masa depan hanya sebatas mereka-reka tanpa tahu kepastian sesungguhnya. Tak heran jika keadaan yang acapkali mengaburkan keinginan ini mengombang-ambingkan jiwa mereka yang lemah untuk mengeluh bahkan mengutuk kehidupan. Suatu sikap yang amat berbeda dengan mereka yang berseberangan karena sadar bahwa hidup penuh dengan keterbatasan. Bahkan untuk mereka yang bersikap menerima, sebagaimana remangnya keadaan akibat gulita malam, ketidak pastian hidup justru adalah sebuah tantangan yang mengasyikkan.

Bagi mereka yang bersikap menerima keterbatasan dengan lapang, meski malam hari keadaan  mengaburkan segala yang seharusnya tampak, jalan raya bukanlah sesuatu yang harus dijauhi. Dengan perpaduan akal dan hati, penglihatan menjadi dasar kekuatan untuk mencapai suatu tujuan. Tanpa bantuan keduanya, rasanya penglihatan hanyalah sebuah alat navigasi yang tidak akurat dan kemungkinan menemui kegagalan dalam menentukan arah sangat besar. Itulah sebab utama mengapa seseorang yang berkendaraan mampu tiba ditempat tujuan yang jarak tempuhnya kiloan meter hanya dengan mengandalkan cahaya penerangan lampu beberapa meter saja jaraknya. Keinginan dan kemampuan terlatih menunjukkan sesuatu yang ingin diraih bisa tercapai dalam hidup ini. Dan kuncinya tentu saja, “Siapapun bisa, selama ada tekad yang kuat”.

Berbicara tentang tekad dan penglihatan pengendara di malam hari, saya jadi ingin bercerita tentang kebiasaan saya bercermin di permukaan air di kamar mandi. Kebiasaan ini sebenarnya hanya satu hal kecil namun mengajarkan kearifan tentang ketidakpastian dan hubungannya dengan tekad dan penglihatan. Dibalik ketidak pastiannya, permukaan air yang rapuh -yang dengan mudahnya berubah bentuk, entah itu beriak ataupun bergelombang jelas membuat banyak orang enggan bercermin padanya. Tak banyak orang mampu menerima kerupawanan mereka diacak-acak oleh benda yang hanya mampu mengalir tanpa perlawanan. Bagi sebagian orang semacam ini, air hanya ternilai dari kejernihan warnanya dan kebersihan dasar bak penampungnya untuk digunakan. Permukaan air, menurutnya, bukanlah sesuatu yang besar untuk dinilai.

Tentu saja ketidak mampuan manusia berkaca pada air bukanlah sebuah kesalahan melainkan kelemahan manusia. Air sebagai inti dan bagian dari hidup, melalui permukaanya yang rapuh sesungguhnya menunjukkan bahwa untuk melihat sesuatupun perlu kita niatkan dan arahkan agar sesuai seperti yang kita inginkan. Dan jikapun hal tersebut tercapai, bukanlah sesuatu yang mutlak jika sesuatu yang diniatkan akan selalu sesuai seperti yang diharapkan. Sebagaimana permukaan air, kehidupan jua beriak dan bergelombang terhadap hasil usaha setiap manusia.

Dan disanalah kehidupan mengajarkan kearifan, Banyak orang berhasil karena mereka mau menerima ketidak pastian hidup yang beriak dan bergelombang, sedangkan sebagian besar yang gagal adalah karena lebih senang kemudahan memandangi ke dalam air yang bias dan seolah  pasti.

Hidup, berbicara tentang ketidak pastian didalamnya, hari ini sekali lagi saya melalui tanggal kelahiran saya. Entah tekad ataupun pandang penglihatan yang saya miliki saat ini, rasa-rasanya bercermin pada permukaan air yang tenang di kamar mandi tadi saya cukup  menampar semangat saya yang dengan mudahnya terombang-ambing ketidak pastian keadaan. Maka karena itulah malam ini saya sengaja menjaga mata guna merenung dan bersyukur seraya meminta padaNya, “Tuhan… beri saya kekuatan, beri saya kemampuan, beri saya keikhlasan agar saya mampu kembali secara rutin berbagi cerita dengan orang-orang yang mungkin pernah kecewa saat menjenguk blog ini karena hanya mendapati tulisan-tulisan yang sama seperti sebelumnya”.

Terima kasih para sahabat atas kedatangannya ke blog HLasmana.
Salam,
Hary Lasmana

Semoga Tidak Terulang Lagi

Tulisan ini saya dapat dari salah satu mailing-list (milis) yang saya ikuti. Saya belum sempat cek langsung ke Pengurus Pondok Yatim dan anak anak yatim Korban Gempa Bantul, namun demikian hati saya sungguh merasa kecewa sekali dengan perlakuan orang semacam ini yang selalu mengambil keuntungan tanpa mempedulikan siapapun.

Semoga kita dapat mengambil hikmah didalamnya.

> > > > >

SEMOGA TIDAK TERULANG LAGI

Teganya ada yang Menipu Pondok Yatim dan anak anak yatim Korban Gempa Bantul

………Tulisan ini berangkat dari bentuk keprihatinan atas moral anak
manusia bangsa ini. Sungguh tulisan ini kami buat, bukan untuk membuka aib
orang lain tetapi semata hanya untuk mengingatkan kepada para pembaca yang
budiman agar tidak tertipu seperti kami. …baca selengkapnya »

[http://hlasmana.rezaervani.com/?p=163#more-163]

Rahasia Seorang Pejuang

(17 Agustus 1995)

* * * * *

Usai upacara di sekolah, menikmati pagi yang riuh oleh hiasan bendera di sepanjang jalan, saya bergegas melangkah menuju rumah. Hangat sinar matahari yang baru saja seperempat naik ke permukaan cukup membuat suhu udara menjadi panas dan memicu adrenalin untuk mempercepat langkah. Ditambah lagi ketika berpapasan dengan segerombolan anak balita bersama orang tuanya menuju tanah lapang untuk mengikuti lomba 17an membuat saya semakin tak sabar. Langkah kaki ini, ingin rasanya memasang roket pada alasnya untuk mempercepat. Meski saat ini saya rasakan kecepatan langkahnya nampak tak jauh berbeda dari lomba jalan cepat di olimpiade, namun saya tak ingin berlari untuk mempercepatnya lagi. Bukan apa-apa, takut dianggap berlebihan oleh yang melihat. Untunglah… dalam jarak pandang mata, tiang listrik penanda ujung gang terakhir yang harus saya lewati sudah terlihat. Dari tikungan itu, rumah saya hanya tinggal beberapa langkah.

“Assalamualaikum…”, ucap saya riuh rendah ketika tiba depan pintu rumah. Dengan napas yang tersengal saya segera melepas sepatu dan menentengnya ke dalam… [baca selengkapnya]

*

Baca Juga Artikel terkait:

Apa, Siapa, dan Bagaimana Membangun Bangsa

Mulai, Mulai, dan Mulai!

Percaya diri sebagai rasa bangga menjadi bagian bangsa besar

Tidak hanya merusak, tetapi juga menghancurkan

Bicara tentang narkoba, bicara tentang hati

Apa kabar dunia?

Sebenarnya sudah beberapa hari kemarin saya berniat menengok blog yang sejak beberapa bulan lalu tida ditengok ini. Untunglah hari ini niat itu kesampaian. Dan untuk itu, pada kesempatan ini perkenankan saya menyampaikan, “B a h w a   s a y a   m a s i h   t e t a p   m e n u l i s”, hanya saja memang upload tulisan yang biasa teman-teman dapatkan di blog ini beralih ke beberapa blog saya yang lain. Untuk itu saran saya jika ingin mengikuti tulisan-tulisan saya yang lain, silahkan mampir ke:

  1.  

    1.  

      1.  

        1. http://hlasmana.rezaervani.com
        2. http://hlasmana.dagdigdug.com

Oiya pada kesempatan ini saya juga mau mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada teman-teman yang telah banyak mendorong saya untuk menulis sehingga melalui kedua blog diatas saya menjadi finalis “hot blog for cool earth competition” yang diselenggarakan atas kerjasama WWF dan Digital Studio [1] dan juara 3 “lomba blog pesta buku Jakarta 2008″ yang diselenggarakan IKAPI Jakarta [2].

Tolong doakan saya semoga senantiasa menulis dan berkarya sebagaimana saya selalu mendoakan teman-teman agar selalu bahagia dan berada dalam lindunganNya.

Salam,

Hary Lasmana

Kepedulian mulai dari rumah

Banyak ibu rumah tangga seringkali mengeluh karena pengeluaran rutin bulanan yang tidak kunjung bertambah namun berlaku sebalinya dengan pemasukan. Hari demi hari inflasi semakin mencekik kebutuhan hidup sehari-hari dan seiring dengan itu berimbas pada hal-hal lain yang juga amat penting. Hal seperti ini jika tidak disikapi dengan baik tentu akan menjadi satu masalah besar yang tidak hanya berimbas pada keharmonisan keluarga namun juga bukan tak mungkin berujung pada perpecahan. Faktor ekonomi tak pelak adalah salah satu penyebab keretakan rumah tangga yang mengakibatkan kerugian besar bagi setiap anggotanya. Nah, sebelum itu terjadi, ada baiknya kita mengelola pengeluaran atau menambah pemasukan keuangan keluarga untuk mencegah keinginan awal membentuk keluarga harmonis hingga akhir hayat itu hancur berantakan hanya karena faktor ketidaksiapan kita mengatasi krisis keuangan keluarga.

Pada kesempatan ini, satu hal yang ingin saya bagi, khususnya yang berkaitan dengan isu pemanasan global adalah bagaimana menyiasati tingginya pengeluaran rutin bulanan atau yang tak tentu akibat peralatan elektrik di rumah kita.

Gunakan Seperlunya

Saat ini, khususnya di kota-kota besar rasanya tak satu rumahpun yang tak tersambung listrik. Hal ini tentunya menandakan listrik adalah suatu kebutuhan primer masyarakat (catatan untuk pemerintah: makanya jangan diprivatisasi ya!) dan karena kebutuhan pokok listrik yang disediakan oleh pemerintah melalui PLN adalah dengan sistem pasca bayar (pakai dulu, bayar kemudian), maka seringkali masyarakat pengguna listrik terlena dan terjebak pola hidup konsumtif dan tak ambil pusing dalam penggunaannya sehari-hari.

Lampu ruangan menyala tanpa ada seorangpun didalamnya, radio dan televisi menyala namun tak seorangpun yang mendengar/menyaksikan, kipas angin, AC, jet pump air tanah, dan peralatan rumah tangga lain yang telah menjadi bagian hidup kita menyala sia-sia seringkali menjadi sumber penyebab tingginya tagihan rekening listrik bulanan. Semua itu akibat kebiasaan pola hidup kita yang tak peduli atau tidak bertanggung jawabnya. Dan dengan kebiasaan itu, imbasnya tentu saja pada penggunanya. Akibat utamanya tentu saja selain membuat besarnya tagihan rekening listrik, selain itu juga mengakibatkan berkurangnya masa pakai benda-benda elektronik tersebut. Misalnya jika sebuah lampu dalam pemakaian normal dapat digunakan dalam 2 tahun, namun karena tidak pernah dimatikan setiap hari maka masa pakainya jadi berkurang separuhnya. Jadilah setiap tahun kita secara rutin membeli lampu yang sama untuk menggantikannya. Merugikan bukan?

Selain tingginya tagihan rekening dan berkurangnya masa pakai benda elektrik, satuhal yang seringkali tak disadari dengan perilaku semacam itu adalah bahaya korsleting yang dapat mengakibatkan kebakaran rumah. Akibat kebiasaan buruk ini kerugian besar terjadi dan seringkali merenggut korban didalamnya. Jadi masihkah kita mau cuek bebek dan tidak mengantispasinya sejak dini dengan resiko sebesar itu?

Selektif Membeli

Jika dalam keseharian kita dapat menghemat listrik dalam penggunaan, ada satu cara lagi untuk menghemat listrik yaitu sebelum membeli peralatan tersebut. Sebelum membeli peralatan elektrik, cobalah cari informasi secukupnya tentang produk yang diminati. Usahakan memilih yang hemat energi dan jangan membeli peralatan elektrik hanya berdasar pada harganya yang murah apalagi karena bentuknya yang bagus. Dengan cara selektif ini maka rencana pengeluaran rutin bulanan kitapun dapat terbantu. Dan selain dengan cara itu, usahakan membeli perlatan elektrik yang multi fungsi.

Dengan membeli peralatan elektrik multi fungsi, maka Anda dapat meghemat pengeluaran untuk beberapa perlengkapan. Selain menghemat dana, peralatan semacam itu tidak membutuhkan tempat seluas perlatan elektrik lain secara terpisah sehingga Anda dengan mudah mengatur posisi dan keserasian ruangan.

Rawat Peralatan Elektronik

Selain menggunakan peralatan listrik seperlunya dan menyeleksi peralatan tersebut sebelum dibeli, satu cara lain untuk menghemat listrik adalah merawat perlatan tersebut. Sebagai contoh misalnya jika Anda menggunakan kipas angin di rumah, coba perhatikanlah apakah telah banyak debu menempel di baling-balingnya? Jika ya, coba bersihkanlah agar kipas tersebut memutar sempurna dan jangan lupa beri sedikit pelumas dibatang besi (dinamo) yang menggerakkan baling-baling itu untuk memperlancar gerak putarnya. Dengan melakukan perawatan demikian, selain memaksimalkan fungsinya, setidaknya akan berimbas pada tarikan listrik yang tentu semakin baik (teratur) dan entah besar maupun kecil tentu akan berefek pada tagihan listrik bulanan disamping tentunya berimbas pada kesehatan keluarga akan lebih terjaga karena debu kotoran yang menumpuk di kipas angin telah dibersihkan.

Coba Anda lakukanlah hal yang sama pada peralatan elektrik lainnya dan selain itu periksalah bagian-bagian tertentu lainnya untuk dibersihkan. Secara rutin periksalah kabel-kabel yang dicolok ke saklar apakah masih sempurna atau telah terkelupas karena digigit serangga atau hewan pengerat? Jika ya cepatlah ganti atau tutup dengan isolasi. Dan selain itu pastikan setiap stop kontak terhubung sempurna dan bukan asal menempel. Hal ini bertujuan untuk memperlancar arus listrik dan mengurangi panas yang timbul akibat konduktor (colokan listrik) yang tidak terhubung dengan pas.

Hemat listrik, selektif dalam peralatan elektronik, dan perawatan untuk memaksimalkan fungsinya bukanlah hal sulit. Jika Anda peduli pada diri Anda sendiri, keluarga, dan bumi kita tercinta, lakukanlah mulai dari sekarang secara teratur dan terus-menerus. Serta usahakan untuk mengajak lingkungan sekitar dimanapun Anda berada. Toh manfaatnya untuk semua bukan?

Act Local, Think Global!